Bintang Anastasya tidak pernah menyangka lulus SMA berarti harus menyerahkan kebebasannya. Atas perintah sang Ayah, ia harus kuliah di luar kota dan—yang paling buruk—tinggal di kediaman keluarga Atmaja. Keluarga konglomerat dengan tiga putra yang memiliki reputasi luar biasa.
Bagi Yudhoyono Atmaja, Bintang adalah permata yang sudah dianggap anak sendiri.
Bagi Andreas (26), sang dokter tampan, Bintang adalah adik perempuan manis yang siap ia manjakan.
Bagi Gading (16), si bungsu, Bintang adalah teman seru untuk membuat keributan di rumah.
Dan bagi Lingga (21), sang senior di kampus, Bintang adalah gangguan yang tak terduga. Sifat Bintang yang blak-blakan dan tingkahnya yang usil mengusik ketenangan Lingga. Ia bertekad membuat Bintang jera dan tidak betah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Dua Sisi Perhatian"
Andreas yang baru saja memejamkan mata di kamarnya terpaksa bangun lagi. Sebagai seorang dokter yang butuh istirahat, pendengarannya sangat sensitif terhadap keributan. Dengan langkah gontai namun tetap berwibawa, ia menuju kamar Gading yang menjadi sumber suara.
"Gading? Ada apa sih ribut-ribut lagi?" tanya Andreas sambil berdiri di ambang pintu dengan wajah lelahnya.
Gading yang sedang asyik mengunyah kerupuk kalengnya langsung menoleh. "Nggak, Kak. Nggak ada apa-apa kok," jawabnya santai seolah tidak terjadi drama "koala" beberapa saat lalu.
Andreas mengerutkan kening, ia mendengar suara gemericik air. "Itu siapa yang di kamar mandi?"
"Mbak Bintang, Kak," sahut Gading pendek.
Mata Andreas membelalak kaget. "Astaghfirullah haladzim! Keluar, Gading! Kamu ini gimana, kok Mbak Bintang mandi di sini kamu malah diem di kamar?" tegur Andreas tegas sambil menarik lengan adiknya itu untuk keluar.
"Aduh, aduh! Sakit, Kak! Kenapa mandi di sini? Ya soalnya shower di kamarnya rusak, Mas Andre!" protes Gading sambil berusaha melepaskan diri. "Lagian kenapa gue sih yang dimarahin?"
Gading mendengus kesal saat sudah berada di koridor luar. Ia menoleh ke arah kamar Lingga yang tertutup rapat, lalu melirik Andreas.
Ye... orang tadi aja Bang Lingga sama Mbak Bintang pelukan ala koala gue diem aja, masa cuma duduk di kamar sendiri malah kena semprot, batin Gading dongkol.
"Pokoknya kamu tunggu di luar sampai Mbak Bintang selesai. Jangan masuk-masuk!" perintah Andreas yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum ia datang.
"Iya, iya! Bawel banget pak dokter," gumam Gading pelan.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Bintang masih menyandarkan punggungnya di pintu. Jantungnya belum juga normal. Bayangan tangan Lingga yang menahan pinggangnya tadi terasa masih membekas.
"Duh, bisa mati berdiri gue kalau tiap hari ada kejadian begini," bisik Bintang sambil mulai menyalakan shower dengan tangan gemetar.
Di seberang lorong, Lingga juga tidak kalah kacau. Ia duduk di balik pintunya, meraba lehernya yang tadi sempat terkena napas Bintang. Rasa benci yang ia bangun selama ini perlahan mulai retak oleh kejadian-kejadian konyol yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Bintang baru saja selesai mandi dan berpakaian lengkap di dalam kamar mandi. Dengan perasaan yang masih sedikit tidak karuan, ia membuka pintu dan memanggil pelan, "Ding, udah..."
Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok tinggi di depannya. Ternyata bukan Gading yang menunggu, melainkan Andreas. Sang dokter muda itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, tampak tenang namun berwibawa.
"Eh, Mas Andre... kok di sini?" tanya Bintang canggung.
"Ayo, biar Kak Andre benerin shower kamu sekarang," ajak Andreas sambil memberi isyarat agar Bintang mengikutinya ke kamarnya.
Bintang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa tidak enak hati karena sudah malam. "Nggak usah sekarang Mas, besok aja nggak apa-apa kok. Bintang bisa mandi di sini lagi besok pagi."
