NovelToon NovelToon
Love After Married

Love After Married

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tulisan_nic

Albie Putra Dewangga, 32 tahun.
Dokter bedah trauma—pria yang terbiasa berdiri di antara hidup dan mati, tapi justru kalah saat menghadapi percintaan.
Kariernya gemilang. Tangannya menyelamatkan nyawa.
Namun hatinya runtuh ketika Alya, kekasihnya yang seorang model, memilih mengejar mimpi ke Italia dan menolak pernikahan.
Bagi Albie, itu bukan sekadar perpisahan melainkan kegagalan.
Di malam yang sama, di sebuah bar ia bertemu Qistina Aulia, 22 tahun.
Mahasiswi cantik dengan luka serupa, ditinggal pergi oleh pria yang ia cintai.
Dua hati yang patah.
Dua gelas yang terus terisi.
Hadir satu keputusan gila yang lahir dari mabuk, kesepian, dan rasa ingin diselamatkan.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,dan bisa membahagiakan mu."
Kalimat itu terucap tanpa rencana, tanpa cinta atau mungkin justru karena keduanya terlalu lelah berharap.
Apakah pernikahan yang dimulai dari luka bisa berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan 4

*

*

*

Rumah sakit pusat, siang itu di kejutkan dengan suara ambulan.

Adrian dan beberapa perawat mendorong brankar yang baru saja turun dari ambulan. Seorang pria paruh baya dengan tubuh sedikit gempal terbujur di atasnya.

Berdasarkan informasi, pria itu jatuh dari lantai 3 ruko miliknya.

Albie ikut mendekat, ia mengamati tubuh pasien yang baru datang itu. Wajahnya pucat, tapi tidak ada tanda-tanda luka, bahkan tidak ada setetes darah yang terlihat.

Albie dan Adrian beradu pandang, seolah memiliki pemikiran yang sama. Ada apa dengan pasien ini?

Jangan-jangan...

Fraktur tertutup pada tulang, ini sangat berbahaya. Ujung tulang yang patah bisa menusuk organ dalam bahkan merobek pembuluh darah.

Langkah mereka di percepat, mendorong brankar masuk ke ruang IGD.

"Pasien sesak nafas Dok, juga nyeri di bagian dada." jerit Hana.

"Cek tanda vitalnya Hana!" perintah Adrian cepat

Hana melingkarkan manset tensi di lengan pasien. Jarum infus sudah terpasang, tapi darah di selang tampak mengalir terlalu cepat.

"Dok, tekanannya turun. Delapan puluh per lima puluh," lapor Hana tanpa mengangkat suara, tapi tangannya sigap menyesuaikan cairan.

Adrian mencondongkan tubuh, menatap wajah pasien yang mulai pucat. "Pak, dengar saya. Bisa napas dalam?"

Pasien mengangguk lemah, bibirnya terbuka. Suaranya masih keluar, meski serak.

"Saya… masih bisa, Dok."

Adrian menghela napas singkat.

"Airway aman sementara" ucapnya datar.

Ia lalu menggeser stetoskop ke dada kanan. Alisnya langsung mengerut. Ia bandingkan dengan sisi kiri, ada perbedaan yang jelas.

"Hana, bunyi napas kanan menurun, Pasien napasnya makin cepat." ucapnya cepat

Pasien meringis, tangannya refleks menekan dada. "Sakit… Dok. Dada saya sakit."

Adrian mengangguk singkat. "Sabar dulu ya Pak. Tahan dulu."

Ia melirik monitor. Nadi merayap naik, grafiknya tak tenang.

"Han, kulit pasien dingin. Nadi seratus dua puluh."

"Siap Dok. Saya pasang jalur kedua."

Jarum kembali menembus kulit. Cairan mengalir deras.

Adrian berdiri tegak. Menoleh pada Albie yang juga memperhatikan setiap gerakan pasien "Aku curiga perdarahan di dalam dada. Hemotoraks."

"Aku juga mengarah ke sana, Bie" Adrian sambil mengangguk. Lalu menoleh pada Hana.

"Siapkan oksigen Han. Jangan tunggu tekanan jatuh lebih jauh."

Hana sudah bergerak bahkan sebelum kalimat itu selesai. Ruang IGD kembali dipenuhi langkah cepat dan suara alat medis—tanda bahwa waktu sedang berpacu dengan nyawa.

