NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Dokter Dingin

Istri Kontrak Dokter Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dydy_ailee

Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab-15 Pacar?

Rumah besar berarsitektur kolonial itu masih berdiri anggun dengan taman terawat dan aroma bunga segar dari jendela. Damian turun dari mobil dan masuk tanpa mengetuk. Rumah ini terlalu familiar untuk itu. Begitu masuk ke ruang tamu, aroma sup buntut menyambutnya. Tapi bukan itu yang membuatnya heran. Di meja, Diana sedang duduk sambil membuka album foto. Foto-foto perempuan yang cukup banyak.

“Ma… apa-apaan ini?” tanya Damian dengan kening berkerut.

“Mama cuma mau bantu kamu cari pasangan. Ini ada beberapa kenalan mama, anak temen arisan, cucu tante Nana… semua cakep dan sopan,” ucap Diana antusias sambil menyodorkan satu foto perempuan anggun memakai kebaya.

Damian menghela napas panjang. Ia mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.

“Ma, aku udah punya pacar,” ucapnya datar.

Diana langsung menoleh cepat. “Apa?! Beneran? Kamu serius?!” matanya melebar, suaranya naik setingkat.

“Iya,” Damian menjawab sambil membuka kancing lengan kemejanya, santai.

“Siapa namanya? Kapan kamu kenalan? Kenapa tidak bilang dari dulu?”

“Namanya Amora,” jawab Damian, lalu menarik kursi dan duduk santai di hadapan mamanya.

Diana mengerjapkan mata. “Amora… Hmm, unik. Kamu beneran pacaran? Bukan cuma... teman biasa?”

Damian mengangkat alis. “Pacar, Ma. Bahkan kami serius. Kami baru satu bulan pacaran sebenarnya.”

Senyum langsung merekah di wajah Diana.

“Ya Tuhan, akhirnya anakku jatuh cinta juga! Mama hampir putus asa loh, Miannn,” ucap Diana sambil mencubit pelan lengan putranya. “Kenalin dong kapan-kapan! Mama udah siap nyiapin baju-baju terbaik Mama untuk menyambut mantu.”

Damian hanya tertawa kecil—tawa paling langka yang keluar darinya. Tapi dalam hati, ia tahu ini adalah kebohongan lain dari permainan yang ia mulai. Namun anehnya mengucap nama Amora di depan mamanya tadi terasa tidak salah.

“Tenang, nanti juga kamu ketemu,” jawab Damian singkat.

Tapi Diana masih tersenyum. Bahagia. “Eh tapi, bagaimana latar belakang keluarganya? Bibit, bebet dan bobot harus jelas.”

“Jangan pikirkan itu dulu, Ma. Bibit, bebet dan bobot yang jelas seperti Yasmin saja bisa berkhianat. Yang terpenting itu hati,” ucap Damian dengan tegas. Membuat Diana hanya bisa memutar bola matanya.

Dan untuk sesaat, Damian membiarkan kebohongan itu menggantung. Toh, ini semua hanya bagian dari kontrak, bukan?

*******

Hujan baru saja reda. Udara malam masih lembab, dan suara tonggeret dari kebun belakang terdengar samar. Amora sedang melipat baju-baju di ruang tengah sementara Azka sudah terlelap di dalam kamar.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan di pintu kayu tua mereka.

Tok… tok… tok…

Amora melirik sekilas ke arah pintu. Langkahnya pelan tapi mantap, seperti sudah menebak siapa di balik pintu itu. Ia membuka pintu perlahan. Dan benar saja.

Surya. Pria paruh baya dengan jaket lusuh, rambut acak-acakan namun kali ini tidak berbau alkohol. Wajahnya lebih bersih dari biasanya, senyumnya lebih manis dari yang pernah Amora lihat—tapi justru itulah yang membuat Amora curiga.

“Amora…” sapa Surya dengan suara dibuat lembut. “Kamu sehat, Nak?”

Amora tidak langsung menjawab. Matanya menatap tajam ke arah pria itu, seperti ingin menembus lapisan kepura-puraan yang mencoba ia bangun.

“Ada angin apa Ayah kesini malam-malam dan… sadar?” tanya Amora dingin, menyilangkan tangan di dada.

Surya tersenyum kikuk. “Masa Ayah tidak boleh kangen anaknya sendiri?”

