NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15— Nama yang Terungkap

Bab 15— Nama yang Terungkap

Rania menatap Aryasatya lama, jantungnya berdegup kencang menunggu jawaban yang sejak tadi digantung.

"Jangan main-main sama aku sekarang, Raden," katanya pelan, suaranya sedikit bergetar. "Katakan aja."

Aryasatya menghela napas, matanya tidak lepas dari wajah Rania, seolah ingin memastikan reaksi apa pun yang muncul nanti bisa segera ia tangkap.

"Timku berhasil menangkap salah satu awak kapal yang membawa Nyonya Ratih kabur," katanya akhirnya. "Kapal itu sempat berhenti di pelabuhan kecil Arkapura sebelum melanjutkan perjalanan entah ke mana. Awak kapal itu kami interogasi semalam."

"Dan?"

"Dia mengaku menerima perintah dan bayaran dari seseorang yang mengatasnamakan kepentingan kerajaan Wanunggalih. Seseorang yang memberinya jubah resmi istana sebagai jaminan keamanan selama perjalanan."

Rania menahan napas. "Siapa namanya?"

Aryasatya merogoh balik jubahnya, mengeluarkan secarik kertas kecil catatan interogasi yang ditulis tangan.

"Awak kapal itu tidak tahu nama aslinya," kata Aryasatya. "Tapi dia memberi deskripsi fisik. Dan menyebut she gelar yang digunakan orang itu untuk memperkenalkan diri."

"Gelar apa?"

Aryasatya menyerahkan kertas itu. Rania membacanya dengan tangan gemetar.

*"Dia memanggil dirinya sendiri 'Paman dari pihak Permaisuri'."*

Rania mengangkat wajah, kebingungan. "Paman dari pihak Permaisuri? Itu... bisa siapa aja."

"Bisa," Aryasatya mengangguk, "tapi tidak banyak orang yang punya hubungan itu dan juga akses ke jubah resmi istana malam itu."

Rania mencoba berpikir cepat, menyusun daftar kerabat Permaisuri yang ia ketahui. Nyonya Ratih sendiri adalah sepupu Permaisuri. Siapa lagi?

"Mukti," gumamnya pelan, merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tulang belakangnya. "Mukti juga kerabat dari pihak Permaisuri."

Aryasatya tidak langsung menjawab, membiarkan Rania sampai pada kesimpulannya sendiri.

"Tapi itu nggak mungkin," Rania menggeleng cepat, mencoba menepis pikiran itu. "Dia semalaman sama aku. Dia nggak mungkin ada di dua tempat sekaligus."

"Benar," Aryasatya mengangguk setuju. "Karena itu aku belum langsung menuduhnya. Tapi ada kemungkinan lain yang lebih masuk akal."

"Apa?"

"Dia tidak harus pergi sendiri ke pelabuhan. Dia cuma perlu mengirim jubah dan instruksi lewat orang kepercayaanyaa orang yang bisa mengaku-ngaku sebagai 'paman dari pihak Permaisuri' tanpa perlu benar-benar menjadi dirinya sendiri."

Rania merasakan kepalanya berputar. "Prajurit Wirya."

"Kemungkinan besar," Aryasatya mengangguk. "Dan itu cocok dengan surat yang kau temukan di rumahnya tulisan tangan Mukti, perintah untuk 'mengawasi' Nyonya Ratih. Tapi siapa yang bisa memastikan isi sebenarnya dari perintah itu, selain Mukti dan Wirya sendiri?"

Rania duduk perlahan di bangku taman terdekat, kakinya terasa lemas. Semua logika yang selama ini ia bangun untuk mempertahankan kepercayaannya pada Mukti kini runtuh satu per satu.

"Tapi kenapa?" bisiknya, lebih pada dirinya sendiri. "Kalau benar Mukti dalangnya, kenapa dia capek-capek nyelametin aku juga? Kenapa dia ikut ke Cilangkap, ke Arkapura, bantuin aku nyari bukti?"

Aryasatya duduk di sampingnya, jarak di antara mereka lebih dekat dari biasanya.

"Mungkin," katanya pelan, "karena dia tahu persis arah penyelidikanmu, dan ingin memastikan kau tidak menemukan apa pun yang benar-benar mengarah padanya. Membantumu mencari petunjuk yang mengarah pada Nyonya Ratih sekaligus menjauhkanmu dari kecurigaan pada dirinya sendiri."

Rania menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Itu... jahat banget kalau bener."

