NovelToon NovelToon
Unconditional Love (Ben And Jeslin)

Unconditional Love (Ben And Jeslin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh / Playboy
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: Osi Oktariska

Adrian tiba tiba ketahuan menjalin hubungan dengan Astrid, sahabat Jeslin sendiri. Hal ini membuat hubungan ketiganya rusak. Sehingga membuat Jeslin terpaksa pergi dari Ibukota. Namun, sebelum itu terjadi, Jeslin sempat dekat dengan Ben, Sahabat adiknya sendiri. Tapi hubungan mereka masih menggantung.

Jeslin pergi ke Bali, di mana kakek dan neneknya tinggal. Namun dia tidak menyangka kalau di sana dia akan bertemu lagi dengan Ben. Kisah cinta mereka yang dulu belum berlanjut membuat keduanya makin dekat. Sayangnya, Jeslin baru tahu kalau Ben sudah punya tunangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osi Oktariska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. liburan

PT Santosa tbk. Merupakan sebuah perusahaan yang baru merintis dari awal. Perusahaan itu miliki keluarga Yodi Santosa yang merupakan ayah dari Ian Santosa. Keluarga Ian memang dulu termasuk dalam jajaran keluarga terpandang dan memiliki kekayaan yang melimpah. Tetapi perusahaan itu perlahan mengalami kebangkrutan karena tingkah laku putranya, Ian. Ian memang terkenal bengal, suka bertindak seenaknya, bahkan pernah beberapa kali keluar masuk penjara akibat penyalahgunaan narkoba.

Wajahnya yang cukup tampan membuat dia sangat mudah memiliki kekasih. Bahkan saat sudah punya pacar sekalipun, masih ada perempuan yang mau menjadi pasangan tanpa statusnya. Semua dikarenakan Ian merupakan playboy ulung. Dia sangat mudah menarik perhatian lawan jenisnya.

Yodi kembali merintis usahanya dari nol. Dia memulainya dengan menjadi rekan bisnis keluarga Ben. Karena kasus Jeslin kemarin, Ben menjadi gerah, dan ingin memberi pelajaran pada Ian dengan cara lain. Untungnya video yang mengekspose wajah serta tubuh Jeslin sudah berhasil dihapus dan kini digantikan dengan video lain untuk meredam gosip yang beredar di masyarakat.

Meeting dengan perusahaan Sentosa tbk akan berlangsung pagi ini. Bertempat di kantor Hadi yang akan diwakilkan Ben. Hadi sudah memasrahkan semua urusan dengan perusahaan itu sejak diskusi di rumah beberapa waktu lalu.

Yodi Santosa sudah datang di dampingi sekretarisnya. Mereka sudah diantarkan menuju ruangan meeting. Tak lama, Ben juga masuk. Hal ini membuat Yodi tampak kebingungan karena mengira bahwa yang akan meeting dengannya adalah Hadi, tapi yang datang justru Ben. 

"Selamat pagi, Pak Yodi?" sapa Ben dengan bersemangat, begitu memasuki ruang meeting dan duduk di seberang kursi Yodi.

"Pa-pagi, Pak Ben. Saya pikir, yang akan meeting dengan saya, Pak Hadi sendiri?"

"Oh iya. Papa saya sedang sibuk dengan pekerjaan lain, jadi beliau meminta saya yang menggantikan nya bertemu Pak Yodi di sini sekarang."

"Oh begitu. Baiklah. Kita mulai saja meeting nya sekarang, Pak Ben?" tanya Yodi sambil membuka beberapa berkas yang sudah dia siapkan.

"Sebelum memulai meeting pagi ini, ada yang mau saya bahas dulu dengan anda. Tapi ini di luar urusan pekerjaan."

"Hm? Ada apa ya?" Yodi tampak kebingungan dengan perkataan Ben. Dia tidak tahu menahu perihal apa yang terjadi.

"Begini. Ini tentang putra Bapak, Ian Santosa."

"Ian? Ada apa dengan Ian, Pak Ben? Apa dia melakukan kesalahan?"

"Tepat sekali!" Ben beranjak dari duduk, mendekat ke meja di mana Yodi sedang duduk. "Bagaimana kabar Putra Bapak sekarang? Luka lukanya apakah sudah sembuh sepenuhnya? Ah, tapi saya rasa belum, ya? Karena saya memukulnya dengan sangat keras kemarin."

