Naila tak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam sekejap. Dihujani fitnah dan kebencian dari keluarga mantan suaminya, ia menjadi orang asing di rumah yang dulu dianggap tempat pulang. Difitnah suami dan dikhianati adik sendiri. Luka batin bertubi-tubi dan pengkhianatan yang mendalam memaksanya bangkit menjadi sosok baru yang tegas, penuh perhitungan, dan siap membalas setiap luka yang pernah diterimanya.
Lima tahun berlalu, Naila kembali dengan wajah dan tekad yang berubah. Bukan lagi wanita lemah, ia kini hadir sebagai ancaman nyata yang mengguncang rumah tangga mantan suaminya. Dalam perjalanan membalas dendamnya, ia akan menguak rahasia-rahasia kelam dan menetapkan aturan baru, tidak ada yang boleh melecehkannya lagi.
Siapakah yang akan bertahan saat permainan balas dendam dimulai?
Bersiaplah menyelami kisah penuh emosi, intrik, dan kekuatan wanita yang tak tergoyahkan dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wida_Ast Jcy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 RENCANA BUSUK NADIA
“Ah....yeah baby... Ah terus baby oohh... "terdengar suara desahan seorang wanita dikamar hotel.
Desahan yang saling bersahutan antara satu satu sama lain yang menggema keseluruh ruangan kamar itu.
"Bagaimana, Sayang? Kamu puas?” tanya pria itu seraya merebahkan tubuhnya di samping wanita yang baru saja bersamanya.
“Tentu, Sayang. Aku selalu puas,” jawab wanita itu sambil tersenyum lebar.
Wanita yang baru saja selesai memadu kasih dengan seorang pria itu bukanlah seorang lajang. Ia adalah Nadia, seorang istri sah dari Naufal. Namun, hatinya tengah dipenuhi amarah dan kekecewaan setelah mengetahui bahwa suaminya diam-diam menemui Naila hari ini. Karena tidak mampu menahan amarah dan cemburunya, ia pun meminta kekasih gelapnya untuk datang ke sebuah hotel.
“Syukurlah kalau begitu, sayang. Panggil aku kapan saja, aku akan selalu siap untukmu, sayang...” ujar pria itu yang tak lain adalah Julian.
Ya, Julian dan Nadia memang sepasang kekasih terlarang. Lewat Julian, Nadia merasa memiliki kendali atas hidupnya kembali. Bersamanya, ia bisa menyingkirkan Naila dari kehidupan Naufal. Dalam pikirannya, selama Naila masih ada, kebahagiaannya bersama Naufal tidak akan pernah utuh.
Julian, yang merupakan sosok manipulatif dan cerdik, memanfaatkan kebencian Nadia terhadap Naila untuk kepentingannya sendiri. Ia tahu betul bahwa dendam seorang wanita yang terluka jauh lebih berbahaya daripada amarah siapa pun.
Asisten pribadi Naufal tentu saja lebih tahu keseharian atasannya itu. Ia rela berbagi kekasihnya asalkan Nadia bahagia. Lagi pula, dengan pernikahan Naufal dan Nadia, ia bisa meminta ini dan itu kepada Nadia kekasihnya tersebut. Nadia telah menjanjikan apa pun yang Julian inginkan.
“Lalu, apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Julian pada kekasihnya itu.
Nadia terdiam. Wajahnya murung, ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menaklukkan hati Naufal. Berdasarkan informasi dari Julian, Naufal mendatangi Naila hari ini dan akan memintanya untuk rujuk. Hal itu tentu saja membuat Nadia sangat marah.
“Entahlah, Beib. Rasanya percuma saja. Setelah semua yang aku lakukan, Naufal masih saja mengejar-ngejar Naila, sialan itu. ” ucap Nadia putus asa.
Julian menyibak anak rambut kekasihnya itu, kemudian mengecup kening Nadia dengan lembut. “Kamu tidak boleh menyerah. Kamu akan menjadi satu-satunya dan menguasai Pratama Grup, Sayang.”
