Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tudingan dan Kemarahan
#4 New
“Bukan karena manja juga, Mak. Tapi sudah lama Bang Restu tak memberi Ayu uang belanja,” sambung Ayu dengan suara lirih tapi juga khawatir dengan tanggapan mamak mertuanya.
Bu Halimah berjingkat sejenak, serasa mendengar sesuatu yang aneh dengan ucapan sang menantu. “Apa?! Kau pikir Mamak percaya, setelah Restu menghabiskan 50 juta yang katanya untuk persiapan persalinan kau!”
Ayu kembali di buat terperanjat, “50 juta, Mak?! Uang apa itu, seumur-umur, belum pernah kulihat uang sebanyak itu.”
Bu Halimah membenahi posisi duduknya, “Jangan kau coba mengelak, dan berpura-pura tak tahu, ya? Beberapa bulan lalu, Restu bilang menyimpan 50 juta untuk persiapan kau melahirkan. Jadi Mamak pun mengalah, padahal uang itu hendak Mamak minta untuk beli lahan sawah yang baru.”
“Astaghfirullah, Mak. Ayu tak mengelak, tapi beneran, Bang Restu sama sekali tak mengatakan apa-apa perihal uang 50 juta itu. Bahkan kemarin saja, Bang Restu membawa pergi kalung dan cincin mas kawin kami, entah untuk apa Ayu tak tahu,” sanggah Ayu yang semakin merasa terpojok dengan ucapan Bu Halimah.
Mendengar hal itu, Bu Halimah naik pitam, tak terima bila anak lelaki kesayangannya di jelek-jelekkan terutama oleh menantunya sendiri.
“Hei, dengar kau menantu tak tahu diuntung, sudah baik sekali suamiku menjodohkanmu dengan lelaki dari keluarga berada seperti anakku. Jangan kau coba memfitnah dia dengan bualanmu yang tidak masuk akal! Apa kau tak paham jika berdosa besar bila kau memfitnah, apalagi suami kau sendiri!”
“Mak, sudah, Mak.”
Karmila mencoba menenangkan Bu Halimah, karena khawatir jika penyakit darah tinggi wanita itu akan kambuh lagi.
“Apa, sudah! Kau terima-terima saja, jika abang kau di fitnah istrinya sendiri.”
Ayu menggeleng kuat, tenggorokannya tercekat akibat menahan tangis, tak sanggup menyanggah lagi ucapan dan prasangka buruk Bu Halimah. “Aku tidak memfitnah, Mak. Sumpah demi Allah!”
Karmila ikut iba melihat tangis di wajah kakak iparnya, namun, ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Kenyataannya Ayu memang sudah tak mengenakan kalung, serta cincin kawin yang senantiasa melekat di tubuhnya. Jadi ia juga tak bisa mengatakan bahwa Ayu menebar fitnah, karena Karmila sangat mengenal bagaimana watak kakak iparnya tersebut.
“Jangan bawa-bawa nama Allah, jika yang kau katakan adalah bohong!”
“Berapa kali harus Ayu katakan, Mak. Ayu tak bohong!” pekik Ayu dengan suara tertahan, karena tak ingin meninggikan suara dihadapan sang mertua.
“Bahkan semalam— semalam— Bang Restu pulang dalam keadaan mabuk, dan pulang diantar seorang wanita, Ayu harus bagaimana, Mak?” raung Ayu yang akhirnya bisa menangis keras setelah mengatakan beban kesedihannya atas perubahan sikap Restu Singgih sejak beberapa bulan kebelakang, hingga pada puncaknya kemarin malam.
Mendengar sesuatu yang tak masuk di akalnya, Bu Halimah kembali baik pitam. “Kau—”
Bu Halimah tak sanggup melanjutkan kalimatnya, wajahnya merah padam dengan mata melotot serta otot wajah bergetar. Sebagai orang yang merasa telah mendidik anak lelakinya dengan baik, kalimat sang menantu sama sekali tak membuatnya percaya.
Dalam pemikiran Bu Halimah, Restu adalah pria baik, taat beribadah, dan juga patuh pada kedua orang tuanya. Jadi tidak mungkin bila pria itu berbuat hal tercela.
“Ayo, kita pulang saja, tak sudi lagi aku menginjakkan kaki di rumah ini.”
Bu Halimah melangkah keluar terlebih dahulu.
“Kak—” Karmila masih bertahan untuk sesaat, ia menyentuh lengan Ayu, bermaksud memberikan sumbangan kekuatan, agar Ayu tetap tabah pada cobaan yang sedang datang menimpa.
“Karmila! Cepat! Jangan lama-lama di rumah ini, bisa-bisa kita kena bala karena penghuninya suka memfitnah.”
“Iya, Mak. Sebentar lagi.”
Karmila buru-buru mengeluarkan uang yang ada di dalam sakunya. “Ini, Kak. Tidak banyak, tapi hanya ini yang aku punya.”
