rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celah Pusat Kota : Persembunyian Kelinci
Minggu malam, pukul 21:30.
Basement hotel mewah di jantung Jakarta Pusat terasa seperti ruang bawah tanah yang dirancang khusus untuk rahasia yang tak boleh terlihat matahari. Lift pribadi turun tanpa suara, pintu besi tebal terbuka pelan seperti rahang monster yang menguap. Cahaya neon putih dingin langsung menyengat mata, memantul di lantai beton yang licin dan basah oleh embun AC. Bau beton segar bercampur kardus baru, oli mesin, dan logam dingin menggantung berat di udara. Tidak ada jendela. Tidak ada suara dari dunia luar. Hanya hembusan ventilasi yang seperti napas pelan ruangan itu sendiri.
Shadiq berdiri di tengah ruangan luas itu, tangan masih di saku jaket lusuh yang sudah penuh noda debu dan oli dari malam sebelumnya. Matanya menyapu peti-peti kayu dan kardus yang ditumpuk rapi di sekelilingnya. Pria Kelinci Perak—rambut bergelombang ke belakang, jas hitam potongan Italia yang terlalu rapi untuk tempat seperti ini—berdiri di sampingnya, tangan di saku celana, senyum tipis menghiasi bibirnya seperti orang yang selalu selangkah di depan.
Tiga rekan tim keamanannya—pakaian hitam polos, lengan berotot menonjol di balik lengan baju yang digulung—sudah bekerja. Crowbar baja menggigit kayu peti pertama dengan suara **krek** pelan tapi tegas. Tutup peti terangkat. Isinya langsung menyilaukan di bawah neon: puluhan kotak kecil bertuliskan **Nvidia GeForce RTX 4070**, karton coklat pabrik dengan logo hijau menyala seperti mata kucing di kegelapan. GPU kelas atas, ratusan unit, masih segel pabrik.
Peti kedua terbuka. **Samsung 990 Pro 4TB**, dus hitam mengkilap berjejer rapi, ratusan unit. Peti ketiga: tray prosesor **Intel Core i9-13900K**, kemasan biru metalik berkilau, puluhan tray masing-masing berisi sepuluh unit. Peti keempat: **Corsair Dominator Platinum DDR5**, ratusan stick RAM dengan aksen emas, kotak hitam elegan yang terlihat terlalu mewah untuk diselundupkan.
Shadiq menyipitkan mata, napasnya pelan tapi terkontrol.
“Ini bukan senjata,” katanya datar, hampir seperti pernyataan pada dirinya sendiri.
Pria Kelinci Perak tertawa kecil—suara rendah, tajam, seperti bilah pisau yang diseret pelan di batu asah.
“Bukan. Ini cuma umpan. Barang selundupan biasa. Nilai miliaran rupiah, tapi bukan target kita malam ini.”
Ia mengangguk ke arah peti kayu panjang di sudut ruangan—ukurannya lebih besar dari yang lain, seal merahnya sudah robek separuh, busa pelindung mengintip dari celah.
“Itu yang kita cari.”
Salah satu rekan tim maju, mengeluarkan pisau lipat tactical dari saku. Bilahnya memotong busa tebal dengan gerakan presisi bedah. Tutup peti terbuka lebar. Di dalam: dua puluh peti kecil berlapis busa anti getar, masing-masing berisi **AK-47 custom** lapis emas-perak yang mengilap dingin di bawah cahaya neon. Magazen penuh terpasang rapi di samping, kotak peluru kaliber 7.62×39 mm berjejer, dan setumpuk dokumen palsu—invoice, bill of lading, sertifikat end-user—semuanya siap untuk menyamarkan pengiriman.
Shadiq menatap laras emas-perak itu lama. Senjata itu terlihat seperti karya seni gelap—terlalu indah untuk dibunuh dengan, tapi terlalu mematikan untuk dianggap dekorasi. Di dalam kepalanya, potongan-potongan malam di gudang hutan utara kembali menyatu.
*Ini yang hilang di kontainer Singapore. Farhank pikir kontainer kosong. Dia marah besar, tapi sebenarnya senjata asli sudah dipindah. Kelinci Perak yang ambil. Dan sekarang mereka simpan di sini.*
Pria Kelinci Perak mengangguk puas, seperti melihat reaksi yang diharapkan.
“Ya. Kami ambil di Busan. Farhank tidak tahu. Dia pikir kontainer kosong. Tapi dua puluh peti lengkap ada di sini. Nilai ratusan miliar kalau dilepas di pasar gelap. Tapi kami tidak akan jual.”
Shadiq pura-pura terkejut, alisnya naik sedikit, tapi dalam hati ada gelombang lega yang dingin.
*Gue tahu sekarang. Gue punya bukti visual. Gue bisa putar balik tuduhan ke mereka kalau saatnya tiba. Tapi gue juga tahu—gue makin dalam terjebak.*
Pria Kelinci Perak menatapnya tajam, mata itu seperti laser yang mencari celah.
“Lo sekarang bagian dari kami, Shadiq. Lo bantu sabotase pengiriman Farhank. Lo tahu ritme dia. Lo tahu Agung. Lo punya akses ke gudang-gudangnya. Dan yang paling penting—lo punya peti pertama yang lo curi dari pengiriman sebelumnya. Itu bukti lo setia. Lo sudah terikat.”
Shadiq diam. Udara di basement terasa lebih dingin, seperti AC sengaja diturunkan untuk membuat darah mengalir lebih lambat. Ia tahu ini jebakan ganda: kalau ia tolak sekarang, mereka bisa bunuh dia di sini. Kalau ia setuju, ia jadi pion yang lebih dalam di permainan yang jauh lebih besar.
“Jadi sekarang apa?” tanyanya pelan, suara tetap stabil. “Lo mau jual senjata ini?”
Pria Kelinci Perak tersenyum tipis lagi, tapi kali ini ada kilau bahaya di matanya.
“Bukan. Kami mau rebut semuanya. Farhank dan Agung cuma kurir dan babu. Mereka pikir mereka pemain besar, tapi uang asli—dan kekuasaan asli—ada di kami. Senjata ini cuma permulaan. Kami akan ambil jaringan mereka, gudang mereka, kontak mereka. Dan lo akan bantu kami masuk lebih dalam.”
Shadiq menatap peti senjata itu sekali lagi. Laras emas-perak memantulkan wajahnya sendiri—wajah yang sekarang terlihat lebih tua, lebih lelah, lebih berbahaya. Di dalam kepalanya, satu pikiran berputar seperti peluru di magasin:
*Gue harus main dua sisi. Satu langkah salah, gue mati. Satu langkah benar, mungkin gue bisa selamatkan diri… atau hancurkan semuanya.*
Pria Kelinci Perak menepuk bahunya pelan—sentuhan yang terasa seperti borgol yang belum dikunci.
Ia berbalik, memberi isyarat pada timnya. Crowbar kembali bekerja, peti ditutup, kardus disegel ulang. Lampu neon tetap menyala dingin, menyinari Shadiq yang berdiri sendirian di tengah ruangan.
Lift pribadi terbuka lagi di belakangnya. Pintu besi menutup pelan.
Shadiq tidak bergerak.
Hanya napasnya yang terdengar di keheningan basement itu—napas seorang pria yang tahu bahwa permainan baru saja naik level, dan taruhannya sekarang bukan lagi uang atau kekuasaan, tapi nyawa.
Dan malam itu, di bawah tanah Jakarta, roda nasib mulai berputar lebih cepat.