Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Adam
"Adam, jangan!" Raisa sontak berteriak, melihat Adam lepas dari dekapannya.
Adam Berlari mengejar mobil Darma, Raisa berlari sekencang-kencangnya, berusaha mengejar Adam.
"Ayah..." Adam berteriak, masih berlari mengejar mobil ayahnya.
"Adam, jangan!" Raisa masih berusaha mengejar, namun Adam berlari sangat kencang.
Sampai akhirnya, Adam berlari ke tengah jalan.
"ADAM!" teriak Raisa histeris, melihat putranya dalam bahaya.
BRAK...
GEDEBUK...
Naas menimpa Adam, sebuah mobil dari arah berlawanan menabrak Adam sampai terpental dan kepala Adam membentur trotoar.
"Tidak!" Teriak Raisa seraya menghampiri Adam yang tergeletak di pinggir jalan.
BRAK ...
BRUK ...
Mobil yang menabrak Adam pun tertabrak truk. Mobil Truk itu tak bisa menghidar ketika mobil itu berhenti mendadak.
Orang-orang berkerumun melihat kejadian itu, suasana menjadi riuh dan panik.
Sedang Raisa masih memeluk tubuh Adam, tanpa perduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Air mata terus membasahi pipinya, hatinya hancur berkeping-keping.
Tak berselang lama, Darma menghampiri Raisa dengan wajah pucat pasi.
"Adam," Darma langsung bergegas memangku tubuh Adam, air mata mulai membasahi pipinya.
Tanpa banyak berfikir, Raisa langsung mengikuti Darma dari belakang.
Darma dan Raisa kemudian membawa Adam ke RS terdekat. Mereka berharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkan Adam.
Dan tak butuh waktu lama, mereka akhirnya tiba di Rumah sakit terdekat, Darma langsung membawa Adam ke UGD.
"Tolong anak saya!" Darma tampak panik, para pekerja medis langsung menghampiri Darma, kemudian mengambil alih memangku Adam dan membaringkan Adam di emergensi Bad.
"Selamatkan anak saya, dokter!" pinta Darma dengan nada memohon, air mata terus mengalir di pipinya.
Tak lama, dokter jaga langsung memeriksa Adam dengan seksama.
"Bagaimana dokter?" tanya Darma dengan cemas, menunggu jawaban dari dokter.
Dokter jaga itu tampak terdiam sejenak, kemudian menatap ke arah Raisa dan Darma dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dokter...." kata Darma lagi, mendesak dokter untuk memberikan jawaban.
Dokter itu hanya menggelengkan kepalanya, tak berkata apapun. Saat itu, Adam sudah tak bernyawa lagi, sepertinya Adam sudah meninggal sebelum sampai UGD.
"Maaf Bapak Ibu, putra anda sudah pergi," ucap dokter itu seraya pergi untuk memeriksa pasien UGD lainnya.
Raisa yang mendengar itu, sontak meraung-raung memeluk tubuh Adam. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Tidak!" teriak Raisa histeris, air mata terus membasahi pipinya.
"Adam, jangan tinggalin mamah," Raisa tampak histeris, memohon kepada Adam untuk kembali.
"Bangun sayang, ini mamah nak," kata Raisa lagi, berharap Adam akan membuka matanya.
Darma hanya menangis menyaksikan putranya terkujur kaku di emergency bad. Ia merasa bersalah, ia merasa bertanggung jawab atas kematian Adam.
"Maafin Ayah..." ucap Darma lirih, air mata terus mengalir di pipinya.
Darma berusaha menenangkan Raisa, ia memegang bahu Raisa, mencoba memberikan kekuatan. Saat ini, Darma merasa sangat bersalah dengan kepergian Adam.
"Cha, udah Cha, Adam sudah pergi," ucap Darma dengan nada pelan, mencoba menenangkan Raisa.
"Jangan sentuh Adam, bajingan kamu!" ucap Raisa berteriak, membuat Darma sedikit mundur.
Pada hari yang sama, Jasad adam langsung di semayamkan, suasana duka menyelimuti rumah Raisa.
Raisa Menangis sambil memeluk Mbok Inah, air mata terus membasahi pipinya.
Menyaksikan tubuh Adam di masukan kedalam liang lahat, hatinya hancur berkeping-keping.
"Adam anak Mamah" ucap Raisa masih menangis sesegukan, tak bisa menerima kenyataan pahit ini.
Kemudian tanah mengubur tubuhnya,jasad Adampun tak terlihat lagi. Rasia tak bisa berkata-kata, di sepanjang prosesi pemakaman dia hanya menangisi kepergian putranya.
"Yang sabar yah bu," Mbok Inah tampak ikut menangis, ia merasa sangat sedih melihat Raisa begitu terpukul.
"Yang sabar yah mamah Adam," ucap salah satu tentangga memeluk Raisa, mencoba memberikan kekuatan.
"Adam adalah ahli surga mamah Adam yang kuat ya," ungkap yang lain, memberikan semangat kepada Raisa.
Antara sadar tak sadar Raisa berada di sana ekpresi wajahnya kosong, ia tak bisa merasakan apapun selain kesedihan yang mendalam.
"Terimakasih," ucap Raisa lirih, tak berdaya.
Mbok Inah berusaha memapah Raisa pergi dari tempat itu, kemudian mereka masuk ke dalam mobil salah satu tetangganya, Pak Bambang dan Istrinya.
Mereka berbaik hati memberikan tumpangan kepada Raisa, mengantarkannya pulang ke rumah.
"Mamah Adam, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Pak Bambang pelan, mencoba membuka percakapan.
"Iya pak," Sahut Raisa dengan nada suara yang lemah, tak bersemangat.
"Orang yang menabrak Adam Sekarang koma," celetuk pak Bambang dengan nada yang sangat sedih, menyampaikan kabar buruk itu dengan hati-hati.
"Heuh," Raisa menatap Pak bambang dan Istrinya secara bergantian, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya.
"Saya turut prihatin," kata Raisa lagi, merasa iba dengan orang yang menabrak Adam.
"Keluarganya ingin menemui mamah Adam, untuk meminta maaf secara langsung," ungkap Pak Bambang lagi, menyampaikan keinginan keluarga penabrak Adam. Raisa terdiam sejenak, mempertimbangkan tawaran itu.
"Mamah Adam bersedia?" tanya Pak Bambang, menunggu jawaban dari Raisa. Raisa hanya mengangguk pelan, menyetujui tawaran itu.
"Orang itu nggak salah, ini semua kelalaian saya," ucap Raisa pelan, menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tragis ini.
"Bagaimana keadaannya sekarang," tanya Raisa kemudian, ingin tahu kondisi orang yang menabrak Adam.
Pak Bambang hanya menggeleng tak berkata apapun, tak ingin membuat Raisa semakin sedih.
"Kita doakan saja dia segera pulih," sahut pak Bambang, mencoba memberikan semangat kepada Raisa.
Kemudian mobil yang di tumpangi mereka pun melaju meninggalkan tempat itu, membawa Raisa kembali ke rumahnya.