NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Action / Fantasi / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghakiman Langit!

Lautan yang luas, yang seharusnya membiru di bawah terik matahari siang, kini adalah lukisan kekacauan yang suram. Langit tertutup awan kelabu tebal yang memuntahkan hujan deras seperti tombak air. Ombak setinggi gunung saling menabrak dengan gemuruh yang menggetarkan jiwa, dan di beberapa tempat, pusaran-pusaran air raksasa berputar seperti mulut monster yang tak pernah kenyang. Suasana penuh dengan amarah alam yang buta.

Di tengah kekacauan ini, di udara sekitar seratus meter di atas permukaan laut yang mengamuk, ruang tiba-tiba berkerut. Sebuah celah terbuka, dan dari dalamnya, seorang pria muda terlempar keluar. Xu Hao.

Dia melayang di udara, pakaian sederhananya langsung basah kuyup oleh hujan. Tapi dia tidak peduli. Matanya yang tajam langsung menyapu sekeliling, menilai situasi. Energi Heaven Ascension-nya yang merah tua secara otomatis membentuk selubung tipis di sekelilingnya, membuat air hujan menguap sebelum menyentuh kulitnya.

"Aku merasa ada yang mengawasiku," gumamnya, suaranya tenggelam dalam gemuruh badai. Bukan hanya perasaan; indra spiritual-nya yang telah meningkat drastis menangkap sebuah 'tatapan' berat dari suatu tempat yang sangat tinggi, sangat jauh, tapi sangat nyata. Itu tatapan yang sama seperti Mata Langit di dunia pelangi, tapi kali ini lebih... personal. Lebih berniat buruk.

Dia tidak ingin menunggu. Dengan satu langkah, dia menghilang dari tempatnya, menggunakan teknik perpindahan jarak pendek yang dimungkinkan oleh pemahaman Dao Ruang-nya yang mendalam.

Seribu kilometer jauhnya, di tengah lautan yang sama-sama bergolak, ada sebuah pulau kecil. Hanya sekitar tiga kilometer diameternya, dipenuhi oleh vegetasi tropis yang lebat dan gelap. Dari udara, Xu Hao bisa melihat makhluk-makhluk aneh berkeliaran: kadal berwarna-warni sebesar sapi, burung-burung dengan bulu logam yang melesat di antara pepohonan, dan sesekali kilatan mata besar dari dalam gua-gua gelap.

"Menarik," kata Xu Hao, mendarat di tepi pantai berpasir hitam pulau itu. Suara ombak yang menghantam karang, teriakan hewan-hewan aneh, dan gemericik hujan di daun-daun menciptakan simfoni alam yang liar.

Namun, begitu kakinya menyentuh tanah, dunia berubah.

Tekanan yang tak terbayangkan menghantamnya dari atas, seperti sebuah gunung langit yang dijatuhkan langsung ke atas pundaknya. Tanpa bisa melawan, tanpa peringatan.

KRAK!

Tulang-tulang di kakinya berderak, dan dia terpaksa berlutut, tubuhnya terbenam beberapa inci ke dalam pasir basah.

"AKHIRNYA."

Suara itu bergema, bukan melalui udara, tapi langsung ke dalam jiwa, ke dalam setiap sel tubuhnya. Dingin, tanpa emosi, penuh otoritas mutlak.

Xu Hao mendongak, dengan susah payah melawan tekanan yang hampir menghancurkannya. Di langit di atas pulau, awan-awan berputar membentuk pusaran raksasa yang jauh lebih besar dan lebih gelap dari badai di sekelilingnya. Dari pusat pusaran itu, sebuah siluet samar mulai terbentuk. Bukan hanya Mata, kali ini ada bentuk manusia. Sebuah siluet pria raksasa, duduk di atas takhta awan dan petir, wajahnya tidak bisa dilihat dengan jelas, tapi sepasang mata menyala berwarna abu-abu badai menatap langsung ke arahnya.

"MAKHLUK RENDAHAN. MAKHLUK SESAT YANG TIDAK BOLEH DIBIARKAN HIDUP."

Tekanan bertambah. Xu Hao terjatuh telungkup, wajahnya menempel di pasir basah yang berbau garam dan tanah. Darah memercik dari mulutnya, warnanya merah tua seperti Qi-nya.

