Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Suasana ruangan manajer itu terasa dingin dan kaku.
Bima Aditama berdiri dengan tenang di depan meja kerja berbahan kayu jati tersebut.
Brak.
Sebuah map berisi laporan penjualan dilemparkan dengan kasar ke atas meja.
"Kamu tahu kenapa saya memanggilmu ke sini, Bima?" tanya Pak Hendra dengan nada merendahkan.
Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang mewah.
Bima menatap map tersebut tanpa sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya.
"Kalau melihat dari cara Bapak melempar laporan yang saya kerjakan semalaman, sepertinya ini bukan tentang kenaikan gaji," jawab Bima santai.
Pak Hendra mendengus kasar mendengar jawaban Bima.
"Kamu masih bisa bercanda di saat seperti ini."
Pak Hendra melipat kedua tangannya di atas perut buncitnya.
"Perusahaan sedang melakukan efisiensi besar-besaran bulan ini."
"Dan kebetulan namamu ada di urutan paling atas daftar karyawan yang harus diberhentikan."
Bima tidak langsung menjawab, matanya hanya menatap lurus ke arah atasannya itu.
"Efisiensi?" tanya Bima mengulang kata-kata itu dengan nada geli.
"Angka penjualan saya bulan ini paling tinggi di divisi sales. Saya bahkan berhasil mengamankan kontrak dengan klien besar minggu lalu, lalu Bapak bilang ini soal efisiensi?"
Bima tahu persis apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan sepihak ini.
"Jangan terlalu percaya diri, Bima."
Pak Hendra mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tatapan tajam.
"Perusahaan ini tidak bergantung pada satu orang saja."
"Lagipula, saya sudah menemukan pengganti yang jauh lebih kompeten untuk mengisi posisimu."
"Maksud Bapak, keponakan Bapak yang baru lulus kuliah itu?" potong Bima cepat.
Pak Hendra langsung terdiam, wajahnya sedikit memerah karena rahasianya terbongkar.
"Jaga ucapanmu, Bima. Keputusan ini sudah final dari manajemen perusahaan."
"Kamu silakan kemasi barang-barangmu sekarang juga."
Bima menghela napas pendek.
Dia sama sekali tidak terlihat panik atau memohon seperti karyawan lain yang baru saja dipecat.
"Baiklah kalau itu keputusannya."
Bima memutar tubuhnya untuk berjalan keluar dari ruangan.
"Tapi Bapak harus ingat satu hal."
Langkah Bima terhenti di ambang pintu, lalu dia menoleh sedikit menatap mantan atasannya.
"Kalian yang membutuhkan saya, bukan sebaliknya."
Blam.
Bima menutup pintu ruangan itu tanpa menunggu balasan dari Pak Hendra.
"Dasar anak sombong, kita lihat saja bagaimana kau bisa bertahan hidup di kota ini tanpa pekerjaan," rutuk Pak Hendra dari dalam ruangan.
Bima kembali ke mejanya dan mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam sebuah kotak kardus kecil.
Beberapa rekan kerjanya hanya menatap dengan simpati dari kejauhan tanpa berani mendekat.
Mereka takut ikut terseret masalah jika terlihat membela Bima di depan manajer.
Bima sama sekali tidak mempedulikan tatapan mereka dan tetap fokus membereskan barangnya.
Dia melangkah keluar dari gedung perusahaan dengan membawa kardus di tangannya.
Udara siang di pusat kota terasa sangat terik dan menyengat kulit.
Bima berdiri di pinggir trotoar, menunggu ojek yang akan membawanya pulang ke kosan.
Drrrtt.
Ponsel murahan di saku celananya bergetar panjang.
Bima merogoh sakunya dan melihat nama Bella tertera di layar panggilannya.
"Halo, Bel?" sapa Bima dengan nada lembut.
"Bima, kita perlu bicara."
Suara Bella terdengar sangat dingin di seberang telepon.
"Ada apa? Kamu terdengar serius sekali," tanya Bima.
Dia meletakkan kardus barangnya di atas trotoar agar tangannya tidak pegal.
"Aku mau kita putus."
Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa ragu dari mulut Bella.
Bima terdiam sejenak, suara bising kendaraan di jalanan seolah menghilang sesaat.
"Putus?" ulang Bima memastikan pendengarannya tidak salah.
"Kamu tidak sedang bercanda kan, Bel?"
Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon.
"Aku tidak bercanda, Bima. Aku sudah lelah dengan hubungan kita yang gini-gini aja."
"Gini-gini aja gimana maksudmu?"
"Kita sudah pacaran dua tahun, Bima."
"Tapi lihat keadaanmu sekarang, kamu bahkan masih menyewa kosan sempit dan memakai motor butut."
Bella berbicara dengan nada yang semakin meninggi di seberang sana.
"Aku seorang perempuan, Bima, aku butuh kepastian masa depan."
"Teman-temanku sudah sering liburan dan dibelikan barang-barang mewah oleh pacar mereka."
"Sedangkan kamu?"
"Kamu bahkan harus berpikir dua kali kalau aku mengajak makan di restoran yang agak bagusan dikit."
Bima tersenyum tipis mendengar rentetan keluhan tersebut.
"Jadi ini semua soal uang?" tanya Bima langsung pada intinya.
"Ini soal realita, Bima."
"Aku tidak bisa terus-terusan makan janji manis dan hidup pas-pasan bersamamu."
"Apalagi aku dengar kamu baru saja dipecat pagi ini."
Bima sedikit mengangkat alisnya karena terkejut.
"Kabar dipecat itu cepat sekali menyebarnya ya," ucap Bima di dalam hatinya.
"Jadi kamu sudah tahu kalau aku dipecat dari perusahaan?"
"Iya, dan itu membuat keputusanku semakin bulat untuk meninggalkanmu."
"Maaf, Bima, tapi kamu tidak bisa memberikan kehidupan yang aku inginkan."
"Semoga kamu bisa menemukan wanita yang mau hidup susah denganmu selamanya."
Tut.
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Bella.
Bima menatap layar ponselnya yang kembali menggelap tanpa ekspresi berlebihan.
Dipecat dan diputuskan pacar di hari yang sama sungguh sebuah kombo yang mematikan.
"Hari yang benar-benar luar biasa," gumam Bima dengan nada santai.
Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Tidak ada air mata atau raut keputusasaan di wajah pemuda itu sama sekali.
Dia tahu bahwa meratapi nasib di pinggir jalan tidak akan menyelesaikan masalah hidupnya.
Bima baru saja hendak membungkuk untuk mengambil kardusnya kembali dari trotoar.
Ding.
Sebuah suara mekanis aneh tiba-tiba bergema di dalam kepalanya.
Langkah Bima terhenti, dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara.