Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadir dan dekat
Situasi di kantor kontras dengan ketenangan di rumah. Di lantai teratas gedung perkantoran itu, ruangan terasa panas meskipun AC menyala maksimal.
“Pak Elang, datanya sudah siap.”
Rian masuk dengan napas sedikit memburuk. Ia meletakkan sebuah map tebal di atas meja kerja Elang yang bersih. Di sana, sudah menunggu dua orang pria dari tim hukum dengan wajah tegang.
“Ada kebocoran informasi dari dalam, Pak,” lapor Rian tanpa basa-basi. “Investor dari Singapura mendadak menarik investasinya karena ada pihak yang menyebarkan rumor kalau keadaan perusahaan sedang tidak stabil karena… masalah pribadi Anda.”
Rahang Elang mengeras. “Siapa?”
“Kami sedang melacak sumber aslinya. Tapi kemungkinan pemegang saham minoritas yang sejak lama sudah tidak puas.” Rian ragu sejenak. “Dan mereka mulai menyinggung Kanara, Pak. Mereka bilang fokus Anda sudah tidak di sini lagi.”
Brak!
Elang memukul meja dengan kuat. Sorot matanya tajam dan berbahaya. “Mereka boleh menyerangku, tapi jangan berani-berani membawa nama anakku.”
“Masalahnya, Pak,” salah satu pengacara menyela. “Mereka mencoba menggunakan klausul stabilitas manajerial. Mereka memaksa diadakannya RUPS luar biasa untuk meninjau posisi Anda sebagai CEO.”
Elang terdiam. Di kepalanya terbayang wajah Kanara yang kecewa saat ia pamit. Ia sedang merasa ditarik dari dua sisi. Jika ia fokus pada pekerjaan, ia akan kehilangan waktu dengan Kanara. Jika ia fokus pada Kanara, para pemangsa ini akan menghancurkan hasil kerja kerasnya selama ini.
“Berikan aku waktu satu jam,” ujar Elang dingin. “Siapkan conference call dengan Singapura. Kita akan tunjukkan pada mereka siapa yang memegang kendali di sini.”
Elang duduk di kursi kebesarannya, namun matanya sempat melirik pada sebuah bingkai foto kecil yang ia simpan di laci meja, foto Kanara saat ia bayi.
“Rian…,” panggil Elang saat asistennya itu hendak keluar.
“Iya, Pak?”
“Pastikan pengamanan di rumah diperketat. Jangan biarkan wartawan atau orang asing mendekati rumah. Aku tidak ingin Kanara terusik.”
“Baik, Pak.”
Elang menarik napas panjang, mencoba menekan amarahnya. Ia harus menyelesaikan kekacauan ini secepat mungkin, karena ada seorang gadis kecil yang sedang menunggunya pulang.
**********
Malam itu, Elang pulang dengan sisa amarah yang masih mengendap di kepalanya. Pertemuan dengan tim investor Singapura berlangsung alot hingga malam.
Bagi Elang, kantor adalah Medan perang, dan ia baru saja menepis serangan para ‘pemangsa’ yang ingin menjatuhkannya lewat isu pribadinya.
Begitu memasuki rumah, Elang melempar jaketnya ke sofa dengan kasar. Namun, langkahnya terhenti saat ia menyadari sesuatu yang berbeda.
Rumah itu tidak sesunyi biasanya.
Ada suara musik instrumental mengalun pelan dari arah dapur. Lampu ruang makan yang biasanya hanya menyala satu titik, kini benderang. Elang melangkah pelan dahinya berkerut, tangannya merapikan rambutnya yang berantakan.
Di meja makan, ia melihat pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Nura sedang duduk di samping Kanara. Mereka tidak sedang makan, melainkan sedang sibuk dengan tumpukan tepung dan adonan di atas meja. Wajah Kanara tercoreng sedikit tepung di pipinya, namun matanya fokus menatap tangan Nura yang sedang membentuk adonan.
“Nah, sekarang Kanara coba tekan bagian tengahnya pakai jempol,” instruksi Nura lembut.
Kanara menurut. Ia menekan adonan itu dengan hati-hati. Saat bentuknya menjadi sempurna, sebuah pekikan kecil, sebuah suara kegembiraan, keluar dari bibir Kanara.
“Ehem,” Elang berdehem pelan agar tidak mengagetkan mereka.
Kanara dan Nura menoleh serempak.
“Bapak sudah pulang?” Nura langsung berdiri, sedikit canggung karena tangannya penuh tepung.
Kanara tidak lari atau sembuyi. Ia malah mengangkat adonan yang baru saja dibentuknya, menunjukkannya pada Elang dengan mata berbinar.
Elang mendekat, ia berlutut di samping kursi Kanara, tidak peduli celana kain mahalnya terkena ceceran tepung di lantai. “Wah… Kanara buat apa ini? Kue?”
