" Aku mencintaimu, Adibah." Reza.
" Stop mengatakan cinta padaku, Reza. Kamu itu adalah suami adikku!" Adiba.
Aisyah tanpa sengaja mendengar pernyataan yang sangat begitu amat menyakitkan hatinya mendengar suaminya menyatakan cinta kepada kakaknya sendiri.
lalu bagaimana dengan perasaan Aisyah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
" Aku mencintaimu! Apa kamu mengerti sekarang?" ulang Reza sambil menggenggam kedua tangan istrinya dan menatapnya dengan tulus dan penuh cinta.
Aisyah meneteskan air matanya tak percaya jika suaminya menyatakan cinta padanya. Sungguh pernyataan yang selama ini ia nanti nanti kan.
" Ka-kamu sungguh mencintaiku?" Tanyanya memastikan, Aisyah ingin mendengar sekali lagi.
Reza tersenyum lalu dia menangkup kedua pipi Aisyah kemudian mengecup bibirnya lembut.
" Aisyah Anindia Hasna. Aku, Muhamad Reza Alfatih mencintai mu! Dan selama raga dan jiwa ini masih bernafas, aku akan selalu mencintaimu sama besarnya seperti aku mencintai Allah dan juga ibuku. Maka dari itu, tolong hiduplah di sisiku sampai maut yang memisahkan kita!"
Dengan nada sangat lantang terdengar tegas. Reza tidak ragu mengutarakan cintanya, walaupun hanya dalam waktu singkat cintanya pada wanita dihadapannya ini, namun perasaan itu tulus dari lubuk hatinya yang ingin memulai hidup bersama dengan istrinya saat ini.
Aisyah menyentuh salah satu tangan suaminya bagian kanan yang masih menempel pada pipinya. Wanita itu mengangguk sambil menangis haru. Harapannya bener-bener terkabul, cintanya akhirnya terbalas. Sungguh keajaiban yang sulit dipercaya dan sayangnya ia ingin mempercayai semua ini.
" Iya Mas, aku mau. Aku juga sangat mencintaimu," jawabnya.
Reza tersenyum mendengarnya, lalu dia mengecup kening istrinya dengan lembut dan cukup lama. Sementara Aisyah hanya tersenyum bahagia sambil memejamkan kedua matanya merasakan betapa lembutnya kecupan itu penuh dengan perasaan. Aisyah kembali meneteskan air mata, air mata kebahagiaan.
" Terima kasih, Aisyah. Terima kasih."
Reza langsung menarik tubuh Aisyah kedalam pelukannya. Ia tersenyum lebar. Sungguh begitu bahagia sekali yang ia rasakan. Kenapa tidak dari awal menikah saja ia mulai belajar mencintai istrinya ini.
" Aku yang seharusnya berterima kasih, Mas. Karena kamu sudah mau membuka pintu hati untukku," ucap Aisyah melonggarkan pelukannya dan menunjuk dada tepat di bagian hati laki-laki itu.
" Padahal aku sudah memutuskan untuk mengubur cintaku, dan tidak mau memperdulikan kamu lagi. Bahkan berniat untuk menggugat cerai ke pengadilan, agar supaya kamu bisa bersama dengan kak Adibah," ungkapnya jujur, Aisyah memang tidak bisa untuk tidak berbohong.
Reza menaikan sebelah alisnya menatap dalam sang istri.
" Jadi ... Apa kamu sekarang masih berminat menyerahkan suamimu pada wanita lain?" Godanya, dan ingin tahu juga jawab dari Aisyah.
Aisyah tersenyum lalu dia memungut buket bunga mawar merah yang terjatuh saat bibirnya di kecup Reza tadi karena kaget dengan serangan tiba-tiba itu.
" Tergantung sikapmu!" Serunya, lalu dia tersenyum menatap suaminya yang nampak mengerutkan keningnya.
" Kamu lihat bunga mawar ini?" Reza menaikan sebelah alisnya menatap sang bunga yang berada di gendongan Aisyah.
" Dia di jaga dan dirawat dengan baik oleh pemiliknya hingga bunga tersebut tumbuh mekar dengan sempurna dan sangat indah tanpa melukainya dengan duri yang melekat di batangnya." Aisyah menatap bunga mawar merah itu lalu mencium aromanya yang sangat wangi.
" Akan tetapi, jika dia selalu menyakiti sang pemilik dengan durinya terus -menerus sampai kesabaran sang pemilik habis hingga tidak ingin lagi menjaga dan merawatnya, maka bunga ini tidak akan tumbuh mekar dengan sempurna, dan dia bakalan di singkirkan lalu di buang ke tempat sampah karena sudah tidak berguna. Lalu sang pemilik akan mencari bunga mawar yang baru."
Reza mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh istrinya, dia paham maksud dijaga dan dirawat supaya bisa menghasilkan yang memuaskan itu. Reza tersenyum kecut secara tidak langsung Aisyah menyindir dirinya karena dulu ia selalu memberikan luka hingga membuat wanita itu hampir menyerah. Reza kembali menarik Aisyah kedalam pelukannya bahkan buket mawar yang cantik itu terhimpit oleh tubuhnya.
