Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksperimen Pertama di Ruang Spasial
Langit di dimensi ini tidak pernah gelap, namun juga tidak menyilaukan.
Warnanya emas lembut, memancarkan cahaya yang stabil dan menenangkan retina mata.
Sekar berdiri terpaku menatap telapak tangannya sendiri. Di sana, di tengah garis nasib telapak tangan halusnya, tergeletak lima butir gabah kering. Warnanya kusam, sisa-sisa padi kualitas rendah yang jatuh tercecer di lantai tanah gubuk saat Rendi mengamuk tadi.
Saat berbaring memejamkan mata di gubuk tadi, tangan Sekar memang secara refleks menggenggam erat butiran ini. Sebuah insting putus asa untuk menyelamatkan sisa makanan.
"Ternyata materi fisik bisa menembus barrier dimensi jika ada kontak langsung dengan titik fokus energi," gumam Sekar pelan.
Suara profesornya menganalisis fenomena ini dengan cepat. Ini bukan sihir semata; ini adalah transfer massa melalui wormhole mikro yang terhubung dengan tanda lahirnya.
Sekar berlutut di atas tanah hitam yang membentang luas di hadapannya. Dia menyentuh tanah itu. Teksturnya gembur, lembap, namun tidak lengket.
Berbeda jauh dengan tanah kapur di lereng Menoreh yang keras dan tandus. Tanah ini hitam pekat, kaya akan humus purba.
Observasi Tanah: Porositas sempurna. Kandungan nitrogen dan karbon organik tampaknya berada pada level optimum.
Tidak ada waktu untuk sekadar kagum. Di dunia nyata, tubuh fisiknya yang lemah sedang terkunci tanpa akses makanan. Cadangan glukosa di hatinya mungkin hanya bertahan 24 jam sebelum tubuhnya mulai memakan otot sendiri untuk energi.
Sekar harus bergerak cepat.
Dia membawa kelima butir gabah itu menuju pinggiran mata air transparan yang berdenyut di dekat gubuk bambu. Dengan jari telunjuknya, Sekar membuat lima lubang kecil yang presisi. Jaraknya diatur sedemikian rupa agar akar tanaman nantinya tidak saling berebut nutrisi.
"Tumbuhlah," bisik Sekar.
"Kalian adalah satu-satunya harapan kami."
Dia memasukkan benih gabah itu satu per satu.
Lalu, dengan menggunakan batok kelapa bekas yang ia temukan tergeletak di dekat gubuk, Sekar menyiramkan air spiritual ke atas lubang tanam itu. Air itu meresap seketika ke dalam tanah, seolah bumi yang haus langsung meminumnya tanpa sisa.
Sekar mundur selangkah, duduk bersila di atas rerumputan yang empuk.
Sekarang, dia hanya bisa menunggu.
Di dunia ini, waktu adalah variabel yang bisa dia manfaatkan. Satu jam di sini mungkin hanya beberapa menit di gubuk reyot sana.
Sekar memejamkan mata sejenak, menikmati udara bersih yang mengisi paru-paru kesadarannya.
Tidak ada bau apek, tidak ada aroma kemiskinan.
Krek.
Suara halus, seperti ranting patah namun sangat pelan, membuatnya membuka mata. Jantung Sekar berdegup kencang.
Di permukaan tanah yang baru saja dia siram, terjadi pergerakan. Tanah itu merekah pelan.
Sebuah titik hijau pucat muncul malu-malu, menembus selimut hitam bumi.
Itu tunas.
"Mustahil..." desis Sekar.
Sebagai ilmuwan yang telah menghabiskan puluhan tahun meneliti Dormansi Benih, dia tahu bahwa proses germinasi membutuhkan waktu berhari-hari, bukan dalam hitungan jam.
Namun, di depannya, hukum biologi konvensional sedang dipatahkan.
Tunas itu tidak hanya muncul.
Ia tumbuh.