Andreas menggelengkan kepala dengan tegas namun lembut. "Nggak boleh, Bintang. Kalau besok, kamu mau mandi di tempat Gading lagi? Gading itu laki-laki, meskipun kalian sudah seperti saudara, tetap harus ada batasannya. Nggak baik kalau terus-terusan numpang mandi di kamar dia."
Mendengar ucapan Andreas yang bijak dan penuh perlindungan itu, Bintang langsung terdiam. Ia teringat kejadian "pelukan koala" dengan Lingga tadi, dan batinnya membenarkan ucapan Andreas—meskipun alasannya sedikit berbeda.
"Oh... iya juga ya, Kak. Maaf," jawab Bintang menunduk malu. "Makasih banyak ya, Mas Andre."
"Sama-sama. Ayo, Mas ambil peralatan dulu," ucap Andreas sambil tersenyum hangat, tipe kakak idaman yang sangat bertolak belakang dengan Lingga yang kasar.
Tanpa mereka sadari, pintu kamar Lingga sedikit terbuka. Lingga memperhatikan interaksi manis antara Andreas dan Bintang dari balik celah pintu. Ada rasa panas yang menjalar di dadanya melihat perhatian Andreas pada Bintang, tapi ia hanya bisa mendengus pelan.
"Cih, sok pahlawan," gumam Lingga ketus sambil membanting pintu kamarnya kembali, mencoba menulikan pendengarannya dari suara tawa Bintang dan Andreas di koridor.
"Bintang, besok bareng sama saya saja," tawar Andreas lembut setelah memastikan shower di kamar mandi Bintang memang sedang bermasalah.
Bintang meremas ujung pakaiannya, merasa sungkan. "Tapi saya sudah janji berangkat sama temen saya, Mas Andre. Kasihan kalau dia harus sendirian."
Tiba-tiba, ponsel di genggaman Bintang bergetar hebat. Nama Mery terpampang di layar. Bintang segera mengangkatnya dengan raut cemas.
"Halo, Mer? Ada apa?"
"Bin! Sori banget, motor gue ternyata belum beres di-service. Katanya ada alat yang harus dipesan dulu dan baru datang besok sore. Duh, gimana dong? Kita berangkat naik apa? Mana ospek hari kedua pasti lebih ketat!" suara Mery terdengar panik dari seberang telepon.
Andreas yang berdiri cukup dekat bisa menangkap samar-samar suara panik Mery. Ia tersenyum tipis, merasa ini adalah waktu yang tepat untuk membantu.
"Tuh kan... bilang sama temenmu, biar saya jemput sekalian kalau begitu. Mas sekalian berangkat ke rumah sakit, jadi searah kok," ucap Andreas meyakinkan.
Bintang mengerjap, merasa sangat terbantu sekaligus tidak enak hati. "Ma-makasih banyak ya, Mas Andre. Baik banget sampai mau repot-repot jemput Mery juga."
Bintang kembali bicara ke ponselnya dengan semangat. "Mer! Lo tenang aja, besok kita dijemput bareng Mas Andre. Dia anaknya Om Yudho yang paling tua. Lo tunggu di depan rumah ya, jangan telat!"
"Wah, serius Bin? Kakaknya Kak Lingga yang dokter itu? Ya ampun, makasih banget ya! Bilangin ke Mas Andre makasih banyak!" seru Mery lega.
Setelah mematikan telepon, Bintang menatap Andreas dengan perasaan tidak enak. "Mas Andre beneran nggak keberatan? Mas kan sibuk di rumah sakit."
Andreas tertawa kecil, menatap Bintang dengan pandangan yang sangat teduh. "Sama sekali tidak keberatan, Bintang. Sebagai anak tertua di rumah ini, sudah tugas Mas buat mastiin kamu aman. Daripada kamu telat lagi kayak tadi pagi dan dihukum Lingga, kan?"
Bintang menyengir lebar, merasa sangat beruntung dititipkan pada keluarga yang memiliki sosok seperti Andreas. "Mas Andre emang penyelamat banget deh. Makasih ya, Mas!"
Setelah menyelesaikan perbaikan shower itu, Andreas pamit dengan senyum hangatnya untuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Bintang yang akhirnya bisa beristirahat dengan tenang.