Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: CERMIN YANG RETAK
Kejadian di gerbang sekolah tadi pagi benar-benar jadi topik terhangat di SMA Merdeka. Ke mana pun Alsya melangkah, bisikan-bisikan itu selalu mengikutinya. Namun, yang paling membuat Alsya gerah adalah tatapan Eliza yang terus-menerus mengawasinya dari meja seberang saat jam pelajaran berlangsung.
Begitu bel istirahat berbunyi, Eliza langsung menghampiri meja Alsya. Dia berdiri di sana dengan wajah yang tampak begitu prihatin, membuat Alsya merasa ingin muntah.
"Sya, gue mau ngomong bentar sama loe," ucap Eliza pelan, cukup untuk didengar teman-teman sekelas mereka.
Alsya tetap fokus mencoret-coret bukunya.
"Ngomong aja, nggak ada yang larang."
"Soal Samudera... loe beneran ada hubungan sama dia? Sya, dia itu anak baru, kita nggak tahu latar belakangnya gimana. Gue takut dia cuma mau manfaatin loe karena tahu loe lagi ada masalah sama Revaldi dan orang tua kita," kata Eliza dengan nada yang sangat hati-hati.
Alsya meletakkan pulpennya dan mendongak, menatap Eliza dengan tatapan tajam. "Manfaatin gue? Buat apa, El? Gue nggak punya apa-apa yang bisa dibanggain kayak loe. Loe takut reputasi loe ikut rusak karena kembaran loe ini deket sama cowok 'asing'?"
"Bukan gitu, Sya. Gue cuma peduli sama loe. Revaldi juga tadi marah banget, dia bilang loe sengaja manas-manasin dia pakai anak baru itu," lanjut Eliza.
Alsya tertawa sinis. "Oh, jadi Revaldi marah? Bagus dong. Bilangin ke cowok pujaan loe itu, nggak usah kepedean. Dunia gue nggak cuma muter di dia doang."
"Tapi, Sya—"
"Sya, ayo cabut."
Suara bariton itu memotong ucapan Eliza. Samudera sudah berdiri di ambang pintu kelas dengan tangan masuk ke saku celana. Kehadirannya langsung membuat suasana kelas yang tadinya bising jadi sunyi seketika.
Samudera berjalan mendekat, sama sekali tidak melirik Eliza yang berdiri di samping meja Alsya. Matanya hanya tertuju pada Alsya. "Loe mau di sini terus dengerin ceramah, atau mau ikut gue cari makan? Gue laper."
Alsya sempat ragu sebentar, tapi melihat wajah Eliza yang tampak terkejut, dia langsung berdiri. "Gue ikut loe."
Saat mereka berdua hendak keluar, Eliza memanggil lagi. "Samudera! Gue harap loe nggak bawa pengaruh buruk buat Alsya. Dia udah cukup banyak masalah."
Samudera menghentikan langkahnya, tapi dia tidak berbalik. "Pengaruh buruk?" Samudera terkekeh pelan, terdengar sangat dingin. "Menurut gue, yang lebih buruk itu adalah orang yang selalu merasa paling bener tapi nggak pernah sadar kalau kehadirannya justru jadi racun buat orang di sebelahnya."
Kalimat itu telak mengenai Eliza. Wajahnya langsung pucat pasi. Samudera melanjutkan langkahnya, menarik ujung jaket Alsya agar mengikutinya.
Mereka tidak pergi ke kantin, melainkan ke atap sekolah yang biasanya terkunci. Entah bagaimana caranya, Samudera punya kuncinya. Di sana, angin berhembus cukup kencang, membawa aroma hujan yang belum sepenuhnya hilang.
"Loe tadi keterlaluan sama Eliza," ucap Alsya sambil duduk di pinggiran tembok pembatas.
"Gue cuma jujur," sahut Samudera singkat. Dia menyerahkan sebungkus roti dan kotak susu yang tadi sempat dia beli di koperasi. "Makan. Muka loe pucat, jangan sampai loe pingsan terus nyusahin gue."
Alsya menerima makanan itu. "Loe kenapa sih, Sam? Kenapa loe mau repot-repot urusin gue? Loe baru di sini, harusnya loe temenan sama anak-anak hits kayak Revaldi, bukan malah deket sama cewek kayak gue."
Samudera duduk di samping Alsya, menatap langit mendung di atas mereka. "Gue nggak suka keramaian yang palsu. Gue lebih suka sendirian, atau sama orang yang apa adanya. Kayak loe."
"Gue? Gue kan jahat, gue tukang bully, gue pengganggu," Alsya menyebutkan semua gelar yang disematkan orang padanya dengan nada getir.
Samudera menoleh, menatap Alsya dalam-dalam. "Loe itu cuma anak kecil yang lagi marah karena mainannya diambil, tapi dalam kasus loe, yang diambil itu kasih sayang. Loe nggak jahat, Sya. Loe cuma capek."
Air mata yang sejak tadi pagi Alsya tahan, akhirnya jatuh juga. Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya. Samudera tidak mencoba menenangkannya dengan kata-kata manis, dia hanya duduk di sana, menjadi saksi bisu kehancuran Alsya yang selama ini tersembunyi di balik tawa cerianya.
"Sam..." bisik Alsya di sela isakannya. "Loe bener. Gue capek banget."
Samudera mengulurkan tangannya, menepuk puncak kepala Alsya dengan kaku—seolah dia tidak terbiasa melakukan hal itu—namun terasa sangat tulus. "Yaudah, hari ini loe boleh capek. Besok, loe harus jadi Alsya yang galak lagi biar nggak ada yang berani injak-injak loe."
Tanpa sadar, Alsya tersenyum tipis di balik tangisnya. Di atap sekolah yang sepi itu, untuk pertama kalinya Alsya merasa bahwa dia tidak benar-benar sendirian di dunia ini.
Bersambung...