Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Terbangun di Dalam Novel
— BUKAN TERJEMAHAN
Malam telah larut. Cahaya lampu dari kamar apartemen yang sederhana masih menyala, menerangi seorang gadis yang duduk bersandar di kepala ranjang sambil memegang sebuah novel.
Namanya Meng Lin. Usianya dua puluh lima tahun dan beberapa bulan lalu ia baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains.
Sejak kecil, Meng Lin memang menyukai membaca. Namun, malam ini ia sedang membaca sebuah novel yang tidak biasa.
Novel itu berlatar di zaman tahun 1974.
"Kenapa sih tokoh ini selalu mengalah?" Meng Lin mengerutkan kening sambil membalik halaman.
Di dalam cerita, ada seorang gadis bernama Meng Lin yang berusia sembilan belas tahun. Kedua orang tuanya telah meninggal dan dia tinggal bersama paman, bibi, serta sepupunya, Meng Wan.
Yang membuat Meng Lin kesal bukan hanya nasib gadis itu. Melainkan bagaimana orang-orang di sekitarnya memperlakukannya.
"Nilainya paling bagus, tapi pekerjaan malah diberikan kepada sepupunya."
Ia membaca bagian berikutnya. Meng Wan mendapatkan sebuah kuota pekerjaan melalui bantuan ayahnya. Sementara Meng Lin tidak mendapatkan apa-apa dan akhirnya harus dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Meng Lin mendengus. "Kalau aku jadi kamu, aku sudah pergi dari rumah itu sejak lama."
Tangannya kembali membalik halaman. Namun, semakin jauh ia membaca, semakin kesal perasaannya.
Kekasih Meng Lin, Tang Qi, ternyata mulai dekat dengan Meng Wan.
"Ini juga..." Meng Lin menatap halaman novel dengan tidak percaya. "Katanya mencintai Meng Lin, tapi masih menerima pemberian dari Meng Wan?"
Ia menggeleng. "Benar-benar keterlaluan."
Dalam cerita, Meng Lin akhirnya pergi ke desa. Setelah itu, namanya hampir tidak pernah disebut lagi.
Cerita justru berfokus pada Meng Wan dan Tang Qi. Keduanya semakin dekat hingga akhirnya menikah.
Meng Lin menutup novelnya sebentar. "Jadi hidupnya berakhir begitu saja?" Tidak ada penjelasan mengenai apa yang terjadi padanya di desa.
Tidak ada kabar tentang apakah dia berhasil bertahan hidup. Bahkan tidak ada yang datang mencarinya.
Meng Lin merasa sedikit kasihan. "Setidaknya berikan dia akhir yang lebih baik." Ia membuka kembali novel tersebut. Namun matanya mulai terasa berat. Hari ini terlalu melelahkan.
Setelah menyelesaikan tesis dan urusan wisuda, tubuhnya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk beristirahat.
Meng Lin bersandar lebih nyaman. "Besok saja aku lanjutkan." Novel itu masih terbuka di atas dadanya. Tanpa disadari, matanya perlahan terpejam.
...----------------...
"Meng Lin...! Cepat bangun!" Suara seorang wanita terdengar dari kejauhan.
Meng Lin mengerutkan kening. "Mm..." Ia membalikkan tubuh dan menarik selimut. "Masih pagi..."
"Bangun!" Suara itu terdengar lebih keras. "Meng Lin!"
Kali ini Meng Lin langsung membuka mata. Namun, yang pertama kali dilihatnya bukan langit-langit apartemennya.
Melainkan sebuah langit-langit kayu, Meng Lin terdiam. Matanya berkedip beberapa kali.
"Apa...?"
Ia duduk. Kasur di bawah tubuhnya terasa keras, tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada lampu listrik terang. Tidak ada meja kerja.
Tidak ada ponsel di samping bantal, Meng Lin menoleh ke sekeliling. Ruangan itu sangat sederhana.
Sebuah meja kayu tua berdiri di sudut ruangan. Di atasnya terdapat baskom kecil, beberapa pakaian yang dilipat, dan sebuah cermin yang permukaannya sudah sedikit buram.
"Ini di mana?" gumamnya. Meng Lin buru-buru turun dari tempat tidur.
Saat melihat pantulan dirinya di cermin, langkahnya langsung terhenti. Seorang gadis muda sedang menatapnya.
Wajahnya cantik. Rambut hitam panjangnya sedikit berantakan. Wajah itu jelas bukan wajah Meng Lin yang berusia dua puluh lima tahun.
Wajah itu jauh lebih muda. Meng Lin mendekati cermin dengan napas tertahan. "Siapa kamu...?" Tangannya menyentuh pipi.