"HARI INI LANGIT DATANG UNTUK MENGAKIMIMU. MENGHAPUS EKSISTENSI-MU. KARENA TAKDIR SUDAH MENENTUKANNYA."

"ARGHHH!" erang Xu Hao, berusaha mendorong tangannya untuk bangkit. Tulang-tulang rusuknya retak lagi. Kondisi semakin mengerikan. Udara di sekelilingnya menjadi padat seperti besi, mencoba menghancurkannya dari luar ke dalam.

Tapi di tengah rasa sakit dan tekanan yang tak tertahankan itu, kemarahan dan pertanyaan yang terpendam selama ini meledak.

"AKU... TIDAK... MENGERTI!" teriaknya, suaranya parau dan penuh darah. "KENAPA KAU INGIN MENGHANCURKANKU?"

"JIKA MEMILIKI ALASAN YANG JELAS... KATAKANLAH!!!"

Xu Hao mengerahkan Hukum Asal. Energi merah tuanya yang biasanya berputar tenang kini mendidih. Dia memanggil fondasi segala sesuatu, hukum penciptaan dan pembubaran itu, untuk melindungi dirinya sendiri. Sebuah lapisan cahaya samar berwarna kuning tua, seperti cahaya fajar pertama alam semesta, membungkus tubuhnya. Tekanan dari langit sedikit berkurang, cukup baginya untuk mendorong tubuhnya yang terluka untuk BERDIRI.

Dia berdiri tegak, meski kakinya gemetar dan darah mengalir dari setiap lubang di tubuhnya. Dia menatap siluet raksasa di langit. Dia bisa merasakannya. Tribulasi langit kali ini... jauh, jauh lebih kuat dari yang sebelumnya di dunia pelangi. Ini bukan lagi ujian atau hukuman. Ini adalah pemusnahan.

Kekuatan Heaven Ascension-nya, yang ia pikir membuatnya merasa tak tertandingi, kini terasa seperti lilin di tengah topan dibandingkan dengan kekuatan murka langit ini. Sebuah perasaan kecil dan tak berdaya yang belum pernah dia rasakan sejak menjadi anak kecil yang tak berbakat di Desa Batu.

Tapi di balik perasaan itu, ada keyakinan lain. Keyakinan pada Pedang Pemutus Dao yang ada di dalam dantiannya. Keyakinan pada Dao Pemberontakan yang telah dia wujudkan dengan darah dan tekadnya sendiri. Dia yakin, dengan kedua hal itu, dia bisa menghadapi penghakiman ini. Dia harus bisa.

Di langit, siluet itu menggerakkan tangannya. Bukan telapak tangan seperti sebelumnya, tapi sebuah kepalan tangan raksasa yang terbentuk dari awan petir, angin puyuh, dan hukum langit itu sendiri. Tinju itu turun, lambat tapi pasti, dan setiap detik ke bawah, ruang di sekitarnya retak dan bergetar.

Xu Hao menghela napas, mengumpulkan sisa kekuatannya. Lalu, dia melesat ke atas, meninggalkan tanah, terbang langsung menuju kepalan tangan yang akan menghancurkannya.

"AKU TIDAK TAHU APA ALASANNYA KAU MEMANGGILKU SESAT!!!"

Teriaknya, suaranya mengandung seluruh kebingungan, sakit hati, dan amarahnya selama ini.

"Tapi Heaven Ascension milikku! Tubuh ini milikku! Dao ini milikku... DAN TAKDIR!"

Dia berhenti di udara, tepat di jalur kepalan tangan yang turun. Matanya berbinar dengan cahaya merah dan keperakan.

"AKU TIDAK PERCAYA!!!"

Teriakan pemberontakannya menggema, memotong gemuruh petir dan angin.

Dari tengah dadanya, cahaya keperakan memancar. Pedang Pemutus Dao keluar, bukan melalui mulut atau tangan, tapi langsung menembus kulit dan otot dadanya, seolah-olah dilahirkan kembali. Xu Hao meraihnya. Pedang itu terasa lebih berat dari sebelumnya, lebih hidup, seakan-akan ikut marah pada penghakiman yang tidak adil ini.