Yodi terkejut. Dia tidak menyangka kalau apa yang menimpa Putranya adalah perbuatan dari Ben, putra rekan bisnisnya yang sekarang sedang ia dekati untuk kemajuan perusahaannya.

Yodi menelan ludah dan cukup panik, saat Ben terlalu mengintimidasi dengan tatapan matanya yang tajam.

"Ja - jadi ... Pak Ben yang telah ...."

"Iya. Betul sekali. Saya yang telah membuat anak bapak masuk ke rumah sakit dengan luka yang ... Sepertinya cukup parah. Bukan begitu?"

Pria paruh baya itu tidak menjawab apa pun, hanya terus diam dengan pikiran yang berkecamuk.

"Saya punya alasan kenapa melakukan hal itu kepada putra bapak."

Yodi kembali menelan ludah, sambil terus menatap Ben yang sedang menahan amarah.

"Se - sebenarnya ada apa, Pak Ben? Kenapa anak saya dipukuli seperti itu? Apakah dia melakukan kesalahan fatal?" tanya Yodi.

"Tentu saja. Dia telah melakukan tindakan asusila pada seseorang yang saya kenal."

"Apa? Asusila? Maksud, Pak Ben?"

"Ian telah memperkosa seorang gadis. Yang ternyata kejadian itu dia rekam, lalu dia sebarkan ke media sosial! Apakah itu pantas untuk dimaafkan? Anak anda sudah merenggut kehormatan seorang perempuan baik baik! Bahkan saya berniat melaporkannya ke polisi!" jelas Ben tegas.

"Benar, kah? Astaga! Ta - Tapi ... Tolong, saya minta tolong Pak Ben untuk tidak melaporkan anak saya ke polisi. Tolong maafkan anak saya. Sudah berkali kali dia masuk penjara dulu. Sampai sampai harta saya habis untuk memberikan jaminan untuk dia. Tapi kelakuannya tidak pernah berubah. Sekarang ini, saya sedang berusaha memulai lagi bisnis untuk keluarga saya, Pak. Saya mohon, maafkan anak saya."

"Duh, gimana, ya, Pak. Masalahnya, anak Bapak sudah saya kasih peringatan untuk tidak mengganggu Jeslin lagi. Saya sudah biarkan dengan tidak melaporkan dia ke polisi atas tindakan pemerkosaan ini. Tapi ... Yang dia lakukan apa? Dia justru mengunggah video kejadian itu di internet. Apakah itu bukan tindakan yang keterlaluan, Pak? Coba kalau posisinya dibalik. Anak perempuan Pak Yodi yang mendapatkan perlakuan seperti itu? Bagaimana perasaan bapak?" tanya Ben.

Yodi diam, menunduk dan merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukan putranya.

"Jadi ... Pak Ben hendak bagaimana kepada anak saya? Pak Ben mau melaporkan ke polisi atau bagaimana?"

"Baiklah. Saya sudah membuat sebuah surat perjanjian yang akan kita tanda tangani, disaksikan pengacara saya. Silakan bapak baca dulu surat perjanjian kita."

Seorang pria masuk yang ternyata pengacara keluarga Ben yang memang sering mengurus tentang kasus hukum keluarga mereka. Adik kandung Hadi itu sudah menyiapkan semua hal untuk kesepakatan bersama. Mengingat Jeslin sendiri tidak ingin memperpanjang masalah ini. Gadis itu dengan lapang dada menerima apa yang sudah terjadi, dengan syarat Ian tidak boleh lagi muncul di sekitar Jeslin lagi. Hanya itu yang Jeslin inginkan. Seakan akan dunia ini sudah tidak ada makhluk hidup bernama Ian yang sudah merusak kehormatannya. Cukup dengan Ian menghilang dari Jakarta saja, itu keinginan Jeslin sekarang.

"Baiklah, Pak. Saya setuju. Saya akan membawa anak saya pergi sejauh mungkin dari Jakarta, bahkan mungkin saya akan bawa dia keluar negeri."

"Baguslah kalau begitu. Terima kasih atas pengertian Pak Yodi. Kita sepakat, ya." Surat perjanjian ditanda tangani oleh Yodi, diakhiri dengan jabat tangan Ben dan Yodi.

