NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Action / Fantasi / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima puluh Prajurit Dan Rahasia dari Dalam Tungku!

Keesokan harinya, di lapangan latihan di belakang Benteng Batu Hitam yang biasanya ramai dengan teriakan dan dentingan senjata, kini sunyi. Lima puluh orang berdiri dengan formasi tidak karuan, tatapan mereka penuh dengan sikap tidak peduli, tantangan, dan kejengkelan.

Mereka adalah pasukan khusus pilihan Ratu Du Yan. Semuanya Soul Transformation, dari tahap tengah hingga akhir. Mereka adalah yang terbaik dalam bertarung, tapi juga yang paling sulit diatur. Banyak di antara mereka pernah menjadi pemimpin kelompok kecil, atau setidaknya petarung mandiri yang tidak suka diperintah.

Di tengah mereka, berdiri Xu Hao. Dia tampak biasa saja dengan pakaian sederhana dan pedang hitam di pinggang. Di tangannya, ada sebuah gulungan daftar nama yang diberikan Gorgo tadi pagi.

Gorgo sendiri berdiri di pinggir lapangan, dengan ekspresi setengah tertarik setengah menunggu bencana.

Xu Hao membuka gulungan itu, lalu memandang ke lima puluh pasang mata yang menatapnya. "Baik," katanya, suaranya datar namun jelas terdengar di keheningan. "Menurut perintah Ratu Du Yan, aku, Hei Feng, akan memimpin kalian. Untuk pertempuran di Kota Kabut dua minggu lagi."

Suara desis dan gerutu langsung memenuhi udara.

"Kau siapa sebenarnya? Anak baru datang langsung mau memimpin?" teriak seorang pria dengan tubuh kekar dan wajah penuh parut bekas cakaran.

"Kami sudah bertempur bertahun tahun di sini! Kau baru datang tiga hari!" sambung seorang wanita dengan rambut diikat pendek dan mata tajam.

Xu Hao tidak langsung menjawab. Dia melipat gulungan daftar itu, lalu menyimpannya. "Ratu memberi wewenang ini karena suatu alasan. Dan mulai sekarang, kita akan disebut Tim Kilat Hitam."

"Kilat Hitam? Nama yang jelek!" seseorang mengejek.

"Lebih baik Tim Pembantai!" yang lain berteriak.

Xu Hao mengabaikannya. "Aku tahu kalian tidak suka diperintah. Tidak masalah. Di sini, ada aturan sederhana." Dia menatap mereka satu per satu. "Siapa pun yang bisa mengalahkanku, bisa mengambil posisiku sebagai pemimpin. Siapa pun. Sekarang juga."

Sunyi sejenak. Lalu ledakan tawa dan teriakan.

"HA! Kau serius? Soul Transformation akhir lawan kami semua?"

"Aku saja cukup!" pria kekar tadi melangkah maju. Namanya, menurut daftar, adalah Batu. Dia Soul Transformation akhir, terkenal dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa.

"Aku Batu. Aku akan patahkan tulangmu, lalu ambil posisimu. Setuju?"

Xu Hao mengangguk. "Silakan."

Batu tidak buang waktu. Dia melompat ke depan, tinjunya yang sebesar palu menyambar ke arah kepala Xu Hao. Kekuatannya begitu besar hingga udara berdesis.

Xu Hao tidak mengeluarkan pedangnya. Dia hanya bergerak.

Bukan gerakan cepat yang mengejutkan, tapi gerakan yang tepat. Dia memiringkan tubuhnya sedikit, tinju Batu melewati bahunya. Kemudian, dengan gerakan yang terlihat lambat tapi mustahil dihindari, telapak tangannya menepuk pelan di dada Batu.

Dum!

Suara tidak keras. Tapi Batu tiba tiba terhempas mundur tiga langkah, wajahnya memerah. Dia tidak terluka, tapi serangan yang dia lancarkan dengan seluruh kekuatannya tadi seolah olah mentah. Dia terengah engah, melihat Xu Hao dengan mata bingung.

"Lagi!" geram Batu, kali ini lebih berhati hati.