Pria itu berusaha meyakinkan kekasihnya. Tentu saja ia akan diuntungkan jika Nadia bisa terus bersama Naufal. Ya, meskipun pada awalnya rasa cemburu itu sempat ia rasakan. Bagaimana tidak, membayangkan kekasih sendiri bersama pria lain yang kini telah sah menjadi suaminya. Namun demi kebahagiaan Nadia dan juga demi uang, ia rela melakukan apa pun demi kekasihnya itu.
“Apa yang harus aku lakukan, Sayang? Aku sudah kehilangan akal untuk menaklukkan Mas Naufal. ” tanya Nadia manja.
“Satu-satunya cara adalah menyingkirkan Naila. Atau…”Pria itu menghentikan kalimatnya sejenak, menatap Nadia yang tampak penasaran.
Julian menyeringai sambil berbisik kepada Nadia. Ia mengutarakan rencananya yang membuat Nadia tersenyum lebar.
“Kita akan merusak wajahnya. Naufal tidak akan mau kembali pada Naila jika wajah wanita itu jelek.”
Dua manusia tak berperasaan itu saling menatap satu sama lain sambil melemparkan senyum. Sebuah rencana mereka susun. Rencana yang akan mengubah hidup Naila, namun juga akan menjadi bumerang untuk kehidupan Nadia di kemudian hari.
Dua hari kemudian.
Naila duduk di kursi ruang tamu dengan tatapan kosong. Namun kali ini, sorot matanya lebih tenang, seolah ada percikan semangat baru yang menuntun langkahnya. Ia menarik napas panjang, membayangkan hari esok yang penuh harapan.
Kak Lani, sahabat sekaligus mentor yang Naila percayai, telah membuka pintu kesempatan besar untuknya di dunia fesyen dan kecantikan. Naila merasa ini adalah langkah yang tepat untuk meninggalkan kota ini, melupakan masa lalu yang menyakitkan bersama Naufal, dan memulai segalanya dari awal.
“Nai, benar kamu yakin mau berangkat besok? Apa kamu tidak terlalu terburu-buru?” tanya Olivia, sahabat setianya yang sedang merapikan berkas-berkas pekerjaannya.
“Yakin, Liv. Aku tidak mau menunda-nunda lagi. Semuanya sudah siap,” jawab Naila sambil tersenyum tipis, meskipun terlihat gurat kelelahan di wajahnya.
“Kamu harus menjaga kesehatan, ya. Aku lihat kamu sangat sibuk dua hari ini. Jangan sampai jatuh sakit, apalagi kamu baru saja keguguran,” ujar Olivia mengingatkan.
Naila mengangguk ringan. “Iya, Liv. Hari ini aku hanya perlu menyelesaikan beberapa hal. Aku mau ke bank dulu, setelah itu mengurus AJB dengan notaris. Semuanya harus beres hari ini. Aku tidak mau ada urusan yang menggantung.”
Olivia mengerutkan dahi. “Kamu tidak letih? Kenapa tidak ditunda saja dulu? Kalau kamu mau, aku bisa membantu.”
“Tidak perlu, Liv. Kamu juga sedang sibuk dengan kasus UMKM itu, kan? Tidak apa-apa, aku bisa sendiri. Lagi pula, semakin cepat aku menyelesaikan semuanya, semakin cepat aku bisa meninggalkan kota ini,” ujar Naila tegas.
Olivia akhirnya mengangguk, meskipun tetap terlihat khawatir. Namun di sisi lain, ia juga ikut senang karena Naila mulai menyibukkan diri setelah penderitaan panjang yang ia alami. Ia berharap setelah ini, Naila tidak lagi menangis di tengah malam.
Seorang Naufal tidak layak untuk ditangisi oleh Naila. Olivia yakin, dalam waktu dekat sahabatnya itu akan segera bangkit dari keterpurukan. Naila menandatangani dokumen bersama notaris di sebuah kafe kecil. Semua proses berjalan lancar meskipun memakan banyak waktu dan tenaga.