"Aku tahu ini berat," Aryasatya berkata pelan, suaranya lebih lembut dari yang pernah Rania dengar. "Tapi aku tidak ingin kau terus percaya pada seseorang yang mungkin membahayakanmu, hanya karena dia pandai bersandiwara."

Rania menurunkan tangannya, menatap Aryasatya lurus. "Kenapa kau mau repot-repot cari tahu semua ini buat aku?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja, lebih jujur dari yang ia rencanakan.

Aryasatya terdiam sejenak, matanya menatap kolam ikan di depan mereka, seolah mencari jawaban di permukaan air yang beriak tenang.

"Awalnya," katanya akhirnya, "aku cuma ingin tahu kebenaran soal sepupuku. Soal kapal itu. Kau cuma kebetulan ada di tengah-tengah penyelidikanku."

"Dan sekarang?"

Aryasatya menoleh menatapnya, dan untuk pertama kalinya Rania melihat sesuatu yang benar-benar tidak terjaga di balik tatapan dinginnya yang biasa.

"Sekarang," katanya pelan, "aku tidak ingin kau jadi korban berikutnya dari permainan yang bahkan belum sepenuhnya kau pahami."

Rania menatapnya lama, jantungnya berdegup dengan cara yang berbeda dari rasa takut atau curiga yang biasa menyertai setiap percakapannya tentang kasus ini.

"Raden," katanya pelan, "makasih."

Aryasatya mengangguk singkat, kembali memasang wajah tenangnya yang biasa, meski Rania bisa melihat sedikit semburat merah samar di telinganya.

"Jangan konfrontasi Mukti dulu," kata Aryasatya, kembali serius. "Kalau dia memang dalangnya, dan dia tahu kau curiga, dia bisa bertindak lebih cepat dan lebih berbahaya. Kita butuh bukti yang tidak terbantahkan dulu."

"Bukti kayak apa?"

"Prajurit Wirya," jawab Aryasatya. "Kalau kita bisa menemukannya sebelum dia benar-benar menghilang, dia satu-satunya orang yang bisa mengonfirmasi langsung siapa yang memberinya perintah dan jubah itu."

Rania mengangguk, mencoba menata kembali pikirannya yang kacau. "Timmu udah ada petunjuk soal keberadaan dia?"

"Belum. Tapi aku akan terus mencari." Aryasatya berdiri, menyodorkan tangannya untuk membantu Rania bangkit. "Sementara itu, bersikaplah normal di depan Mukti. Jangan biarkan dia tahu kau mulai curiga."

Rania menerima uluran tangan itu, berdiri dengan kaki yang masih sedikit gemetar.

"Itu bakal susah banget," gumamnya. "Gimana caranya aku pura-pura biasa aja di depan orang yang mungkin udah coba bunuh aku?"

"Kau sudah berpura-pura jadi orang lain sejak pertama kali aku bertemu denganmu di pasar," jawab Aryasatya, nada suaranya hampir seperti bercanda, meski matanya tetap serius. "Aku rasa kau cukup berbakat untuk itu."

Rania menatapnya kaget, lalu tanpa sadar tertawa kecil tawa pertama yang terasa lega sejak berhari-hari penuh ketegangan.

"Itu pujian atau sindiran?"

"Terserah kau mau artikan yang mana."

Untuk sesaat, di tengah taman kecil yang sepi itu, semua beban tentang racun, pengkhianatan, dan kebohongan terasa sedikit lebih ringan digantikan oleh momen kecil yang terasa aneh, namun entah kenapa menenangkan.

Namun jauh di sudut lain istana, dari balik jendela kamarnya, seseorang mengamati pertemuan itu dengan tatapan yang tidak lagi terlihat hangat seperti biasanya.

Mukti berdiri diam, menyaksikan Rania dan Aryasatya duduk berdekatan di taman, tertawa kecil bersama seolah tidak ada beban dunia di pundak mereka.

Jari-jarinya mengepal erat di sisi tubuhnya.

"Jadi begini caranya," gumamnya pelan, suaranya dingin dan asing jauh berbeda dari nada lembut yang selalu ia tunjukkan di depan Rania.

Ia berbalik dari jendela, melangkah menuju mejanya, membuka laci tersembunyi yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun.

Di dalamnya, tersimpan rapi sebuah botol kecil lain serupa dengan yang ditemukan di kamar Rania beberapa hari lalu.

"Kalau kepercayaan tidak lagi cukup," gumamnya pelan, mengangkat botol itu ke cahaya lilin, "mungkin sudah waktunya untuk cara yang lebih... meyakinkan."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!