Di beli untuk dinikahi dan disakiti adalah jalan hidup seorang gadis cantik bernama Lovita. Di usianya yang masih remaja, Rumah bordil adalah tempatnya mengadu nasib. Uang sebanyak tiga milyar yang dibayarkan lelaki tampan itu untuk menikahinya semakin membuat Lovi merasa bahwa dunia ini kejam. Semua kesengsaraannya dimulai saat perusahaan Ayahnya bangkrut. ia bisa tinggal di rumah bordil dan menjadi budak Berry untuk mencari uang karena keegoisan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepupu
Lovi menghabiskan waktunya di koridor lantai atas yang menjadi penghubung antara rooftop dan kamarnya.
Di ruangan sunyi ini dia bisa menyalurkan hobi membaca dan menulis nya. Selain kamarnya dan taman, Ia begitu menyukai tempatnya saat ini.
Koridor yang tak jauh letaknya dari kamar Lovi itu juga di lengkapi fasilitas yang cukup nyaman hingga terkadang Lovi tertidur di ruangan itu.
Lovi melanjutkan kegiatan membaca buku favoritnya yang belum sempat diselesaikan hingga tanpa sadar, buku itu telah menutupi wajahnya karena ia tak bisa lagi menahan rasa kantuk yang menyerang.
Napas perempuan itu sudah teratur sampai ia tidak sadar ada lelaki yang menyelinap masuk ke dalam ruangan tersebut.
Devan menjelajahi koridor yang menyambutnya dengan kesunyian. Ia membutuhkan Lovi saat ini untuk mengusir penatnya setelah bekerja namun saat berada di kamar Lovi, Ia tidak menemukan perempuan yang dicarinya. Menurut informasi Netta, perempuan itu suka menyendiri di sana. Devan baru mengetahui hobi Lovi yang satu itu.
Ia terlalu tidak peduli dengan apapun yang menyangkut Lovi. Devan hanya membutuhkan tubuhnya. Lebih daripada itu bukanlah urusan Devan.
Devan berdiri di dekat sofa dimana Lovi berbaring dengan posisi tidak nyaman. Devan menyingkirkan buku tebal itu dari wajah Lovi. Devan yakin beban buku ini tidak cukup ringan namun perempuan ini tampak tidak terganggu sama sekali.
Devan merendahkan tubuhnya dan menatap datar wajah penuh kepolosan milik Lovi. Menelusuri kecantikan perempuan yang selalu ia sakiti. Berusaha menilai sejauh mana ia berhasil membuat Lovi terluka.
Devan menyampirkan helai rambut Lovi ke belakang telinganya kemudian berbisik sangat pelan, "Apa yang kamu lakukan hingga aku seperti ini?"
Devan bingung kenapa sekarang ia rela menghabiskan waktunya secara sia-sia untuk memperhatikan ****** kecilnya terlelap. Padahal saat menunggu Elea tidur, Devan akan cepat merasa bosan. Kepolosan yang terlukis di wajah cantik Lovi ketika tertidur berhasil menghipnotis Devan.
Devan membawa tubuh Lovi dalam gendongannya. Berjalan keluar dari koridor yang tidak pernah dikunjunginya sebelum ini, menuju kamar Lovi.
Lovi bergerak dalam balutan tangan kekarnya. hingga Devan harus mengurangi kecepatan langkahnya agar perempuan itu tidak terbangun.
Usai menyelimuti Lovi, Devan melihat manik itu mengerjap. Pergi dari sana sebelum Lovi terjaga adalah pilihan terbaik yang di ambil Devan.
Kali ini, Devan harus menahan hasratnya. Sisi lain dalam dirnya menolak untuk membuat Lovi terjaga lalu melayaninya.
"Nanti malam aku akan kembali,"
********
"Jane akan tinggal di sini," Devan yang sedang menuruni tangga menatap Raihan yang sudah menyambutnya di anak tangga terakhir.
"Itu tidak mungkin aku biarkan," Ujar nya dengan datar menatap Raihan.
"Apa masalahnya? Dia sepupumu, Devan,"
Devan tersenyum miring dan berlalu menuju sofa seraya melepas Jas kaku yang masih melekat di tubuh tegapnya.
"Dia menghancurkan Mansion ini kemarin,"
"Aku tahu itu,"
Ketika Raihan duduk di hadapannya, Devan kembali berkata," Lalu untuk apa dia tinggal di sini? Perempuan gila itu hanya pandai merusak,"
"Jaga ucapanmu, Devan!"
"Memang dia gila. Apa yang harus Papa tutupi lagi?"
"Itu sudah berlalu,"
"Kenyataannya, kemarin dia hampir melukai Elea,"
"Hanya Elea?"
Mendengar itu, Devan langsung memberi tatapan menusuk pada Raihan. Rena sedari tadi hanya menjadi pendengar. Ia memperhatikan kedua lelaki yang disayanginya bergantian.
"Elea tidak apa-apa bukan?"
"Ya, Tapi kalau sampai gadisku terluka, akan kubuat dia menyesal,"
Raihan tertawa membuat Devan mengeraskan rahangnya tidak suka.
"Aku tahu Lovi yang terluka. Jadi apa alasanmu melarang Jane tinggal di sini. Bukankah gadismu baik-baik saja?"
*************
Ngaret yak up nya wkwkwk. HAPPY READING GUYSSS!!!!!
ceritanya kagak nyambung
lari sana lari sini
gak nyambung juga
biking pusing sy bacanya