Dengan semua kekuatan, semua hukum, semua tekad pemberontakannya, dia mengayunkan pedang itu. Bukan sebuah tebasan mewah. Hanya sebuah garis lurus, sederhana, dari bawah ke atas.

Sebuah garis cahaya keperakan, tipis seperti benang sutra, melesat dari ujung pedang. Itu terlihat lemah, tidak berarti di hadapan kepalan tangan raksasa langit.

Tapi saat bersentuhan, keajaiban atau lebih tepatnya, pelanggaran terhadap hukum biasa terjadi.

Garis keperakan itu membelah kepalan tangan itu. Bukan meledakkannya, tapi memotongnya dengan bersih, seperti pisau tajam memotong air. Kepalan tangan itu terbelah menjadi dua, dan kedua belahannya mulai bubar menjadi energi kacau yang kemudian diserap oleh garis cahaya itu sendiri.

Garis itu tidak berhenti. Dengan momentum yang tak terbendung, ia terus melesat ke atas, langsung menuju jantung siluet raksasa di langit, tempat di mana seharusnya dadanya.

Pada saat itulah, siluet itu bereaksi.

Untuk pertama kalinya, ekspresi terlihat pada wajah samarnya: KEHERANAN, diikuti oleh KEMARAHAN.

Dia mengangkat tangannya yang lain, mencoba menangkis garis cahaya itu.

Tapi garis cahaya Pedang Pemutus Dao itu seperti memiliki kehendak sendiri. Ia berbelok, menghindari tangkisan, dan terus maju.

"BERANI SEKALI!!!"

Suara langit bergemuruh, kini mengandung sedikit... KEGELISAHAN?

Garis itu akhirnya mencapai siluet dan... menembusnya.

ZZZTTT!

Suara seperti kain sutra robek. Siluet raksasa itu bergetar, dan untuk sesaat, gambarnya menjadi jelas. Xu Hao, dari kejauhan, melihat sosok seorang pria dengan wajah tampan namun dingin bagai es, dengan mahkota cahaya di atas kepalanya, dan mata yang memancarkan cahaya abu-abu tanpa jiwa.

Xu Hao terkejut melihat itu.

"Apakah dia... orang yang sama?" pikir Xu Hao, dahinya berkerut. "Siapa dia? Dewa? Penjaga Langit? Atau... sesuatu yang lain?"

Tapi tidak ada waktu untuk berpikir. Karena setelah garis cahaya menembusnya, siluet itu tidak hancur. Dia hanya... marah.

"EKSISTENSI-MU HARUS MENGHILANG DARI DUNIA."

Kata-kata itu diucapkan dengan tenang yang mengerikan. Lalu, siluet itu mengangkat satu jarinya. Hanya satu jari. Dari ujung jari itu, sebuah titik cahaya abu-abu kecil terbentuk, lalu melesat turun ke arah Xu Hao.

Titik cahaya itu kecil, tidak sebanding dengan kepalan tangan sebelumnya. Tapi saat Xu Hao melihatnya, seluruh naluri survivalnya, seluruh jiwa dan raganya, berteriak dalam TEROR MURNI.

GAWAT.

Pikirannya bekerja dengan kecepatan kilat. Serangan ini berbeda. Ini bukan lagi penghakiman atau tribulasi. Ini adalah penghapusan. Jika dia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya, dia akan benar-benar mati, terhapus dari eksistensi, bahkan mungkin dari ingatan dan karma.

"Aku tidak punya pilihan," geram Xu Hao.

Dia menarik napas terakhirnya yang mungkin. Seluruh kekuatan Heaven Ascension-nya yang merah tua dia kumpulkan, membuat tubuhnya bersinar seperti matahari darah. Hukum Asal dia panggil hingga batas maksimal, menstabilkan ruang di sekelilingnya dan memperkuat setiap molekul tubuhnya. Dao Ruang dia gunakan untuk membengkokkan ruang di depan titik cahaya itu, mencoba memperlambatnya, mengalihkannya. Dao Pembunuhan dia lepaskan, bukan untuk menyerang, tapi untuk memberi 'kematian' pada serangan itu sendiri, mencoba membubarkan hukum yang menyusunnya.