Dia menyerang lagi, kombinasi pukulan dan tendangan yang brutal. Xu Hao masih tidak menyerang balik. Dia hanya bergerak di antara serangan itu, seperti angin yang meliuk di antara pepohonan. Setiap kali Batu hampir mengenai, tubuh Xu Hao selalu bergeser sedikit, cukup untuk menghindar.

Setelah sekitar sepuluh serangan sia sia, Xu Hao tiba tiba muncul di samping Batu. Tangannya yang terbuka menepuk pelan di pelipis pria kekar itu.

Batu terhuyung, lalu terduduk di tanah, pusing. Tidak ada luka, tapi kekalahannya jelas.

"Bagaimana..." gumam Batu, tidak percaya.

Lima puluh orang yang lain terdiam. Mereka bisa melihat, Xu Hao bahkan tidak menggunakan kekuatan penuh. Dia hanya bermain.

Seorang wanita cantik dengan rambut panjang hitam dan mata seperti kucing melangkah maju. Namanya Liana.

"Hebat, Hei Feng. Tapi kau hanya lawan satu. Kau bilang siapa pun bisa menantang. Bagaimana jika... kami semua menyerang bersamaan?"

Mata mata lain berbinar. Itu ide.

Xu Hao melihat Liana, lalu memandang ke kerumunan. "Silakan. Semua. Sekarang."

Tidak ada yang menunggu perintah kedua. Lima puluh Soul Transformation, dengan berbagai senjata dan teknik, maju bersamaan. Api, es, angin, racun, serangan fisik, semua mengarah ke Xu Hao yang berdiri sendirian di tengah.

Gorgo di pinggir lapangan sudah bersiap melompat menyelamatkan, tapi sesuatu membuatnya menunggu.

Xu Hao melihat gelombang serangan yang datang. Dia tersenyum tipis, senyuman yang tidak sampai ke matanya.

Lalu, dia mengangkat kaki kanannya, dan menghentakkannya ke tanah.

Bukan hentakan keras. Hanya seperti orang menyentakkan kaki untuk melepas debu. Tapi saat kaki itu menyentuh tanah, sebuah gelombang tak terlihat menyebar.

Bum.

Suara rendah yang menggema di tulang, bukan di telinga.

Lima puluh orang itu tiba tiba merasa seperti ditabrak oleh tembok tak terlihat dari bawah. Kaki mereka terpental dari tanah, tubuh mereka terlempar ke belakang. Senjata dan teknik yang sedang mereka kumpulkan buyar seketika. Mereka berjatuhan di tanah, berantakan, beberapa berguling, yang lain langsung terduduk dengan wajah pucat.

Tidak ada yang terluka parah. Tapi semua merasakan sebuah kekuatan yang sangat, sangat besar. Kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki seorang Soul Transformation.

Seluruh lapangan sunyi. Hanya suara napas terengah engah.

Seorang pria kurus dengan mata sipit bangkit perlahan. "Apa... apa yang baru saja terjadi?"

"Apakah mataku buta?" gerutu yang lain sambil mengusap punggungnya. "Dia benar benar Soul Transformation akhir. Aku bisa merasakan auranya."

"Tapi kekuatan tadi..." Liana berdiri, matanya menatap Xu Hao dengan campuran ketakutan dan rasa ingin tahu. "Itu bukan kekuatan Soul Transformation."

Xu Hao masih berdiri di tempat yang sama. "Aku adalah Soul Transformation akhir. Hanya saja..." dia jeda sebentar, "aku tidak biasa."

Batu, yang masih duduk di tanah, tertawa getir. "Tidak biasa? Itu pernyataan paling meremehkan yang pernah kudengar."

Para prajurit mulai bangkit satu per satu. Ekspresi jengkel dan tantangan di wajah mereka belum sepenuhnya hilang, tapi sekarang ada warna lain: keheranan, dan sedikit... penerimaan. Di dunia mereka, kekuatan adalah bahasa yang paling dimengerti.