Ian yang masih menginap di rumah sakit. Kondisinya perlahan membaik. Semua fasilitas yang Ian miliki, mulai dari mobil, ponsel, laptop, dibawa pergi oleh Ben yang tentunya diberikan pada Panji untuk menghilangkan semua video mengenai Jeslin.

Setelah sembuh 100% Ian dibawa pergi oleh Yodi untuk dimasukkan ke pondok pesantren terkenal di Jawa Timur. Yodi berharap kondisi mental Ian bisa diperbaiki. Setidaknya jika di pondok pesantren, maka Ian akan lebih diarahkan untuk bisa lebih dekat pada Tuhan. Yodi berharap anaknya bisa berubah. Tidak bengal dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya.

Situasi kembali membaik. Berita viral video yang pernah menyeret nama Jeslin berhasil dipatahkan. Bahkan Panji dengan mudah mencari wajah wanita yang mirip dengan Jeslin dan membuatnya seolah olah pelaku dalam video sebelumnya. Nama baik Jeslin sudah kembali seperti semula. Satu masalah akhirnya selesai juga. Kondisi kesehatan Jeslin juga sudah membaik, bahkan dia sudah kembali bekerja lagi seperti sedia kala.

Hadi makin menyukai Ben, setelah kerja sama dengan PT Santosa terjalin. Ben mampu bertindak sportif dengan tidak mencampur adukan urusan pribadi dengan pekerjaan. Walau pada akhirnya kesepakatan bisnis tersebut didapat setelah perjanjian tertulis yang menyangkut urusan pribadi. Tapi bagi Hadi itu bukan masalah besar. Toh, apa yang dilakukan Ben memang benar. Bahkan Ben makin sering pulang ke rumahnya. 

Ian sudah pergi jauh. Tidak akan muncul lagi di hadapan Jeslin atau bahkan di sekitarnya. Yodi sudah menjanjikan hal itu. Walau dia tidak mendapatkan hukuman dalam jeruji besi, tapi di pesantren yang sedang ia jalani, Ian seperti sedang dalam masa kurungan penjara. Tidak ada komunikasi dengan teman temannya. Walau Lidya masih kerap mengunjunginya di tempat itu.

________

"Pagi," sapa Ben begitu pintu apartemen Jeslin terbuka. Gadis itu segera tersenyum begitu melihat pemuda itu berdiri di depan pintu apartemennya.

"Tumben pagi banget?" tanya Jeslin.

"Iya. Aku belum sarapan. Minta makan dong," cetus Ben sambil mengusap perutnya.

"Loh bukannya kamu lagi sering pulang ke rumah orang tua kamu, ya? Memangnya nggak disiapkan makan?"

"Enggak. Yuk, sarapan dulu," kata Ben lalu masuk ke dalam apartemen dengan santai nya.

"Eh loh!" jerit Jeslin yang terkejut melihat tingkah Ben yang memang seperti itu sejak dulu. Padahal dia tidak menawari apa pun untuk sarapan. Bahkan Jeslin sendiri belum sarapan.

Begitu sampai di meja makan sudah ada roti bakar yang akan disantap oleh Jeslin pagi ini. "Astrid mana?" tanya Ben sambil tengak tengok begitu tidak menemukan sahabat Jeslin itu.

"Udah balik ke apartemennya."

"Astrid punya apartemen? Lah, aku pikir dia gelandangan, makanya numpang di sini terus," sindir Ben sambil mencomot sebuah roti bakar tanpa selai apa pun.

"Ih ngomongnya! Sembarangan. Astrid bukan gelandangan!" omel Jeslin sambil menahan tawa.

"Habisnya dia selalu di sini. Aku pikir dia nggak punya tempat tinggal sendiri."

"Iya, dia baru beli apartemen. Kemarin kan belum yakin mau tinggal di mana, jadi sementara di sini dulu. Toh aku juga sendirian."

"Hm iya sih. Cuma ...." Ben mengunyah makanannya dengan semangat 45.

"Cuma apa?"

"Apa ya? Hm lupa mau bilang apa. Hati hati aja lah intinya."

"Maksud kamu apa?"

"Jangan terlalu percaya sama orang lain, walau itu sahabat mu sendiri. Kadang orang yang bisa menusuk kita lebih dalam justru orang terdekat. Pacar, sahabat, saudara."

"Jadi aku juga harus hati hati sama Daniel juga?"