Dan yang terpenting, dia mengerahkan Dao Pemberontakan-nya. Semangatnya yang menolak takdir, menolak penghakiman, menolak untuk dimusnahkan. Semangat itu menjadi tameng terakhirnya.

Dia juga mengangkat Pedang Pemutus Dao, menempatkannya di depan tubuhnya, seperti perisai.

Titik cahaya abu-abu itu datang.

DZAAANNGGG!!!

Benturan itu tidak menghasilkan ledakan besar. Hanya sebuah dentuman rendah yang menggetarkan seluruh pulau dan lautan di sekitarnya. Cahaya putih menyilaukan membutakan segala sesuatu.

Xu Hao merasa dirinya terlempar ke belakang dengan kecepatan yang tak terkira. Setiap tulang di tubuhnya patah. Setiap meridian robek. Inti Dao-nya retak. Darahnya bukan lagi menetes, tapi memancur.

Tapi... dia sadar. Dia masih hidup.

Cahaya putih memudar. Dia terbaring di dalam sebuah kawah besar di tengah pulau, dikelilingi oleh pepohonan yang hancur dan hewan-hewan yang mati atau ketakutan.

Di langit, pusaran awan dan siluet raksasa itu perlahan-lahan memudar, seolah-olah kehilangan minat atau kekuatan.

"KAU... TERTAHAN. TETAPI INI BUKAN AKHIR. TAKDIR-MU TELAH DITETAPKAN. KAU AKAN DIMUSNAHKAN."

Suara itu bergema untuk terakhir kalinya, lalu menghilang bersama siluetnya. Langit berangsur cerah, hujan berhenti, ombak mereda. Seolah-olah badai dan penghakiman tadi tidak pernah ada.

Xu Hao terbaring di kawah, tidak bisa bergerak. Tapi di matanya, ada api yang tidak padam. Api kemarahan, tekad, dan sebuah keputusan yang gelap.

"Langit... sudah jelas membenciku," gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Untuk apa lagi memikirkan hal-hal tidak penting? Untuk apa ragu? Jika dunia ini, jika Langit ini, sudah menetapkanku sebagai sesat, sebagai ancaman yang harus dimusnahkan..."

Xu Hao berusaha menggerakkan tangan yang hancur. Dengan susah payah, dia mengeluarkan sebuah benda dari cincin penyimpanannya yang retak. Pedang hitam Han Che. Pedang yang sederhana, usang, dan tampak tidak berguna.

"...maka aku akan menjadi ancaman yang sesungguhnya."

Xu Hao menatap pedang hitam itu, darah dari tangannya yang hancur menetes ke bilahnya. Darah itu diserap, tanpa bekas.

"Aku tidak akan lagi memikirkan benar atau salah menurut mereka. Aku akan mengasahmu. Aku akan memberimu nyawa yang mereka anggap layak untuk dibunuh. Musuh-musuhku, mereka yang berdiri di jalanku, mereka yang ingin memusnahkanku... mereka akan menjadi pupuk-mu."

Xu Hao menarik napas berdarah. "Dan kau... membutuhkan sebuah nama. Nama yang pantas untuk sebuah senjata yang akan menantang Langit dan Takdir."

Matanya berbinar dengan tekad kejam yang baru.

"Tianxu."

Nama itu berarti 'Kekosongan Langit' atau 'Kebohongan Langit'. Sebuah pernyataan, sebuah tantangan.

"Dari hari ini, kau adalah Tianxu. Pedang yang akan mengungkap kebohongan Langit, dan mengosongkan takdir yang mereka tetapkan."

Dia menyimpan pedang Tianxu kembali, lalu menutup matanya, fokus pada upaya bertahan hidup dan menyembuhkan dirinya yang hampir hancur. Perjalanan ke wilayah Iblis di selatan Dataran Tengah kini bukan lagi sekadar pilihan atau saran. Itu adalah sebuah keharusan. Di sana, di medan perang yang tak berujung, dia akan menemukan nyawa-nyawa untuk mengasah Tianxu, dan kekuatan untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan hidupnya, baik itu Klan Xu, Sekte Immortal, atau bahkan Langit itu sendiri.

Pemberontakannya baru saja memasuki tahap yang lebih gelap dan lebih berbahaya.