"Nggak salah lagi, faktur tertutup di rusuk kanan!" Albie spontan bersuara saat melihat pasien itu menyentuh dada kanannya.

Albie cepat menatap monitor—angka-angka yang terus bergerak, memberi peringatan tanpa suara.

"Hana,"panggilnya singkat.

Hana mendekat. "Iya, Dok."

"Ambil darah sekarang. Hb, golongan darah, dan periksa kecocokan darah. Kita harus siapkan tranfusi."

Hana mengangguk "Siap, Dok" dan langsung menyiapkan tabung-tabung darah.

Albie menoleh ke Adrian. "Tekanannya masih turun?"

"Belum stabil," jawab Adrian. "Napasnya makin cepat."

Albie kembali menatap dada pasien yang naik-turun tak seimbang. "Kita harus lihat sumber perdarahannya. Kirim pasien ke CT scan thoraks. Untuk melihat kondisi paru-paru dan rongga dada, termasuk adanya darah di dalam. Kalau pasien terlalu tidak stabil, kita pakai FAST."

(FAST: USG cepat di IGD untuk mendeteksi perdarahan di dalam tubuh tanpa harus memindahkan pasien jauh)

Adrian mengangguk paham.

Hana menempelkan label pada tabung darah. "Darah sudah diambil, Dok."

"Bagus," jawab Albie singkat. "Jangan buang waktu."

Di kepala Albie, satu kesimpulan semakin jelas—perdarahan ini terjadi diam-diam, dan waktu bukan lagi sekutu mereka.

***

Masih di area kampus,

Langkah kaki Qistina di dominasi oleh rasa kesal yang teramat pada tingkah Calvin. Ia tidak terima dengan perlakuan itu. Harga dirinya terasa sangat di rendahkan. 'Brengsek! Calvin kurang ajar!' Berkali-kali umpatan keluar dari bibir nya.

"Qis gimana?" Zifa merangkul pundaknya dari belakang. Di sebelah nya sudah ada Yowan.

"Calvin brengsek!, dia nyoba buat cium aku."

"Gila! Pelecehan dong. Tapi, dulu kan pernah Qis?" Zifa sambil nyengir. Yang di balas dengan tatapan tajam Qistina.

"Hehe...sory Qis. Becanda."

"Nggak lucu!" balas Qistina cepat.

Yowan menunjuk bangku kayu yang tidak jauh dari mereka berdiri. "Duduk disana dulu yuk."

Qistina dan Zifa menurut, kini mereka sudah duduk bertiga di bangku kayu itu.

Zifa membuka segel minuman kaleng yang di bawanya, ia berikan kaleng itu pada Qistina.

"Nih, minum dulu. Biar tenang."

Tanpa menunggu, Qistina langsung menenggak minuman yang di berikan sahabatnya itu. Hingga tandas tak bersisa. Qistina memang cenderung berlaku implusif seperti itu jika sedang berada dalam emosi yang meluap. Dia akan makan atau minum apa saja yang ada di hadapannya tanpa pikir panjang.

"Gimana? Udah tenang belom?" tanya Zifa sambil meraih kaleng kosong di tangan Qistina. Lalu membuangnya di kotak sampah yang tidak terlalu jauh dari mereka duduk.

Qistina mengangguk, "Thanks,ya" Ucapnya dengan suara datar, tidak lagi berapi-api seperti tadi.

"Tapi, Qis. Aku rasa Calvin tidak akan sejahat itu sama kamu. Dia nggak akan ngelaporin foto itu ke pihak kampus, aku tahu siapa Calvin. Dia cuma kebawa perasaan aja." Yowan menjelaskan.

"Aku nggak mikirin siapa Calvin, yang aku pikirin gimana caranya walaupun beasiswa ku di cabut aku masih bisa tetep lanjutin kuliah." Jawab Qistina.

Zifa tiba-tiba nyeletuk.

"Aku tahu, kamu ikut even dari Kak Alexa aja. Aku dengar bayarannya gede."

"Alexa? Sales manager sorum mobil itu?"

"Iya, kan kamu pernah ikut even yang sparepart waktu itu. Bayarannya lumayan gede kan?"

Qistina mengangguk-angguk. Qistina pernah bergabung dengan tim Alexa, tapi di larang oleh Calvin karna ia terlalu cemburu. Di tempat itu Qistina harus berdandan mencolok dengan rok pendek di atas lutut. Terlebih lagi di sana kebanyakan di hadiri oleh laki-laki berduit, yang tak jarang salah satu dari mereka menawarkan untuk menemaninya satu atau dua malam di kamar hotel.

"Tapi, aku nggak nyaman kerja yang begitu. Bawaan pengen nonjok laki-laki beristri yang sok itu. Mentang-mentang berduit, dengan gampang selingkuh sana sini."

Qistina bergidik mengingat kejadian saat ia di tawari sejumlah uang oleh laki-laki berbadan gempal untuk menemaninya main golf dan menginap dua malam.

'Hih...jijik.'

Zifa kehabisan ide, tidak tahu lagi harus memberi saran apa. Qistina benar, mana mungkin kerja di tempat seperti itu lagi. Bisa-bisa Qistina beneran jadi peliharaan Om-om.

Yowan menunduk, lalu menoleh pada Qistina.

"Gimana kalau kerja di tempat kakak ku?"

Qistina melirik, Kakak? Emang Yowan punya Kakak?

"Maksudnya?" tanya Qistina

"Kakak perempuan ku itu punya PT Tour and travel Haji dan Umroh. Nanti aku rekomendasiin deh sama dia. Kebetulan lagi nyari staff di bagian costumer service online, jadi masih bisa kerja walaupun kuliah."

"Wah menarik nih, mau dong. Kenalin aku sama Kakak kamu." Qistina sambil menangkupkan tangannya memohon.

"Kalian dateng aja, nanti malem Kakaku itu mau lamaran. Sekalian aku kenalkan sama keluarga."

"Iya...iya aku mau. Tapi aku pulang kafe jam 8."

"Acara juga mulainya jam segitu kok."

"O...ya udah, dari kafe aku langsung ke rumah kamu ya. Zif, kamu jemput aku ya."

"Eh ..em iya."

Diam-diam Zifa sedari tadi memperhatikan, bagaimana Yoan bicara pada Qistina. 'Jadi Yoan sudah mau kenalin Qistina ke keluarganya? Bagus lah, semoga aja jalan mereka berdua mulus untuk bisa sama-sama. Tugas ku cuma mengubur perasaan nggak penting ini. Yang penting Yoan sama Qistina bahagia.'

*

*

*

~Salam hangat dari Penulis 🤍

1
checangel_
Cieee, definisi 'one and only' ya, Dok/Chuckle/
checangel_
Jiwa sultannya seorang Dokter (Calon Suami)/Facepalm/, tapi memang seorang Dokter harusnya seperti itu sih ... uang urusan belakangan, nyawa pasien harus terselamatkan 🤝
checangel_
Efek Maag bisa juga itu, jangan telat makan dan banyak pikiran ya, Bu🤧
checangel_
🤭
checangel_
🤣🤣 menusuk hati banget nggak tuh, Dok .... perkataannya?/Facepalm/
Tulisan_nic: julid mode on
total 1 replies
checangel_
وعليكم السلام
anita
albie...dia kyaknya gk skedar tanggung jwab tp bner2 sdh cinta sm qistina...upnya 2 dong thor..
checangel_
Jadi, saling terhubung gitu ya /Chuckle//Facepalm/
Tulisan_nic: Sahabatnya dr Rafika si Albie ini. Satu fakultas dulunya 🤭
total 1 replies
checangel_
Definisi makan di pinggir jalan lebih nikmat, daripada makan di resto sekelas bintang lima 🤝/Applaud/
checangel_
🤣🤣 apakah dirimu mencoba menggunakan kuasa uang, Dokter?/Chuckle/
checangel_
Iya dong, jangan ada kata cerai di antara kita, bukan begitu kalimatnya Mas Dokter? 🤭/Facepalm/
checangel_
Wah, berasa keputusan ada di tangan wanita /Facepalm/
˚₊· ͟͟͞͞➳❥𝐋𝐢𝐥𝐲 𝐕𝐞𝐲༉‧₊⁴.
wkwkwkkw, ngakak aja, 2 2 nya sama sama mimpi🤣
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
aku bacanya malah soleha
Hans_Sejin13
ceritanya operal bagus.👍
Ringan dan menarik.👍
Rekomend...👍
chas_chos
klau aku tidur saja
chas_chos
cepat 😩 , klau telat ribet
Tina
kayaknya gr2 makan seblak
Tina
aku boom status sih 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!