NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 — Kebenaran yang Datang Tanpa Permisi

Tidak ada yang tahu sejak kapan kamera ponsel itu mulai merekam. Tidak ada yang menyadari bahwa suara Ratna yang lantang, hinaan yang menusuk, dan keberanian Naya yang akhirnya meledak—semuanya tertangkap jelas tanpa satu pun terpotong. Malam itu berjalan seperti biasa bagi sebagian orang, namun bagi beberapa lainnya, takdir sedang diam-diam menyiapkan belokannya.

Orang yang merekam berdiri agak jauh dari meja mereka di restoran. Ia sengaja memilih posisi yang tidak mencolok. Namanya Raka Pramudya—adik kandung Sagara. Awalnya ia hanya datang untuk makan malam singkat sebelum kembali ke kantor. Namun nalurinya sebagai orang lapangan bekerja lebih cepat dari pikirannya.

Ketika ia melihat seorang perempuan berjilbab sederhana dimaki habis-habisan oleh ibu mertuanya sendiri, sementara sang suami hanya menunduk dengan wajah tak berdaya, ada sesuatu yang mengganggu nuraninya. Nada suara Ratna terlalu kejam untuk sekadar teguran keluarga. Tatapannya penuh penghakiman, seolah perempuan di depannya bukan manusia, melainkan beban yang ingin disingkirkan.

Raka mengangkat ponselnya.

Ia merekam.

Bukan untuk sensasi. Bukan untuk viral.

Melainkan karena satu wajah yang ia kenali dengan sangat baik.

Naya.

Perempuan yang pernah diminta Mas Sagara untuk diselidiki—bukan karena kecurigaan, melainkan karena kemiripan yang terlalu mencolok dengan seseorang dari masa lalu. Namun penyelidikan itu tak pernah benar-benar selesai. Urusan bisnis ke luar kota menyita waktu, lalu Sagara sendiri menghentikannya setelah pertemuan tak sengaja di sebuah mal. Saat itu, Naya tampak tak lebih dari istri seorang karyawan biasa.

Namun video ini… membuat Raka ragu.

Malam itu juga, setelah memastikan rekaman tersimpan aman, Raka mengirimkannya ke satu nama di daftar kontaknya.

Send.

Centang satu.

Tak sampai satu menit… centang dua biru.

Di ruang kerjanya yang luas dan sunyi, Sagara Pramudya menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Video itu ia putar tanpa suara terlebih dahulu. Gerak bibir Ratna tampak tajam. Telunjuknya mengarah kasar. Lalu Naya—berdiri tegak, bahunya tegang, wajahnya pucat namun matanya menyimpan perlawanan yang selama ini tertahan.

Ada sesuatu yang menghantam dadanya.

Sagara memperbesar layar. Ia mengenali sorot mata itu. Tatapan yang sama persis dengan mata Alya saat mencoba bertahan di tengah tekanan dunia.

Pesan masuk menyusul.

“Kasihan, Mas. Ibu yang selama ini diharapkan Aluna… dimaki habis-habisan oleh ibu mertuanya sendiri.”

Sagara menyandarkan punggung ke kursi. Napasnya terasa berat, seolah ruang kerja itu mendadak kehilangan udara. Ia tidak tahu mengapa kata kasihan terdengar seperti tamparan keras.

Jarinyanya bergerak cepat.

“Selidiki siapa ibu mertuanya.”

Tak lama kemudian.

“Siap, Mas.”

Ponsel diletakkan. Namun pikirannya tak kembali pada tumpukan berkas di mejanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada rasa gelisah yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah ada kebenaran yang terlalu lama terkubur dan kini mulai mencari jalan keluar.

Waktu berjalan. Bulan berganti.

Anehnya, setelah kejadian di restoran itu, Ratna menghilang dari kehidupan Naya. Tidak ada lagi teriakan di pasar. Tidak ada kunjungan mendadak yang penuh sindiran. Tidak ada lagi kata mandul yang dilempar seperti pisau.

Awalnya Naya tetap waspada. Ia menunggu ledakan susulan. Namun hari demi hari berlalu dengan tenang. Perlahan, ketenangan itu terasa nyata.

Ucapan Inah terngiang jelas di kepalanya.

“Kalau ibu diam terus, ibu bakal diinjak terus, Bu.”

Kini Naya mengerti. Diam bukan selalu mulia. Kadang diam hanya memberi ruang bagi kezaliman untuk tumbuh semakin berani.

Seminggu menjelang anniversary pernikahan ke-5, Naya akhirnya mengutarakan niatnya pada Adit.

“Aku pengin syukuran kecil saja, Mas,” ucapnya pelan. “Undang anak yatim dan ibu-ibu pengajian sekitar rumah.”

Adit tersenyum, kelelahan di wajahnya sedikit mencair. “Terserah kamu. Aku ikut.”

“Aku juga mau undang Mira dan Rafi.”

Adit mengangguk tanpa curiga. Tidak ada satu pun alarm yang berbunyi di kepalanya.

Hari-hari berikutnya diisi kesibukan. Naya mengurus segalanya dengan tangannya sendiri—dekorasi sederhana, konsumsi, hingga bingkisan kecil untuk anak-anak yatim. Lelah, tentu saja.

Namun ada rasa hangat yang lama tak ia rasakan. Setidaknya, hari itu ia ingin bersyukur.

Tanpa sepengetahuan Naya, Adit juga menyiapkan kejutan lain.

Satu set perhiasan berlian. Elegan. Mahal. Bukan untuk pamer, melainkan sebagai simbol penyesalan dan cinta yang selama ini tak pandai ia ucapkan.

Hari itu pun tiba.

Rumah Naya ramai namun tertib. Doa dipanjatkan dengan khidmat. Anak-anak yatim duduk rapi. Ibu-ibu pengajian tersenyum hangat. Untuk sesaat, rumah itu terasa penuh berkah.

Mira datang agak terlambat. Seragam swalayan masih melekat di tubuhnya. Ia menggandeng Rafi yang kini tampak lebih sehat, wajahnya ceria tanpa beban.

Namun begitu ia melangkah masuk…

Langkahnya terhenti.

Di depan sana berdiri seorang pria yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

Adit.

Dunia Mira seakan berhenti berputar. Suara-suara di sekelilingnya meredam. Dadanya sesak. Kenangan lama menyerbu tanpa ampun—malam gelap, air mata, dan janji yang tak pernah ditepati.

Ia tidak berniat. Ia tidak merencanakan.

Namun luka lama itu… berteriak minta diakui.

“Pak Adit…” suaranya bergetar, tapi cukup keras untuk memecah suasana.

Semua mata menoleh.

Adit membeku.

“Setelah kejadian itu… saya hamil,” lanjut Mira dengan suara pecah. “Dan ini… anak Pak Adit.”

Tangannya menunjuk Rafi.

Prang!

Piring di tangan Naya jatuh dan pecah tepat di belakang Mira. Suaranya nyaring, seolah menjadi tanda runtuhnya sesuatu yang selama ini ia jaga dengan susah payah.

Naya berdiri kaku. Wajahnya pucat. Dunia di sekitarnya terasa berputar. Ia mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap tuduhan.

Adit menatapnya dengan mata melebar.

Dua rasa menghantam bersamaan.

Takut… dan terlambat.

Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara.

Kebahagiaan yang baru saja dirajut… runtuh seketika.

Kebenaran akhirnya datang.

Tanpa permisi.

Selamat malam readers selamat membaca like komennya dong terimakasih..

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!