Xu Hao berjalan ke depan mereka, yang kini mulai berbaris dengan agak lebih rapi meski masih kacau. "Jadi, masih ada yang ingin menantang? Atau kita bisa lanjutkan pembicaraan tentang Tim Kilat Hitam?"

Tidak ada yang menjawab. Beberapa menggeleng.

"Baik." Suara Xu Hao menjadi lebih keras, penuh wibawa yang tiba tiba muncul. "Mulai sekarang, kalian berada di bawah kepemimpinanku. Ini bukan pilihan. Ini perintah dari Ratu. Dan aku akan memastikan kita tidak hanya bertahan di Kota Kabut, tapi membuat musuh mengingat nama Kilat Hitam dengan mimpi buruk."

Seorang pria dengan wajah panjang bertanya, "Apa rencanamu? Latihan khusus? Formasi bertarung?"

"Latihan akan dimulai besok pagi, fajar," jawab Xu Hao. "Tapi bukan latihan biasa. Aku akan ajarkan cara membunuh dengan efisien. Tidak ada gerakan berlebihan. Tidak ada pemborosan energi. Dan," dia menatap mereka, "kita akan bekerja sebagai satu kesatuan. Bukan sebagai lima puluh individu."

"Kami sudah terbiasa bertarung sendiri sendiri," protes seorang wanita dengan pedang ganda.

"Dan itulah kelemahan kalian," potong Xu Hao. "Musuh kita terlatih, terorganisir. Jika kita tetap berantakan, kita akan dikalahkan meski secara individu lebih kuat. Dua minggu ini akan kubuat kalian belajar untuk mempercayai orang di sampingmu, setidaknya dalam pertempuran."

Liana mengernyit. "Dan bagaimana kau akan melakukan itu?"

"Dengan cara yang akan kalian benci," jawab Xu Hao. "Tapi kalian akan melakukannya, karena perintah Ratu, dan karena aku yang memimpin."

Gorgo yang dari tadi diam, akhirnya mendekat. "Dengar baik baik. Ratu memberikan wewenang penuh pada Hei Feng. Itu artinya, jika kalian membangkang, dia berhak menghukum, bahkan membunuh. Dan Ratu akan mendukungnya."

Beberapa wajah berubah masam, tapi tidak ada yang berani membantah lagi. Kekuatan yang ditunjukkan Xu Hao tadi sudah cukup menjadi peringatan.

"Baik," kata Xu Hao. "Sekarang, kembali ke barak masing masing. Besok fajar, di sini. Jangan terlambat. Siapa yang terlambat, akan menghadapi konsekuensinya."

Dia berbalik, meninggalkan lima puluh prajurit yang masih bingung dan penasaran. Gorgo mengikutinya.

"Kau tangani mereka dengan baik," kata Gorgo saat mereka berjalan menjauh. "Tapi ingat, mereka seperti binatang buas. Hari ini mereka terdiam karena terkejut. Besok mereka akan coba caramu."

"Biarkan mereka mencoba," jawab Xu Hao. "Aku butuh mereka patuh, bukan takut. Dan cara terbaik adalah membuat mereka melihat nilai dari kepatuhan itu."

"Kau yakin bisa ubah mereka dalam dua minggu?"

"Tidak perlu mengubah mereka. Cukup beri mereka musuh yang pantas untuk dibantai bersama." Xu Hao melihat ke arah timur, ke arah Kota Kabut. "Dan aku rasa, musuh di Kota Kabut akan cukup untuk itu."

Di lapangan, lima puluh prajurit masih berdiri.

"Dia benar benar aneh," gumam pria kurus tadi.

Batu menggosok pelipisnya yang masih agak pusing. "Tapi kuat. Aku belum pernah merasakan tekanan seperti itu dari Soul Transformation."

Liana memandang ke arah Xu Hao yang sudah pergi. "Aku penasaran. Siapa sebenarnya dia? Dan pedang hitam itu... kenapa dia tidak menggunakannya tadi?"

"Apapun itu," kata seorang pria tua dengan suara parau, "dia punya wewenang dari Ratu. Dan kekuatan untuk mendukungnya. Lebih baik kita ikuti dulu. Lihat nanti."

