Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 34
Hari-hari berikutnya di kantor Angkasa Group berubah menjadi medan pertempuran bisu yang manis sekaligus membingungkan bagi Senja.
Setiap pagi, sebelum kubikel kerja lantai dasar ramai oleh lalu lalang karyawan, meja kerja Senja selalu dihiasi oleh kejutan baru. Tidak pernah absen. Selalu ada setangkai bunga segar dengan jenis yang berbeda-beda, kudapan manis atau minuman hangat kesukaannya, serta barang-barang kecil namun sangat berguna untuk menunjang pekerjaannya, mulai dari fountain pen terukir nama Senja, desk organizer kulit premium, hingga bantalan kursi ergonomis yang membuat punggungnya nyaman seharian.
Pagi itu, Senja mendapati segelas matcha latte hangat, sekotak macaron warna-warni dari toko kue ternama, dan setangkai bunga baby’s breath yang anggun. Di dekatnya, tergeletak sebuah kotak beludru kecil berisi pemotong kertas berlapis emas.
Anggi yang baru saja meletakkan tasnya di kubikel sebelah langsung melotot. Ia melempar pandangan iri sekaligus gemas pada meja Senja.
"Gila, Senja! Ini hari kelima berturut-turut!" seru Anggi seraya mendekat dan mencium aroma macaron yang menggoda.
"Kemarin croissant dan peony, sekarang matcha sama macaron premium. Siapa sih pengagum rahasiamu ini? Jangan-jangan bos besar kita?"
Senja hanya menghela napas pelan, mengusap cangkir matcha yang masih berasap tipis. Ia mengambil kartu ucapan kecil bersampul krem yang selalu menyertai hantaran tersebut. Tulisan tangan di atasnya begitu tegas, rapi, dan elegan.
'Manisnya macaron ini tidak akan pernah sepadan dengan cara anggunmu membungkam lawan kemarin. Istirahatlah sejenak di tengah deadline.'
"Bukan siapa-siapa, Gi," gumam Senja mencoba bersikap biasa, walau dadanya mendadak berdesir aneh.
Ia mengenali pola dan aura dari setiap kalimat singkat yang tertulis di kartu-kartu itu. Siapa lagi yang punya akses masuk ke area kantor sebelum jam kerja dan tahu persis kebiasaannya kalau bukan Angkasa?
"Masa bukan siapa-siapa?" goda Anggi seraya menyenggol bahu Senja.
"Lihat tuh, kualitas barangnya bukan kaleng-kaleng. Dan anehnya ya, setiap kali ada barang ini datang, gosip miring tentang kamu mendadak hilang ditelan bumi. Dua karyawan yang kemarin ditunggangi si Lyra buat nyebar gosip juga mendadak dipecat kemarin sore! Kamu sadar nggak sih ada 'tangan besi' yang lagi melindungimu?"
Senja memiringkan kepalanya, jemarinya meremas pelan kartu ucapan di tangannya. Tentu saja ia sadar. Angkasa sedang memainkan perannya dengan sangat halus namun dominan. Pria itu tidak memaksakan kehadiran secara fisik di hadapannya, tetapi mengisi setiap sudut hari-hari Senja dengan perhatian yang tak bisa diabaikan.
"Sudah, Anggi, kembali ke kerjamu. Laporan divisi kita harus masuk sebelum jam makan siang," elak Senja halus, menyembunyikan getaran di suaranya.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Siang harinya, saat Senja berjalan menyusuri lorong menuju ruang arsip di lantai eksekutif untuk mengambil dokumen lama, pintu lift terbuka. Langkah Senja terhenti seketika. Di dalam lift, berdiri Angkasa sendirian. Pria itu mengenakan kemeja charcoal yang digulung hingga siku, memancarkan pesona dingin namun teramat memikat.
Mata gelap Angkasa menatap Senja lurus. Pria itu menahan pintu lift agar tetap terbuka.
"Masuk, Senja," perintah Angkasa, suaranya berat dan bernada tak bantah.