Perlahan tapi pasti, daun jarum pertama mulai mekar, meregang ke arah cahaya perak di langit.
Sekar merangkak mendekat, matanya berbinar menatap keajaiban mikroskopis yang terjadi secara makro di depan matanya.
Air dari mata air itu... itu bukan sekadar air kaya mineral. Itu adalah katalis biologis super.
Hipotesis: Air ini memicu akselerasi mitosis sel pada tingkat yang ekstrem.
Dalam waktu yang terasa seperti dua jam bagi kesadaran Sekar, tanaman padi itu sudah tumbuh setinggi jengkal tangan orang dewasa. Batangnya kokoh, jauh lebih tebal dari padi varietas IR64 yang biasa ditanam petani desa. Daunnya hijau pekat, mengkilap seolah dilapisi lilin pelindung.
Ini bukan lagi sekadar pertanian. Ini adalah laboratorium bio-teknologi paling canggih yang pernah ia miliki.
Sekar tersenyum. Senyum tulus pertama yang ia berikan sejak menempati tubuh gadis malang ini.
Dia tidak lagi merasa sebagai korban yang dikurung nenek sihir yang jahat. Dia adalah kepala laboratorium yang sedang mengembangkan varietas unggul untuk revolusi pangan.
"Tunggu Ibu," ucap Sekar pada bayangan ibunya di dunia nyata. "Aku tidak akan membiarkanmu makan nasi aking lagi."
Sekar bangkit berdiri.
Dia merasa mentalnya sangat segar, penuh dengan dopamin kepuasan.
Namun, sebuah tarikan berat tiba-tiba terasa di ulu hatinya.
Itu adalah sinyal dari tubuh fisiknya.
Tubuh aslinya di dunia nyata sedang menderita. Rasa lapar mulai menggerogoti lambung, mengirimkan sinyal bahaya ke otak bawah sadarnya.
Dia tidak bisa tinggal di sini selamanya. Jika tubuh fisiknya mati kelaparan, kesadarannya juga akan lenyap.
Sekar menatap lima batang padi yang kini mulai meninggi itu sekali lagi.
"Besok... saat aku kembali, kalian harus sudah siap panen," perintahnya, seolah tanaman itu adalah asisten lab-nya.
Sekar memusatkan pikiran, membayangkan gubuk gelap dan tubuh ringkih yang terbaring di atas amben bambu. Sensasi tarikan itu kembali datang, kali ini lebih kuat, menyedotnya keluar dari surga pribadinya.
Wusss...
Cahaya emas itu lenyap.
Sekar tersentak bangun di kegelapan total. Napasnya terengah-engah. Matanya mengerjap, mencoba beradaptasi dengan ketiadaan cahaya.
Suara jangkrik dan kodok di luar gubuk terdengar begitu nyaring, menandakan malam sudah larut. Mungkin sudah tengah malam.
Dia mencoba menggerakkan tangannya, namun terasa berat seperti timah. Perutnya melilit perih, rasa sakit yang nyata dan menggigit.
Ketosis mulai terjadi. Tubuhnya berteriak minta asupan.
Namun, di tengah rasa sakit fisik itu, bibir Sekar yang kering dan pecah-pecah justru melengkung membentuk senyuman misterius. Di dalam kepalanya, gambaran padi hijau yang tumbuh subur itu masih terekam jelas.
Dia lapar, sangat lapar.
Tapi dia tidak lagi putus asa.
Keluarga Adhiwijaya mengira mereka telah mengurung seekor tikus tak berdaya di dalam perangkap.
Mereka tidak tahu, bahwa di dalam kegelapan gubuk ini, sang tikus sedang membangun sebuah kerajaan.
Sekar menarik selimut tipisnya yang bolong, menutupi tubuhnya yang menggigil. "Tidur, Sekar," bisiknya pada diri sendiri. "Simpan energimu. Besok kita akan membuat kejutan."