Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Dini hari...
Di dalam ruang kerja Ardio. Di atas meja, peta kawasan pelabuhan timur terbentang dengan coretan spidol merah yang menandai kompleks pabrik tua milik Black Cobra.
Pintu ruang kerja terdorong pelan.
Adel melangkah masuk. Ia tidak lagi mengenakan piyama, melainkan pakaian serba hitam, jaket kulit tebal dan celana jins, lengkap dengan sepatu kets.
Di belakangnya, Reno hanya bisa menundukkan kepala penuh rasa ragu.
"Papa," panggil Adel.
Ardio menghentikan gerakannya. Ia melangkah cepat mendekati putrinya.
"Adel? Kenapa belum tidur, Sayang? Ini sudah jam tiga pagi. Lebih baik kamu istirahat di kamar, Papa ada urusan luar sebentar," kata Ardio lembut seraya memegang kedua bahu Adel.
Adel menatap lurus ayahnya, mata menyimpan dendam sendirian.
"Urusan luar atau serangan balasan ke pabrik tua pelabuhan timur, Pa?" tembak Adel tanpa ragu.
Ardio tersentak pelan, melirik tajam ke arah Reno sejenak sebelum kembali menatap Adel.
"Adel... ini berbahaya. Pria bernama Victor itu adalah iblis dari masa lalu Papa. Dia sangat licik dan jahat. Papa tidak mau kamu..."
"Papa! Sampai kapan Papa mau memperlakukan Adel seperti putri kaca yang gampang pecah?" potong Adel, memegang jari ayahnya di bahunya.
Ardio tertegun.
"Adel tahu Papa melakukan semua ini demi melindungi Adel. Dulu, Adel selalu minta hidup tenang, pura-pura jadi orang biasa, dan sembunyi di balik punggung Papa. Tapi malam ini... setelah Adel hampir diculik dan melihat sendiri bagaimana Papa bertaruh nyawa... Adel sadar satu hal," lanjut Adel, suaranya bergetar namun matanya memancarkan keberanian yang luar biasa.
Adel menarik napas panjang, menatap Ardio dengan mantap.
"Adel tidak mau lagi bersembunyi di balik dinding rumah megah ini sementara Papa mempertaruhkan nyawa di luar sana! Adel adalah putri dari Ardio, pimpinan paling ditakuti di dunia bawah! Darah Papa mengalir di tubuh Adel!"
Ardio membelalakkan matanya.
"Adel ingin ikut ke pelabuhan timur malam ini, Pa. Adel tidak akan mengganggu atau jadi beban. Adel bisa menjaga diri Adel sendiri seperti yang Papa latih. Tapi Adel harus ada di sana... berdiri di samping Papa saat Papa menyelesaikan dendam atas kematian Mama,"
Tegas Adel penuh keberanian
Ruang kerja itu mendadak hening mencekam.
Ardio menatap wajah putrinya. Matanya yang tajam dan senyuman tipis yang memancarkan keteguhan hati... Semuanya begitu mirip dengan mendiang istrinya, Kirana.
“Ardio... jika suatu hari nanti putri kita tumbuh besar. Jangan pernah mengurungnya dalam sangkar emas. Biarkan dia memilih jalannya sendiri, karena dia adalah putri dari seorang raja,”bayangan suara Kirana belasan tahun lalu mendadak membisik di sanubari Ardio.
Ardio menarik napas dalam-dalam, lalu menyunggingkan senyumannya.
Ia berlutut satu kaki, menggenggam erat kedua tangan Adel.
"Kamu... kamu benar-benar mirip dengan Mamamu, Adel. Mamamu juga tidak pernah takut menghadapi bahaya, dan dia selalu memilih berdiri di samping Papa saat badai terberat datang," bisik Ardio serak penuh keharuan.
"Jadi... Papa izinkan Adel ikut?" tanya Adel dengan mata berbinar penuh harapan.
Ardio berdiri tegap kembali, merapikan kerah jaket kulit Adel dengan penuh kasih sayang dan rasa hormat seorang ayah kepada putrinya yang kini telah dewasa.
"Papa izinkan. Tapi ingat syarat dari Papa, kamu harus tetap berada dalam pengawalan ketat Reno dan tidak boleh melangkah keluar dari mobil komando berlapis baja sebelum area benar-benar steril," ujar Ardio mantap, suaranya bernada bangga yang amat dalam.
"Adel janji, Papa!" sahut Adel gembira, memeluk tubuh tegap Ardio erat-erat.
Ardio membalas pelukan putrinya, membenamkan wajahnya di rambut panjang Adel.
Malam itu, ketakutan terbesar sang King Mafia hilang sepenuhnya, ia menyadari bahwa putrinya bukan lagi kelemahannya, melainkan kekuatan terbesar yang siap berdiri bersamanya menaklukkan dunia kegelapan.
Ardio melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke arah Reno.
"Reno," panggil Ardio dingin.
"Siap, Bos Ardio!"
"Berangkatkan seluruh armada. Malam ini... kita akhiri semuanya!"