“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
Mobil hitam yang dikemudikan oleh Pak Surya tampak memasuki halaman rumah dengan laju yang tenang. Di atas balkon lantai dua, Arunika yang baru saja selesai mandi berdiri sambil menikmati secangkir teh hangat, menatap jalan dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Sebentar lagi Nakula pulang sekolah," gumam Arunika riang.
Namun, senyum hangat itu perlahan memudar tatkala pintu mobil terbuka. Sosok yang turun lebih dulu dari kursi penumpang bukanlah bocah kecil yang ia nantikan, melainkan Damar. Bocah itu melangkah masuk dengan santai, bahkan bersenandung kecil sambil menenteng tas sekolah mahalnya.
Arunika mengernyitkan dahi kebingungan. "Lho? Mana Nakula?"
Ia menunggu beberapa detik di ambang pintu balkon. Tak ada siapa pun lagi yang keluar dari mobil. Firasat buruk langsung menghantam dadanya, membuat detak jantungnya berdegup kencang tidak karuan.
Tanpa membuang waktu, Arunika buru-buru menuruni anak tangga dengan langkah cepat.
"Pak Surya!" panggil Arunika tegas.
Pria paruh baya itu baru saja turun dari kursi kemudi dengan wajah yang tampak pucat pasi dan penuh ketakutan. Belum sempat Arunika melontarkan pertanyaannya, Damar lebih dulu menyeringai mengejek.
"Pembawa sial itu belum pulang!" seru Damar seenaknya.
"Apa maksudmu?" hardik Arunika tajam menatap Damar.
Sebelum Damar sempat menjawab, Pak Surya langsung melangkah maju dan menundukkan kepalanya.
"Nyonya... mohon maafkan saya..."
Arunika merasakan darahnya mendidih. "Di mana Nakula sekarang?!"
Pak Surya menggigit bibir bawahnya, suaranya bergetar hebat. "Tuan Muda... masih tertinggal di sekolah, Nyonya."
"Apa?!" Suara Arunika meninggi seketika, menggelegar memenuhi ruang tamu. "Kenapa dia bisa tertinggal di sekolah?!"
Pak Surya memejamkan matanya rapat-rapat.
Beberapa menit sebelumnya, bel tanda jam sekolah berakhir baru saja berbunyi nyaring. Pak Surya berdiri menunggu di depan gerbang utama. Tak lama kemudian, matanya membelalak kaget bukan kepalang.
"Astaga, Tuan Muda!" pekik Pak Surya kaget.
Nakula tampak berjalan tertatih-tatih keluar dari lingkungan sekolah. Seragam putihnya tampak sangat kusut dan kotor. Pelipis sebelah kanannya membiru lebam, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah kering, sementara kedua lututnya penuh dengan luka lecet berdarah.
"Nakula! Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Pak Surya berlari menghampiri dengan panik.
Nakula hanya menunduk dalam-dalam tanpa menatap. "Ayo kita pulang," ucapnya lirih. Ia berjalan pelan menuju pintu mobil seolah rasa sakit di tubuhnya tidak ada apa-apanya.
Namun, baru saja tangan kecilnya menyentuh gagang pintu mobil, suara Damar terdengar dari belakang.
"Tunggu dulu!"
Damar dengan sengaja mendorong pundak Nakula sekuat tenaga hingga tubuh kecil itu langsung terjatuh terduduk.
"Damar! Jangan berbuat kasar!" protes Pak Surya refleks hendak menolong.
Damar langsung menunjuk wajah sang sopir dengan galak. "Jangan berani menyentuh pembawa sial itu! Kalau kau berani menolongnya, aku akan mengadu pada mama kalau kau sudah melawanku!"
Pak Surya membeku di tempat, dihinggapi rasa takut kehilangan pekerjaan.
Damar membuka sendiri pintu belakang mobil. "Lagipula, hari ini aku capek berat. Biar saja anak pungut itu pulang naik ojek sendiri!" ucapnya langsung duduk selonjoran dengan santai di dalam mobil mewah.
Pak Surya menatap Nakula yang masih terduduk, hatinya terasa diiris sembilu.
"Maafkan saya... Tuan Muda..."
Nakula hanya mengangguk pelan pasrah. "Tidak apa-apa, Pak."
Kalimat tabah itu justru membuat dada Pak Surya semakin sesak luar biasa. Mobil akhirnya melaju meninggalkan halaman sekolah. Melalui kaca spion belakang, Pak Surya melihat sosok kecil Nakula masih berdiri seorang diri di bawah terik matahari yang mulai mendung.
Tak lama kemudian, langit berubah gelap gulita dan rintik hujan turun dengan derasnya. Nakula tidak beranjak ke mana-mana, ia hanya memeluk erat tasnya sambil membiarkan air hujan membasahi sekujur tubuh kecilnya yang terluka.
Kembali ke kediaman Wiratama, air mata Pak Surya akhirnya tewas menetes di hadapan Arunika. "Itulah kejadian sebenarnya, Nyonya. Saya benar-benar minta maaf."
Arunika memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik, mencoba meredam badai amarah di dadanya. Saat ia membuka kembali matanya, tatapannya berubah sangat dingin bagaikan es batu.
"Pak Surya," panggil Arunika datar.
"Iya, Nyonya..."
"Aku hanya ingin memberimu satu pertanyaan sederhana. Kenapa kau tega meninggalkan Nakula sendirian di sana?"
Pak Surya gemetar ketakutan. "Saya... saya diancam oleh Tuan Damar, Nyonya."
"Lalu?"
"Saya takut dipecat dan kehilangan pekerjaan ini."
Arunika tersenyum tipis. Sebuah senyuman miris yang justru membuat bulu kuduk semua pelayan yang mendengarnya meremang seketika.
"Berarti kau lebih memilih mempertahankan pekerjaan daripada menyelamatkan keselamatan seorang anak kecil yang sudah dipercayakan penuh menjadi tanggung jawabmu?"
Pak Surya langsung menjatuhkan diri, berlutut di lantai.
"Nyonya, saya khilaf! Saya mohon berikan saya satu kesempatan lagi!"
Arunika menggelengkan kepalanya perlahan, ketegasannya mutlak tak tergoyahkan.
"Tidak, Pak Surya. Seorang manusia yang tega meninggalkan anak kecil sendirian di jalanan dalam keadaan terluka parah dan kehujanan sama sekali tidak pantas bekerja di rumah ini."
Pak Surya menangis sesenggukan. "Nyonya, tolong maafkan saya, saya masih punya anak istri yang harus diberi nafkah..."
Arunika menarik napas panjang.
"Justru karena kau seorang ayah... Kau seharusnya paling tahu dan paham bagaimana rasanya melihat seorang anak dibiarkan terlantar di tengah hujan. Mulai detik ini, aku resmi memberhentikan mu dari rumah ini. Silakan ambil hak gaji mu di bagian keuangan. Tapi setelah itu, jangan pernah menginjakkan kaki lagi di sini."
Pak Surya menunduk dalam, wajahnya dipenuhi penyesalan yang terlambat.
"Baiklah, Nyonya... saya terima keputusan ini."
Arunika langsung menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Tanpa memedulikan derasnya hujan badai yang masih mengamuk di luar sana, ia berlari kencang menuju garasi.
Di dalam benaknya saat itu hanya ada satu nama. Nakula harus segera ditemukan. Dan siapa pun bajingan yang berani membuat putra sambungnya babak belur seperti itu, bersiaplah menghadapi kemurkaan mutlak seorang Arunika.
"Tunggu mama, Nakula."