Kanara mengangguk mantap.
“Tadi Kanara bosan, saya ajak ke dapur buat cookies. Katanya mau buatkan untuk Ayah,” tambah Nura dengan senyum tulus.
Elang menatap Nura, lalu beralih ke Kanara. Kalimat ‘buatkan untuk Ayah' itu menghantam pertahanannya lebih keras daripada ancaman investor mana pun di kantor tadi.
“Terima kasih ya, Sayang. Ayah pasti akan memakannya nanti,” bisik Elang dengan suara parau.
Setelah Kanara dibawa ke kamar oleh asisten rumah tangga untuk dibersihkan sebelum tidur, tinggal Elang dan Nura yang tersisa di dapur yang kini sedikit berantakan itu.
“Maaf ya, Pak. Dapurnya jadi kotor,” ujar Nura sambil mulai meraih lap.
“Jangan dibersihkan dulu,” potong Elang. Ia duduk di salah satu kursi makan, menatap sisa-sisa adonan itu dengan pandangan kosong. “Biarkan seperti ini dulu. Aku suka melihat rumah ini punya… jejak kehidupan.”
Nura terdiam, ia bisa melihat gurat kelelahan yang luar biasa di wajah Elang. “hmm… ada masalah di kantor, Pak?” Dalam hati ia mengutuk keberaniannya melewati batas tugasnya.
Elang mendongkak. Ia ingin menjawab “tidak apa-apa” seperti biasanya, tapi melihat ketulusan di mata Nura, ia justru menghembuskan napas panjang.
“Orang-orang di luar sana sedang mencoba mengambil keuntungan dari kondisiku, Nura. Mereka pikir aku lemah karena Kanara sakit.”
Nura meletakkan lapnya, lalu duduk di depan Elang. “Bapak tidak lemah. Menjaga Kanara adalah hal paling kuat yang bisa dilakukan seorang laki-laki.”
Untuk kedua kalinya, ia mengutuk dirinya sendiri.
Elang menatap Nura cukup lama. Di bawah cahaya lampu yang hangat, ketegangan di wajahnya perlahan mencair. “Kamu betul-betul berbeda, Nura. Kamu datang dan tiba-tiba semuanya terasa… mungkin. Segalanya terasa bisa diperbaiki.”
Nura merasakan pipinya kembali memanas. “Saya hanya menjalankan tugas, Pak.”
“Tidak,” Elang menggeleng pelan, tangannya bergerak di atas meja, seolah ingin meraih tangan Nura, namun ia menahannya di tengah jalan. “Tugas tidak akan membuat anakku tersenyum seperti tadi.”
Suasana mendadak menjad sangati sunyi dan intens.
“Saya ke atas dulu, Pak,” ucap Nura. Ia tidak ingin berlama-lama di sana karena takut Elang bisa mendengar debar jantungnya.
Saat Nura berjalan ke arah tangga, ia sempat menoleh. Elang masih di sana, memungut adonan mentah milik Kanara, menatapnya seolah itu adalah benda yang paling berharga yang dimilikinya.
Setelah Kanara dibersihkan, ia terlihat mengantuk. Nura membawanya ke kamar dan bersiap tidur. Setelah memastikan Kanara terlelap, Nura keluar dari kamar lewat pintu penghubung dan menuju balkon untuk mencari udara segar.
Ternyata, Elang juga ada di sana. Ia sedang menyesap kopi sambil menatap ke arah kolam renang.
“Belum tidur?” tanya Elang tanpa menoleh.
“Baru saja menidurkan Kanara, Pak,” jawab Nura bersandar di pagar balkon.
Elang menoleh, menatap Nura di bawah cahaya lampu taman yang kekuningan. “Terima kasih buat hari ini. Kanara terlihat bahagia.”
Ia lalu melangkah sedikit mendekati Nura. “Selama ini saya pikir materi yang bisa membuatnya bahagia. Tapi saya salah besar.”
Nura menatap Elang sejenak. Pria ini terlihat lebih manusiawi malam ini, tanpa setelan kerja, tanpa tatapan mengintimidasi.
“Bapak hanya perlu lebih banyak waktu bersamanya. Kanara sangat sayang sama Bapak,” ujar Nura lembut.
Elang membalas tatapan Nura. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling diam. Jantung Nura kembali berulah, detakannya mengencang.
“Selamat malam, Nura,” ucap Elang sebelum masuk ke dalam kamarnya.
“Malam, Pak Elang,” bisik Nura, masih berdiri di sana dengan perasaan yang makin sulit ia mengerti.
Khan... aku juga jadi ikutan.. ba...s...ah... 😌
eh ortu Elang, aku karungin aja deh, brisik bgt dah😩