Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih baik memaafkan
Hari ini untuk pertama kalinya aku pergi kerja sendirian menaiki motor baruku. Sesampainya di butik, aku memarkirkan motorku di tempat parkir dan kemudian masuk ke dalam. Aku melewati bagian depan dan langsung menuju ruangan biasa aku kerja. Si sana sudah ada mbak Nayla. Dia langsung melihatku ketika aku sampai dan mendudukan diri di kursi di sebelahnya. Sorot matanya seperti mengintimidasi.
" Kenapa ngelihatin aku sampai segitunya si mbak? ".
" Kamu nggak papa? Tu matamu kaya panda. Habis begadang sambil nangis ya? " Dia bertanya, perhatian tapi seperti mengejek.
" Ngeledek aja kamu mbak. Emang kelihatan banget ya...? Padahal udah ku tutupi lho... ".
" Kelihatan tapi nggak terlalu kok. Kamu kepikiran banget pasti".
" Semalam aku sampe nggak bisa tidur mbak... Tidurnya bentar banget. Tapi nggak nangis juga, cuma rasanya susah banget mau nitip mata".
" Nggak bisa si biarin ini sih... Bisa bisa kerjaan juga kacau. Mending kamu selesaikan secepatnya deh... ".
" Dia tadi pagi dateng dan udah jelasin semuanya sih.. ".
" Terus.... ".
Aku menarik nafas dalam dalam. Mengumpulkan energi yang ada dan menceritakan pada mbak Nayla tentang apa yang pagi ini Adit katakan.
" Terus kamu mau gitu sama Adit? ".
" Sebenarnya aku mau.,tapi kalo harus bertentangan sama mamanya aku nggak mau. Mending aku mundur".
" Kalo gitu mending kamu turutin Adit deh... Mencoba mengenal mamanya. Itu pun kalau kamu mau berjuang untuk dia.".
" Aku nggak yakin mbak. Soalnya biasanya kalo udah di jodohin gitu pasti mamanya udah suka banget sama tuh cewek. Pasti berat... ".
" Bener juga sih... Tapi kalo kamu emang yakin sama Adit, kamu bisa coba tuh... ".
" Aku takut kecewa mbak ".
" Memangnya kalo kamu diam aja dan langsung nyerah gitu aja kamu nggak kecewa? Padahal dia juga mau memperjuangkan kamu".
" Iya sih.,. "
Aku kembali mengharapkan udara sebanyak banyaknya berharap akan membuat hatiku lebih lega.
" Y udah,.. Keputusan tetep di tangan kamu, tapi menurutku kamu harus coba dan mengusahakan yang terbaik. Apapun hasilnya nanti yah... yang penting udah usaha kan? Apalagi kalian memang belum ada ikatan apa pun jadi tidak akan terlalu sakit".
" Sakit juga kali mbak kalo gagal. Kan udah sampe hati banget ini".
" Tapi kan nggak terlalu Ra.... .
Ya udah.. lupakan dulu untuk sementara dan ubah fokusmu untuk kerja dulu. Nih... ada permintaan lagi... dan ini detailnya.".
Dia menyerahkan kertas permintaan itu dan tersenyum untuk meyakinkan ku.
" Baik lah". Aku menerima kertas itu. " Makasih mbak udah dengerin aku dan udah ngasih solusinya. Aku adah agak lega ini".
Aku pun ikut tersenyum dan membaca kertas itu dengan teliti.
" Sama sama".
Memang selama ini sejak aku mengenalnya dia sangat bisa si andalkan untuk semua urusan. Aku seperti menemukan seorang kakak di butik ini. Membuatku semakin betah.
Kami pun lanjut ngomongin kerjaan. Mendiskusikan yang kiranya perlu dan mulai membuat sketsa sesuai permintaan pelanggan. Tak lupa juga membuat untuk Pesanan Lala.
Hingga jam makan siang hampir tiba saat bu Zahira mendatangi kami.
" kalian sibuk? ". tanya nya.
" Sedikit. Ada apa bu? ".
" Makan siang nanti kita di traktir sama mbak Sofia".
"Beneran? ".
" Ya masa bohong sih.. ".
" Mau bu.... ".
" Ya harus mau. "
Kami pun tertawa bersama. Mungkin ini sebuah hadiah kecil dari mbak Sofia.
" ya udah yuk berangkat sekarang... ".
" Ayo bu.. Siap.. ". Aku dan mbak Nayla kompak.
" Semangat banget kalo ada traktiran". bu Zahira tertawa.
" Tanggal tua ini.. " mbak Nayla menanggapi dan tertawa. Aku pun ikut tertawa bersama mereka.
Kami berangkat menggunakan mobil bu bos menuju restoran yang jaraknya lumayan jauh dari butik. Hingga menghabiskan waktu 30 menit kami baru sampai. Mbak Sofia tengah menunggu kedatangan kami. Dia duduk da salah satu meja dekat pintu masuk.
" Hai mbak Sofia, maaf ya kami terlambat. Kamu jadi lama nunggu". Bu bos menyapa dahulu mewakili kami yang baru saja datang.
" Hai bu Zahira.. Hai Nayla dan juga Rara..
boleh dong aku panggil kamu Rara... kayaknya lebih dekat aja? ".
" Nggak masalah mbak. Aku suka". Sebenarnya panggilan itu juga mengingatkan ku pada adiknya yang dulu manggil aku dendan sebutan itu. Kebetulan banget.
" Aku juga baru tiba kok. Yuk mari kita duduk".
" Iya.... kamu sendirian Sofia? ".tanya bu Zahira.