Mereka perlahan lahan bubar, masih dengan banyak pertanyaan di kepala. Tapi satu hal yang jelas, pemimpin baru mereka, Hei Feng, bukan orang yang bisa diremehkan. Dan pertempuran di Kota Kabut akan menjadi ujian sebenarnya, baik bagi Tim Kilat Hitam, maupun bagi pria misterius dengan pedang hitam yang haus darah.

Setelah pertemuan yang tegang dengan lima puluh prajuritnya, Xu Hao tidak langsung kembali ke baraknya. Dia berdiri sejenak di koridor batu yang dingin, pikirannya berputar. Dua minggu waktu sangat singkat. Dan meski dia yakin dengan kemampuannya sendiri, Tim Kilat Hitam butuh lebih dari sekadar latihan keras. Mereka butuh kejutan, butuh faktor yang bisa mengubah dinamika.

Dan dia punya tiga faktor itu, tersimpan rapat dalam cincin penyimpanannya.

Dia menemui Gorgo yang sedang mengawasi persiapan persenjataan di gudang.

"Gorgo," panggil Xu Hao.

Gorgo menoleh, wajahnya masih penuh tanda tanya dari kejadian di lapangan tadi. "Ada apa, Hei Feng? Masih ada masalah dengan pasukanmu?"

"Tidak. Aku perlu bertemu Ratu Du Yan. Ada hal penting yang ingin kubicarakan."

Gorgo mengerutkan kening. "Ratu sedang di kamar pribadinya. Biasanya tidak menerima tamu di sana kecuali urusan sangat mendesak."

"Ini penting. Berhubungan dengan pertempuran nanti."

Melihat ketegasan di mata Xu Hao, Gorgo menghela napas. "Baik. Ikut aku."

Mereka berjalan menuju menara pusat, naik melalui tangga batu berliku yang dijaga oleh dua pengawal dengan aura Soul Transformation puncak. Di depan sebuah pintu kayu gelap yang diukir dengan pola pola abstrak, Gorgo berhenti.

Dia mengetuk pelan. "Ratu, Hei Feng ingin bertemu. Dia bilang ada hal penting."

Beberapa saat berlalu, lalu suara Du Yan terdengar dari dalam. "Masuklah sendiri, Hei Feng. Gorgo, pergilah."

Gorgo mengangguk pada Xu Hao, lalu memberi isyarat agar dia masuk.

Xu Hao mendorong pintu. Kamar itu sederhana namun elegan. Dinding batu polos, sebuah tempat tidur besar dengan kain hitam, meja batu dengan beberapa gulungan peta, dan jendela kecil yang menghadap ke dataran tandus. Du Yan duduk di sebuah kursi batu di dekat jendela, memandang keluar.

"Sekarang, apa yang begitu penting sehingga kau harus menemuiku langsung, Hei Feng?" tanya Du Yan tanpa menoleh.

Xu Hao menutup pintu. "Setelah mempertimbangkan matang matang semalam, ada sesuatu yang ingin kukatakan. Sesuatu yang selama ini kusembunyikan."

Du Yan perlahan menoleh, matanya yang coklat dengan kilatan merah itu menatap Xu Hao dengan tenang. "Oh? Dan apa itu?"

"Aku memiliki... teman di dalam tungku hitam di cincin penyimpananku," kata Xu Hao, suaranya rendah. "Selama ini kuredam keberadaan mereka. Tidak ingin membahayakan mereka, atau membuat orang lain terluka karena ketidaktahuan."

Du Yan tidak terlihat terkejut. Sebaliknya, dia tersenyum tipis. "Aku sudah tahu sejak awal. Dan aku menunggu kau mengatakan ini sendiri."

Xu Hao terhenti sejenak, lalu mengangguk. Memang, untuk seseorang dengan tingkat kekuatan yang tidak bisa dia ukur, kemampuan mendeteksi makhluk hidup dalam ruang penyimpanan bukanlah hal mustahil.

"Tentu. Jadi Ratu sudah mengetahuinya."

