Menikahi sahabat sendiri seharusnya sederhana. Tetapi, tidak untuk Avellyne.
Pernikahan dengan Ryos hanyalah jalan keluar dari tekanan keadaan, bukan karena pilihan hati.
Dihantui trauma masa lalu, Avellyne membangun dinding setinggi langit, membuat rumah tangga mereka membeku tanpa sentuhan, tanpa kehangatan, tanpa arah. Setiap langkah Ryos mendekat, dia mundur. Setiap tatapannya melembut, Avellyne justru semakin takut.
Ryos mencintainya dalam diam, menanggung luka yang tidak pernah dia tunjukkan. Dia rela menjadi sahabat, suami, atau bahkan bayangan… asal Avellyne tidak pergi. Tetapi, seberapa lama sebuah hati mampu bertahan di tengah dinginnya seseorang yang terus menolak untuk disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B-Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Pada akhirnya Ryos termakan oleh ancaman Marsha. Kini dia bersama dengan wanita itu di ruang kerjanya untuk mencari solusi penyelesaian masalah yang tengah dihadapi proyek baru.
Ryos akui, dia tidak bisa bekerja maksimal jika tidak ada Marsha sebagai pendukung. Maka dari itu dengan terpaksa dia harus mengikuti kemauan Marsha dan mengesampingkan urusan pribadinya.
Lalu bagaimana dengan perasaan Marsha?
Tentu saja dia merasa senang karena akhirnya memiliki cukup waktu berduaan dengan pria idamannya. Dia pun tidak menyangka jika ancamannya berhasil.
Berjam-jam sepasang insan tersebut berada di satu ruangan yang sama. Membahas masalah pekerjaan. Berkali-kali juga Marsha melihat ponsel Ryos yang menyala karena ada panggilan masuk dari Avellyne, namun pria itu mengabaikan dan hanya mengirim satu pesan singkat kalau dia sedang mengadakan rapat, memberitahu kalau dia belum bisa keluar dari kantor.
Marsha merasa puas karena hari ini Ryos menjadi pria yang penurut.
Ryos menghela napas lega dan mematikan laptopnya karena mereka akhirnya menemukan titik penyelesaian.
"Akhirnya selesai juga," ucap Ryos.
"Kalau langsung dikerjakan, pasti cepat selesainya. Kalau begini aku pun bisa tenang mengerjakan pekerjaan lain. Setelah ini aku akan langsung memberi perintah kepala proyek untuk menyelesaikan masalah di lapangan." Marsha berkata sambil berdiri. Dia sudah merapikan barang-barangnya dan berniat keluar dari ruang kerja Ryos.
"Sha...." Ryos berdiri tepat di depan Marsha dan menatap wanita itu begitu lekat, "Jangan pernah mengancam aku seperti tadi," ucapnya dengan suara tegas.
Ryos menunjukkan sikap kalau dia tidak suka diancam seperti sebelumnya.
"Itu bukan ancaman. Aku memang capek kalau harus mengambil semua pekerjaan kamu. Aku menghandle semuanya sampai urusan pribadi aku sendiri terlewati. Jadi, aku berpikir kenapa harus kerja mati-matian kalau atasan aku sendiri tidak peduli dengan perusahaannya. Memangnya apa yang aku dapatkan kalau menjadi bawahan yang begitu loyalitas?"
"Kalau kamu memang ingin fokus dengan urusan keluarga dibandingkan nasib ratusan karyawan, sebaiknya kamu serahkan jabatan CEO kepada orang yang lebih mampu. Aku bekerja keras di perusahaan kamu bukan semata-mata karena uang. Kamu jangan lupa kalau aku juga seorang pewaris. Aku bisa pergi dari sini kapan pun aku mau. Kamu harus ingat itu!" Bukan hanya Ryos yang bisa berbicara tegas, Marsha pun bisa melakukannya.
Sepertinya kali ini dia tidak ingin bersikap lunak, sekarang dia tahu kelemahan Ryos dan dia akan melakukan hal yang sama, yaitu mengancam agar Ryos tidak meninggalkan pekerjaan seenaknya saja demi menemui Avellyne.
Keduanya saling melihat satu sama lain, suasana mendadak menjadi tegang.
Ryos duduk kembali di tempat semula dan sepertinya tidak ingin mengatakan apa pun. Dia sadar sudah melakukan kesalahan, namun tidak berniat untuk meminta maaf.
Marsha pun sepertinya tidak ingin mengatakan apa pun lagi. Dia berbalik badan dan berjalan pelan ingin keluar dari ruangan ini. Baru beberapa langkah, dia berhenti sambil memegangi kepalanya dan Ryos melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan Marsha langsung berdiri lalu bergegas mendekati rekan kerjanya itu.
"Sha...!" Ryos menahan tubuh Marsha yang tiba-tiba limbung.
Wanita itu mendadak tidak memiliki tenaga bahkan tas yang berisikan laptop terlepas begitu saja dari genggamannya.
"Marsha!" Ryos panik dan menggendong Marsha lalu merebahkan tubuh wanita itu di sofa.
"Kamu kenapa?" Ryos bertanya.