"Hm, iya bisa jadi. Tapi bukan gitu konsepnya."

"Jadi gimana?" tanya Jeslin menatap Ben yang terus menerus menyantap sarapannya dengan lahap. Jeslin hanya berpangku tangan dan memperhatikan Ben yang masih asyik makan.

"Pokoknya ... Aku ngerasa Astrid ... Gimana, ya. Gitu deh pokoknya. Intinya, kamu hati hati aja sama dia. Karena dia bisa tega sama orang terdekatnya."

"Maksud kamu apa sih ah! Sini rotiku! Malah dihabisin, dasar!" kata Jeslin lalu merebut lagi roti yang masih berada di mulut Ben dan robek hingga setengah bagian.

"Enak, Jes. Ini kamu bikin sendiri. Wah, kok aku suka banget ya, makanan buatan kamu."

"Gembel! Udah ah, aku mau makan. Kamu ngabisin doang! Huh!" kata Jeslin sambil mengerucutkan bibir.

"Nanti aku beliin lagi yang banyak. Besok aku ke sini lagi buat sarapan ginian lagi, ya."

"Ye, nggak mau!"

"Jangan pelit napa, Jes. Kan aku beliin. Kamu yang panggang. Kerja sama yang bagus dong."

"Kenapa nggak kamu beli terus kamu panggang sendiri?!"

"Nggak enak. Pasti gosong."

"Masa sih. Bohong!"

"Beneran."

Mereka berdua pun terlibat perdebatan yang sengit hanya karena tema sarapan. Begitu Ben dan Jeslin yang mulai akrab satu sama lain. Jeslin sadar dan sangat tau kalau Ben masih menaruh hati padanya, sementara dia ... Dia masih dalam kebimbangan dalam menentukan pilihan.

"Yah, macet, kan." Jeslin mulai menggerutu karena mereka keluar dari apartemen saat hari sudah lebih siang dari rencana semula.

Kali ini mereka berencana akan liburan bersama sama ke puncak. Tapi mereka lupa kalau hari libur seperti sekarang pasti kondisi jalanan juga sangat ramai. Jeslin meraih ponselnya dan menghubungi sang adik.

"Dan? Udah sampai mana kamu?"

"Ini baru aja keluar apartemen. Kenapa?"

"Astrid minta dijemput. Kamu sekalian jemput dia, ya. Kan searah."

"Astaga! Si tante ngerepotin aja. Kenapa nggak pergi sendiri sih!"

"Sekalian dong, Dan. Tolong ya."

"Iya, kakakku tersayang. Terus kalian udah sampai mana?"

"Udah mulai jalan. Kita ketemu di sana aja, ya. Kalian udah tau villanya, kan?"

"Udah, Kak. Eh, Panji ... Dia nyusul katanya, mau bawa pacar."

"Wow, bagus dong."

"Bagus apanya?"

"Ye, jomblo sirik."

Tentu saja mereka tidak akan liburan hanya berdua saja. Tapi ramai ramai. Daniel, Astrid, dan Panji tentu saja akan ikut. Mereka juga sudah menyewa sebuah vila yang ada di puncak jauh jauh hari.

"Ben, nanti mampir ke minimarket sebentar, ya," pinta Jeslin.

"Oke, Nona."

Sesuai permintaan Jeslin, Ben berhenti di sebuah minimarket. Rupanya Jeslin berencana berbelanja makanan kecil untuk bekal selama di villa. Dia membeli banyak makanan, mulai dari cokelat, biskuit, aneka kerupuk, roti rotian, buah, dan mie instant serta sosis.

"Fasilitas villa ada panggangan buat barbeque juga nggak?"

"Ada. Bahkan bahan bahannya juga udah ada kok katanya. Eh, minuman juga dong."

Setelah semua sudah terbeli, Ben memasukan belanjaan mereka ke bagian belakang mobilnya. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan.

Jalanan makin macet begitu mendekati daerah puncak. Ada sebuah Billboard yang ada di dekat lampu merah. Kebetulan mobil jga berhenti karena lampu merah itu menyala. Tapi Jeslin terkejut begitu melihat ada namanya terpampang di Billboard besar itu.

"Happy birthday to Jeslin.  Wish You All The Best." Tidak hanya namanya saja yang muncul tapi juga wajahnya. Jeslin terkejut lalu menoleh ke Ben yang sedang diam saja.