Xu Hao duduk bersila di dasar kawah yang hangus, dikelilingi oleh kehancuran yang menjadi saksi bisu dari pertempuran tingkat langit yang baru saja terjadi. Setiap napas terasa seperti mengisap paku panas. Setiap detak jantung adalah palu godam di dalam dada yang retaknya. Kondisinya sangat parah, lebih parah dari pertarungan apapun yang pernah dia alami, bahkan lebih parah dari saat dia hampir mati di Di perut iblis.

Tapi dia masih hidup. Dan selama masih ada napas, ada harapan.

Dia memusatkan sisa kesadarannya yang masih berantakan pada dua hal: Hukum Asal dan regenerasi alami tubuhnya. Hukum Asal, sebagai fondasi penciptaan, memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan menstabilkan. Dia membimbing aliran energi merah tuanya yang kini lemah dan kacau, memaksa mereka untuk mengikuti pola-pola hukum dasar ini, memperbaiki meridian yang robek, menyambung tulang yang patah, dan menenangkan inti Dao-nya yang retak.

Regenerasi alaminya, warisan dari tubuhnya yang aneh dan mungkin terkait dengan bakat spiritual primordialnya yang hilang, atau dari kolam darah, bekerja lebih lambat dari biasanya karena cedera yang terlalu hebat, tapi tetap ada. Seperti tunas hijau yang muncul dari tanah gersang, sel-sel baru mulai tumbuh, menggantikan yang hancur.

Dia tahu ini tidak akan cukup. Dengan kecepatan ini, dia membutuhkan setidaknya sebulan untuk pulih ke kondisi yang bisa bertarung. Dan dia tidak punya waktu satu bulan.

Dengan gerakan yang menyakitkan, dia mengeluarkan sisa pil-pil penyembuhan tingkat rendah dari cincin penyimpanannya. Tanpa banyak pikir, dia menelannya sekaligus, seperti seorang yang kehausan meneguk air.

Aliran energi pil itu membanjiri tubuhnya yang sudah kacau, menambah beban pada sistemnya yang sudah di ambang kehancuran. Tapi Xu Hao mengerahkan seluruh kendalinya, menggunakan Hukum Asal sebagai penyalur, memaksa energi-energi liar itu untuk mengikuti jalur penyembuhan yang dia tetapkan. Rasa sakitnya meningkat berlipat ganda, membuatnya hampir pingsan. Tapi dia menggigit bibirnya hingga berdarah, bertahan.

 

Sementara itu, di tempat yang sangat jauh, di kedalaman Istana Batu Putih Klan Xu yang megah dan mengambang, ruangan yang dijaga ketat dengan Cermin Silsilah Darah tiba-tiba bergemuruh.

BOOM... BOOM... BOOM!!!

Bukan denyut halus seperti sebelumnya. Tapi tiga kali gemuruh keras yang mengguncang seluruh ruangan, membuat dinding-dinding bergetar dan lampu-lampu kristal bergoyang-goyang. Cairan perak di permukaan cermin mendidih hebat, memancarkan cahaya merah tua yang intens, hampir seperti darah segar.

Penjaga tua yang biasanya malas dan bosan itu terbangun dengan terkejut, nyaris jatuh dari tempat duduk meditasinya. Matanya yang keruh terbuka lebar, penuh dengan ketakutan yang tidak dia rasakan selama ratusan tahun.

"Ini... ini..." gumannya, suaranya bergetar. Dia merangkak mendekati cermin, melihat ke dalam permukaan yang bergolak. Di dalamnya, dia tidak hanya melihat denyut cahaya. Dia melihat siluet samar seorang pria muda, dengan aura yang sangat kuat, sangat murni, dan... sangat berbahaya. Tingkat kultivasinya tidak bisa dipastikan dengan jelas oleh cermin karena gangguan yang aneh, tapi intensitas darahnya... itu adalah darah murni klan Xu level tertinggi, sebanding dengan garis keturunan langsung patriark!

"Keturunan darah murni... dan ini sangat kuat... dan baru saja mengalami pertempuran hebat," analisa penjaga tua itu dengan cepat, wajahnya pucat. "Dan lokasinya... Lautan Tanpa Nama, dekat perbatasan timur. Sama dengan denyut Dao Awakening sebelumnya! Ini orang yang sama! Dia bukan Dao Awakening lagi... dia sudah... Heaven Ascension? Tapi bagaimana mungkin begitu cepat?"

