NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan yang tidak Hawa sukai

Menyadari kehadiran Hawa, Adam perlahan mengangkat wajahnya. Senyum tipis terbit di bibir pria itu, dingin, penuh perhitungan, seolah ia sudah mempersiapkan segalanya sejak awal.

Tatapan mereka bertemu, dan detik itu juga Hawa tahu, pertemuan ini bukan kebetulan.

“Oh, Hawa!” seru Vino tiba-tiba, wajahnya berseri-seri. “Kenapa kamu tidak bilang dari tadi kalau Bapak Adam Haykal ini adalah kekasihmu? Katanya kalian juga akan segera menikah!”

“Kekasih?”

Suara Hawa meninggi. Ia menoleh cepat ke arah Adam, matanya menyipit, dipenuhi bara amarah. “Apa maksudnya ini?”

Adam masih tersenyum, seolah tuduhan itu tak berarti apa-apa. Justru senyum itulah yang membuat Hawa semakin geram.

“Bapak mengenalnya?” tanya Hawa pada Vino, berusaha menahan emosi yang mendesak keluar.

“Tentu saja,” jawab Vino santai. “Kami...”

“Dulu kami hanya rekan kerja,” potong Adam tegas, nadanya dingin namun berwibawa. “Tidak lebih.”

“Iya kan?” tambahnya melirik Vino, tatapannya seolah memperingatkan.

Vino tertawa kecil. “Hahaha… iya, iya! Sudah lama sekali itu. Saya bahkan mantan karyawan Pak Adam waktu masih kuliah.

Istri saya sampai sekarang juga masih bekerja di PT Jati, perusahaan milik beliau.”

“Kami bukan sepasang kekasih, Pak!” Hawa akhirnya meledak. “Tolong jangan salah paham!”

Namun Vino justru tersenyum makin lebar, seolah menganggap itu candaan belaka. Ia merogoh map cokelat di tangannya lalu menyerahkan selembar memo.

“Sudah-sudah,” ucapnya ringan. “Ini surat cuti kamu. Dua hari. Gunakan baik-baik untuk memilih gaun pengantin terbaik kalian, semoga berbahagia!"

“Apa-apaan ini?!” Hawa menatap kertas itu dengan tangan gemetar. Dadanya sesak, kepalanya berdengung.

Belum sempat ia menolak, Adam tiba-tiba menarik pergelangan tangannya, memaksanya keluar dari ruangan Vino.

“Lepasin aku!” Hawa meronta. “Kamu sudah keterlaluan Adam!”

“Aku tidak akan pernah mau menikah dengan kamu!” teriaknya tanpa peduli orang-orang di sekitar mulai melirik.

Adam mendekat, suaranya rendah namun mengancam. “Kita sudah tidak punya pilihan, Hawa.”

“Drett!”

Ponsel Hawa bergetar di genggamannya. Nama Ibu tertera di layar. Dengan tangan gemetar, Hawa menjawab.

“Ma…”

“Nak,” suara ibunya terdengar lembut namun sarat tekanan, “Apakah Adam sudah menjemputmu untuk fitting baju pengantin sore ini.”

“Tapi Ma… Hawa tidak ingin menikah dengan Adam,” rengekannya lirih, hampir menangis.

“Bapakmu tiba-tiba sakit,” suara Ibu terdengar bergetar dari seberang telepon, tak lagi setenang tadi. “Sejak semalam. Panasnya tinggi, napasnya berat… dan terus mengigau.”

Hawa membeku. “Sakit?” bibirnya bergetar.

“Tapi semalam Bapak masih...”

“Karena mimpi itu, Hawa,” potong sang ibu cepat, seolah takut mengucapkannya terlalu lama.

“Bapakmu dimimpiin oleh kakekmu… Surip.”

Jantung Hawa terasa jatuh ke dasar dadanya.

“Dalam mimpi itu,” lanjut sang ibu dengan suara nyaris berbisik; “kakekmu datang dengan wajah marah. Ia bertanya kenapa wasiatnya dilanggar. Kenapa janji keluarga belum ditepati.”

Hawa menutup mulutnya, napasnya tercekat.

“Apa?!”

