NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:609
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Getaran di Bawah Kulit

Hutan Utara di pagi hari adalah sebuah katedral hijau yang sunyi, di mana cahaya matahari hanya berani menyentuh tanah dalam bentuk garis-garis tipis yang menembus kabut. Di hadapan cakram logam yang tertanam di tanah itu, Alana merasa dunia melambat. Suara kepakan sayap burung biru yang tadi menuntunnya kini hilang, digantikan oleh dengung frekuensi rendah yang bergetar selaras dengan denyut jantungnya.

Benda itu tidak lebih besar dari piring makan, namun berat visualnya terasa luar biasa. Logam kelabu gelapnya tidak memantulkan cahaya; ia justru seolah menghisap warna-warna di sekitarnya.

"Apa ini, Elian?" tanya Alana tanpa menoleh. Suaranya terdengar jauh, teredam oleh kepadatan udara yang ganjil.

"Pak Surya menyebutnya 'Jangkar Cahaya'," Elian berdiri beberapa langkah di belakangnya, tangan terbenam di saku jaket. "Dia bilang, langit butuh tempat berpijak agar pesannya tidak hilang ditelan angin."

Alana mengabaikan logika dan menyentuh permukaan logam itu.

Dingin. Luar biasa dingin, hingga rasa itu merambat seperti sengatan listrik dari ujung jarinya, naik ke pergelangan tangan, dan berhenti tepat di pangkal lehernya. Namun, rasa dingin itu tidak menyakitkan; ia terasa seperti air es yang membasuh luka bakar. Detik itu juga, sebuah memori yang bukan miliknya meledak di benaknya.

Ia melihat kakeknya, Pak Surya, berdiri di tempat yang sama. Kakek tampak lebih muda, sedang berbicara pada kekosongan dengan wajah basah oleh air mata kebahagiaan. "Aku mengerti," kakek berbisik dalam bayangan itu. "Melalui darahku, dia akan kembali mencari rumahnya."

Alana tersentak dan menarik tangannya. Napasnya tersengal. "Kakek bicara tentang aku? Dia tahu aku akan kembali?"

"Kau bukan kembali karena skandal Jakarta, Alana," Elian mendekat, suaranya memberat. "Kau kembali karena kau 'dipanggil'. Pak Surya menyiapkan segalanya agar kau sampai pada saat ini."

Tiba-tiba, cakram itu bergetar hebat. Di tengah ukiran bintang jatuh, sebuah celah terbuka dan sebuah tabung kristal tipis muncul. Di dalamnya terdapat gulungan perkamen tua dengan tinta emas yang masih basah seolah baru saja ditulis sedetik lalu.

> Alana, pemilik mataku di bumi.

> Darah di nadimu adalah kunci. Di bawah menara observasi, ada kotak yang terkunci dengan tanggal lahir nenekmu dan posisi Sirius. Di sana, kau akan menemukan 'Surat Cinta' yang sebenarnya.

> Dunia yang kau tinggalkan akan mencoba menarikmu kembali. Jangan goyah. Mereka hanyalah bayangan.

>  Langit

> Seolah dikomando, ponsel di saku Alana bergetar gila-gilaan. Belasan pesan teks masuk dari Jakarta.

Alana! Pria yang memfitnahmu tertangkap! Nama baikmu pulih! Galeri memohon kau kembali memimpin pameran besar! Ini kesempatanmu membalas dendam!

Tangan Alana terkulai. Jakarta dunia yang menghancurkannya kini memanggilnya pulang dengan karpet merah. Namun, menatap Elian dan surat di tangannya, Jakarta terasa seperti panggung sandiwara yang hambar.

"Lalu, apakah kau akan pergi?" tanya Elian pelan. "Kota menjanjikan kejayaan. Navasari hanya punya misteri."

Alana menatap ponselnya, lalu menatap hutan yang berkabut. "Aku tidak akan pergi," katanya tegas sembari mematikan ponselnya sepenuhnya. "Belum."

Mereka kembali ke rumah. Alana langsung menuju ruang bawah tanah di bawah menara. Di sana, tertutup kain tua, ia menemukan peti besi kecil.