Penjaga tua tahu dia tidak bisa menunda atau meremehkan lagi. Dengan tangan gemetaran, dia mengambil lempeng giok darurat berwarna merah, lempeng yang hanya digunakan untuk laporan paling penting dan mendesak.

Penjaga tua menyalurkan Qi-nya, dan lempeng itu bersinar. Sebuah proyeksi holografik muncul di atas lempeng: sebuah aula gelap dengan tirai hitam, dan di balik tirai itu, siluet seorang pria paruh baya duduk di atas sebuah takhta bayangan. Aura dari siluet itu begitu dalam dan menakutkan sehingga bahkan melalui proyeksi, sang penjaga tua merasa seperti seekor serangga di hadapan raksasa.

"Lapor," kata penjaga tua itu, suaranya rendah dan penuh hormat, sambil membungkukkan kepalanya hingga menyentuh lantai. "Cermin Silsilah Darah bereaksi keras. Keturunan darah murni tingkat tinggi terdeteksi. Tingkat kultivasi diperkirakan minimal Heaven Ascension tahap awal, mungkin lebih tinggi. Lokasi: Lautan Tanpa Nama, sektor Timur-7. Baru saja terlibat pertempuran besar dengan energi level langit. Sinyal darah sangat kuat dan... tidak stabil."

Dari balik tirai, sepasang mata terbuka. Mata itu berwarna abu-abu, sama dengan mata siluet di langit yang menghakimi Xu Hao, tapi kali ini ada kecerdasan dan kalkulasi dingin di dalamnya.

"Heaven Ascension... dan darah murni," suara itu terdengar, datar namun penuh wibawa. "Apakah itu keturunan liar yang kita deteksi sebelumnya? Yang di Wilayah Seribu Pulau?"

"Sepertinya iya, Yang Mulia. Pola darahnya cocok, tapi intensitasnya meningkat ribuan kali lipat."

"Dia maju dengan cepat. Terlalu cepat. Tidak wajar." Suara itu berhenti sejenak, mempertimbangkan. "Dia bisa menjadi aset besar... atau ancaman terbesar. Xu Li dan Xu Jian gagal. Kirim dua Heaven Ascension tahap menengah. Tugas mereka: temukan orang itu. Tangkap dan bawa untuk diinterogasi. Jika dia berbahaya, atau menolak... bunuh. Jika dia bisa diajak bergabung... tawarkan posisi di dalam klan. Tapi pastikan dia terkendali."

"Diperlukan otorisasi untuk memobilisasi Heaven Ascension, Yang Mulia..."

"Aku yang berwenang. Kirim Xu Feng dan Xu Ding. Mereka cepat dan efisien. Beri mereka koordinat terakhir dari cermin."

"Seperti yang Yang Mulia perintahkan."

Proyeksi padam. Penjaga tua itu segera mengirimkan pesan melalui formasi komunikasi khusus. Dalam waktu sepuluh menit, dua sosok melesat keluar dari gerbang utama istana Klan Xu, menuju ke timur dengan kecepatan yang mengerikan. Keduanya pria, dengan wajah dingin dan mata tanpa emosi. Xu Feng, rambutnya diikat rapi, menggunakan tombak panjang di punggungnya. Xu Ding, lebih pendiam, dengan sepasang belati melengkung di pinggang. Keduanya memancarkan aura Heaven Ascension tahap menengah yang padat dan terlatih.

Misi mereka jelas: buru dan tangkap, atau bunuh.

 

Delapan jam kemudian, di dalam kawah di pulau terpencil.

Xu Hao membuka matanya. Napasnya masih tersengal, tapi setidaknya dia bisa bergerak sedikit. Tulang-tulangnya mulai menyambung, meski masih rapuh. Tapi yang lebih penting, dia merasakan sesuatu yang lain: sebuah denyutan di dalam darahnya, di dalam jiwanya. Seperti ada bel kecil yang terus berdering, memberi tahu bahwa dia sedang diamati, dilacak.