Hawa terperangah. Wajahnya seketika pucat, seolah seluruh darah di tubuhnya tersedot habis.

Ponsel di tangannya nyaris terlepas saat tubuhnya limbung ke belakang.

“Mimpi?” suaranya bergetar, hampir tak keluar. “Ma… itu cuma mimpi, kan?”

Namun dari seberang sana hanya terdengar helaan napas berat, sarat kecemasan.

“Bukan mimpi biasa, Hawa,” jawab sang ibu lirih. “Sejak kakekmu Surip wafat, ini pertama kalinya beliau datang dalam mimpi Bapakmu. Dan wajahnya… sangat marah.”

Tenggorokan Hawa terasa tercekat. Ingatan tentang wasiat keluarga itu kembali menghantam kepalanya, seperti palu yang tak henti memukul.

“Bapakmu terus mengigau menyebut namamu,” lanjut sang ibu. “Katanya, semua ini terjadi karena kamu belum menepati janji. Karena kamu masih menolak Adam.”

Air mata Hawa mengalir tanpa bisa dicegah.

“Kalau sesuatu terjadi pada Bapakmu,” suara sang ibu pecah, “apa kamu sanggup menanggungnya, Nak?”

Hawa terdiam.

Di dadanya, rasa takut, bersalah, dan amarah bercampur menjadi satu.

“Hawa!!!”

Bentakan keras menyela. Suara Djoko terdengar jelas, ternyata ia berada di samping sang ibu dan mendengar semuanya.

“Apa lagi yang kamu tunggu?!” hardiknya.

“Adam sudah bersungguh-sungguh menikahimu! Kenapa justru kamu yang menolak? Sampai kapan drama ini mau kamu perpanjang?!”

Hawa terdiam. Tenggorokannya tercekat. Semua keberanian yang tadi ia punya runtuh seketika.

“Apa kamu mau kita semua kena bencana hanya karena kamu menentang wasiat itu, hah?” suara Djoko semakin keras. “Kamu mau tanggung jawab kalau sesuatu terjadi pada keluarga ini?!”

Air mata Hawa jatuh tanpa suara.

“Sekarang pergi,” bentak Djoko tanpa kompromi. “Cari gaun pengantinmu!”

Telepon terputus.

Hawa berdiri kaku, napasnya tersengal. Adam menatapnya dalam diam, lalu tersenyum tipis, senyum kemenangan.

Dan saat itu Hawa sadar, ia bukan sedang diajak menikah, melainkan sedang dipaksa menikah.

“Bagaimana?” tanya Adam santai sambil melirik Hawa dari atas ke bawah, nada suaranya sengaja dibuat menggoda.

“Apa aku perlu menggendongmu sekalian ke tempat fitting pakaian pengantin kita?”

Hawa dengan wajahnya yang masam seketika, alisnya berkerut tajam. Ia menoleh dan menatap Adam penuh peringatan, siap melempar sesuatu kapan saja.

“Coba saja kamu berani sentuh aku,” desisnya dingin. “Aku pastikan kamu keluar dari rumah sakit, bukan sebagai pengantin, tapi pasien," Hardik Hawa.

"Aw, atut!" nada centil Adam menggoda Hawa.

Namun justru raut masam itu membuat senyum Adam semakin lebar. Pria itu tampak menikmati setiap detik kemarahan Hawa.

“Galak amat,” gumam Adam sambil terkekeh. “Padahal nanti juga satu ranjang.”

“Dasar!” Hawa mendengus kesal. “Aku benar-benar tidak mengerti kenapa hidupku harus berakhir di tangan pria sepertimu," hentak Hawa kesal tujuh keliling.

Adam mengangkat bahu santai. “Sebenarnya aku juga malas dengan perjodohan ini,” ucapnya jujur namun tetap dengan nada tengil.

“Tapi menolak terlalu banyak risikonya. Jadi mau tidak mau, ya kita jalani saja.”

Hawa menatapnya tak percaya. “Kamu bisa bicara setenang itu? Ini menyangkut hidup orang lain, Adam!”

“Makanya,” sahut Adam cepat, “aku punya solusi.”

Hawa menajamkan tatapannya. “Solusi apa?”

