Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
"Keterlaluan, kenapa aku bisa hidup bertahun - tahun dengan pria seperti dia?" Bu Meri mengepalkan tangan nya dengan geram.
"Ibu, tenang bu. Ibu jangan terlalu stres, tidak baik untuk kesehatan ibu!" Sarah menenangkan bu Meri.
"Sarah, hati ibu rasa nya sakit. Selama ini ternyata ibu telah memelihara ular di dalam rumah ibu sendiri!" Bu Meri tidak bisa menahan air mata nya.
Bu Meri menangis terisak, dia luruh jatuh ke lantai. Sarah merasa kasihan melihat wanita itu, wanita yang sudah dia anggap seperti ibu kandung nya sendiri.
"Bu, ayo kita pulang!" Ajak Sarah.
Bu Meri mengangguk kan kepala nya, dia langsung menuruti ucapan Sarah. Sarah mengemudikan mobil nya, di sepanjang perjalanan bu Sarah terlihat diam dan murung.
Saat tiba di halaman rumah, mereka terkejut melihat mobil nya Gibran sudah terparkir di halaman rumah. Padahal seharusnya dia sudah berada di desa nya Santi.
"Bu, mas Gibran kembali. Lihat lah, mobil nya ada di sini!" Ujar Sarah sambil menunjuk mobil milik Gibran.
"Mau apa lagi dia datang kemari?" Bu Meri bertanya dengan geram.
Sarah dan bu Meri langsung masuk ke dalam rumah, saat tiba di runag tamu mereka melihat Gibran dan Santi sudah berada di rumah. Seorang anak laki - laki berusia 7 tahun berada di antara mereka.
"Bu, ibu dari mana saja?" Gibran langsung berdiri dan menyambut kedatangan bu Meri.
"Ibu dari rumah sakit!" Jawab Bu Meri dengan nada datar.
"Rumah sakit? Ibu sakit apa?" Tanya Santi yang berusaha menunjuk kan perhatian nya.
"Bu, ibu sakit apa? Katakan pada ku?" Kini giliran Gibran yang bertanya.
"Apa selama ini kamu pernah perduli pada ibu saat ibu sakit? Hanya Sarah lah satu - satu nya orang yang merawat ibu saat ibu sakit!" Bu Meri berkata dengan nada sinis.
"Bu, jangan bicara begitu. Mulai saat ini, Santi lah yang akan menggantikan tugas itu. Karena istri ku saat ini Santi, bukan lagi wanita mandul itu!" Gibran berkata pada ibu nya.
"Gibran, bukan nya kau dan Santi akan melaukan pernikahan ulang. Lalu kenapa kau pulang ke sini?" Tanya bu Meri.
"Bu, aku sengaja pulang hari ini untuk memastikan bahwa ibu akan datang ke acara pernikahan ku dan Santi!" Ujar Gibran.
"Ibu pasti akan datang, ibu tidak akan pernah melewatkan pernikahan mu!" Jawab Bu Meri.
"Syukur lah, aku lega mendengar nya. Oh ya bu, perkenalkan ini cucu ibu, Kevin!" Santi memperkenalkan anak nya pada Bu Meri.
Bu Meri memperhatikan bocah laki - laki itu dari atas hingga ujung kaki, dia hanya bisa menggelengkan kepala. Anak ini tidak ada mirip - mirip nya sama sekali dengan Gibran, dan bu Meri sadar kalau bocah ini bukan lah darah daging bua Gibran.
"Sayang, ayo kenal kan ini nenek!" Gibran berkata pada Kevin.
"Nenek, kenapa nenek berbeda dengan nenek selama ini. Nenek yanh selalu datang menjenguk Kevin dan membawakan Kevin banyak hadiah?" Kevin bertanya pada Gibran.
Bu Meri saling melirik, Sarah tahu nenek yang di maksud oleh Kevin adalah bu Siti, selingkuhan nya pak Burhan.
"Maaf bu, selama ini di kampung Kevin memiliki nenek angkat. Jadi maksud nya nenek angkat nya!" Dengan cepat Gibran berkata, takut ketahuan oleh bu Meri jika bapak nya juga selingkuh.
