NovelToon NovelToon
Ketika Restu Jadi Penghalang

Ketika Restu Jadi Penghalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Muliana95

Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.

Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.

Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Setelah Beberapa Bulan

Begitu padinya selesai diangkut oleh tengkulak, Bagas langsung pulang untuk membuktikan bahwa apa yang hatinya rasakan itu adalah sesuatu yang tak mendasar.

Begitu tiba di rumah, hal pertama yang dilihatnya ialah Safira sedang mengumpulkan padi bersama ibunya.

"Kalian istirahat saja, biar aku yang lakukan," perintah Bagas, mendekati tikar.

Hayati langsung mengangguk dan berjalan ke kran air untuk mencuci tangannya.

"Abang baru pulang, biar aku saja," bantah Safira, masih tetap mengumpulkan dan memasukkan padi ke karung.

Dia bahkan tak berani menatap lelaki yang berdiri di belakangnya.

"Dik ..." tegur Bagas, tak suka dibantah.

Safira menghela napas. Sesaat kemudian, dia bangun dan masuk ke dalam tanpa berkata sepatah kata pun.

Begitulah seorang istri. Saat masa lalu dari suaminya hadir, cemburu pun ikut hadir. Namun, jika hanya hadir tanpa ada niatan merusak, mungkin sang istri masih bisa berpura-pura baik-baik saja.

Tapi ini? Nadia hadir dengan tujuan. Dia punya senjata untuk melemahkannya.

"Bu ..." Bagas menatap ibunya.

Bagas sadar akan perubahan sikap Safira, dan ia ingin meminta penjelasan dari wanita itu.

"Selesaikan pekerjaanmu lebih dulu," perintah Hayati, lalu berlalu.

Hayati masuk ke dalam. Dia berniat mandi untuk mengatasi rasa gatal di tubuhnya.

Kini, setelah Bagas selesai, ia dimintai duduk bersama sang ayah.

"Tadi, Nadia ke sini," Yusuf membuka suara, menyerahkan segelas air putih untuk Bagas.

Bagas, yang hendak meminum, tergelonjak kaget.

"Untuk apa?"

"Untuk memintamu kembali," ungkap Yusuf jujur. "Bahkan orang tuanya telah setuju."

Bagas menghela napas. Dulu, dia memang ingin ini terjadi. Tapi sekarang, entah kenapa rasanya biasa saja.

"Bukan sama ibu ataupun ayah, tapi sama Safira langsung," lanjut Yusuf, mengamati Bagas.

Bagas membalas tatapan ayahnya. Tangannya terkepal karena tahu alasan di balik Safira berubah—tidak menyambutnya seperti biasa. Bahkan, senyumnya saja tak ada.

"Semua keputusan memang ada di tanganmu. Tapi jika membuat ibumu kecewa, kamu tahu konsekuensinya," sambung Yusuf dingin.

Bagas tahu maksud ucapan ayahnya. Sang ibu memang sangat menyayangi Safira. Maka dari itu, melukai Safira sama juga dengan melukai ibunya.

"Berikan aku waktu untuk menyelesaikannya," ujar Bagas singkat.

✨✨✨

Malamnya, tak seperti biasa, Bagas tidak keluar.

Biasanya, setelah salat Isya, Bagas keluar untuk bercengkrama dengan pemuda-pemuda desa, walaupun hanya satu jam.

Tapi tidak dengan malam ini.

"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Bagas pada Safira yang sedang melipat pakaian.

Safira diam. Fokusnya tetap pada pakaian.

"Adik?" Bagas, yang semula berada di depan Safira, bergeser agar bisa duduk di sampingnya. Bahkan, dia menarik sarung yang sebelumnya sedang dilipat Safira.

Safira menatap Bagas, namun dengan mata yang berkaca-kaca.

Tanpa kata, Bagas merengkuh Safira ke pelukannya. "Aku tetap ada di sisimu," bisik Bagas.