"Tidak sepenuhnya. Aku hanya merasakan ada kehidupan lain yang terhubung denganmu. Tapi tidak tahu detailnya." Du Yan berdiri. "Sekarang, tunjukkan padaku."

"Tidak bisa di sini," kata Xu Hao. "Salah satunya berukuran besar. Seekor naga."

Mata Du Yan sedikit melebar. "Naga? Menarik. Mari ke halaman belakang."

Mereka keluar melalui pintu belakang kamar yang langsung menuju ke sebuah halaman tertutup yang luas, dikelilingi oleh tembok batu tinggi. Tanahnya keras, dengan beberapa batu besar bertebaran. Tempat yang cukup aman dan terpencil.

Du Yan berdiri di tengah, melipat tangannya. "Sekarang, tunjukkan."

Xu Hao mengangkat lengannya. Sebuah kilatan cahaya hitam, dan sebuah tungku hitam dengan pola pola samar muncul di tanah. Tungku itu tampak sederhana namun memancarkan aura kuno.

Xu Hao membuka tutupnya dengan sebuah gerakan tangan.

Cahaya biru terang menyembul dari dalam. Sebuah suara dengusan keras bergema, dan dari dalam tungku, seekor makhluk meluncur keluar.

Naga Biru.

Tubuhnya panjang sekitar tiga puluh meter, dengan sisik sisik logam biru yang berkilauan di bawah sinar matahari. Empat kakinya kuat dengan cakar tajam, sayapnya terlipat rapat di punggung. Kepalanya seperti naga timur klasik, dengan kumis panjang dan sepasang tanduk melengkung. Mata biru tuanya memancarkan kecerdasan dan kekuatan. Aura yang dipancarkannya setara dengan Soul Transformation akhir.

Naga itu mengangkat kepalanya tinggi tinggi, lalu menatap Xu Hao.

Kemudian, dua kilatan cahaya merah melesat keluar dari tungku, mendarat di kedua sisi Xu Hao. Dua pemuda kembar, wajah mereka identik dengan mata merah dan rambut hitam pendek. Mereka mengenakan pakaian tempur sederhana. Dousi dan Douli, dengan aura Soul Transformation menengah yang padat.

Ketiganya sudah diberi tahu oleh Xu Hao malam sebelumnya tentang penyamarannya dan rencana ini, jadi mereka tidak terkejut melihat wajah barunya.

"Tuan Hei Feng," kata Dousi dan Douli serempak sambil membungkuk sedikit. "Akhirnya kami bisa bertarung bersamamu lagi."

Naga Biru menganggukkan kepalanya yang besar, suaranya bergema rendah. "Tuan."

Xu Hao mengangguk pada mereka, lalu menoleh ke Du Yan yang diam memandang dengan ekspresi terkendali namun penuh minat.

"Bagus," kata Du Yan akhirnya. "Sangat bagus. Naga Biru ini... aku belum pernah melihat spesies seperti ini di Dataran Tengah."

Xu Hao sudah menyiapkan alasan. "Aku menemukan telurnya bertahun tahun lalu di sebuah gua terpencil di wilayah timur laut. Tidak ada tanda tanda induknya. Aku menetaskannya dan membesarkannya."

Du Yan mengangguk pelan. Kisah seperti itu memang biasa di Dataran Tengah yang luas, penunggalan dan warisan tersembunyi.

"Dan kedua kembar ini?"

"Mereka adalah saudara yang kuselamatkan dari sebuah konflik kecil di perbatasan beberapa tahun lalu. Mereka memilih mengikutiku," jawab Xu Hao. "Mereka terlatih dalam seni bela diri khusus."

Dousi dan Douli membungkuk pada Du Yan. "Hormat kami, Ratu."

Naga Biru juga menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, meski matanya tetap waspada.

Du Yan berjalan mendekati Naga Biru, mengamati sisik sisiknya yang berkilauan. "Element apa yang kau kuasai?"

Naga Biru mendongakkan wajahnya dengan sikap sedikit sombong, sebuah sifat alami makhluk naga. Xu Hao dengan cepat menepuk pelan kepala naga itu dengan sedikit energi untuk mengingatkannya.