“Kangen, tapi biasanya diiringi bau arak,” sindir Amora tajam.

Surya menunduk sejenak, lalu tertawa kecil. “Ayah tahu… Ayah banyak salah. Tapi malam ini, Ayah cuma pengin minta maaf. Nggak mau ribut. Nggak mau utang. Cuma pengen ngobrol.”

Amora memiringkan kepala. "Ngobrol? Tentang apa? Tentang gimana caranya menggadaikan rumah lagi?"

Wajah Surya sedikit berubah, tapi cepat-cepat ia pasang senyum kembali.

“Ayah tahu kamu marah. Tapi kamu hebat, Mor. Ayah dengar kamu udah lunasin semuanya. Ayah bangga.”

Kata ‘bangga’ itu membuat dada Amora panas. Ia tertawa—sinis.

“Bangga? Ayah tahu dari mana? Jangan-jangan si lintah darat itu udah laporan ya? Sekarang mau apa lagi? Ayah kehabisan ide buat ngerepotin aku?”

“Amora, jangan gitu…”

“Jangan gitu? Ayah yang jangan gitu! Aku ini anak, bukan mesin ATM! Ayah kemana waktu aku kerja siang malam? Nangis tiap malam ngeliat Azka tidur kelaparan?!” Suara Amora meninggi, matanya mulai berkaca-kaca.

Surya diam. Ia hanya menatap putrinya yang kini berdiri gagah, jauh dari sosok gadis lemah yang dulu sering ia bentak.

“Sudah selesai?” tanya Amora dingin. “Kalau belum, lanjut aja. Tapi jangan harap aku percaya. Aku bukan anak kecil yang gampang dikasih permen supaya nurut.”

“Ayah menyesal, Amora…”

“Nyatanya enggak. Kalau Ayah nyesel, harusnya dari dulu. Sekarang, lebih baik Ayah pergi. Azka lagi tidur. Aku nggak mau dia bangun dan lihat Ayah di sini.”

Surya menelan ludah. Ada kilatan kesedihan di matanya, tapi entah tulus atau hanya bagian dari topeng lain yang ia pakai hari ini.

“Boleh tidak Ayah lihat Azka sebentar saja…?”

Amora menutup pintu pelan, menyisakan celah kecil.

“Jangan bikin aku benci sama Ayah lebih dari ini. Tolong. Pergi sebelum aku berubah pikiran dan bilang hal yang nggak seharusnya.”

Klik.

Pintu tertutup sepenuhnya.

Di balik pintu, Amora bersandar, menahan gemetar. Tapi tidak ada air mata. Ia sudah terlalu sering menangis untuk pria itu.

Dan di luar, Surya menunduk. Lalu melangkah pergi… dalam diam.

***********

Langit cerah menggantung di atas kota pagi itu. Kafe kecil bergaya vintage di pinggir jalan mulai sibuk dengan aroma kopi dan suara mesin espresso yang menderu-deru. Amora datang lebih awal seperti biasa, mengenakan apron, mengikat rambutnya ke atas, lalu mulai menyusun gelas-gelas dan mempersiapkan bahan-bahan minuman.

Anggi, rekan kerjanya, datang sambil menguap lebar.

“Pagi, Mor! Lo datang lebih pagi dari matahari, ya,” godanya sambil membuka loker.

Amora tertawa pelan. “Biasa, buat nyuri start sebelum customer datang.”

Anggi menghampiri area bar tempat Amora sibuk dengan susu dan sirup vanilla. Sambil mengaduk kopi, ia menatap Amora dengan sorot penasaran. “Eh, ngomong-ngomong, gimana soal tawaran dr. Damian?”

Amora langsung berhenti mengaduk. Tangannya refleks merapikan apron, lalu melirik kiri kanan memastikan tidak ada yang mendengar. Ia mendekat ke arah Anggi.

“Sstt! Jangan kenceng-kenceng. Kuping meja kasir itu suka bocor.”

Anggi menahan tawa, mendekat, ikut berbisik. “Jadi beneran? Kamu bersedia jadi calon tunangan pura-pura?”

Amora menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk kecil. “Iya... Nggi.”

Anggi mengangkat alis tinggi-tinggi. “Maksudnya?”

“Sssst!” Amora buru-buru menutup mulut Anggi. “Gila ya lo! Ini bukan sinetron! Gue kepepet beneran, Nggi.”