"Cermin Silsilah Darah," gumamnya, suaranya parau. "Sudah pasti mereka mendeteksiku. Pertempuran tadi... terlalu besar. Aku membocorkan terlalu banyak darah, terlalu banyak kekuatan. Mereka tahu di mana aku."

Dia melihat ke sekeliling. Dalam keadaan ini, bahkan seorang Nascent Soul bisa membunuhnya. Apalagi jika Klan Xu mengirim orang kuat, dan mereka pasti akan mengirim yang kuat.

"Diam di sini adalah bunuh diri."

Dengan mengerahkan seluruh tekadnya, dia berdiri, tubuhnya gemetar hebat. Dia mengambil satu langkah, lalu menggunakan pemahaman Dao Ruang-nya yang meski terganggu, masih cukup untuk sebuah perpindahan jarak jauh yang mendesak. Tapi dia tidak bisa pergi terlalu jauh; energinya terlalu sedikit, dan ruang di sekitarnya masih belum stabil sepenuhnya pasca pertempuran.

Riiip.

Dia muncul kembali di gang sempit yang sama di belakang gudang tua. Bau ikan asin dan udara laut yang basah menyambutnya. Kali ini, malam hari, gang itu sepi.

Xu Hao langsung berlutut, hampir pingsan karena kelelahan. Tapi dia bertahan. Dengan sisa kekuatannya, dia mengubah penampilannya. Wajahnya berubah menjadi pria paruh baya dengan kulit kasar dan mata sayu. Aura-nya dia tekan hingga ke level Soul Transformation awal yang biasa, bahkan agak kacau, seperti seorang kultivator tunawisma yang terluka.

Kemudian, dengan langkah tertatih, dia keluar dari gang, menyusuri jalan-jalan kota yang ramai. Matanya mencari tanda-tanda penginapan, khususnya penginapan yang sering digunakan oleh kultivator yang ingin privasi.

Dia menemukannya: sebuah bangunan tiga lantai batu abu-abu dengan papan nama "Sarang Kelelawar Bening". Kata-kata di pintu masuk: "Kamar dengan formasi isolasi dan anti-deteksi. Privasi terjamin. Harga sesuai kualitas."

Xu Hao masuk. Ruang lobi kecil, dengan seorang wanita tua duduk di belakang konter, membaca sebuah buku tua.

"Kamar," kata Xu Hao, suaranya serak. "Yang paling aman. Untuk sebulan."

Wanita tua itu mengangkat matanya, memandanginya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kamu terluka parah."

"Kecelakaan berburu monster laut."

"Hmm." Wanita tua itu tidak percaya, tapi juga tidak peduli. "Kamar terbaik ada di lantai tiga, dengan formasi isolasi tingkat tiga, anti-deteksi spiritual, dan pengumpulan energi dasar. Seratus kristal hukum tingkat menengah untuk sebulan. Bayar di muka."

Harga yang gila. Tapi Xu Hao tidak punya pilihan. Dia mengeluarkan kantong kristal dari dalam jubahnya, kantong terakhir yang berisi kristal menengah dan rendah, dan menyerahkannya.

Wanita tua itu menerimanya, matanya berbinar sesaat, lalu memberikan sebuah kunci batu dengan nomor "303". "Tangga di belakang. Jangan membuat keributan. Formasi akan mencatat setiap penggunaan kekuatan besar di dalam kamar. Jika kamu meledakkan sesuatu, kamu akan dikenakan denda dan diusir."

"Mengerti."

Xu Hao naik ke lantai tiga, menemukan kamarnya. Begitu pintu tertutup, dia merasakan formasi berdenyut di sekelilingnya, menciptakan selubung isolasi yang bagus. Tidak sempurna, seorang Heaven Ascension tingkat tinggi mungkin masih bisa mendeteksi jika sangat dekat, tapi cukup untuk menyembunyikannya dari pemindaian biasa.

Dia langsung duduk di lantai, kembali memasuki meditasi. Saat ini, setiap detik berharga.

 

Di atas pulau yang hancur, dua sosok mendarat. Xu Feng dan Xu Ding.

Xu Feng mengerutkan kening, matanya menyapu area yang hancur berantakan. "Pertempuran tingkat tinggi. Sisa-sisa energi langit... dan darah klan kita." Dia menunduk, mengambil sedikit tanah yang masih basah oleh darah Xu Hao, lalu menciumnya. "Masih segar. Dia di sini delapan, sembilan jam yang lalu."