Klik.

Kombinasi tanggal lahir nenek dan koordinat Sirius berhasil. Di dalamnya bukan emas, melainkan sebuah proyektor film tua dan gulungan film perak yang berkilau. Alana memasangnya dengan tangan gemetar. Saat mesin mulai menderu krak-krak-krak sebuah gambar hitam-putih tahun 1975 muncul di dinding semen.

Seorang pemuda tampan berseragam pilot berdiri di depan mercusuar Navasari. Ia tersenyum ke kamera, lalu menulis di sebuah papan: "Untuk Alana, di masa depan yang jauh. Aku menunggumu di antara bintang."

"Tidak mungkin..." Alana menutup mulutnya. Pemuda itu terlihat sangat mirip dengan foto kakeknya, tapi ada perbedaan pada bekas luka di pelipisnya.

"Itu bukan kakekmu," bisik Elian dari kegelapan pintu. "Itu Arlo, kakak kakekmu yang hilang dalam misi penerbangan rahasia tahun 1975. Dia tidak pernah ditemukan."

Alana merasa dunia berputar. Jika Arlo hilang tahun 1975, bagaimana dia bisa tahu nama Alana yang baru lahir tiga puluh tahun kemudian?

Namun, kengerian sebenarnya muncul saat film itu berlanjut. Kamera bergeser, memperlihatkan latar belakang di belakang Arlo. Di sana, di depan rumah yang sekarang ditempati Alana, berdiri seorang wanita yang sedang menggendong bayi.

Alana membeku. Wanita di film tahun 1975 itu mengenakan kalung yang sama dengan yang dipakai Alana sekarang. Dan di pergelangan tangan bayi itu, terdapat tanda lahir berbentuk bintang yang identik dengan milik Alana.

"Elian..." suara Alana tercekat. "Itu bukan nenekku. Itu... itu aku. Tapi bagaimana mungkin aku ada di sana, lima puluh tahun yang lalu?"

Tepat saat itu, proyektor film meledak terbakar, menyisakan ruangan dalam kegelapan total, dan suara langkah kaki berat mulai menuruni tangga ruang bawah tanah.

Kegelapan di ruang bawah tanah itu terasa lebih padat, seolah-olah udara baru saja berubah menjadi cairan hitam yang menyumbat paru-paru. Alana terpaku di depan kain proyektor yang kini hanya menyisakan sisa asap berbau plastik terbakar. Bayangan dirinya sendiri seorang bayi dengan tanda lahir bintang di film tahun 1975 masih tercetak di retina matanya, menghantui seperti hantu digital.

"Elian, katakan ini hanya trik penyuntingan film yang canggih," suara Alana pecah, gemetar di antara kesunyian yang mencekam.

Elian tidak menjawab. Pemuda itu berdiri mematung di ambang pintu, siluetnya memanjang tertimpa sisa cahaya remang dari lantai atas. Namun, ada yang aneh. Elian tidak bergerak untuk menolongnya atau memeriksa proyektor yang meledak. Ia justru menatap ke arah tangga dengan ekspresi yang sangat datar ekspresi seorang prajurit yang sedang menunggu perintah.

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki itu semakin dekat. Bukan langkah kaki manusia biasa. Suaranya berat, berirama logam, dan setiap injakannya membuat debu-debu di langit-langit ruang bawah tanah berguguran. Aroma ozon yang tajam aroma yang sama dengan batu meteorit itu kini memenuhi ruangan, mencekik indra penciuman Alana.

"Siapa di sana?!" teriak Alana, tangannya meraba-raba lantai, mencari apa pun yang bisa dijadikan senjata. Jemarinya menyentuh sebuah penggaris besi tua milik kakeknya. Ia menggenggamnya erat, meski ia tahu itu tak akan berarti banyak.

Sesosok figur muncul di pangkal tangga. Cahaya senter dari ponsel Alana yang tergeletak di meja kayu menyorot kaki sosok itu. Bukan sepatu bot, melainkan sepasang kaki logam yang ramping dan berpendar biru. Sosok itu mengenakan jubah pilot tua yang sudah koyak, namun di balik lubang-lubang kainnya, bukan kulit yang terlihat, melainkan jalinan sirkuit cahaya yang rumit.

