Di tengah dunia yang terbelah antara realita modern dan kiamat zombie, Shinn Minkyu—seorang cowok berwajah androgini dengan pesona misterius—mendadak mendapatkan sebuah sistem unik: Sistem Pengasuh.
Dengan kemampuan untuk berpindah antar dunia, Shinn berniat menjalani hidup damai... sampai seorang gadis kecil lusuh muncul sambil dikejar zombie. Namanya Yuki. Imut, polos, dan penuh misteri.
Tanpa ragu, Shinn memutuskan untuk merawat Yuki layaknya anaknya sendiri—memotong rambutnya, membuatkannya rumah, dan melindunginya dari bahaya. Bersama sistem yang bisa membangun shelter super canggih dan menghasilkan uang dari membunuh zombie, keduanya memulai petualangan bertahan hidup yang tak biasa.
Penuh aksi, tawa, keimutan maksimal, dan romansa menyentuh saat masa lalu Yuki perlahan terungkap...
Apakah Shinn siap menjadi ayah dadakan di tengah kiamat? Atau justru… dunia ini membutuhkan keimutan Yuki untuk diselamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F R E E Z E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
“Shinn! Shinn! Aku mau masak hari ini!” seru Yuki sambil membawa panci kecil yang entah dari mana dia temukan.
Aku yang lagi nyusun logistik di dalam shelter langsung menoleh kaget. “Hah? Kamu mau masak? Tapi kan kamu belum pernah pegang kompor sebelumnya?”
Yuki mendongakkan kepala dengan percaya diri, rambut lurusnya yang halus memantul cahaya lampu shelter. “Tapi aku udah nonton kamu masak! Gampang kok! Tinggal taruh semuanya di panci, trus aduk-aduk gitu kan?”
Aku mengelus pelipis. “Yuki… itu kayaknya masak bubur, bukan semua makanan dimasak kayak gitu.”
“Tapi aku pengen masak sesuatu spesial buat kamu!” katanya sambil tersenyum lebar. Waduh, senyumnya bikin aku nggak bisa nolak.
“Oke deh. Tapi aku temenin ya. Jangan pake pisau tajam sendirian.”
Yuki melonjak senang dan langsung nyeret aku ke dapur mini shelter. Sistem pun muncul, hologramnya berputar sambil memberikan rekomendasi.
> [Sistem: Memulai "Cooking Mode". Menyediakan resep-resep mudah untuk anak-anak.]
“Waaaah! Sistem juga bantuin!” seru Yuki makin semangat.
Kita pilih menu yang paling gampang: sup kaldu ayam kalengan ditambah sayuran segar yang kita tanam di bagian belakang shelter. Yuki yang motong wortel pakai pisau anak-anak sambil sesekali cemberut karena bentuknya nggak rapi.
“Kenapa potongannya kayak segitiga semua?” gerutunya.
“Gak apa-apa, asal jangan jari kamu yang kepotong,” candaku.
Setelah semuanya masuk ke dalam panci, Yuki mulai aduk-aduk dengan wajah super serius. Aku duduk di sampingnya, memperhatikan, dan sesekali bantu tuang air.
Saat sup mulai mendidih, aroma hangat menyebar ke seluruh ruangan. Suasana shelter yang biasanya sunyi jadi lebih hidup.
> [Sistem: Sup kaldu ayam ala Yuki – 80% selesai. Menambahkan bumbu cinta dan tawa.]
“Heh, sistem kamu ngaco ya,” aku terkekeh.
Yuki tertawa, “Itu artinya enak! Soalnya aku masaknya sambil mikirin Shinn!”
Dan akhirnya, sup nya siap. Kami duduk berdua di meja kecil, mangkuk di tangan, uap makanan naik perlahan.
Aku seruput sedikit, dan... jujur aja, rasanya... yah, hambar. Tapi ngeliat Yuki menatapku dengan mata penuh harap, aku senyum dan bilang, “Ini sup terenak yang pernah aku makan.”
Wajah Yuki langsung bersinar. “Benar? Aku berhasil masak?!”
Aku angguk. “Kamu hebat, Yuki.”
Tiba-tiba shelter bergetar ringan. Sistem langsung memberi notifikasi:
> [Peringatan: Pergerakan zombie terdeteksi dalam radius 300 meter. Mode bertahan diaktifkan.]
Aku langsung berdiri. “Yuki, ke ruang aman, sekarang.”
Dia buru-buru bangkit, tapi sebelum masuk ruang aman, dia balik badan dan memelukku. “Hati-hati ya, Shinn...”
Aku mengangguk, dan dengan senapan otomatis di tangan, aku menuju pintu luar.
__________
Di luar, hujan gerimis turun. Bayangan-bayangan bergerak di balik reruntuhan. Dengan bantuan sistem dan penglihatan malam, aku bisa melihat sekitar lima zombie bergerak lambat, tapi di antara mereka ada satu yang nggak biasa: tubuhnya kurus tinggi, matanya bersinar merah, dan dia tampak... nyiumin udara?
“Sial. Ini tipe ‘Pencium’. Bisa lacak manusia dari jarak jauh,” gumamku.
Aku menyiapkan jebakan dari alat canggih yang kemarin kudapat dari zona reruntuhan: "Sonic Disruptor". Begitu diletakkan, alat itu mengeluarkan suara frekuensi tinggi yang bisa memancing zombie.
> [Sistem: Disruptor aktif. Zombie tertarik.]
Kelompok zombie mulai bergerak ke arah lain, menjauh dari shelter. Aku tarik napas lega. Tapi si Pencium malah berhenti, lalu menggeram dan berlari ke arahku!
“Wah, gawat!”
Aku lompat ke belakang puing, nembak pakai senapan plasma. Kepala zombie itu meledak, tapi suaranya menarik perhatian zombie lain.
Aku cepat-cepat masuk ke shelter. “Yuki, bahaya udah lewat. Tapi kita harus siap-siap. Mereka makin sering nyari ke arah sini.”
Yuki keluar dari ruang aman sambil pegang boneka rusaknya. “Aku gak takut, asal ada kamu, Shinn.”
Aku duduk lelah di lantai. “Aku bakal lindungin kamu, selalu.”
Yuki mendekat, duduk di pangkuanku. “Kalau aku udah besar, aku juga mau jagain kamu.”
Aku tertawa kecil. “Yuki udah jagain aku dari sekarang kok. Liat aja, masakanmu tadi bikin aku lupa dunia luar bentar.”
Dia tersenyum bangga.
> [Sistem: Hubungan ‘Shinn – Yuki’ meningkat. Ikatan Ayah dan Anak semakin kuat.]
__________
Malam itu, aku lihat Yuki tidur nyenyak di pelukanku. Shelter kami makin terasa seperti rumah. Dan aku sadar, meski dunia luar kacau, meski zombie terus berdatangan, aku punya alasan untuk terus bertahan. Alasan itu... adalah Yuki.
mampir kak