Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Kerja
Aulia menggenggam erat tali tas ranselnya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang di balik blazer barunya. Papan nama marmer hitam berkilauan di depannya bertuliskan ADITAMA & PARTNERS, terasa seperti gerbang menuju impiannya. Ini adalah hari pertamanya sebagai desainer junior di biro arsitektur paling bergengsi di Jakarta.
Setelah prosedur administrasi yang formal dan cepat, seorang asisten senior bernama Mira membimbingnya melewati lorong-lorong kaca yang dingin dan mewah.
"Ruangan Pak Ryan ada di ujung, menghadap langsung ke kota," bisik Mira sambil mengetuk pintu kayu gelap. "Ingat, Aulia. Singkat, Padat dan profesional. Beliau sangat menghargai waktu."
Aulia mengangguk, menarik napas dalam-dalam.
"Silahkan masuk," sebuah suara dalam dan berwibawa terdengar dari dalam.
Aulia melangkah masuk, dan dunia di sekitarnya seolah berhenti. Ruangan itu di dominasi warna monokrom dan garis-garis tegas, namun sosok yang duduk di balik meja kaca besar itu memancarkan karisma yang berbeda dengan kekakuan di sekitarnya. Ryan Aditama. Pria yang kerap dijuluki "Dewa Arsitektur" itu kini mengangkat pandangan dari setumpuk blueprint.
Matanya, setajam elang, meneliti Aulia dari ujung rambut sampai ujung kaki. bukan dengan ketertarikan, melainkan evaluasi murni. Aulia merasakan intimidasi itu menusuk tulang, tetapi ia membalas tatapan itu dengan senyum profesional dan tegar.
"Selamat pagi, Pak Ryan," sapa Aulia, suaranya sedikit bergetar, namun terkontrol. "Saya, Aulia. Saya baru saja menyelesaikan Orientasi dan siap untuk mulai.
Ryan meletakkan pulpennya dengan suara pelan yang terasa nyaring di ruangan sunyi itu.
"Duduk, Nona Aulia."
Aulia duduk di kursi di hadapan meja, punggungnya tegak.
"Saya sudah membaca ringkasan portofolio Anda. Sangat menjanjikan," ujar Ryan, suaranya datar, tanpa nada pujian yang berarti. "Namun, Anda harus tahu, menjanjikan di atas kertas tidak berarti apa-apa di sini. Di Aditama & Partners, kami menjual kesempurnaan. Kami tidak menerima "cukup bagus."
Aulia menelan ludah. "Saya mengerti, Pak. Saya bersedia bekerja keras untuk memenuhi standar perusahaan."
"Standar. Bagus," Ryan mengangguk kecil. "Mari kita bahas satu hal penting. Perusahaan ini adalah mesin profesional. Kami disini untuk membangun, bukan untuk bersosialisasi. Saya tidak mentolerir gosip, drama, atau terutama romansa di lingkungan kantor."
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya semakin intens. "Anda punya bakat, Nona. Jangan sia-siakan itu untuk hal-hal yang tidak relevan. Fokus Anda harus 100% pada proyek yang saya berikan. Jelas?"
Aulia merasakan pipinya sedikit memanas. Ia tahu Ryan terkenal dingin, tapi pernyataan sedingin es itu tetap terasa menusuk.
"Jelas, Pak Ryan. Prioritas saya adalah pekerjaan dan kontribusi saya pada tim."
"Bagus." Ryan mengambil sebuah map tebal. "Proyek pertama Anda adalah Pembangunan Pusat Bisnis Lavana. Anda akan bekerja di bawah pengawasan langsung tim senior, tapi Saya akan melihat laporan Anda secara pribadi. Mulai hari ini, Anda bertanggung jawab penuh atas setiap garis yang Anda gambar."
"Lavana?" mata Aulia membelalak sedikit. Itu adalah salah satu proyek terbesar tahun ini. "Terima kasih atas kepercayaannya, Pak. Saya akan memastikan setiap garis itu sempurna."
Ryan hanya menatap sesaat lagi, ada sedikit kilatan tak terdefinisi di matanya, mungkin kejutan atas ketegasan Aulia.
"Saya harap begitu, Saya tidak punya waktu untuk mengoreksi kesalahan yang tidak perlu, Nona Aulia. Anda boleh mulai bekerja."
"Baik, Pak. Permisi." Aulia berdiri, membungkuk hormat, dan berbalik meninggalkan ruangan megah itu, membawa beban ekspektasi yang jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan.
Di balik pintu, ia bersandar sebentar, menghela napas lega. Ia baru saja melewati ujian pertama, dan meskipun Ryan Aditama sedingin dan sekaku es, Aulia tahu ini adalah tempat yang akan menguji batas kemampuannya. Dia bertekad untuk membuktikan bahwa dia lebih dari sekedar "menjanjikan"
Setelah Aulia keluar, Mira yang menunggunya diluar, tersenyum kecil. "Selamat. Kamu selamat dari sesi "tatapan elang" Pak Ryan. Itu sudah setengah kemenangan."
"Terima Kasih, Mira," jawab Aulia, berusaha terlihat santai. "Beliau... benar-benar seperti yang orang katakan, ya?"
"Lebih dari itu, tapi jangan khawatir, fokus pada pekerjaanmu. Itu satu-satunya yang beliau hargai." Mira mengarahkan Aulia ke area kerja terbuka yang dipenuhi meja desain. "Ini tim inti kita. Mereka yang akan bekerja bersamamu di proyek Lavana."
Meja kerja Aulia ada sudut yang paling terang. Di depannya, duduk seorang pria muda dengan kacamata bingkai tebal yang tampak sedang bergumul dengan rendering 3D.
"Hai, perkenalkan, Aku Aulia. Desainer Junior baru." sapa Aulia ramah.
Pria itu mendongak, wajahnya yang lelah tersenyum lebar, "Oh, Hallo Aulia! Aku Bima. Selamat datang di neraka profesioanal kami, Aditama style," katanya, menjabat tangan Aulia. "Jangan terkejut kalau mendengar teriakan 'Revisi!' di jam 3 pagi."
"Bima, jangan menakut-nakuti karyawan baru!" tegur seorang wanita di meja sebelah. Ia adalah seorang wanita berambut bob rapi dengan tatapan mata yang cerdas.
"Dia Vina," bisik Mira pada Aulia. "Arsitek senior yang sangat efisien dan sangat ditakuti Bima"
Vina tersenyum pada Aulia, senyum profesional yang lebih hangat daripada Ryan, tapi tetap mengandung aura otoritas. "Selamat datang, Aulia. Aku, Vina, Project Leader Proyek Lavana. Aku senang melihat ada darah segar. Tapi seperti kata Mira, disini hanya ada dua aturan: kerja keras dan jangan pernah membuat Pak Ryan menunggu."
"Siap, Mbak Vina." Aulia merasakan sedikit lebih lega. Setidaknya, rekan-rekan kerjanya tidak sekaku CEO mereka.
"Ngomong-ngomong portofoliomu keren sekali. Aku sudah melihatnya," kata Bima, kembali menekuni monitornya. "Kamu pasti lulusan terbaik, ya?"
"Aku hanya.... beruntung," balas Aulia merendah, meskipun ia tahu ia meraih posisi ini dengan perjuangan berat.
"Beruntung hanya membawamu sampai gerbang depan. Bakat yang akan membuatmu bertahan disini," ujar Vina, sambil menunjuk ke laci meja Aulia. "Itu brief Lavana yang terbaru. Habiskan sisa hari ini untuk membacanya. Besok pagi kita harus membahas tahap desain konseptual."
"Baik, Mbak Vina."
Aulia duduk di kursinya, merasakan energi positif dari Tim barunya mengimbangi aura dingin dari ruangan Ryan. Ia membuka laci, mengambil berkas tebal itu, dan membaca. Pandangan pertama pada Ryan mungkin tegang dan menakutkan, tetapi pandangan pertama pada Proyek Lavana -proyek impiannya- membuat semangatnya kembali menyala. Tidak peduli seberapa dingin CEO-nya, ia ada di sini untuk bekerja.
Aulia menenggelamkan diri dalam berkas Lavana Business Center. Brief tebal itu berisi detail teknis, visi klien, dan yang paling penting harapan Ryan Aditama untuk menjadi "ikon arsitektur Jakarta."
Proyek ini menuntut perpaduan fungsi maksimal, estetika minimalis, dan teknologi hijau yang canggih.
Desainer di Aditama & Partners bekerja dengan intensitas yang tinggi, hanya diselingi bunyi klik mouse dan sesekali diskusi berbisik.
Saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, lampu-lampu di area kerja mulai meredup.
"Aulia, Aku duluan, ya," kata Bima sambil meregangkan punggung. "Jangan keras-keras memaksa diri di hari pertama. Besok pagi kamu butuh otak yang segar."
"Aku akan mencoba menyelesaikan sketsa kasar untuk konsep zonasi," balas Aulia, matanya masih terpaku pada denah. "Terlalu menarik untuk berhenti."
Vina yang baru saja kembali dari menelpon, berdiri di samping meja Aulia. Ia melihat beberapa coretan ide yang sudah ada di tracing paper Aulia.
"Jangan hanya melihat detail teknis, Aulia. Proyek ini harus 'bernyawa'," ujar Vina, nadanya serius, tapi tidak menghakimi. "Ryan ingin Lavana menjadi pernyataan. Bukan sekadar gedung. Ini adalah ujian pertama. Sebelum kamu pulang, Aku ingin kamu siapkan dua sketsa kasar. Satu sketsa dengan pendekatan 'maksimalis', satu lagi 'minimalis'. Taruh di mejaku. Aku akan memeriksanya pagi-pagi."
Aulia mengangguk, "Siap, Mbak Vina."
Setelah Vina dan Bima pergi, keheningan di lantai itu semakin terasa. Aulia adalah salah satu dari sedikit karyawan yang tersisa, didominasi oleh lampu meja dan layar monitor yang menyala.
Sekitar pukul sembilan malam, saat Aulia sedang bergumul antara garis tegas dan komposisi ruang terbuka, ia mendengar derap langkah pelan yang mendekat. Suara tap-tap sepatu pantofel kulit mahal.
Jantung Aulia berdegup. Hanya satu orang di lantai ini yang berjalan dengan otoritas seperti itu.
Bersambung......