Ayu menggeleng, “Tidak, Kau pakailah ini untuk membeli kebutuhan rumah Kau, Mil.”
“Ada, Kak. Walau tak banyak. Tapi Bang Ismail selalu mencukupi kebutuhanku, dan anak kami.”
Karmila kembali menyelipkan uang tersebut ke telapak tangan Ayu, karena rasa iba melihat kondisi kakak iparnya yang kian tirus, padahal sedang hamil tua.
Selama ini uang pemberian Restu dari hasil sawah, di kuasai Bu Halimah, karena Bu Halimah berdalih, takut uang itu akan di kuasai Ismail suami Karmila, yang hanya pedagang sembako kecil-kecilan di pasar.
Jadi Karmila pun hanya mendapatkan jatah ala kadarnya, syukurlah karena Ismail jauh berbeda dengan Restu, yang terlalu dimanjakan dengan sikap Bu Halimah padanya.
Sepeninggal Karmila, Ayu menatap nanar uang 50 ribu di tangannya, itu nominal yang cukup banyak bagi Ayu yang saat ini sama sekali tak mendapatkan jatah nafkah lahir dari suaminya.
•••
Setelah melipat sajadah dan alat sholat lainnya, Ayu berdiri meraih kantong lusuh berisi perhiasan peninggalan ibunya. Satu-satunya harta berharga itu, adalah simpanan Mak Tinah, dari hasil bekerja menjadi buruh tani sebelum sakit kronis datang menyerang.
Mak Tinah tak mau menjual perhiasan tersebut, justru menyerahkannya pada putri semata wayangnya sebagai warisan. Karena hanya itulah benda berharga yang dimilikinya selain sebidang tanah dan rumah tua, tempat Mak Tinah menutup usia.
Kini Ayu tak menduga bahwa ia yang akan menjual perhiasan tersebut untuk persiapan persalinan.
Ketika Ayu masih berdiri termenung, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar rumah. Sepertinya Restu pulang, dan mungkin saja kondisinya tak jauh beda dengan malam sebelumnya.
Ayu hendak menyimpan tiga buah kalung peninggalan ibunya, tapi karena buru-buru benda itu justru jatuh berhamburan di kolong meja. Ayu memungutnya, namun, tak menyadari masih ada satu yang tertinggal.
Setelah menyembunyikan kantong lusuh tersebut di balik lipatan sajadah, Ayu buru-buru menghampiri pintu depan.
“Apa yang kalian lihat?!”
Dengan lantang Anjani berteriak memarahi para tetangga yang melihat kedatangannya bersama Restu dalam kondisi sama-sama setengah teler.
Ayu hanya bisa diam dan menangis pilu, “Minggir, Kau!”
Sama seperti sebelumnya, Anjani kembali bersikap seenaknya. Kali ini ia seperti sengaja membiarkan orang-orang melihat kedekatannya dengan Restu, agar menjadi buah bibir warga desa.
Tak lama setelah masuk, Restu kembali berjalan sempoyongan menghampiri istrinya yang masih tergugu di depan pintu.
“Sini, kau.” Restu menarik lengan kecil Ayu dengan kasar hingga wanita itu tersudut di dinding ruang tamu.
“Dasar istri durhaka! Berani terang-terangan berjalan mesra bersama pria, bahkan di siang terang benderang,” omel Restu tak berkaca bagaimana perilakunya sendiri beberapa bulan belakangan ini.
“Astaghfirullah, durhaka apa, Bang? Aku tak berbuat hal yang salah,” elak Ayu yang merasa tidak bersalah.
“Siang tadi kau pergi kemana, hah?!” tanya Restu, Ayu ingin muntah rasanya kala mencium bau alkohol menyengat dari mulut suaminya.
“Siang tadi, aku hanya ke rumah Mamakku, Bang. Tidak kemana-mana lagi,” jawab Ayu yang terdengar seperti sebuah alibi dan pembelaan diri di telinga suaminya.
“Ah, jadi di sana kau jumpa mesra dengan lelaki itu? Rumah kosong Mamak, kau jadikan tempat perselingkuhan, iya?!”
Tudingan Restu seperti sebuah belati yang sengaja d goreskan olehnya tepat di dada istrinya sendiri.
“Kenapa Abang menuduhku, sementara Abang yang terang-terangan pulang bersama wanita selingkuhan Abang?!” balas Ayu dengan lengkingan tajam, kedua matanya ikut menggambarkan kemarahan yang maha dahsyat di dalam dirinya.
Restu pun murka, karena selama ini Ayu tak pernah berbicara keras apalagi membantah kata-katanya. “Berani membantah kau sekarang, ya?!”
Dua orang tengah bersitegang, tapi diam-diam Anjani bersorak kegirangan, seolah-olah, inilah yang ia harapkan.
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah