NovelToon NovelToon
Milik Sang Iblis Sisilia

Milik Sang Iblis Sisilia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: Kakamy

Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.

Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.

Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.

Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?

Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.

"Dia milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Ester Gutierrez

Setelah pria kekar itu melepaskanku, aku berlari mencari Ricardo supaya dia bisa memberi pelajaran pada orang itu. Aku mencarinya ke seluruh klub, tapi dia seperti lenyap. Tak lama kemudian baku tembak pecah. Aku kabur dari sana secepat mungkin dan langsung pulang dengan ketakutan. Dalam perjalanan aku beberapa kali mencoba menelepon Ricardo, tapi hanya terdengar nada sambung, jadi aku menyerah. Sampai di rumah, aku melepas baju dan langsung naik ke tempat tidur, bahkan riasanku tidak kuhapus.

Hari Minggu aku bangun dengan suasana hati buruk. Kulihat ponselku, tidak ada pesan dari Ricardo. Lalu aku teringat baku tembak itu dan jadi cemas. Kukirim pesan dan menunggu balasan dengan tidak sabar.

Pesan

*Ester:* Selamat pagi, Ricardo. Aku khawatir sekali padamu semalam. Kamu sampai di rumah dengan selamat?

Setengah jam kemudian ponselku berbunyi.

*Ricardo:* Aku baik-baik saja, Ester. Jangan khawatir.

Aku menatap pesan itu dan darahku mendidih. Jadi si brengsek itu sama sekali tidak mengkhawatirkanku. Kulihat pergelangan tanganku, masih ada bekas cengkeraman pria kekar itu. Aku bertanya-tanya dari mana si sok polos Andrea mengenal pria itu. Tapi aku akan mencari tahu, atau namaku bukan Ester Gutierrez. Aku bangun dan mandi untuk menghapus riasan, lalu merawat kulit wajah. Berjam-jam aku di bawah pancuran, dan saat keluar aku merasa segar kembali. Kupakai baju ringan dan turun untuk sarapan. Mama sudah mencari orang untuk mengerjakan urusan rumah. Usianya kira-kira sebaya orangtuaku, dan referensinya bagus.

*Ester:* "Selamat pagi!"

*Pilar:* "Astaga, kenapa suasana hatimu jelek begitu? Kamu tidak jalan dengan Ricardo semalam? Harusnya kamu berseri-seri."

*Ester:* "Duh, Mama, jangan bahas Ricardo. Kalau dia muncul di depanku sekarang, aku bunuh dia."

Aku mengulurkan tangan mengambil roti panggang, dan Mama menatap pergelangan tanganku tak percaya.

*Pilar:* "Ya Tuhan, Ester, jangan bilang Ricardo yang melakukan itu di lenganmu?"

*Ester:* "Bukan, Ma. Itu pembela Andrea."

Saat itu kakakku masuk.

*Richard:* "Selamat pagi, keluarga! Kalian sedang membicarakan Andrea? Dia sudah ketemu?"

*Ester:* "Bangun, Richard! Memangnya siapa yang selama ini mencarinya?!"

*Pilar:* "Ceritakan yang benar, Ester!"

Ester menceritakan semuanya kepada ibunya dan kakaknya, yang ikut mendengarkan dengan saksama. Apa pun yang menyangkut Andrea selalu menarik perhatiannya.

*Pilar:* "Aku tidak percaya anak gembel itu berani menggoda Ricardo."

*Ester:* "Berani, Ma. Kalau pria itu tidak menahanku, sekarang wajahnya pasti penuh luka."

*Richard:* "Aku tidak percaya. Kalian dengar sendiri tidak? Dari yang kudengar tidak terjadi apa-apa. Kamu terlalu terobsesi pada Ricardo sampai melihat hal yang tidak ada."

*Ester:* "Lihat siapa yang bicara soal obsesi. Kamu yang dari dulu terobsesi pada si sok polos itu."

*Richard:* "Jangan bicara sembarangan, Ester. Dia sepupu kita."

*Ester:* "Sepupu kamu, bukan aku. Aku tidak menganggapnya seorang Gutierrez."

*Francesco:* "Seharusnya kamu menganggapnya begitu. Nama Gutierrez berasal dariku dan adikku, bukan dari ibumu. Jadi Andrea sama Gutierrez-nya dengan kamu. Sudah kubilang, berhentilah iri tanpa alasan."

*Ester:* "Aku iri! Papa pasti bercanda."

