Romance psychological, domestic tension, obsessive love, slow-burn gelap
Lauren Hermasyah hidup dalam pernikahan yang perlahan kehilangan hangatnya. Suaminya semakin jauh, hingga sebuah sore mengungkapkan kebenaran yang mematahkan hatinya: ia telah digantikan oleh wanita lain.
Di saat Lauren goyah, Asher—tetangganya yang jauh lebih muda—selalu muncul. Terlalu tepat. Terlalu sering. Terlalu memperhatikan. Apa yang awalnya tampak seperti kepedulian berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih intens, lebih sulit dihindari.
Ketika rumah tangga Lauren runtuh, Asher menolak pergi.
Dan Lauren harus memilih: bertahan dalam kebohongan, atau menghadapi perhatian seseorang yang melihat semua retakan… dan ingin mengisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulismalam4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27_dalam sunyi
Dua mobil memasuki perkarangan rumah hampir bersamaan.
Mesin keduanya mati dalam jeda yang singkat, seolah tidak ingin saling mendahului. Senja menggantung rendah di langit, menyisakan cahaya jingga yang memantul di kaca jendela rumah—rumah yang selama bertahun-tahun mereka sebut sebagai tempat pulang.
Lauren masuk lebih dulu.
Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja kecil di ruang tamu, melepas sepatu dengan gerakan tenang, nyaris mekanis. Tidak ada keluhan lelah. Tidak ada desahan panjang. Ia hanya duduk di sofa, punggung tegak, tangan terlipat di pangkuan.
Beberapa detik kemudian, Arga masuk dan menutup pintu.
Ia berhenti sejenak, memandang Lauren yang duduk berhadapan dengannya, lalu memilih kursi tunggal di seberang sofa. Jarak di antara mereka tidak jauh—hanya sebuah meja rendah—namun terasa seperti jurang yang dalam.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Detik-detik berlalu, diisi oleh suara jam dinding yang berdetak pelan. Arga menyandarkan punggung, menghela napas panjang seolah sedang mengumpulkan kata-kata yang sejak siang tertahan di dadanya.
“Kau tidak bilang apa-apa,” akhirnya Arga membuka suara.
Lauren mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang. Terlalu tenang. “Tentang apa?”
“Kau kembali ke kantor,” ujar Arga. “Dengan posisi itu.”
Lauren mengangguk kecil. “Aku tahu.”
Nada suaranya datar, tanpa nada menantang. Itu justru membuat Arga semakin gelisah.
“Kau sengaja tidak memberitahuku?” tanya Arga, alisnya berkerut.
“Aku tidak merasa perlu,” jawab Lauren jujur. “Itu keputusanku. Profesional.”
Arga terdiam. Rahangnya mengeras sedikit. “Kita suami istri, Lauren.”
Lauren menarik napas perlahan. “Justru karena itu aku memilih memisahkan semuanya.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Aku tidak ingin keputusan kerjaku terpengaruh oleh hubungan yang… sedang tidak sehat.”
Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti benda berat.
Arga menunduk, mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Kau menghukumku.”
Lauren menggeleng pelan. “Tidak. Aku sedang menyelamatkan diriku sendiri.”
Hening kembali menyelimuti ruangan.
Arga menatap Lauren, kali ini lebih lama. Ia melihat sesuatu yang asing sekaligus familiar—wanita yang dulu ia kagumi karena keteguhannya, kini berdiri lagi dengan pilar yang sama, hanya tanpa bersandar padanya.
“Aku tidak tahu kau akan sejauh ini,” ucap Arga lirih.
Lauren tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. “Aku juga tidak tahu aku bisa sejauh ini.”
Arga membuka mulut, seolah ingin berkata banyak hal—penjelasan, mungkin pembelaan. Namun tak satu pun keluar.
“Apakah ini berarti…,” Arga menggantung kalimatnya. “Kau akan menjauh dariku?”
Lauren menatapnya lurus. Tidak ada amarah di sana. Hanya kelelahan yang lama terpendam.
“Aku sudah lama sendiri, Arga,” katanya pelan. “Aku hanya baru menyadarinya sekarang.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada tuduhan apa pun.
Arga terdiam, bahunya merosot sedikit. “Aku masih di rumah ini,” ujarnya, nyaris seperti permohonan.
Lauren bangkit dari sofa, mengambil tas kerjanya. “Dan aku juga. Untuk sekarang.”
Ia melangkah menuju tangga, berhenti sesaat tanpa menoleh. “Tapi keberadaan bukan berarti kebersamaan.”
Lauren naik ke lantai dua, langkahnya mantap, tidak tergesa.
Arga tetap duduk di kursinya.
Ruang tamu kembali sunyi—
menyimpan dua kursi yang saling berhadapan,
dan jarak yang tak lagi bisa diukur dengan meteran.
__
Jam di ponsel Lauren menunjukkan 20.00 WIB tepat.
Lampu-lampu taman telah menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di jalur setapak yang basah oleh embun malam. Udara terasa dingin, menusuk pelan kulit, membawa aroma tanah dan daun basah. Di bangku taman yang terletak agak jauh dari keramaian, Lauren duduk sendirian—atau setidaknya, ia datang sendirian.
Ia memeluk dirinya sendiri, jaket tipis yang ia kenakan nyaris tidak cukup menahan dingin. Pandangannya kosong, tertuju pada kolam kecil di depan bangku, tempat cahaya lampu bergetar di permukaan air.
Ia butuh menjauh.
Dari rumah.
Dari kata-kata Arga.
Dari dirinya sendiri yang hampir runtuh tapi terus berpura-pura utuh.
Lauren menghela napas panjang, perlahan, seolah sedang belajar bernapas kembali.
Lalu—
Ia menyadari sesuatu.
Ada kehangatan asing di sisi kirinya.
Lauren menoleh.
Asher duduk di sana.
Tidak dekat. Tidak terlalu jauh. Tepat di jarak yang sopan—cukup dekat untuk terasa kehadirannya, cukup jauh untuk tidak menyesakkan. Ia mengenakan hoodie gelap dan celana panjang sederhana. Rambutnya sedikit basah, entah oleh hujan tipis atau keringat. Wajahnya tenang seperti biasa, ekspresi datar yang sulit dibaca.
Ia tidak menatap Lauren.
Tidak menyapa.
Tidak bertanya.
Ia hanya… duduk.
Lauren mengerjap, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Sejak kapan…?” suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh suara serangga malam.
Asher tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap lurus ke depan, ke arah kolam.
“Cukup lama,” katanya akhirnya. Nada suaranya rendah. Tenang. Seolah waktu tidak berarti apa-apa baginya.
Lauren menghela napas kecil. “Kenapa tidak bilang?”
“Karena kau tidak sedang ingin diajak bicara,” jawabnya jujur.
Lauren terdiam.
Jawaban itu… tepat.
Ia kembali menatap kolam, menelan sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokannya. “Aku tidak ingat mengajakku ke sini.”
“Kau tidak mengajak,” Asher mengaku. “Kau hanya berjalan. Aku mengikutimu.”
Nada suaranya tidak defensif. Tidak meminta izin. Hanya sebuah pernyataan fakta.
Seharusnya itu membuat Lauren tidak nyaman.
Tapi anehnya—tidak.
“Ini jauh dari rumah,” gumam Lauren.
“Kau butuh jarak,” kata Asher. “Bukan tujuan.”
Lauren tersenyum tipis, getir. “Kau pandai menebak.”
“Aku hanya memperhatikan,” jawab Asher singkat.
Hening kembali turun di antara mereka, tapi kali ini tidak berat. Hening yang berbeda. Hening yang tidak menuntut kata-kata.
Angin malam berembus pelan, menggerakkan dedaunan. Lauren mengusap lengannya sendiri, dingin mulai merayap. Tanpa berkata apa-apa, Asher melepas jaketnya dan meletakkannya di sandaran bangku—tidak memaksanya ke tubuh Lauren, hanya… tersedia.
Lauren melirik jaket itu.
“Kau tidak harus—”
“Kau kedinginan,” potong Asher. “Aku tidak.”
Lauren ragu sejenak, lalu menarik jaket itu dan memakainya. Hangatnya langsung terasa, bukan hanya dari kain, tapi dari sesuatu yang lebih dalam—kehadiran yang diam-diam melindungi.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Asher mengangguk kecil. Tidak lebih.
Beberapa menit berlalu.
Lauren menatap tangannya sendiri, jari-jarinya saling menggenggam. “Aku baru saja… bertengkar,” katanya akhirnya. Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa rencana.
Asher tidak bertanya dengan siapa. Tidak meminta detail.
“Aku tahu,” katanya singkat.
Lauren menoleh cepat. “Bagaimana—?”
“Caramu duduk,” jawab Asher. “Dan caramu bernapas.”
Lauren tertawa kecil, rapuh. “Aku seterlihat itu?”
“Kepadaku,” jawab Asher.
Jawaban itu membuat dada Lauren menghangat sekaligus nyeri.
“Aku lelah,” bisiknya. “Aku sudah berusaha terlalu lama.”
Asher akhirnya menoleh padanya. Tatapan abu-abunya dalam, stabil, tidak menghakimi. “Kau tidak terlihat lemah.”
Lauren tersenyum pahit. “Aku merasa begitu.”
“Itu tidak sama,” katanya.
Lauren menelan ludah. “Aku takut.”
Asher tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan lagi, lalu berkata pelan, “Takut berarti kau masih peduli pada hidupmu sendiri.”
Lauren memejamkan mata.
Air mata menggenang, tapi tidak jatuh. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak sendirian menahan beban itu.
“Kenapa kau di sini, Asher?” tanyanya lirih. “Kenapa selalu muncul saat aku… seperti ini?”
Asher terdiam cukup lama.
“Karena aku tahu rasanya duduk sendirian di bangku seperti ini,” jawabnya akhirnya. “Dan berharap tidak ada yang bertanya… tapi juga berharap seseorang tetap tinggal.”
Lauren membuka mata, menatapnya.
Malam terasa semakin sunyi, tapi bukan kosong.
Mereka duduk berdampingan—dua jiwa yang terluka dengan cara berbeda—tanpa janji, tanpa pengakuan, tanpa sentuhan.
Hanya kehadiran.
Dan untuk saat itu,
itu sudah cukup.
Anyway, semangat Kak.👍