"Petir biru," jawab Naga Biru, suaranya bergema. "Dan api."

"Kombinasi yang mematikan," komentar Du Yan. Dia lalu melihat Dousi dan Douli. "Dan kalian berdua?"

Dousi menjawab, "Kami menguasai beberapa seni bela diri yang diajarkan Tuan Hei Feng, dan juga teknik teknik khusus untuk pertarungan cepat."

"Seni bela diri iblis?" tanya Du Yan.

"Bukan spesifik iblis, Ratu. Lebih ke teknik efisiensi dan kecepatan," tambah Douli.

Du Yan mengangguk, lalu menatap Xu Hao. "Sekarang, katakan padaku. Mengapa kau memutuskan menunjukkan rahasiamu padaku sekarang? Dan mengapa menunjukkan mereka?"

Xu Hao mengambil napas dalam. "Dua alasan. Pertama, aku tidak ingin menyimpan terlalu banyak rahasia dari sekutu, terutama sekutu yang memberi aku kesempatan dan wewenang. Kedua," dia menatap ketiga pengikutnya, "aku ingin mereka bergabung dengan Tim Kilat Hitam. Mereka butuh pengalaman pertarungan sesungguhnya. Dan kekuatan mereka bisa menjadi kejutan yang kita butuhkan di Kota Kabut."

Du Yan terdiam, mempertimbangkan. "Menambahkan tiga Soul Transformation, termasuk satu naga, memang akan meningkatkan kekuatan pasukanmu. Tapi bukankah ini juga berarti kau memperlihatkan sebagian dari kartumu lebih awal?"

"Kartu tetap tersembunyi jika orang tidak tahu cara memainkannya," jawab Xu Hao. "Naga dan kembar ini akan berintegrasi dengan pasukan. Mereka akan terlihat sebagai bagian dari Tim Kilat Hitam, bukan sebagai rahasia pribadiku. Dan dengan cara itu, kita juga bisa melatih mereka dalam skala pertempuran yang lebih besar."

Du Yan berjalan mondar mandir pelan. "Kau mengambil risiko besar, Hei Feng. Jika musuh mengetahui kekuatan ini, mereka akan mempersiapkan penangkal khusus."

"Maka kita tidak boleh memberi mereka waktu untuk mempersiapkan," kata Xu Hao. "Serangan harus cepat, menghancurkan, dan tak terduga. Naga Biru dengan petir dan apinya bisa menjadi pemecah pertahanan. Dousi dan Douli dengan kecepatan mereka bisa menjadi pembunuh cepat di tengah kekacauan."

Du Yan berhenti, lalu mengangguk. "Baik. Aku setuju. Mereka boleh bergabung dengan Tim Kilat Hitam. Tapi dengan syarat. Mereka harus patuh pada perintahmu, dan tidak boleh mengganggu rencana operasi. Jika mereka bertindak sendiri dan merusak strategi, konsekuensinya akan berat. Baik bagi mereka, maupun bagi dirimu."

"Dimengerti," kata Xu Hao. Dia menoleh pada ketiganya. "Kalian dengar?"

Naga Biru mengangguk, sementara Dousi dan Douli membungkuk serempak. "Kami akan patuh, Tuan Hei Feng."

"Bagus." Du Yan memandang mereka sekali lagi. "Latih mereka dengan baik. Dua minggu ini sangat berharga. Dan Hei Feng," matanya menatap tajam, "kau terus mengejutkanku. Semoga kejutan kejutanmu selalu menguntungkan kita."

"Dengan izin Ratu, kami akan segera memulai latihan," kata Xu Hao.

"Pergilah."

Xu Hao menyimpan kembali tungku hitam, sementara Naga Biru dan kedua kembar akan mengikutinya secara langsung. Mereka keluar dari halaman belakang, meninggalkan Du Yan yang berdiri sendiri memandang langit.

"Seekor naga dari telur yang ditemukan. Dua kembar dengan teknik aneh. Dan seorang pemimpin dengan pedang hitam yang haus darah," gumam Du Yan. "Dunia memang penuh kejutan. Aku harap pilihanku tidak salah."