"Ben! Itu aku ... Kok ada mukaku di sana? Ulang tahun? Memangnya aku ulang tahun, ya? Ini tanggal berapa sih?"

Tak lama Ben justru cekikikan saat melihat tingkah Jeslin yang lucu dan menggemaskan. Bahkan di hari ulang tahunnya saja dia sampai lupa.

"Iya, itu kamu. Selamat ulang tahun Jeslin!" Ben lantas mengambil setangkai Bunga mawar merah dari dalam jaketnya.

"Loh? Ini? Kamu? Itu?" tanyanya bingung sambil menunjuk Billboard itu dan bunga bergantian.

"Iya, itu aku yang buat. Selamat ulang tahun, ya," kata Ben lembut.

"Wow, terima kasih." Jeslin akhirnya menerim bunga mawar merah itu dan menciumnya sebentar.

"Ada satu lagi," kata Ben lalu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan beludru berwarna merah.

Jeslin menatap Ben dan bergantian ke kotak itu. "Ben? Ini apa?" tanya Jeslin ragu untuk menerimanya.

"Ini hadiah."

"Tapi ..."

"Tapi apa? Kamu nggak mau? Kan belum kamu lihat isinya?" tanya Ben lagi.

"Iya." Jeslin diam dan akhirnya Ben membuka kotak merah itu dan ternyata isinya sebuah cincin perak yang berbalut berlian mewah.

"Ben?"

"Ya? Kenapa?" tanya Ben masih tampak senang dan bersemangat.

"Maaf, aku nggak bisa terima ini."

"Loh memangnya kenapa?"

"Aku nggak bisa Ben. Maaf." Jeslin mendorong pelan kotak perhiasan itu ke dada Ben. Tak hanya itu saja, gadis itu sekarang justru memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak mau melihat Ben lagi. Ben yang awalnya senang, mendadak kesal. Tapi dia mampu menahannya. Sampai suara klakson di belakang membuatnya tersadar dan kembali menjalankan mobilnya pergi.

Sepanjang perjalanan mereka berdua diam. Tidak ada obrolan sama sekali. Dari pihak Jeslin maupun Ben. Suasana menjadi terasa dingin. Sampai sampai mereka tidak sadar kalau sudah sampai puncak. GPS mulai mengisyaratkan tempat tujuan mereka, dan akhirnya mereka pun sampai di villa yang sudah mereka sewa sebelumnya. Rupanya sudah ada Panji dan seorang wanita yang disinyalir adalah pacar Panji.

Jeslin turun untuk menyapa Panji, sementara Ben ditinggalkan begitu saja di mobil. Ben yang kesal, hanya bisa pasrah dan terus bungkam. Dia mengeluarkan belanjaan tadi dan membawanya masuk. Bersamaan dengan itu Daniel datang, bersama Astrid dan seorang pria asing. Ben bahkan tidak peduli pada yang lain dan masuk begitu saja ke dalam.

"Kenapa tu anak? Muka ditekuk gitu?" tanya Astrid begitu turun dari mobil.

"Tau dah. PMS kali. Jeslin mana, ya?"

"Di dalam kali. Masuk yuk ah!" Astrid menggandeng pria asing tersebut. Sementara Daniel di sibuk kan dengan bawaannya yang cukup banyak kali ini.

1
kalea rizuky
lanjut donk
kalea rizuky
Astrid bner bner jalang pcr sahabat di embat
kalea rizuky
Astrid bner bner jalang
Asmaiyyah AjjhLah
semangat kak
Asmaiyyah AjjhLah
ceritanya lompat ini gimana kak, kadi gak nyambung🥲
SnowySecret
lanjut Thor seru dan bagus ceritanya SEMANGAT AUTHOR
ruby sunn
akhirnya up juga sekian lama perjuangan ku menunggu .hehehe lanjut ! cemangat
estycatwoman
good job jes 👍
Wajah Boneka
Malesnya aku jadi senyum-senyum sendiri baca ceritanya thor.. daku tunggu nextnya
SoftMambo
Yo ayo thor! aku selalu mendukungmu dalam doa hehehe
skyeandstaghorn
jangan gantung Thorr Cepetan Up ya Thorr Semangat
Prasetya Wibowo
Next thor💕
estycatwoman
ditggu updteya ka makasih 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!