Wajahnya perlahan terlihat saat ia menunduk masuk ke ruang bawah tanah yang rendah.

Alana terpekik, menutup mulutnya dengan tangan. Wajah itu... wajah Arlo dari film tadi. Tapi Arlo tidak bertambah tua satu hari pun. Wajahnya tetap berusia tiga puluhan, namun setengah dari wajah itu telah digantikan oleh plat logam transparan yang memperlihatkan mekanisme internal yang berdenyut selaras dengan frekuensi cakram di hutan.

"Frekuensi itu akhirnya stabil," suara Arlo bukan berasal dari mulutnya, melainkan bergema langsung di dinding-dinding ruangan, mekanis namun penuh kesedihan. "Selamat datang di rumah, Alana. Maafkan aku karena harus menjemputmu dalam bentuk yang tidak lagi utuh."

Alana mundur hingga punggungnya menghantam dinding semen yang dingin. "Kau... kau Arlo? Tapi kau seharusnya sudah mati lima puluh tahun lalu! Dan bayi itu... bagaimana mungkin aku ada di sana?!"

Arlo melangkah maju, tangannya yang setengah logam terulur perlahan. "Waktu bagi langit tidak berjalan melingkar seperti jam tanganmu, Alana. Waktu adalah hamparan yang bisa dilipat. Kau tidak dilahirkan di Jakarta tahun 1995. Kau dikirim ke sana untuk disembunyikan. Dan sekarang, mereka yang memburuku di tahun 1975 telah menemukan celah untuk mengejarmu di masa sekarang."

Tiba-tiba, Elian bergerak. Namun, bukannya melindungi Alana, Elian justru berlutut di depan sosok Arlo.

"Unit Penjaga 07 melaporkan tugas selesai, Tuan Arlo. Kunci telah diaktifkan," ujar Elian dengan suara yang benar-benar berbeda datar, dingin, tanpa emosi manusia yang selama ini ia tunjukkan pada Alana.

Alana merasa dunianya hancur untuk kedua kalinya. Elian satu-satunya orang yang ia percayai di Navasari ternyata hanyalah sebuah mesin, sebuah "Unit" yang diprogram untuk menggiringnya ke titik ini.

"Kau membohongiku, Elian," bisik Alana, air mata kemarahan mulai jatuh. "Semua keramahan itu... teh botol itu... semuanya palsu?"

Elian tidak menoleh. Ia tetap berlutut.

"Jangan salahkan dia, Alana," Arlo mendekat, matanya yang biru elektrik menatap dalam ke arah Alana. "Dia diciptakan dari memoriku tentang kemanusiaan agar kau merasa aman. Tapi sekarang, keselamatanmu lebih penting daripada kenyamananmu. Jakarta sedang terbakar, Alana. Dan itu karena keberadaanmu di sini mulai menarik perhatian 'Mereka'."

Tepat saat Arlo menyelesaikan kalimatnya, suara ledakan dahsyat terdengar dari arah luar rumah. Kotak pos kuningan itu meledak, mengirimkan gelombang kejut yang memecahkan seluruh kaca jendela rumah kakek. Dari langit yang seharusnya cerah, sebuah lubang hitam menganga lebar, dan dari sana, drone-drone hitam berbentuk cakram mulai turun seperti hujan meteor yang mematikan.

"Ambil ini," Arlo memberikan sebuah cincin perak tipis pada Alana. "Ini adalah koordinat terakhir. Jika kau ingin tahu siapa kau sebenarnya dan mengapa kau dikirim ke masa depan, kau harus meninggalkan bumi ini sekarang juga."

Alana menatap cincin itu, lalu menatap Arum bawah tanah yang mulai runtuh. Ia harus memilih: kembali ke Jakarta yang kini memulihkan namanya namun palsu, atau melompat ke dalam kegilaan antarbintang bersama pria yang seharusnya sudah menjadi sejarah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!