Di luar, Xu Hao berjalan menuju barak dengan tiga pengikut barunya. Dousi berbisik, "Tuan, apakah kita benar benar akan bertempur dalam perang besar?"

"Ya," jawab Xu Hao. "Dan itu akan menjadi awal. Ada banyak darah yang harus ditumpahkan sebelum tujuan kita tercapai."

Naga Biru menggeram pelan. "Aku sudah lama tidak bertarung sungguhan, sejak terakhir bertarung bersama Xue mo bajingan itu. Akan kuhancurkan musuh dengan petir biruku."

"Patuh pada perintah," ingat Xu Hao. "Kita adalah satu tim sekarang. Kalian adalah bagian dari Kilat Hitam."

Mereka sampai di barak, di mana lima puluh prajurit yang sedang beristirahat langsung terdiam melihat kedatangan mereka, khususnya Naga Biru yang besar.

"Temanku," di perkenalkan Xu Hao. "Mereka akan bergabung dengan kita. Latihan mulai besok. Dan sekarang, berkenalanlah."

1
Sarip Hidayat
waaah jadi gitu
Dragon🐉 gate🐉
Mayan... dpt 2 jiwa lg...lanjuuuttt panen
Dragon🐉 gate🐉
lah, pantas paket gw gak Dateng",sejak kapan si Arif jd prajurit, ikut perang pula ?? 🤔 rif.. paket gw loe sangkutin di mana ?.. 😂
Dragon🐉 gate🐉: waduh... si Arif kang paket side jobnya ngeri,jd asasin🤣
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
Qingtian gege~/Kiss/🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
woooaaaahhh..... 😎 Kereeennn.... mana nasi tumpeng sm bubur merah putihnya 🍚🎂
Dragon🐉 gate🐉: sipp, jangan lupa sambel goreng ati,sm kering ikan teri,krupuk udang 1 toples gede😂
total 2 replies
Agus Rose
ok.
up up up
YAKARO: Terimakasih bro🙏
total 3 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor... kl boleh gw ada saran nama buat si kadal biru.. Lan Long( naga biru) / Lan se shandian long (naga petir biru) itu versi serius kl versi lawaknya Aoman de xiyi( kadal sombong)🤣
Dragon🐉 gate🐉: manttaaafff👍
total 2 replies
qwenqen
mantap👍👍👍💪💪💪💪💪
OldMan
neng ratu calon bini juga kahh🤣🤣🤣
Agus Rose
Di tunggu up nya lagi,seperti kemarin yg banyak.
OldMan
mantapp bangetttt ..daratan tengah ini apakah pulau jawa🤣🤣🤣
YAKARO: Mungkin🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
terjawab sudah ..👍
YAKARO: Mantap👍
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
loh... neng Sari nyasar kesini ternyata,pantesan di cariin di kios angkringan kok gak ada... Balik Neng, bahaya disini bukan tempatmu🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: aaiih... ngeri🤣
total 6 replies
OldMan
mantaap thorrr 💪💪💪💪
Dragon🐉 gate🐉
sekilas.. knp Xu Hao gak bunuh Bai Feng pdhl mampu, tp mungkin ada bbrp alasan, 1 biar gak ngebuka samaran di dpn anbu ratu Du Yan, 2 setiap anggota Klan pasti punya 'GpS' kl mereka mati biasanya bakal ketahuan siapa yg membunuh mereka🤔
YAKARO: itu bener banget, malah kalau keliatan semuanya jadi agak hambar/Hammer/
total 3 replies
OldMan
mataappp Thor ..mulai banteiii
Dragon🐉 gate🐉
sial!! mari kita mulai Pestanya....
Dragon🐉 gate🐉: /Toasted/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
yeeaayy... panen lagi kita,kali ini panen besar...😈
YAKARO: Gass srudukkk💪💪
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aroma Rivalitas yg kental dr Mo Xin...🤔
YAKARO: Mungkin saja🧐
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau pun sama woy😂
Dragon🐉 gate🐉: anti dia🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!