Sore harinya, Naila menyempatkan diri untuk bertemu dengan mantan karyawannya. Ia menyerahkan pesangon yang telah ia siapkan dan mengucapkan terima kasih atas kerja keras mereka selama ini. Perpisahan itu berlangsung penuh haru. Beberapa karyawannya menitikkan air mata, begitu pula Naila yang berusaha menahan isak saat memeluk mereka satu per satu.
“Terima kasih, Bu Naila. Kami tidak akan lupa kebaikan Ibu,” ucap Risa, salah satu karyawannya, dengan mata berkaca-kaca.
“Doa yang terbaik untuk kalian semua. Semoga sukses di mana pun kalian berada ya,” jawab Naila lembut.
“Semoga Bu Naila juga selalu diberikan kebahagiaan dan kesuksesan. Kami semua selalu mendoakan yang terbaik untuk Ibu. Bu Naila orang baik, semoga apa pun yang terjadi saat ini adalah jalan untuk mengangkat derajat Ibu,” ucap Mbak Yola yang membuat suasana haru di butik itu pecah.
Mereka berpelukan, saling memaafkan, dan saling memberi dukungan. Naila masih bersyukur, di tengah berbagai cobaan yang datang silih berganti, ia masih dikelilingi oleh orang-orang baik seperti sahabat dan para mantan karyawannya itu.
"Apakah ibu langsung mau pulang? Bagaimana kalau aku hantar Bu Naila pulang? "tawar Risa.
"Tidak perlu Ris. Terimakasih ya. Saya pamit dulu. Hari sudah malam. "Naila pun pamit dan meninggalkan para karyawan nya disana.
Malam itu, setelah menyelesaikan semua urusannya, Naila merasa lega. Ia menghubungi Olivia untuk meminta jemputan. Namun, panggilannya tidak dijawab meskipun ia sudah mencoba beberapa kali.
"Liv, kamu di mana, sich?” gumamnya pelan, sedikit kecewa.
Akhirnya, Naila memutuskan memesan taksi daring. Ia berdiri di depan ruko yang kini sudah kosong. Suasana di sekitarnya begitu sepi. Jalanan hanya diterangi beberapa lampu jalan yang remang-remang. Angin malam berembus dingin, membuat Naila beberapa kali mengusap lengannya yang tertutup oleh lengan gamis yang ia kenakan.
Waktu berlalu, tetapi taksi daring yang dipesannya belum juga tiba. Naila melirik jam tangan. Pukul sepuluh malam. Ia mulai gelisah, merasa tidak nyaman berada di tempat sepi seperti itu seorang diri.
“Aah, seharusnya tadi aku terima saja tawaran Risa yang mau mengantarkan pulang. Tapi… kalau menerima tawaran itu, kasihan juga Risa. Arah jalan ke rumah Olivia berlawanan dengan arah jalan pulang ke rumahku,” gumam Naila.
Dari kejauhan, Naila melihat sebuah mobil mendekat. Matanya berbinar. Awalnya ia mengira mobil itu adalah taksi daring yang dipesannya, tetapi saat mobil itu berhenti tepat di depannya, Naila menyadari sesuatu yang aneh. Plat mobil tersebut tidak sesuai dengan yang tertera di aplikasi.
BERSAMBUNG...
baguslah Najla ga benar benar sendiri karena ada Olivia sebagai moral sistem
semoga dikasih jodoh yg lebih baik sama author, aamiin.
Pas Naila berdoa dan mikir tentang hikmah dari musibahnya, aku juga ikutan merenung... 😔 Ia merasa bersalah karena keguguran tapi tetap berusaha ikhlas, bahkan bilang mungkin Tuhan udah tunjukin wajah asli orang-orang sekitarnya. Keesokan paginya pas Olivia bilang mau dia tinggal sama aja dan bahkan mengajakin ke Singapura, bikin aku seneng banget deh! Naila juga mulai sedikit ceria lagi dan bilang udah jual butiknya buat modal hidup baru... Semoga benar-benar bisa mulai hidup baru yang lebih baik ya Naila! 😊 Penasaran banget gimana kelanjutannya authorrr, apakah dia bakal pindah ke Singapura atau ada tempat lain yang jadi pilihan nya? ❤️✨