Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU TAKUT KEHILANGAN MU
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Melisa perlahan melonggarkan lilitan kain di lehernya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang menggila. Beruntung, dalam perjalanan di taksi tadi, ia sempat berhenti di sebuah apotek dan membeli concealer tebal untuk menutupi jejak-jejak merah yang ditinggalkan Harvey.
"Aku buka, Mas. Tapi tolong jangan membentakku lagi," ucap Melisa lirih, suaranya terdengar sangat terluka.
Begitu syal terlepas, kulit leher Melisa tampak rata dan bersih, meski jika dilihat sangat dekat, tekstur bedak penutup itu terlihat sedikit tebal. Ia telah memudarkan bercak kemerahan itu dengan sangat rapi hingga yang tersisa hanya warna kulit yang tampak pucat.
Narendra terdiam. Ia memperhatikan leher istrinya dengan seksama dari jarak dekat. Tidak ada bekas merah yang ia curigai semalam. Ia merasa sedikit bersalah karena telah meledak, namun rasa janggal di hatinya belum sepenuhnya hilang.
"Lihat, kan? Tidak ada apa-apa," ujar Melisa sambil memaksakan senyum tipis, meski matanya berkaca-kaca. "Aku hanya merasa kedinginan karena AC di rumah besar itu sangat menusuk, Mas. Aku tidak ingin jatuh sakit saat kamu sedang membutuhkanku."
Arneta yang sejak tadi menahan napas ikut mendekat. Ia melihat ke arah leher Melisa dengan mata profesionalnya sebagai perawat. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak wajar dengan warna kulit itu, namun ia memilih untuk diam dan membantu Melisa mencairkan suasana.
"Tuh kan, Mas Rendra... Mbak Melisa itu cuma kecapekan," sela Arneta sambil menepuk bahu Narendra dengan akrab. "Kamu ini baru sadar sudah jadi suami yang protektif sekali. Kasihan Mbak Melisa, sudah kerja malam-malam, sampai sini malah diinterogasi seperti tersangka."
Narendra menghela napas panjang, bahunya merosot. Rasa bersalah mulai menyelimutinya. Ia meraih tangan Melisa dan mengecupnya. "Maafkan aku, Mel. Aku hanya... aku merasa tidak berdaya di sini. Aku takut kehilanganmu atau terjadi sesuatu padamu saat aku tidak bisa menjagamu."
Melisa mengangguk pelan, menyembunyikan rasa pedih karena harus terus berbohong. "Aku tahu, Mas. Sekarang, kamu makan ya? Aku tadi bawakan buah kesukaanmu."
Namun, di tengah momen tersebut, pintu kamar VIP terbuka lebar. Harvey melangkah masuk dengan setelan jas putihnya yang sangat rapi. Ia memegang papan klip medis, wajahnya datar namun matanya langsung tertuju pada leher Melisa yang kini tidak tertutup syal.
Harvey menyeringai tipis—sebuah seringai yang hanya bisa dimengerti oleh Melisa. Ia tahu Melisa telah berusaha keras menutupi jejaknya.
"Selamat pagi," sapa Harvey dengan suara baritonnya yang tenang. "Sepertinya Pak Narendra sudah jauh lebih segar hari ini. Bagaimana? Apa semalam Anda bisa tidur dengan tenang tanpa Nyonya Melisa?"
Pertanyaan Harvey terdengar seperti perhatian biasa, namun bagi Melisa, itu adalah sindiran tajam yang mematikan.
Harvey melangkah mendekat dengan wibawa seorang dokter spesialis yang tak terbantahkan. Ekspresinya berubah total menjadi sangat profesional, dingin, dan kaku. Tidak ada lagi sorot mata nakal atau senyum sinis yang ia tunjukkan di apartemen tadi pagi.
"Perawat Arneta, tolong siapkan stetoskop dan cek tensi terakhir pasien," perintah Harvey tanpa menatap Arneta, suaranya datar dan penuh otoritas.
Arneta segera bergerak sigap. "Siap, Dok. Tensinya mulai stabil di angka 120/80 pagi ini."
Harvey mengangguk singkat. Ia mulai memeriksa detak jantung Narendra, lalu beralih memeriksa refleks saraf di tangan dan kaki pria itu. Melisa berdiri di sisi lain ranjang, mencengkeram pinggiran sprei dengan kuat. Ia merasa ngeri melihat betapa mudahnya Harvey berganti topeng—dari pria posesif yang kasar menjadi dokter yang sangat berdedikasi.
"Kondisi fisik Anda membaik secara signifikan, Pak Narendra," ujar Harvey sambil mencatat sesuatu di papan klipnya. Ia berdiri tepat di depan Melisa, namun ia benar-benar mengabaikan keberadaan wanita itu, seolah-olah Melisa hanyalah bagian dari furnitur ruangan.