"Enggak tau... tiba-tiba aja aku pusing banget." Marsha menjawab dengan suara begitu pelan.
"Aku bawa kamu ke rumah sakit, ya?"
"Enggak, Yos." Marsha menggeleng lemah.
"Kayaknya aku kecapekan. Aku istirahat dulu di sini sebentar." Marsha memijit-mijit kepalanya sendiri.
"Ya, sudah. Kamu tiduran aja dulu di sini, biar aku temani." Ryos masih khawatir terlihat dari ekspresi wajahnya.
Dia jadi semakin bersalah karena belakangan ini memberikan banyak pekerjaan kepada Marsha. Dia pikir wanita itu akan baik-baik saja menghandle semua pekerjaannya.
Ryos berjalan ke arah meja kerjanya dan menghubungi bagian petugas agar membawakan minuman teh madu hangat, dia juga meminta petugas tersebut membawa minyak angin.
"Kepala kamu masih pusing?" tanya Ryos sudah kembali ke sofa dan duduk di sebelah Marsha yang terbaring.
Wanita itu hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.
"Maaf, ya, kamu sakit seperti ini karena aku." Ryos berkata penuh dengan perasaan menyesal. Bukan hanya permintaan maaf saja yang dia ucapkan, pria itu pun sudah memijit pelan kepala Marsha. Dia benar-benar merasa bersalah.
Tidak ada jawaban dari Marsha, wanita itu memejamkan matanya. Merasa sedikit nyaman karena pijatan dari Ryos.
Suara ketukan pintu dari luar membuat Ryos menghentikan sejenak apa yang tengah dilakukannya.
"Masuk!" ucap Ryos dengan suara agak keras.
Petugas cleaning service datang membawa apa yang diminta Ryos melalui panggilan telepon sebelumnya.
"Terima kasih!" ucap Ryos kepada petugas tersebut.
"Kamu minum teh hangatnya dulu, biar enggak lemas." Ryos membantu Marsha duduk, dia menahan tubuh wanita itu.
Setelah meneguk sedikit teh madu hangat tersebut, Marsha kembali merebahkan dirinya dan Ryos pun melanjutkan memijit-mijit pelan kening Marsha dengan mengoleskan sedikit minyak angin di sana.
"Gimana? Sudah lebih baik?" tanya Ryos.
"Enggak begitu pusing seperti tadi." Marsha menjawab dengan kedua mata terpejam. Dia benar-benar merasa nyaman dan rileks. Perasaannya terasa begitu tenang.
Sungguh, Ryos adalah pria idaman. Pria itu cepat bertindak memberi perlindungan dan kenyamanan.
Bagaimana bisa Marsha menolak pesona dari seorang pria seperti Ryos. Pria itu begitu perhatian, membuat Marsha tergila-gila dan jatuh cinta begitu dalam.
Suara getaran dari ponsel Ryos membuat pria itu berhenti memijat kepala Marsha. Dia menjawab panggilan masuk, tidak banyak yang dibicarakan dengan seseorang di balik telepon karena selanjutnya, dia membaca chat masuk dari si penelepon.
"Sha, aku harus pergi sekarang. Enggak bisa ditunda lagi. Aku minta Rani untuk menemani kamu di sini."
Marsha menebak jika yang menelepon barusan pasti Avellyne. Memangnya siapa lagi yang bisa membuat Ryos bergerak cepat kalau bukan wanita tersebut.
Baru saja dia merasa tenang karena diperlakukan begitu baik oleh Ryos dan sekarang dia merasa kesal karena Avellyne merusaknya.
Ryos pergi begitu saja bahkan sebelum Marsha mengucapkan sesuatu. Dia berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari ruangan, tidak lama kemudian Rani-sekertaris Ryos masuk bergantian untuk menemani Marsha.
"Ibu bagaimana? Apa perlu saya temani ke rumah sakit atau kepalanya mau saya pijit?" tanya Rani dengan sopan.
"Tidak perlu. Saya sudah sembuh." Marsha duduk tegak dan menjawab dengan suara ketus.
Cara berbicara dan raut wajahnya menunjukkan kalau dia baik-baik saja, tidak seperti beberapa menit yang lalu saat Ryos masih bersamanya.
"Ibu benaran sudah sehat?" tanya Rani sekali lagi.
Bukannya menjawab, Marsha malah berlalu begitu saja melangkah keluar dari ruang kerja Ryos.
Rani yang melihat sikap atasannya itu cuma bisa mengedikan bahu sebab dia sendiri tidak terlalu paham apa yang sebenarnya terjadi.
Sebelumnya, Ryos hanya berkata kalau Marsha tidak enak badan dan meminta sekertarisnya untuk menemani Marsha.
...
Orang yang menelepon dan mengirim chat kepada Ryos sebelumnya bukanlah Avellyne, melainkan dokter laboratorium yang mengecek sample darah Avellyne.
Dokter tersebut mengirimkan foto dan hasilnya masih sama seperti kemarin, Avellyne positif penyalahgunaan obat.
"Dokter!" Ryos sudah berada di rumah sakit dan menemui dokter tersebut. Perasaannya sudah berkecamuk dan tidak menentu.
