Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01. Mimpi yang Terbeli
.
Matahari pagi menerobos celah tirai, menyinari wajah Riko Permana yang terlelap. Jam dinding di kamarnya berdetak pelan, menandakan waktu yang semakin mendekati saat yang paling dinanti-nantikan. Riko menggeliat, menarik selimut lebih erat, enggan meninggalkan kehangatan ranjangnya. Namun, bayangan seragam polisi yang rapi tergantung di balik pintu, seolah memanggilnya untuk segera bangkit.
Hari ini adalah hari pengumuman akhir seleksi Akademi Kepolisian. Hari yang akan menentukan sejak kecil, mimpi yang telah ia pupuk dengan kerja keras dan dedikasi, akan menjadi kenyataan. Riko bangkit dengan semangat membara, melupakan kantuk yang masih tersisa.
Rumah kontrakan sederhana yang ia tinggali bersama ibunya terasa sepi. Ibunya, seorang pedagang sayur di pasar, pasti sudah berangkat sejak subuh. Riko tersenyum, membayangkan wajah bangga ibunya jika ia lolos seleksi. Ia berjanji dalam hati, jika ia berhasil menjadi polisi, ia akan membelikan ibunya mesin jahit baru dan rumah yang lebih layak. Karena Riko tahu ibunya pintar menjahit, jadi ibunya bisa menerima jahitan di rumah. Agar tak perlu berangkat ke pasar di pagi buta dan pulang dikala terik matahari.
Riko bergegas mandi dan mengenakan pakaian terbaiknya. Meskipun hanya kemeja flanel sederhana dan celana jeans, ia berusaha tampak rapi dan percaya diri. Di depan cermin, ia menatap wajahnya yang penuh harapan. "Hari ini adalah hari kita, Riko," bisiknya pada diri sendiri.
Dengan sepeda motor bututnya, Riko membelah jalanan kota yang mulai ramai. Ia menuju ke kompleks Akademi Kepolisian, tempat di mana mimpi-mimpinya diuji dan ditempa. Jantungnya berdebar semakin kencang seiring semakin dekatnya ia dengan gerbang akademi.
Suasana di kompleks akademi sudah sangat ramai. Para peserta seleksi, lengkap dengan keluarga dan kerabat, berkumpul dengan wajah tegang dan cemas. Riko mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, dan bergabung dengan kerumunan.
Pengumuman akan dilakukan di lapangan utama. Riko berdiri di barisan depan, matanya tertuju pada panggung yang telah disiapkan. Di atas panggung, para perwira tinggi akademi tampak gagah dan berwibawa.
Acara dimulai dengan sambutan dari kepala akademi. Kemudian, satu per satu nama peserta yang lolos seleksi dibacakan. Riko mendengarkan dengan saksama, jantungnya semakin berdebar setiap kali nama yang dibacakan bukan namanya.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Beberapa peserta terlihat bersorak gembira saat namanya dipanggil, sementara yang lain tampak lesu dan kecewa. Riko mencoba untuk tetap optimis, meskipun ia mulai merasa khawatir.
Akhirnya, tinggal beberapa nama lagi yang belum dibacakan. Riko memejamkan mata, berdoa dalam hati. "Ya Tuhan, jika memang ini yang terbaik untukku, kabulkanlah doaku," bisiknya.
Saat matanya terbuka, ia melihat seorang perwira mendekati mikrofon. Perwira itu tersenyum dan berkata, "Dan untuk nama terakhir yang lolos seleksi Akademi Kepolisian tahun ini adalah..."
Riko menahan napas, seluruh tubuhnya menegang.
"...Riko Permana!"
Riko terdiam sejenak, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Kemudian, ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa membanjiri seluruh tubuhnya. Ia berhasil! Ia lolos seleksi Akademi Kepolisian!
Riko melompat kegirangan, memeluk orang-orang di sekitarnya. Air mata haru mengalir di pipinya. Mimpinya telah menjadi kenyataan. Ia akan menjadi seorang polisi!
Di tengah euforia kebahagiaan, Riko melihat seorang wanita cantik berlari ke arahnya. Laras, kekasihnya, tampak sangat senang dan bangga. Laras memeluk Riko erat-erat, mencium pipinya berkali-kali.
"Aku bangga padamu, Riko! Aku tahu kamu pasti bisa!" seru Laras dengan mata berbinar.
Riko membalas pelukan Laras, merasakan kebahagiaan yang sempurna. Ia mencintai Laras lebih dari apapun di dunia ini. Ia yakin, Laras akan selalu mendukungnya dalam meraih mimpi-mimpinya.
Namun, kebahagiaan Riko tidak berlangsung lama. Saat mereka sedang berpelukan, Laras berbisik di telinganya, "Riko, ada yang ingin aku bicarakan padamu."
Riko melepaskan pelukannya dan menatap wajah Laras dengan bingung. "Ada apa, Sayang?" tanyanya.
Laras tampak ragu dan cemas. Ia menarik Riko menjauh dari orang-orang, seolah tak ingin ada yang mendengar apa yang ingin ia katakan pada Riko. Setelah mereka berada di tempat yang cukup sepi, Laras menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, "Ini tentang kakakku, Bagas."
Jantung Riko berdebar kencang. Ia merasa seperti akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Bagas tidak lolos seleksi," ucap Laras dengan suara lirih.
Riko terdiam. Ia tahu bahwa Bagas juga sangat ingin menjadi polisi. Berulang kali Laras menceritakan mimpi kakaknya itu padanya.
"Aku tahu ini sulit untukmu, Riko," lanjut Laras, "Tapi aku mohon padamu, mengalahlah untuk Mas Bagas."
Riko terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Mengalah? Apa maksudmu, Laras?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Aku tahu kamu sangat mencintai mimpimu, Riko," jawab Laras, "Tapi Bagas lebih membutuhkan ini. Ia adalah satu-satunya harapan keluarga kami."
"Tapi ini juga mimpiku, Laras! Aku sudah berjuang sangat keras untuk ini!" Riko menggelengkan kepala berkali-kali. Dadanya terasa sesak mendengar permintaan kekasihnya.
"Aku tahu, Riko," jawab Laras, air mata mulai mengalir di pipinya, "Tapi aku mohon padamu, lakukan ini untukku. Bukankah kamu mencintaiku?"
Riko terdiam. Ia mencintai Laras lebih dari apapun. Ia rela melakukan apapun untuk membuatnya bahagia.
"Selama ini aku tak pernah meminta apapun padamu, Riko. Ini pertama kalinya aku memohon. Bagaimana bisa kamu tega menolak permintaanku?" Laras terus saja menggenggam tangan Riko. Suaranya yang perlahan serak membuat dada Riko semakin sakit.
Riko berada dalam dilema. Pilihan yang sama beratnya. Mengorbankan mimpinya sendiri demi Laras, atau tetap mengejar mimpi dan membuat Laras kecewa?
Pertanyaan itu menggantung di benaknya. Kebahagiaan yang tadinya memenuhi hatinya kini berubah menjadi gundah gulana. Mimpinya, seragam polisi yang tadi tampak begitu dekat, kini terasa begitu jauh.
*
*
*
Hai, gaessss. Jumpa lagi dengan karya terbaru dari Mama Mia.
Tapi mohon maaf, ya, jika cerita ini mungkin tidak sesuai dengan kehidupan nyata. Soalnya Mak Othor gak paham dunia akademi kepolisian.
Jadi, anggap aja udah bener.
Gitu deh. Ya, ya ,ya...😁😁😁