Senja ragu sejenak, namun melihat tak ada orang lain di sekitar lorong, ia akhirnya melangkah masuk. Pintu lift tertutup rapat, menyisakan jarak setengah meter di antara mereka dan aroma parfum kayu cendana khas Angkasa yang langsung memenuhi ruangan sempit itu.
"Terima kasih untuk bunga dan kudapannya, Pak Angkasa," ujar Senja membuka suara, tetap menjaga formalitas dan nada bicaranya yang datar.
"Tapi Anda tidak perlu melakukan ini setiap hari. Ini berlebihan dan bisa memicu rumor baru di kantor."
Angkasa memutar tubuhnya sedikit, bersandar pada dinding lift dan menatap Senja dengan senyum tipis yang sarat akan ketegasan.
"Berlebihan?" tanya Angkasa santai, menaikkan sebelah alisnya.
"Aku hanya memastikan staf terbaikku sekaligus calon istriku mendapatkan nutrisi dan kenyamanan yang cukup untuk bekerja. Apa ada yang salah dengan itu?"
"Pak Angkasa," Senja menghembuskan napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu tanpa rasa gentar.
"Saya menghargai semua perhatian Anda. Tapi jika Anda melakukan ini untuk membuat saya luluh atau langsung percaya pada Anda setelah semua karma dan intrik yang terjadi, Anda salah. Hati Saya tidak seinstan itu."
Dada Angkasa berdesir melihat tatapan berani dan ketenangan gadis di hadapannya. Bukannya marah, rasa kagum di matanya justru makin membara. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Senja dapat merasakan dorongan hawa hangat dari tubuh pria itu.
"Aku tahu, Senja," bisik Angkasa rendah, tatapannya mengunci Senja sepenuhnya.
"Aku tidak pernah berpikir bisa membelimu atau memenangkan hatimu hanya dengan seikat bunga atau sekotak kue."
"Lalu kenapa Anda melakukannya setiap hari?" tantang Senja, dadanya naik turun menahan debar yang mendadak liar.
"Karena aku ingin kamu tahu satu hal," Angkasa menundukkan kepalanya sedikit, merendahkan suaranya hingga hanya menjadi bisikan intim yang bergetar di telinga Senja. Hal itu membuat debaran di dada Senja semakin kencang.
"Bahwa di gedung ini, di mana pun kamu berdiri, ada aku yang selalu mendukungmu dari belakang. Kamu boleh belum percaya padaku hari ini, besok, atau lusa. Tapi aku punya seluruh waktu di dunia untuk membuktikannya padamu."
Senja terpaku. Kalimat itu diucapkan tanpa keraguan sedikit pun, begitu lugas, jujur, dan penuh dominasi yang melindungi. Untuk sejenak, pertahanan benteng yang dibangun Senja di sekeliling hatinya terasa terguncang.
Ting!
Suara denting lift yang menandakan mereka tiba di lantai tujuan memecah ketegangan di antara keduanya. Pintu berlapis kaca itu terbuka perlahan.
Angkasa mundur satu langkah, kembali menyunggingkan senyum tipis yang sangat menawan. Ia memberi isyarat dengan tangannya agar Senja melangkah keluar lebih dulu.
"Nikmati matchamu, Senja. Dan jangan lupa makan siang," ucap Angkasa lembut, kembali ke mode bos eksekutifnya yang tenang.
Senja menatap Angkasa sejenak, mencoba menetralkan raut wajahnya yang mulai menghangat. Ia mengangguk singkat.
"Terima kasih, Pak Angkasa."
Saat Senja melangkah keluar dari lift dengan langkah tegap, ia menyentuh dadanya yang berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Senja tahu, Angkasa bukan sekedar pria biasa yang sedang mengejar cinta. Pria itu adalah badai tenang yang perlahan-lahan merobohkan seluruh ketakutannya, mengajarkannya bahwa kali ini, ia tidak lagi berjuang sendirian.
selamat ya angkasa raya n senja atas kelahiran baby boy nya, selamat menjadi ortu baru🥰🥰🥰