"Tidak salah lagi, calon istri Anda memang pengguna. Jenis obatnya seperti morfin yang memberi efek menenangkan. Sebenarnya obat tersebut masih boleh dikonsumsi dengan pengawasan ketat dan harus pemberian dari dokter. Biasanya digunakan untuk sakit tertentu. Mungkin Anda bisa bertanya langsung, apakah Mbak Avellyne sedang menjalani terapi atau dia memang mendapatkannya secara ilegal."
Ryos tidak bisa berkata-kata lagi, dia benar-benar tidak menyangka. Tetapi, bukankah masih ada kemungkinan Avellyne mendapatkan obat tersebut atas saran dokter?
"Mas Ryos!" Suara Dokter menyadarkan Ryos dari lamunan singkatnya.
"Saya akan bertanya langsung, Dok. Terima kasih, Dokter." Ryos tersenyum getir. Dia menerima kertas yang berisikan hasil pemeriksaan darah Avellyne lalu berpamitan.
...
Ryos tidak ingin menduga-duga dan ingin semuanya menjadi jelas. Dia harus mendapatkan jawaban jujur dari wanitanya.
Pria itu melajukan mobil menuju butik di mana Avellyne selalu menghabiskan waktunya.
"Gue pikir loe enggak bakal datang hari ini. Hari ini loe sibuk banget, ya. Enggak biasanya keluar dari kantor jam segini." Avellyne berkata seraya melihat jam pada pergelangan tangannya dan waktu menunjukkan hampir pukul enam sore.
Ryos tetap berdiri di ambang pintu dan memerhatikan wanitanya yang duduk di depan sana.
Tidak ada yang aneh dari Avellyne. Wanita itu terlihat baik-baik saja kecuali wajahnya terlihat sedikit sembab.
Karena Ryos tidak juga mendekati mejanya, Avellyne pun mengalihkan pandanganya dari laptop dan menatap calon suaminya yang masih betah berdiri di ambang pintu.
"Loe kenapa, Yos?" tanya Avellyne dan barulah Ryos mendekat.
"Vel, aku mau kamu jawab pertanyaan aku dengan jujur."
"Hmm...." Avellyne menaikan sebelah alis, dia melihat sikap Ryos sangat berbeda hari ini. Seperti ada sesuatu yang penting ingin diketahui oleh pria itu.
"Kamu enggak sakit parah, kan?" tanya Ryos.
"Kenapa? Apa hasil darah gue menunjukkan sakit serius?"
"Gue merasa baik-baik aja," ucap Avellyne.
"Belakangan ini kamu minum obat apa, Vel?" Mimik wajah Ryos semakin serius saja. Dia tidak ingin membuang waktu dengan berbasa-basi.
"Enggak ada kecuali vitamin. Emangnya kenapa, sih? Loe jangan bikin gue takut, Yos. Dokter bilang apa? Hasil darah gue kenapa, Yos?" Avellyne berdiri dan mendekati Ryos.
Melihat sikap Ryos yang tidak biasa tentu saja menciptakan ketakutan pada diri Avellyne.
"Dokter sudah mengecek sample darah kamu dua kali. Kamu positif narkoba, Vel."
"Ha...!" Avellyne sangat terkejut, kedua matanya melotot sebagai ekspresi rasa tidak percaya mendengar ucapan Ryos.
"Jangan bercanda," ucap Avellyne.
"Aku serius. Itu makanya kemarin dokter mengambil kembali sample darah kamu untuk lebih memastikan kalau mereka tidak salah ngecek."
"Jawab aku dengan jujur, Vel. Dari mana kamu mendapatkan obat itu?"
"Gue bukan pemakai, Yos. Loe harus percaya sama gue."
"Aku ingin percaya sama kamu, tapi hasil darah ini mengatakan sebaliknya." Ryos memberikan selembar kertas yang berisikan hasil pemeriksaan darah Avellyne.
"Ini pasti salah. Kita ke rumah sakit dan mereka bisa mengambil darah gue untuk ngecek ulang."
"Ini pemeriksaan ke tiga dan hasilnya tetap sama. Sample darah yang mereka ambil kemarin di uji sebanyak dua kali. Hasilnya seperti yang kamu lihat pada kertas itu."
"Avel...." Ryos memegang kedua pundak Avellyne dan melihat dengan tatapan teduh.
"Kamu bisa jujur kepadaku dan menceritakan semuanya. Aku tidak akan menghakimi kamu dan perasaan aku tidak akan pernah berubah. Entah kamu mendapatkan obat itu dari dokter atau mendapatkannya secara ilegal aku akan berusaha memahami kamu. Aku hanya membutuhkan jawaban jujur dari kamu, Sayang!"
"Ryos!" Avellyne menyingkirkan tangan Ryos dari pundaknya lalu dia mundur selangkah.
"Gue tidak bisa mengatakannya, Yos." Terlihat Avellyne dilanda kebingungan.
Ryos maju selangkah, namun Avellyne kembali mengambil langkah mundur. Seakan dia ingin menjauh dari pria itu.