Xu Ding, yang lebih pendiam, sudah berjalan mengelilingi kawah. "Dia terluka parah. Sangat parah. Tapi dia masih punya kekuatan untuk melarikan diri. Tidak ada jejak perpindahan ruang yang jelas... tapi ada gangguan halus di sini." Dia menunjuk ke sebuah titik di tepi kawah.

Xu Feng mendekat. "Dia menggunakan teknik ruang, tapi dengan sangat halus. Arahnya... menuju daratan. Kota Pelabuhan Timur?"

"Mungkin. Atau dia bersembunyi di suatu tempat di laut. Tapi dengan lukanya, dia butuh tempat yang aman untuk pulih. Kota adalah pilihan logis."

"Bagus. Kita pergi ke Kota Pelabuhan Timur. Gunakan Cermin Pelacak Darah terbatas yang kita bawa. Jika dia ada di sana, dan jika dia masih mengeluarkan aura darah atau menggunakan kekuatannya, kita akan menemukannya."

Keduanya melesat ke udara, meninggalkan pulau yang hancur, mengejar bayangan yang terluka menuju kota ramai di tepi lautan. Perburuan telah dimulai.

1
Sarip Hidayat
waaah jadi gitu
Dragon🐉 gate🐉
Mayan... dpt 2 jiwa lg...lanjuuuttt panen
Dragon🐉 gate🐉
lah, pantas paket gw gak Dateng",sejak kapan si Arif jd prajurit, ikut perang pula ?? 🤔 rif.. paket gw loe sangkutin di mana ?.. 😂
Dragon🐉 gate🐉: waduh... si Arif kang paket side jobnya ngeri,jd asasin🤣
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
Qingtian gege~/Kiss/🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
woooaaaahhh..... 😎 Kereeennn.... mana nasi tumpeng sm bubur merah putihnya 🍚🎂
Dragon🐉 gate🐉: sipp, jangan lupa sambel goreng ati,sm kering ikan teri,krupuk udang 1 toples gede😂
total 2 replies
Agus Rose
ok.
up up up
YAKARO: Terimakasih bro🙏
total 3 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor... kl boleh gw ada saran nama buat si kadal biru.. Lan Long( naga biru) / Lan se shandian long (naga petir biru) itu versi serius kl versi lawaknya Aoman de xiyi( kadal sombong)🤣
Dragon🐉 gate🐉: manttaaafff👍
total 2 replies
qwenqen
mantap👍👍👍💪💪💪💪💪
OldMan
neng ratu calon bini juga kahh🤣🤣🤣
Agus Rose
Di tunggu up nya lagi,seperti kemarin yg banyak.
OldMan
mantapp bangetttt ..daratan tengah ini apakah pulau jawa🤣🤣🤣
YAKARO: Mungkin🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
terjawab sudah ..👍
YAKARO: Mantap👍
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
loh... neng Sari nyasar kesini ternyata,pantesan di cariin di kios angkringan kok gak ada... Balik Neng, bahaya disini bukan tempatmu🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: aaiih... ngeri🤣
total 6 replies
OldMan
mantaap thorrr 💪💪💪💪
Dragon🐉 gate🐉
sekilas.. knp Xu Hao gak bunuh Bai Feng pdhl mampu, tp mungkin ada bbrp alasan, 1 biar gak ngebuka samaran di dpn anbu ratu Du Yan, 2 setiap anggota Klan pasti punya 'GpS' kl mereka mati biasanya bakal ketahuan siapa yg membunuh mereka🤔
YAKARO: itu bener banget, malah kalau keliatan semuanya jadi agak hambar/Hammer/
total 3 replies
OldMan
mataappp Thor ..mulai banteiii
Dragon🐉 gate🐉
sial!! mari kita mulai Pestanya....
Dragon🐉 gate🐉: /Toasted/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
yeeaayy... panen lagi kita,kali ini panen besar...😈
YAKARO: Gass srudukkk💪💪
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aroma Rivalitas yg kental dr Mo Xin...🤔
YAKARO: Mungkin saja🧐
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau pun sama woy😂
Dragon🐉 gate🐉: anti dia🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!