“Kita cari orang pintar,” ucap Adam serius tapi bercanda. “Siapa tahu ada cara membatalkan wasiat ini tanpa bikin satu keluarga kena kutukan atau bencana.” Hawa terdiam sesaat. Ada secercah harapan di matanya.

“Serius?” tanya Hawa pelan. Namun harapan itu langsung runtuh saat Adam menyeringai lebar.

“Ah, sudahlah,” katanya enteng.

“Ngapain ribet? Kita nikah saja, lalu bulan madu. Habis itu urusan selesai.”

“Apa?!” Hawa hampir tersedak. “Kamu pikir pernikahan itu kontrak kerja?”

“Kurang lebih,” jawab Adam tanpa rasa bersalah. “Bedanya ada resepsi dan foto prewedding.”

Hawa memejamkan mata, menarik napas kesabaran, berusaha menahan emosi yang sudah di ubun-ubun.

“Perjodohan dengan pria sombong, tengil, dan mantan playboy seperti kamu,” ucapnya tajam, “adalah hukuman terberat dalam hidupku," ucap Hawa sebel sampai menghentakkan kakinya.

Adam pura-pura terkejut. "Tolong ditegaskan. Playboy itu dulu.”

“Tidak mengubah fakta,” balas Hawa sinis.

“Tapi sekarang aku sudah taubat,” kata Adam sambil mengangkat telunjuk, gaya ceramah dadakan.

“Menikah itu artinya mengakhiri kenakalan. Bukankah begitu?”

“Omong kosong,” Hawa mendengus.

Meski wajahnya jutek dan langkahnya penuh keterpaksaan, Adam tetap berjalan di sampingnya dengan santai, sesekali melirik sambil tersenyum -senyum kepada Hawa yang cemberut setengah mati.

Adu mulut yang tak kunjung reda, akhirnya Adam berhasil membawa Hawa menuju galeri pengantin terbaik di kota Jakarta.

Menurutnya itu adalah tempat di mana mimpi buruk Hawa akan segera dimulai, berubah menjadi kenyataan yang tak bisa lagi ia hindari.

1
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
pasrahkan saja jalan yang akan di lalui pada yang memberi hidup.
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
dalam hati Adam berharap juga kan bisa menikah dengan Hawa setelah badai itu pergi
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
klo jodohnya kamu Adam mau lari kemanapun pasti ketemu Hawa
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
janda tapi perawan dong
𝐙⃝🦜🅰🆈🅰𒈒⃟ʟʙᴄ
kalo suka bilang suka jangan pura2 ga ada rasa malah bilang belum mau menikah udah jelas dulu kamu yang maksa hawa untuk menggantikan malam pertama bersama Harun karna cemburu,jangn jadi laki2 muna deh🙄
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
jangan sampai Hawa semakin ilfil sama kamu dam,,kalau memang suka jangan menyangkalnya
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
betul hawa
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
kira² yang akan jatuh cinta duluan siapa ya.. Adam atau Hawa 😳
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻: kurasa Adam kak 🤭
total 1 replies
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
sebentar lagi Adam mau belah duren 🤣🤣🤣
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
sebenernya kasihan Hawa dam Adam. karena perjanjian kedua kakek mereka.mereka yang jadi korban dan menanggung akibatnya
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
jadi sekarang yang kena teror gantian bapaknya Hawa
Paradina
seru kak, lanjut 😍
Qothrun Nada
setelah nikah jangan harap ada jatah,stok rasa sabar mu seluas samudra Adam 😀
Qothrun Nada
hooh orang pintarnya pak penghulu 😀
Qothrun Nada
andai bapaknya Hawa bisa seperti pak Joko, pasti ibunya Adam bisa menyeret Adam untuk tetap menikahi Hawa dulu
Qothrun Nada
😅😅😅
Qothrun Nada
jangan nyalahin Hawa dong, kasihan dia
Qothrun Nada
marah seperti kakek Sulaiman
Qothrun Nada
kapok, makanya jadi bapak itu yg tegas, kalau dulu dia menolak tentu Hawa gk nikah sama Harun karena gk ada walinya
Qothrun Nada
heem jadi adam 2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!