Pantulan di cermin melakukan hal yang sama.
Jantungnya berdebar semakin cepat. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit.
Berbagai ingatan asing mengalir masuk.
Nama.
Keluarga.
Rumah.
Sekolah.
Seorang gadis bernama Meng Wan. Seorang pemuda bernama Tang Qi. Dan seorang kakak laki-laki yang menjadi tentara.
Meng Lin memegang kepalanya. "Aah!" Ia terhuyung dan hampir jatuh.
Beberapa saat kemudian, rasa sakit itu perlahan mereda. Meng Lin terengah-engah. Ingatan tadi, ia mengenalnya. Terlalu mengenalnya.
"Jangan-jangan..." Ia menatap cermin lagi.
Wajah gadis itu.
Nama yang sama.
Keluarga yang sama.
Bahkan kisah hidup yang sama.
"Ini... Meng Lin?" Wajahnya perlahan memucat.
Dia berbalik dan melihat pakaian yang tergantung di dinding. Model pakaian itu sudah sangat tua.
Tidak ada satu pun benda modern di dalam kamar. Kemudian terdengar suara dari luar.
"Meng Lin! Kalau kamu sudah bangun, cepat keluar! Bantu bibimu menyiapkan sarapan!" panggilnya dengan suara keras.
Suara itu. Meng Lin mengenal suara tersebut dari ingatan yang baru saja masuk ke kepalanya.
Dia berjalan perlahan menuju pintu. Tangannya masih gemetar ketika menyentuh gagang pintu.
Lingkungan asing langsung menyambutnya. semua barang-barang sangat kuno, jika semua ini ada masa depan, sudah pasti jadi barang antik.
Seorang wanita sedang berdiri sambil membawa baskom. Wanita itu menatapnya dengan sedikit kesal. "Kamu kenapa masih berdiri di sana?"
Meng Lin tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju pada pakaian wanita itu, perabotan rumah, dan lingkungan sekitar.
Semuanya sama seperti gambaran dalam novel. Sebuah kemungkinan perlahan muncul di kepalanya.
Dia tidak sedang bermimpi. Dia benar-benar masuk ke dalam novel. Dan jika ingatannya benar, sekarang adalah tahun 1974.
"Meng Lin!" Suara bibinya membuatnya tersadar. "Kenapa melamun?" tanya dengan kesal.
Meng Lin menarik napas panjang. "Aku... baru bangun." balas Meng Lin yang mulai emosi. Dia masih kebingungan, tapi malah kena omelan.
Bibi Lin terkejut dengan respon Meng Lin. Biasanya selalu menurut, tanpa ada riak emosi di wajahnya.
"Kalau begitu cepat cuci muka. Setelah itu bantu di dapur." Wanita itu pergi begitu saja.
Meng Lin berdiri di ambang pintu. Kemudian ia tanpa sadar menundukkan kepala. Sesuatu berkilau di lehernya, sebuah kalung sederhana.
Jarinya menyentuh liontin kecil yang menggantung di sana. Ingatan pemilik tubuh ini kembali muncul.
Kalung itu adalah peninggalan ibunya. Meng Lin menggenggamnya. Entah mengapa, dadanya terasa sesak.
Jadi...
Dia benar-benar menjadi gadis yang selama ini hanya ia kenal melalui halaman novel. Gadis yang kehilangan kedua orang tuanya.
Gadis yang tinggal di rumah pamannya. Gadis yang memiliki nilai terbaik tetapi kehilangan kesempatan kerja.
Gadis yang akan dikirim ke desa. Dan yang paling penting, Gadis yang dalam cerita asli hanya dijadikan batu loncatan oleh Meng Wan.
Meng Lin terdiam cukup lama. Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat. "Kalau begitu..." Tatapannya berubah. "Sepertinya aku datang di waktu yang tepat."
Dia sudah membaca cerita ini. Dia tahu bahwa pada tahun 1977, ujian masuk universitas akan kembali dibuka.
Artinya, masih ada tiga tahun. Tiga tahun untuk mengubah semuanya. Meng Lin menggenggam liontin di lehernya lebih erat.
"Kali ini, aku tidak akan menjalani hidup seperti yang tertulis di novel."
Ia berbalik dan masuk ke dalam rumah. Namun, tanpa diketahui siapa pun, permukaan liontin di lehernya tiba-tiba memancarkan cahaya yang sangat samar.
Hanya sesaat.
Lalu menghilang.
Dan Meng Lin belum menyadari bahwa benda peninggalan orang tuanya itu menyimpan rahasia yang bahkan tidak pernah muncul dalam novel.
.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍
gift ☕ biar semangat 🥰🥰