" Tolong buang semua duri yang melekat pada tubuhku agar tidak kembali melukaimu," lirihnya, ia tidak ingin kembali melukai wanita ini. Reza memeluknya sangat erat seakan takut akan kehilangan.
Asiyah sangat tersentuh sekali, ia akan mempercayai niat tulus suaminya dan akan memberikannya kesempatan. Mungkin ini adalah awal kebahagiaan untuk mereka membina rumah tangga yang sebenarnya.
" Iya Mas, insyaallah. Aku juga demikian ya, tegur aku jika aku berbuat salah dan melalaikan tugasku sebagai seorang istri," ucapnya sambil tersenyum menatap dua bola mata suaminya.
Reza pun membalasnya dengan anggukan dan tersenyum tulus, mereka saling bertatap hingga pandangan kedua mengunci satu sama lain.
Deg ... Detak jantung Aisyah berdegup kencang, ia manjadi gugup saat dirinya di tatap lekat oleh suaminya. Aisyah mengalihkan wajahnya ke arah samping, ia tidak ingin suaminya itu tahu jika wajahnya sekarang ini sudah bersemu merah.
Alih-alih membuang wajah ke samping agar tatapan suaminya itu tidak membuat jantungnya semakin berdetak kencang dan ia semakin menjadi gugup. Reza malah menarik dagunya hingga tatapan mereka bertemu kembali.
Detakan jantung Aisyah kembali berdegup kencang bukan karena tatapan maut suaminya melainkan bibirnya sudah dikecup lembut oleh suaminya itu. Asiyah membulatkan matanya lantaran kaget akibat serangan yang lagi-lagi mendadak.
" Tutup mata kamu," bisik Reza menghentikan sejenak penyatuan bibir mereka.
Walaupun dalam keadaan gugup dan jantung semakin bertambah detaknya. Namun Aisyah menikmati ciuman yang diberikan oleh suaminya itu begitu sangat lembut penuh perasaan, tak ada nafsu didalamnya hingga terdengar bunyi suara perut Aisyah yang keroncongan yang tidak bisa diajak kompromi sehingga merusak momen romantis mereka.
" Euhg, malunya...!" Aisyah menyembunyikan wajahnya lantaran sangat malu.
Sementara Reza hanya terkekeh saja. " Laper?" Ledeknya.
" Banget, hehehe." Aisyah menyengir lebar memperlihatkan gigi kelincinya yang imut.
" Imutnya," gemes Reza sambil mencubit kedua pipi istrinya.
" Auw, sakit tauk." Sambil memanyunkan bibirnya Aisyah mengusap pipinya yang habis dicubit. Reza lagi-lagi terkekeh.
" Gimana kalau kita makan di luar saja," usulnya.
" Beneran?" Dengan mata binar Aisyah sangat menanti seperti ini. Reza mengangguk. " Yes ..." Dengan begitu Aisyah tak perlu lagi masak untuk makan malam.
" Aku ganti baju dulu," ucapnya penuh semangat. Aisyah nda k beranjak pergi namun langkahnya terhenti saat Reza berkata. " Tapi kamu sudah sangat cantik kok dengan pakaian seperti ini, nggak usah ganti. Lagi pula 'kan katanya sudah lapar?"
Karena memang kenyataan Aisyah sudah sangat cantik dengan memakai baju apapun.
" No!" Komen Aisyah sambil menyilangkan kedua tangannya hingga berbentuk x.
" Aku sudah berkeringat seharian pasti bau asem. Pokoknya tidak bakalan lama, tunggu ya." Aisyah gagah dengan pendiriannya, ya bergegas berlari menuju kamar.
Malam ini adalah malam pertama mereka untuk menikmati makan malam bersama dengan perasaan cinta. Tentu Aisyah tidak ingin mengabaikan yang akan menjadi sangat romantis ini, ia akan memakai pakaian yang membuat dirinya terlihat semakin cantik tentu di pandangan suaminya.
" Tidak terlalu berlebihan, bukan?" Aisyah memutar tubuhnya di depan cermin ia memastikan agar dirinya terlihat sempurna.
" Ayo berangkat," ajaknya setelah keluar dari kamar. Aisyah menghampiri suaminya yang sedang duduk tengah menunggu dirinya.
Reza terpana melihat penampilan istrinya yang nampak sangat cantik, rasa ia ingin mengurungkan makan malam di luar lantaran tidak rela jika kecantikan istrinya itu di pandang oleh banyak laki-laki di luaran sana.
" Ayo, malah bengong." Dengan tak sabaran Aisyah menarik tangan suaminya agar lekas berjalan.
Duuuuar ... Suara geledek terdengar sangat keras dan secara bersamaan hujan lebat pun turun.
" Yah kok hujan sih?" Dengan wajah sedih Aisyah menatap hujan turun yang sudah membasahi bumi. Tentu saja mereka tidak akan jadi pergi makan malam di luar karena tidak memungkinkan untuk berkendara di hujan yang begitu sangat lebat karena akan sangat berbahaya sekali.
Di saat Aisyah Tengah bersedih lain hal dengan Reza yang bersorak kesenangan karena keinginannya yang mengurungkan makan malam di luar terkabul.
Assalammu'alaykum