Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Cuma Bantu Temen Aku
Pintu gerbang kosan berderit lirih,
kreekkk...,
Memecah kesunyian malam yang menggantung.
Raisa, dengan jantung berdebar melangkah cepat menuju kamar Digta.
Setiap tarikan napasnya terasa berat, bercampur antara harapan dan kecemasan.
Tok... tok...
Ketukan di pintu kamar Digta terasa lebih keras dari yang ia inginkan. Jemarinya gemetar.
Di balik pintu itu, ada hati yang ingin ia raih, ada kejelasan yang harus ia dapatkan.
Kreekkk...
Pintu terbuka, Digta terkejut, Sorot matanya bertemu dengan mata Raisa yang berkaca-kaca, penuh dengan emosi yang tak terucap.
"Raisa?" Digta menyebut namanya dengan nada bingung, Ada sedikit nada kesal, tapi juga tersirat kelegaan.
Raisa tak mampu berkata apa-apa.Kata-kata yang sudah ia susun rapi di kepala, tiba-tiba buyar tak berbekas.
"Eh... Kok"
Digta menghela napas, tak tega melihat Raisa menangis.
"Masuk yuk," ajaknya, seraya melirik ke kanan dan kiri, memastikan tak ada mata yang mengawasi mereka.
Raisa mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam kamar Digta,
"Duduk dulu sini," Digta menunjuk kursi belajarnya.
Raisa duduk dengan kaku.
"Ini udah malem banget lho, kamu ke sini sama siapa?" tanya Digta, nada suaranya mencerminkan kekhawatiran.
"Aku..."
Raisa menunduk, menyembunyikan air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Hey, kenapa nangis?" Digta mendekat, mengulurkan tangannya untuk menyentuh punggung Raisa dengan lembut.
"Jangan nangis dong." Sentuhan itu membuat Raisa merinding.
"Aku... aku cuma nggak mau kamu salah paham," bisik Raisa di antara isak tangisnya, lalu memeluk Digta erat.
"Eh..."
Jantung Digta berpacu lebih cepat dari biasanya. Sentuhan Raisa membuatnya kehilangan kendali.
"Tapi kan udah malem banget. Kalo kamu kenapa-napa di jalan gimana?" ucap Digta pelan, seraya mencoba melepaskan pelukan Raisa.
"kamu nggak perlu ngejelasin apa-apa kok, Cha," sambungnya, berusaha menenangkan Raisa. walau sebenarnya dia ingin sekali mendengar penjelasan Raisa.
Raisa menggelengkan kepalanya. Ia tak bisa membiarkan kesalahpahaman ini berlarut-larut.
"Kenapa tadi kamu langsung pergi?" tanya Raisa, suaranya bergetar. Ia menatap Digta dengan penuh pertanyaan.
"Kamu juga nggak bales SMS aku, telpon juga nggak diangkat-angkat," Raisa menambahkan.
Digta terdiam dia tidak tahu harus berkata apa. yang jelas saat itu Digta marah sekali.kepada Raisa.
"Euh..."
Digta memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Raisa.
"Oh itu, HP aku batrenya abis," jawab Digta akhirnya, mencari alasan yang terdengar masuk akal.
"Darma itu bukan siapa-siapa aku," ucap Raisa lagi, dengan nada yang lebih tegas.
"Oh..."
Tanpa Digta sadari, bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman tipis.
"Ya.. Itu kan urusan kamu," sahut Digta, berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Kamu kok kayak marah sama aku tadi?" kata Raisa, sambil menyeka air mata yang masih membasahi pipinya.
"Eh, nggak kok. Aku nggak marah," ucap Digta gelagapan, lalu tertawa hambar.
"Hahaha... nggak kok." Ia berusaha meyakinkan Raisa, meskipun ia tahu, Raisa tidak akan percaya begitu saja.
"Tapi kamu effort banget ya jalan sama dia. Padahal kelihatannya lagi nggak enak badan," ucap Digta lagi, dengan nada menyindir yang tak bisa ia tahan.
"Aku jalan sama Darma cuma buat nolongin temen aku aja kok," Raisa mencoba menjelaskan lagi, berharap Digta mau mendengarkannya. I
"Nolongin siapa?" Digta akhirnya bertanya nada suaranya tampak tak percaya.
"Dia ngasih syarat. Ke temen aki Kalo temen aku mau masuk kelompoknya, aku harus jalan sama dia," jawab Raisa, dengan nada putus asa.
"Hah, sampe segitunya," ucap Digta, dengan nada ragu yang tak bisa ia sembunyikan.
"Lagian, emang nggak ada kelompok lain apa?" sambungnya, masih terdengar kesal.
"Katanya, sulit magang di pengadilan,"
"Cuma anak-anak yang nilainya bagus yang dapet rekomendasi dari dosen. Jadi, mau nggak mau, dia harus ikut temen yang pinter," kata Raisa panjang lebar, mencoba meyakinkan Digta.
Digta menatap Raisa tajam.
"Jadi, dia pinter?" tanyanya sinis.
"Eh.."
Raisa menggigit bibirnya.
"Ya... pinteran kamu lah," sahut Raisa akhirnya,
"Hmm..."
Digta tersenyum tipis. Pujian Raisa membuatnya merasa lebih baik. Ia merasa dihargai, sebagai seorang pria.
"Ya iyalah," ucap Digta, dengan nada sombong yang dibuat-buat.
"Iih..."
Raisa tertawa geli melihat tingkah Digta. Ia merasa lega karena berhasil mencairkan suasana yang tegang.
"Kok sekarang aku-kamu? Biasanya lu-gw," tanya Raisa tiba-tiba, menyadari perubahan cara bicara Digta.
"Oh itu..."
Digta salah tingkah. dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Itu... itu biar lebih sopan aja sama kamu," sahut Digta akhirnya. Ia berharap, Raisa tidak akan mengejeknya.
"Oh...."
Raisa hanya tersenyum, menyembunyikan rasa senangnya. Ia merasa senang, Digta berusaha bersikap lebih baik padanya.
"Hmm...."
Tiba-tiba, Digta berdiri dari tempat duduknya. dia melangkah mendekati Raisa, membuat jantung Raisa itu berdebar semakin kencang.
Deg...
'Digta mau ngapain?' batin Raisa, dia merasa gugup, menunggu apa yang akan dilakukan Digta.
'Jangan-jangan dia mau cium aku' Raisa mulai membayangkan, lalu memejamkan matanya.
"Eh..."
Digta heran melihat tingkah Raisa. dia mengabaikannya, lalu membuka laci yang ada di samping Raisa. dia mencari sesuatu di dalam laci.
"hah..."
Digta mengeluarkan sebungkus snack dan sebuah gelas. .
"Kamu kenapa sih?"
Digta ngelirik Raisa, memperhatikan wajahnya yang memerah.
"Hehehehe, nggak apa-apa kok," sahut Raisa salah tingkah. Ia merasa malu.
"Aneh," kata Digta sambil berjalan menuju dispenser yang ada di dekat pintu kamarnya.
Nggak lama, Digta balik lagi. Dia menyimpan gelas itu di atas meja deket Raisa.
"Minum dulu, makan snacknya, abis itu aku anter kamu pulang," ucap Digta lagi. Digta ngin menunjukkan perhatiannya pada Raisa.
Raisa senyum tipis lalu minum dengan terburu-buru, dan tersedak.
Uhuk... uhuk...
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Digta khawatir, lalu mendekat ke arah Raisa.
Jari-jari Digta menyentuh pipi, lalu menyentuh bibir Raisa dengan lembut.
"Eeh..."
Seketika, wajah Raisa memerah. Wajah mereka mulai berdekatan sekarang.
Digta mulai membelai wajah Raisa lembut.
"Kamu cantik banget malem ini," ucap Digta berbisik, lalu bibirnya ngecup bibir Raisa lembut.