"Bukan nenek yang di kampung Pa, tapi nenek yang selalu datang bersama kakek ke rumah kita. Nenek yang tubuh nya gemuk!" Ucap Kevin lagi.
"Kevin, sudah lah nak. Ayo salam sama nenek!" Ajak Gibran sambil membawa Kevin mendekati bu Meri.
Bu Meri hanya tersenyum, sebisa mungkin dia bersikap senetral mungkin agara Gibran tidak curiga bahwa dia sudah mengetahui semua nya. Karena waktu untuk memberi pelajaran pada suami dan putra nya itu belum tiba.
"Siapa nama mu nak?" Tanya bu Meri sambil mengelus puncak kepala Kevin.
"Kevin nek!" Jawab Bocah itu sambil mencium tangan bu Meri.
Tidak ingin membuat Gibran dan Sarah curiga, bu Meri bersikap sebaik mungkin di hadapan mereka semua.
"Nenek, selama ini nenek yang datang bersama kakek selalu membawa hadiah dan banyak mainan untuk ku. Apa nenek tidak mau memberikan hadiah pada ku?" Tanya Kevin pada bu Meri.
"Baik lah nenek akan memberikan mu hadiah, tapi karena nenek tidak tahu apa mainan kesukaan mu. Jadi nenek kasih uang saja ya, ayo ikut nenek ke kamar!" Ajak bu Meri sambil tersenyum.
Bu Meri menggandeng tangan Kevin menuju ke kamar nya, Sarah mengikuti dari belakang. Sementara Gibran dan Sarah senang sekali melihat nya, karena kini bu Meri sudah menerima kehadiran Kevin sebagai cucu nya.
Bu Meri langsung membawa Kevin ke dalam kamar nya, dia langsung menutup pintu kamar dan mengunci nya saat Sarah juga sudah masuk. Bu Meri berjalan ke arah lemari, dia diam - diam mengambil gunting dan memberikan nya pada Sarah.
"Kevin, ini hadiah dari nenek untuk mu. Kamu bisa beli apa saja yang kamu suka!" Bu Meri membawa Kevin untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Wah, uang nya banyak sekali. Kevin belum pernah di berikan uang sebanyak ini!" Kevin menerima uang itu dengan mata berbinar.
Bu Meri meraih tubuh Kevin dan membawa nya ke dalam pelukan nya, dia memberi kode pada Sarah untuk memotong rambut Kevin. Sarah dengan cepat melakukan nya, dan menyimpan rambut kevin di dalam plastik kecil.
Bu Meri berniat melakukan tws DNA antara Gibran dan Kevin, beberapa hari yang lalu dia sudah mengambil rambut Gibran.
"Sayang, nenek dan tante Sarah mau keluar sebentar. Kamu mau mainan apa, nanti nenek belikan!" Bu Meri berkata pada Kevin.
"Aku mau mainan robot yang bisa menembak, nek!" Jawab Kevin dengan wajah berbinar.
"Baik lah nak, nenek akan membelikan nya untuk mu!" Jawab Bu Meri.
Bu Meri langsung membawa Kevin ke kuar, dia menyerahkan kembali Kevin pada Gibran dan Santi.
"Gibran, Kevin minta di belikan mainan robot yang bisa menembak. Ibu fikir ini adalah pertemuan pertama ibu dan cucu ibu, ibu akan keluar untuk membelikan nya!" Bu Meri berkata pada Gibran agar dia tidak curiga.
"Terima kasih bu, ibu mau menerima Kevin!" Gibran senang sekali mendengar nya.
"Kevin adalah cucu ibu satu - satu nya, ibu akan memberikan apa saja yang dia mau!" Ucap Bu Meri lagi.
Bu Meri dan Sarah langsung pergi keluar, mereka pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA pada Gibran dan Kevin. Bu Meri harus mendapatkan bukti bahwa Kevin memang bukan lah darah daging nya Gibran, dia akan memberikam bukti itu sebagai kado di hari pernikahan Gibran dan Santi nanti.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah