Di usia empat puluh, Antonella pikir hidupnya sudah selesai dikhianati—sampai ia memergoki suaminya sendiri bersama sang sekretaris. Perceraian mengubahnya: dari istri yang patah hati menjadi wanita baru yang tajam, berani, dan tak takut pada siapa pun.
Termasuk pada Don Enrico Costello—mafioso paling ditakuti di seluruh Italia.
Ketika utang judi sang mantan suami membuat putri semata wayangnya terancam, Antonella melakukan hal yang tak pernah berani dilakukan siapa pun: ia menatap langsung mata sang Don dan menawarkan dirinya sebagai gantinya. Seorang guru berusia empat puluh tahun, di tengah dunia penuh darah, senjata, dan kuasa.
Enrico terbiasa ditakuti. Ia tak pernah mencintai, tak pernah tertawa, tak pernah mengizinkan seorang wanita pun terlalu dekat. Tapi wanita satu ini menolak gemetar di hadapannya—malah membuatnya ingin membunuh sekaligus tertawa di saat yang sama. Dan untuk pertama kalinya, es di hati sang Don mulai retak.
Di antara dua bocah lelaki yang haus kasih sayang, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan gairah yang membakar setiap malam, Antonella menemukan bahwa "dibawa oleh seorang mafioso" mungkin justru awal dari hidup yang selalu ia impikan—dan pertaruhan paling berbahaya yang pernah ia ambil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlaucia Campos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bella-ku!
Antonella
Enrico akhirnya keluar, dan aku tinggal mengobrol—atau boleh dibilang mengamuk—bersama Ana soal pernikahan itu. Kuputuskan untuk memikirkan dan membicarakannya nanti saja.
Aku bersama anak-anak, yang jelas-jelas sangat bersemangat, bahkan bisa kubilang bahagia dengan kabar pernikahan itu.
"Aku senang Tante mau menikah dengan Don," celetuk Vincenzo dengan cadelnya.
"Aku juga," kata Valentino. "Cuma, aku tak mau memanggilmu ibu tiri."
Wah, Valentino pintar, dia mendengar aku bilang bakal jadi ibu tiri, batinku.
Aku tersenyum. "Tak perlu, sayang. Itu cuma cara Tante bilang pada Rosa bahwa Tante akan jadi seperti ibu buat kalian, bukan ibu tiri yang jahat... Kau mau memanggil Tante apa, Valentino?"
"Bolehkah aku memanggilmu Ibu?" tanya Valentino.
Aku terkejut, lalu tersenyum. "Akan jadi kehormatan besar dipanggil Ibu olehmu."
"Aku juga mau panggil kau Ibu," kata Vincenzo. "Semua temanku punya ibu."
Aku terharu sekali. "Kalian berdua ini benar-benar meluluhkan hatiku. Kalau begini, aku tak punya pilihan selain menyatakan diri secara resmi sebagai ibu pengganti kalian. Jadi, panggil saja aku Ibu!"
"Hore!! Kita punya ibu!!" seru mereka.
"Dan satu lagi, Ibu tak mau kalian memanggil ayah kalian 'Don'. Dia itu ayah, papa. 'Don' itu untuk para pegawai dan orang lain, dan paling banter kita memanggilnya Don di depan orang. Tapi di rumah ini, dan saat cuma ada kita bersamanya, panggil saja dia Ayah atau Papa."
Mereka tersenyum bahagia. "Iya."
"Kami dulu tak memanggilnya Ayah karena Rosa bilang kami tak boleh," kata Valentino.
"Ayo kita lupakan semua yang si—" aku hendak mengucapkan umpatan yang benar-benar kasar, tapi kutahan "—yah, semua yang perempuan itu katakan pada kalian. Kalian pernah pergi jalan-jalan dengan ayah kalian?"
"Tidak, kami tak pernah pergi ke mana-mana dengannya," jawab mereka.
Ya ampun, kasihan sekali. Tapi tak apa, akan kubantu mereka. Enrico, awas saja kau, batinku.
Setelah bermain mobil-mobilan sebentar dengan mereka sesuai janjiku, kumandikan mereka, kami makan malam, lalu naik ke atas. Sudah larut, dan banyak sekali kejadian di rumah ini hari ini. Mereka segera tertidur, dan aku pergi mandi.
Aku mandi lama sambil memikirkan segala yang sedang terjadi, dan betapa hidupku jungkir balik dalam semalam.
Saat aku keluar dari kamar mandi, hanya berbalut handuk, aku berpapasan dengan Enrico yang masuk ke kamar.
Enrico kira-kira seperti pria di foto ini.
"Kau terlambat, Bella. Katamu kau akan menungguku dengan siap," kata Enrico.
Ish, aku akan mendapatkan semua ini di ranjangku. Selain tampan, wangi, jago di ranjang, dan punya sentuhan yang aduhai... Tuhan, aku tak mau masuk neraka, tapi ya Tuhan, ini dosa yang nikmat sekali... batinku.
"Aku sudah siap, kok," ujarku. "Tadi aku sudah tanya apakah kau mau aku menunggumu dengan lingerie putih, hitam, merah, atau merah muda? Dan kau bilang kau lebih suka tanpa apa pun!"
Aku membiarkan handukku jatuh, dan kulihat sesuatu mengeras di balik celananya.
"Lihat, Enrico, aku ini gadis yang baik," godaku.
Enrico menarikku dan merapatkanku ke tubuhnya. "Sama sekali tidak. Kau tak juga belajar memanggilku dengan benar. Ah, Bella-ku, kau bahkan tak bisa membayangkan apa yang akan kulakukan padamu."
"Kau mau bercinta denganku, Enrico?" tanyaku.
"Sudah kubilang, Bella-ku, aku tak bercinta. Aku menyetubuhi—dengan keras, kasar, dan nikmat!"
Antonella
Ia mencengkeram tengkukku dan melahap mulutku dengan ciuman yang membuat seluruh tubuhku bergetar. Ia menuntunku ke ranjang...
Enrico
Setelah puas menikmati sepasang payudara lezat yang sengaja kulahap, kujilat, dan kuisap, kami berdua saling menikmati satu sama lain dengan banyak jilatan, isapan, remasan, ciuman basah, dan desahan keras.
Kusetubuhi ia sepenuh nafsu, kuat dan intens seperti yang kusuka, dan setiap hentakanku disambut desahannya, dan itu membuatku gila. Ia meleleh di atasku, dan aku suka merasakannya begitu pasrah dan begitu menjadi milikku! Ketika kulihat ia akan kembali meledak dalam kenikmatan, aku menyusulnya.
"Sialan, Bella, kau nikmat sekali!" desisku. "Bangsat, aku keluar banyak sekali."
Antonella
Ia ambruk menimpaku, dan kami tetap begitu selama beberapa detik, lalu ia berguling ke samping. Kami masih terengah-engah, dan aku menyandarkan diri padanya, mengulang seperti malam sebelumnya. Aku berbaring di dadanya. Sekali lagi ia tak memelukku, tapi ia juga tak menyuruhku pergi. Hanya saja, aku yang memeluknya. Cepat atau lambat, akan kululuhkan hatinya itu...
Enrico
Seperti malam sebelumnya, ia mendekat, berbaring di dadaku, dan memelukku. Sekali lagi aku tak sanggup menyuruhnya pergi—dan aku tak ingin ia pergi! Entah kenapa begitu, tapi ia memancarkan kedamaian padaku. Sudah bertahun-tahun aku tak bisa tidur nyenyak. Semalam aku bisa tidur, kukira karena aku terlalu lelah.
Aku menoleh, dan ia sudah terlelap. Entah apa yang merasukiku, tapi aku merasa perlu menyentuhnya, dan akhirnya aku pun tertidur juga.