" Biasa sama Arsaka. Dia lagi ke toilet. Aku mah kemana juga sama dia sekarang. Papa yang surah dia jadi bodyguard ku sampai aku nikah ntar". Dia sedikit cemberut. " Oh ya masalah nikahan aku ntar, kalian yang tangani ya..... ".
" Bisa. banget.. kita tinggal bahas konsepnya nanti. Kalian siap kan Amara sama Nayla".
" Siap bu". jawabku dan mbak Nayla kompak.
" Itu bahas kapan kapan aja. Biar aku ke butik. Sekarang mending kita makan dulu".
Kami pun memesan makanan dan bersamaan itu Arsaka juga muncul.
" Halo semua.. Kalian udah datang? ". sapanya.
"Halo Arsaka. iya kita baru aja dateng. Maaf ya kami telat". lagi lagi bu Zahira mewakili kami.
Kami pun menikmati makan siang istimewa itu dengan bahagia. Sambil berbincang kami tertawa bersama. Sejenak aku sedikit melupakan Adit.
Hingga waktu istirahat hampir habis dan kami harus kembali ke butik. Saat kami bersiap menuju butik, ponsel bu Zahira berdering. Dia pun mengangkat panggilan dari jarak yang agak jauh.
" Maaf Amara dsn Nayla, ini ada panggilan mendadak dan saya harus pulang dulu. Gimana ini? ". Bu Zahira menjelaskan saat sambungan telepon nya selesai.
" Ya udah bu nggak papa. Kami bisa kembali ke butik berdua". Aku mengiyakan saja walau pun bingung harus naik apa.
" Kalian bisa naik taksi Nanti saya yang bayar. Maaf banget ini".
" Nggak perlu bu.. Kita bisa bayar sendiri kok". Aku dan mbak Nayla menolak.
" Jangan gitu dong. Kan kalian ke sini saya yang bawa, masa mau saya tinggal aja".
Tiba tiba dari arah belakang muncul Arsaka dan mbak Sofia.
" Biar saya antar kalian". Arsaka menawarkan diri.
Aku dan mbak Nayla saling memandang.
" Nggak usah mas nanti ngerepotin".
Mbak Nayla menolak karena tidak enak.
" Iya tidak usah.. Kita bisa naik taksi aja". Akupun juga menolak.
" Nggak papa biar di anterin Arsaka sebentar. Sama sekali nggak repot kok". Mbak Sofia tetap menyuruh Arsaka yang mengantar.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya kami memang si antar Arsaka sementara mbak Sofia di antarkan ke perusahaan dulu karena tak begitu jauh.
Di perjalanan suasana canggung mendominasi. Kami hanya sedikit berbincang ringan hingga mobil sampai di depan butik.
" Makasih udah nganterin kami mas". Mbak Nayla mengucapkan dengan tulus kemudian buru buru ke dalam butik. " Ra..Aku masuk duluan ya".
" Kok buru buru mbak? ". tapi dia sama sekali tak menghiraukan.
" Makasih Ar sudah mau nganterin". ucapku akhirnya.
" Sama sama. Duh akhirnya kamu kembali manggil aku Ar... Rasanya keingat yang dulu.. "
" Udah nggak usah di ingat lagi. Lupain aja lah".
" Kita mulai yang baru ya... "
" Apanya yang baru? ".
" Hubungan kita".
" Terserah deh Kalo gitu aku masuk dulu.. ". Aku berbalik badan hendak memasuki butik.
" Ra... ntar aku jemput ya? "
" Nggak usah aku bawa motor ".
" Ya nggak papa. Kita bisa mampir ke taman bentar" .
" Ngapain? ".
" Ya ngobrol aja. Mau ya...? ".
"Boleh deh, bentar aja tapi".
" Iya aku masih ingat kok kalo kamu nggak suka pulang kemalaman".
" Bagus dengan kalo udah tahu. Ya udah aku masuk sekarang*.
" Silahkan. selamat bekerja kembali... tetap semangat... ".
Dia mengucapkannya saat aku telah berjalan memasuki butik. Wajah ku memanas mendengarnya. Mengingat dulu dia selalu menyemangati ki seperti itu. Akupun menggelengkan kepala untuk mengusir ingatan yang tiba tiba muncul.
Akhirnya jam kerja usai, aku bersiap siap untuk meninggalkan butik.
( Ra... Jalan yuk bentar. Kita lanjutin obrolan tadi pagi).
Pesan masuk dari Adit.
( Maaf Dit aku udah ada janji. Mungkin lain kali..).
(Ya udah nggak papa).
( Kalo misal minggu besok aku ajak kamu ketemu mama gimana? mau ya... ? Kita jalan jalan bareng biar kalian bisa saling mengenal)
( Gimana ya? aku ragu)
( Nggak papa. Coba aja dulu)
{ Ok deh... Bismillah) Akhirnya aku menyanggupinya. Semoga aku bisa.
( Nah gitu dong).
Aku pun keluar dan sudah ada Arsaka di sana.
" Yuk Ra"
Aku mengangguk.
" Kemana? "
" Taman biasa. Gimana? ".
" Ok. yuk.".
Kami pun pergi bersama. Aku di depan mengendarai motor dan dia mengendarai mobil di belakangku. ' Dari pada sibuk mengubur ingatan tentang masa lalu yang buruk mungkin lebih baik mengganti ingatan dengan hubungan yang lebih baik' gumam ku dalam hati saat menerima ajakannya siang tadi. Jadi aku memilih berdamai dengan keadaan.