“Ya terus?” Anggi masih setengah berbisik tapi ekspresinya sudah drama penuh.

Amora menghela napas. “Gue... disewa jadi pacar, tunangan, istri pura-pura, entahlah apa itu.”

Anggi membelalak. “Hah?! Astaga, lo serius?”

“Serius. Tapi ini demi Azka. Dan... dia bayar gede.”

“Berapa emangnya?” bisik Anggi makin kecil.

“700 juta. Tiga bulan.”

Anggi nyaris terbatuk, untung bisa ditahan. “Mor, itu... gila! Kamu yakin dia bukan... psikopat?”

Amora memutar bola matanya. “Udah dicek. Dia dokter bedah umum. Nggak mungkin juga psikopat kerja di rumah sakit elit. Lagian... kontraknya jelas. Aman. Legal.”

Anggi menatap sahabatnya dengan wajah antara khawatir dan kagum. “Gue speechless sih. Tapi janji ya... lo hati-hati. Jangan baper. Jangan jatuh cinta. Jangan... lupa diri.”

Amora menyeringai nakal, lalu menepuk pundak Anggi. “Tenang. Gue ini siapa? Ratu tahan banting dari kampung. Lagian... kalau baper, ya tinggal naik tarif.”

Mereka berdua tertawa pelan.

Amora kemudian menarik napas panjang, memandangi cermin kecil di belakang rak. Tatapannya serius sesaat.

“Gimanapun... ini bukan tentang gue. Ini tentang Azka. Dan sekarang, gue harus mainin peran gue sebaik mungkin.”

Anggi menatap Amora dengan bangga. “Lo gila, Mo. Tapi gue salut.”

Amora menepuk pelan tangan Anggi. “Udah, jangan bocor ya. Satu kata aja keluar, tak sumpahin jodoh lo jelek.”

Anggi langsung mengunci bibir dengan jari. “Sumpah, mati rasa dan mulutku ini.”

“Satu hal yang harus lo tahu kalau dokter Damian itu duda, Nggi.”

“WHAT! DUDA?!” Anggi melotot.

“Iya, Nggi. Gue pikir perjaka tua tapi ternyata udah pernah laku. Lo tau, kalau nggak ada dokter Damian, gue bakalan tinggal di kolong jembatan, Nggi. Soalnya rumah bakalan disita. Gue nggak punya pilihan lain selain menyerahkan diri pada dokter Damian. Setelah menerima uang, gue langsung lunasin semuanya, Nggi.”

Anggi menghela, menepuk pundak sahabatnya. “Mor, kalau emang suatu saat nanti jodoh lo beneran dokter Damian, gue ikhlas ngalah, Mor. Gue pengen lihat lo bahagia dan nggak menderita lagi.”

“Sial! Pede amat lo bilang gitu. Berasa dokter Damian milik lo,” kekeh Amora yang disambut suara cekikian Anggi.

“Ya, habis gimana, Mor. Dia nawarnya ke lo, bukan ke gue. Lo bener-bener kayak dapat durian runtuh.”

“Nggi, gue juga nggak nyangka. Lo sendiri tahu, hidup gue serumit apa. Semalam aja bokap gue ke rumah, sok-sokan minta maaf. Tapi, gue usir. Kalau udah nggak pegang duit pasti pasang muka melas dan seolah tobat.”

“Sabar ya, Mor. Gue kalau jadi lo kayaknya gila deh.”

“Kalau nggak ada Azka, gue juga bakalan gila. Nanti pulang kerja gue traktir lo deh. Masih ada sisa uangnya kok.”

“Nggak usah, Mor. Lo sendiri udah ada rencana mau operasi buat Azka kan? Jadi, lo fokus itu aja. Gue mah gampang.”

Amora terharu mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia lalu memeluk erat Anggi. “Lo emang terbaik, Nggi. Tapi, gue tetap traktir kok.”

“Ya udah deh kalau lo maksa,” kekeh Anggi berusaha menghindar dari momen haru tersebut.

Mereka kembali ke aktivitas masing-masing saat pelanggan pertama masuk, tapi ada binar baru di mata Amora—binar keyakinan bahwa hidupnya mulai bergerak ke arah yang berbeda.

1
Suhartini hartini
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!