Narendra menatap Harvey dengan sisa-sisa kecurigaan semalam. "Terima kasih, Dokter. Tapi kapan saya bisa pulang? Saya tidak ingin istri saya terus-menerus bekerja keras demi biaya di sini."
Harvey menghentikan goresan penanya. Ia menatap Narendra dengan tatapan profesional yang hampa. "Pulang dalam kondisi seperti ini hanya akan membunuh Anda secara perlahan. Fokuslah pada rehabilitasi. Masalah biaya dan hal lainnya..." Harvey menjeda kalimatnya, lalu melirik sekilas ke arah tangan Melisa yang gemetar, "...biarkan istri Anda yang mengaturnya. Dia tampak sangat mampu menangani semuanya."
Kata-kata itu terdengar sangat normal bagi telinga Arneta, namun bagi Melisa, itu adalah pengingat bahwa hidup Narendra sepenuhnya bergantung pada "pengabdiannya" di apartemen Harvey.
"Arneta," panggil Harvey lagi. "Pastikan asupan nutrisi pasien ditingkatkan. Dan Nyonya Melisa..."
Melisa tersentak mendengar namanya disebut. "Ya, Dokter?"
"Pastikan Anda juga menjaga kesehatan. Jika Anda jatuh sakit karena 'pekerjaan sampingan' Anda, itu hanya akan membebani proses pemulihan suami Anda," ucap Harvey dingin tanpa sedikit pun emosi di wajahnya.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan, Harvey berbalik dan keluar dari kamar tanpa menoleh lagi. Sikapnya yang sangat dingin dan profesional itu berhasil menghapus keraguan Narendra tentang adanya hubungan khusus antara sang dokter dan istrinya. Narendra merasa mungkin ia hanya berhalusinasi semalam karena pengaruh obat-obatan.
Arneta yang merasa suasananya sudah mulai mencair, memberikan senyum sopan kepada pasangan itu. "Mas Rendra, Mbak Melisa, saya permisi sebentar ke ruang perawat untuk menyerahkan laporan hasil pemeriksaan tadi ya. Kalau ada apa-apa, pencet saja tombol di samping ranjang," pamitnya dengan halus.
Begitu pintu VIP tertutup rapat dan hanya menyisakan mereka berdua, suasana ruangan seketika berubah. Ketegangan yang tadi dibawa oleh kehadiran Harvey seolah menguap, digantikan oleh rasa rindu yang meluap dari sisi Narendra.
"Mel..." panggil Narendra dengan nada rendah dan manja, sangat berbeda dengan nada interogasinya tadi.
Ia meraih tangan Melisa, menariknya pelan agar istrinya duduk di tepi ranjang, tepat di samping tubuhnya. Sebelum Melisa sempat berkata apa-apa, Narendra sudah menyandarkan kepalanya di perut Melisa, melingkarkan lengannya yang masih lemah ke pinggang istrinya.
"Maafkan aku ya, Sayang... Tadi aku membentakmu," gumam Narendra seraya memejamkan mata, mencari kenyamanan dari aroma tubuh istrinya yang sangat ia rindukan. "Aku hanya merasa sangat tidak berguna di sini. Aku benci melihatmu kelelahan, sementara aku hanya bisa berbaring."
Melisa mengusap rambut Narendra dengan lembut, mencoba menekan rasa bersalah yang terus menghimpit dadanya. "Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti kamu hanya khawatir."
Narendra mendongak, menatap Melisa dengan mata yang kini dipenuhi binar cinta. "Nanti kalau aku sudah sembuh, aku akan bekerja sangat keras. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja malam lagi. Kita akan punya waktu banyak seperti dulu."
Narendra kemudian menarik tangan Melisa ke bibirnya, mencium telapak tangan itu berulang kali dengan penuh perasaan. "Tangan ini... pasti lelah mengurus bayi orang lain. Harusnya tangan ini aku yang jaga."
Sikap manja Narendra benar-benar membuat hati Melisa hancur. Di satu sisi ia merasa dicintai, namun di sisi lain, ia merasa seperti penghianat paling kotor karena baru beberapa jam lalu ia berada di bawah kekuasaan Harvey di apartemen itu.
"Tidurlah lagi, Mas. Kamu harus banyak istirahat agar cepat pulih," bisik Melisa lirih, suaranya hampir hilang karena menahan tangis.
Narendra menggeleng kecil, ia justru menarik Melisa lebih dekat hingga wajah mereka sejajar. "Cium aku dulu... baru aku mau tidur."
Melisa terpaku sejenak. Ia menatap wajah tulus suaminya, lalu perlahan mendaratkan kecupan lembut di dahi dan kedua pipi Narendra. Bagi Narendra, ini adalah obat paling mujarab, namun bagi Melisa, ini adalah pengingat betapa besar taruhan yang sedang ia mainkan.
***
Bersambung...