Francesco duduk di meja, mengambil koran, dan mulai membaca.

*Pilar:* "Astaga, Sayang, tidak mau menyapaku selamat pagi?"

*Francesco:* "Kamu sudah membawa Andrea pulang?"

*Pilar:* "Mulai lagi dengan omong kosong itu!"

*Francesco:* "Dia keponakanmu juga, Pilar. Bagaimana kamu bisa sedingin itu?"

Pilar memasang wajah acuh tak acuh dan meninggalkan meja.

*Richard:* "Andrea baik-baik saja, Papa. Kabar buruk menyebar cepat."

*Francesco:* "Kenapa kamu bilang begitu, Nak? Kamu tahu sesuatu?"

Sebenarnya Richard tahu, hanya saja dia tidak bisa mengatakan pada ayahnya bahwa dia mengikuti Andrea.

*Richard:* "Tidak, Pa. Aku cuma merasa dia pasti jauh lebih baik di tempatnya sekarang daripada tinggal bersama dua orang ini."

*Francesco:* "Tempatnya bersama keluarganya."

*Richard:* "Papa pernah berpikir dia mungkin tidak mau pulang? Setelah semua yang dia alami di rumah ini, semua penghinaan itu."

Francesco terdiam merenung. Dia tahu putranya benar sepenuhnya, jadi untuk sementara dia memutuskan tidak mencari Andrea. Richard berusaha membaca tatapan ayahnya yang sulit ditebak. Begitu sadar ayahnya tidak akan berkata apa-apa lagi, dia mengambil sebuah apel dan pergi ke pusat kebugaran.

Richard Gutierrez

Aku berangkat ke pusat kebugaran sambil memikirkan Andrea. Aku tidak akan pernah mengakuinya, tapi aku jatuh cinta padanya sejak kecil.

Waktu dia datang ke rumah kami, umurnya lima tahun dan aku sebelas. Dia begitu rapuh. Ah, tidak, dia masih rapuh sampai sekarang. Tapi waktu itu dia baru kehilangan orangtuanya dan hancur, berminggu-minggu tidak makan apa-apa, tidak bicara, dengan mata biru yang sedih itu. Setiap selesai makan malam aku menyisihkan makanan penutupku untuknya dan menaruhnya di depan pintu loteng, tapi dia tidak pernah memakannya. Sebelum berangkat sekolah aku naik ke loteng, dan makanan itu masih di sana. Lalu tiba-tiba aku mulai mendapati piringnya kosong. Aku senang sekali. Sejak itu, selain makanan penutup, aku juga meninggalkan pensil dan kertas, dan dia mulai menggambar. Selesai menggambar, dia selalu menaruh pensil dan kertas itu di tempat yang sama. Pelan-pelan dia mulai makan, dan aku bisa melihat senyumnya untuk pertama kali. Sejak itu aku tidak bisa berhenti menjaganya.

Seiring kami tumbuh, dia makin cantik dan aku makin jatuh cinta. Cowok-cowok di sekolah juga tergila-gila padanya, mengerubunginya seperti burung nasar di atas bangkai. Aku tidak bisa membiarkannya. Jadi setiap kali ada cowok yang naksir dia, aku bilang pada adikku bahwa Andrea merebut cowoknya. Adikku, yang seperti biasa suka bersaing dan sombong, menjauhkan cowok-cowok itu dengan bilang Andrea cuma pembantu di rumah, gembel yang kelaparan, hal-hal yang tidak dimaafkan remaja. Aku tahu itu kejam, tapi aku tidak bisa membiarkan siapa pun menyentuhnya selain aku.

Suatu hari aku pulang dalam keadaan agak kacau dan mencoba menciumnya. Dia sedang membelakangiku. Aku mendekat, mencium wangi tubuhnya, dan aku gila. Kubalikkan dia dengan kasar, kubilang aku selalu tergila-gila padanya, dan aku mencoba merebut sebuah ciuman. Tapi Mama tiba-tiba datang. Aku panik dan bilang Andrea yang menggodaku. Mama menampar wajahnya, dan hari itu aku melihat tatapan kecewa Andrea. Sejak hari itu aku tidak pernah berani menatapnya lagi.

Tapi sekarang dia tinggal bersama seorang teman. Aku melihat saat dia pergi dari rumah dan tidak menghalanginya. Sebaliknya, aku mengikutinya dan melihat di mana dia akan tinggal. Kupikir akan lebih mudah memenangkannya jauh dari keluarga gila ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!