Itu kebenaran. Hatinya lebih memilih Safira. Dan sekarang, Bagas lebih mengutamakan apa kata hatinya.

"Tapi bagaimana kalau aku nggak bisa memberimu keturunan, seperti katanya? Apakah abang akan kembali bersamanya?" tanya Safira terisak.

"Hei ... pertanyaan macam apa itu?" Bagas kembali mengeratkan pelukannya.

"Jawab saja, Bang. Biar aku mundur dari sekarang," ujar Safira, melepaskan pelukan Bagas secara paksa.

"Kamu istriku, Dik. Apa pun yang terjadi, kamu tetap istriku," ucap Bagas, menggenggam tangan Safira.

"Aku nggak peduli kita punya anak atau nggak. Karena setahuku, kamu ada di saat aku terluka. Dan itu sudah cukup meyakinkan hatiku tentang siapa yang aku pilih," sambung Bagas, menangkup kedua pipi Safira.

"Jangan lagi menangis," ujar Bagas, mengecup mata Safira secara bergantian.

Kini malam semakin beranjak, dan Safira terlelap di pelukan suaminya.

Dengan gerakan pelan, Bagas mengambil ponselnya di nakas. Dia membuka daftar blokir, menatap nomor yang sudah terasa asing bagi ingatannya.

"Besok kita bertemu di balai sawah," sebuah pesan terkirim.

Bagas menghapus pesan itu dan kembali memblokir nomor Nadia.

Di tempat lain, Nadia yang memang belum tidur tersentak kaget. Pesan Bagas muncul—dan ini pesan pertamanya setelah berbulan-bulan lalu.

Senyumnya merekah. Dia memeluk ponsel itu, seolah-olah memeluk tubuh Bagas.

✨✨✨

Pagi harinya, seperti biasa, Bagas kembali ke sawah. Namun kali ini, dia membawa karung dan alat pemotong rumput untuk lembu dan kambingnya.

Safira sendiri memilih pulang ke rumah ibunya. Karena bagaimanapun, tempat ternyaman baginya tetaplah di pangkuan sang ibunda.

Begitu tiba di balai yang dijanjikan semalam, terlihat Nadia telah menunggu kedatangan Bagas.

Nadia memakai dress warna navy—dress yang pernah dipuji cantik oleh Bagas beberapa bulan lalu.

Atau mungkin setahun yang lalu.

"Akhirnya kamu menemuiku, Bang ..." ujar Nadia dengan mata berkaca-kaca. Dia bahkan berdiri hendak menyambut Bagas.

Beruntung, Bagas mengangkat tangannya, menyuruh Nadia tetap di tempat.

"Apa maksudmu menemui Safira?" tanya Bagas tanpa basa-basi. Ia bahkan berdiri dengan jarak sekitar dua meter dari Nadia.

"Aku hanya ingin kamu, Bang," balas Nadia tanpa malu.

"Aku sudah menikah, Nadia. Dan Safira itu istriku," tekan Bagas.

"Tapi aku orang yang kamu cintai, Bang," balas Nadia lirih.

"Cinta itu telah hilang, Nadia. Kisah kita hanya masa lalu," balas Bagas, menatap hamparan sawah yang sebagian telah dipanen.

"Kamu bohong," cibir Nadia. Bahkan Bagas tak berani menatapnya.

"Nadia, berhenti ..." perintah Bagas, melihat Nadia berjalan ke arahnya.

"Bang, aku ikhlas jadi yang kedua. Tolong, mengertilah," pinta Nadia memelas. Dia menghentikan langkah kakinya.

Bagas menatap Nadia dengan tatapan dingin. Entah kenapa, sekarang dia merasa Nadia terlalu kekanak-kanakan.

"Aku ke sini hanya ingin mengatakan padamu: jauhi Safira. Jangan pernah kamu mengusiknya, apalagi sampai membuatnya terluka," ujar Bagas setelah beberapa saat terdiam.

"Dia nggak cocok jadi istrimu, Bang. Aku—akulah satu-satunya perempuan yang layak bersanding denganmu. Dia mandul!" tuduh Nadia.

Tangan Bagas terkepal.

Mendengar langsung istrinya dihina, amarah dalam dadanya meluap-luap.

"Aku ke sini bukan untuk kembali sama kamu, Nadia. Aku ke sini hanya ingin memperingatkanmu," kata Bagas, menahan amarah yang hampir meledak.

Nadia masih menatap Bagas dengan sendu—tatapan yang dulunya selalu membuat Bagas kalah.

"Jauhi Safira ..." tunjuk Bagas, lalu membalikkan badannya.

Melihat itu, Nadia berlari. Dia langsung memeluk erat tubuh Bagas dari belakang.

"Lepaskan aku, Nadia. Jangan memaksaku untuk kasar padamu," teriak Bagas.

Nadia tersentak. Ini pertama kalinya Bagas meninggikan suara di depannya.

"Kamu memarahiku hanya karena wanita itu? Apa kelebihannya sampai kamu memperlakukanku begitu?" balas Nadia, juga berteriak.

Untung ini masih pagi, jadi orang-orang belum banyak ke sawah.

"Kelebihannya terlalu banyak, Nadia. Bahkan aku tidak bisa menyebutkannya," balas Bagas dengan tatapan datar ke arah Nadia.

"Ingat, dia mandul," lagi-lagi Nadia menyinggung perihal anak.

"Aku menikahinya berarti aku menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Lagipula kamu bukan dokter. Kamu hanya seorang lulusan bidan yang bahkan kini jadi pengangguran," ucap Bagas, lalu langsung pergi dengan langkah cepat.

Nadia hanya bisa menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Bagas bukan hanya marah—kini lelaki itu telah membencinya.

✨✨✨

"Ibu ..." isak Safira, memeluk ibunya.

"Pulanglah. Kamu berhak bahagia," ujar Juliana, memeluk erat putrinya.

Nadia menunggu kedatangan Bagas 🤭

1
Xlyzy
benar itu biar ga penasaran , ga ke hujanan kalok di jalan
Xlyzy
hahahah🤣 pinter juga Nadia jawab nya
Oksy_K
dih, disabet pake padi keknya bagus nih. situ yg buang situ jg yg ngarep/Sweat/
Oksy_K
padahal dia pun petani juga.🫠
Oksy_K
org sebaik ini di sia-siakan hanya karna gak sarjana🫠 padahal rezeki org gak mandang dia lulusan mana
Oksy_K
yg sabar ya nadia, mungkin memang bukan jodohnyaa
Oksy_K
bner kok, bner bgt gak salahh😂
Oksy_K
pasti klo udh lahirin anak di buang si Nadia.
Wanita Aries
syafakillah ya thor istirahat dlu aja sampe pulih baru up lg. rendah bgt tensinya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰: iya makasih banyak ya kk.
gak bisa natap layar lama2, langsung kunang-kunang
total 1 replies
Nuri_cha
Lagian Nadia sudah move on banget siiih
Nuri_cha
lah, kenapa jadi nyalahin Safira
Nuri_cha
duh, hati Safira sakit banget pasti denger ini dari bagas
Filan
ya, Bagas masih mau berusaha.
Filan
baguslah. terus aja counter omongannya
PrettyDuck
bisa stroke ini bapaknya nadia kalo tau /Sweat/
PrettyDuck
lah ditanya gitu doang sewot banget bang /Smug/
PrettyDuck
semoga wandi gak bikin luka baru ya 😭
-Thiea-
dimana-mana ada ibu ini ya. merusak siasana aja. 😑
-Thiea-
jangan Bagas. ntar istrimu di bawa kabur. 🤭
-Thiea-
gelagatnya kayak orang gak benar. sungguh malang nasibmu nad.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!