Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Paman Abu
Kuil tua itu berdiri di ujung gang buntu, di balik tembok batu yang separuhnya sudah roboh. Atapnya masih ada, tetapi genting-gentingnya berlubang, dan di tengah ruangan utama berdiri sebuah altar batu tanpa patung. Sebelas anak duduk berkelompok di sudut yang kering, memakai pakaian tambalan dan menatap empat orang asing yang masuk dengan mata waspada.
"Ini kakak-kakak yang kuceritakan," kata Ye Ran sambil berdiri di depan Jian Chen. "Mereka baik."
"Kau yakin?" tanya seorang anak perempuan yang lebih tua, mungkin tiga belas tahun, dengan rambut dikepang dua.
"Mereka membelikanku bakpao."
"Itu tidak membuktikan apa-apa."
"Itu membuktikan Tan Fu bisa dipercaya," sahut Tan Fu sambil mengangkat kantong besar berisi roti. "Siapa mau sarapan?"
Anak-anak itu ragu sebentar, lalu satu per satu mendekat. Dalam beberapa saat ruangan dipenuhi bunyi kunyahan dan bisik-bisik. Jian Chen berdiri di dekat pintu, mengamati langit-langit dan tiang-tiang kuil. Matanya berhenti pada satu balok besar yang melintang di atas altar, retak di tengah dan bergelantungan sedikit ke bawah.
"Dao," katanya pelan.
"Aku lihat," jawab Dao tanpa menoleh. "Balok itu hampir jatuh."
"Berapa berat?"
"Cukup untuk meratakan dua orang kalau jatuh tepat."
"Tali?"
Dao mengangguk dan mengeluarkan gulungan tali rami dari ikat pinggangnya. Tanpa suara, ia memanjat ke atas tumpukan batu di samping dinding, mengikatkan ujung tali pada ujung balok, dan menurunkan sisanya ke dekat pintu. Jian Chen menyembunyikan ujung tali itu di bawah selembar kain bekas.
"Lin Xue," katanya.
"Sudah," jawab Lin Xue. Ia berdiri di sudut dengan kantong bubuk di tangan. "Satu hembusan, lima tarikan napas, dua orang tidur."
"Hanya jika mereka menghirupnya."
"Mereka akan menghirupnya. Orang selalu bernapas saat bicara."
Matahari baru naik di atas tembok ketika suara langkah terdengar di gang. Tiga orang masuk melalui pintu kuil yang separuh terbuka. Di depan berjalan sosok tinggi berjubah abu-abu dengan tudung menutupi wajah, tangan terlipat di dalam lengan baju. Di belakangnya dua pria bertubuh besar, kulit gelap dan mata datar, masing-masing membawa tongkat pendek.
"Selamat pagi, anak-anak," kata sosok berjubah itu. Suaranya lembut dan hangat, seperti seorang paman yang menyayangi keponakan. "Aku membawa kereta. Siapa yang sudah siap berangkat?"
Anak-anak berhenti mengunyah. Beberapa mundur selangkah. Ye Ran menarik ujung baju Jian Chen.
"Paman Abu," kata Jian Chen sambil melangkah maju. "Pagi yang bagus."
Sosok berjubah itu menoleh pelan. Di balik tudung, mata gelapnya bergerak dari wajah Jian Chen ke Dao, Lin Xue, dan Tan Fu, lalu kembali ke Jian Chen. "Aku tidak mengenalmu, anak muda."
"Aku murid Sekte Pedang Fajar. Namaku Jian Chen."
"Murid sekte." Nada Paman Abu tidak berubah, tetapi ada sesuatu yang lebih tajam di bawahnya. "Apa urusanmu dengan anak-anak ini?"
"Mereka kelaparan. Aku membawakan makanan."
"Itu perbuatan baik." Paman Abu tersenyum, dan senyum itu terdengar dari suaranya. "Tapi mereka tidak perlu lagi kelaparan. Aku punya rumah di gunung dengan makanan tiga kali sehari."
"Di gunung mana?"
"Gunung yang jauh."
"Nama gunungnya?"
"Itu tidak penting."
"Bagi anak-anak ini, penting," kata Jian Chen. "Dua anak dari kuil ini sudah ikut bulan lalu. Mereka tidak pernah mengirim surat."
Hening. Salah satu pria besar di belakang Paman Abu menggeser tongkatnya. Paman Abu mengangkat tangan kirinya sedikit, dan pria itu berhenti.
"Kau banyak tahu untuk anak seusiamu," kata Paman Abu pelan. "Tapi kau salah paham. Dua anak itu sedang belajar di sekolah. Mereka tidak sempat menulis."
"Aku tidak percaya."
"Kau tidak harus percaya." Paman Abu melangkah maju satu langkah. "Tapi aku harus memberi tahu bahwa anak-anak ini bukan urusanmu. Mereka yatim. Siapa pun boleh membawanya."
"Kalau begitu aku yang membawa mereka."
"Kau?" Paman Abu tertawa kecil. "Murid luar dengan pakaian pinjaman? Membawa sebelas anak? Dengan apa?"
"Dengan niat baik," jawab Jian Chen. "Dan dengan teman-temanku."
Paman Abu berhenti tertawa. "Kalau begitu aku harus meminta kau minggir."
"Tidak."
"Hajar dia," kata Paman Abu datar.
Dua pria besar itu maju serempak, tongkat terangkat. Lin Xue meniupkan bubuk dari telapak tangannya, kabut kuning tipis menyebar di antara mereka. Pria pertama terhuyung, menggeleng, lalu jatuh berlutut dengan mata berkaca. Pria kedua menahan napas dan menerjang ke arah Lin Xue, tetapi Dao melompat dari samping dan menghantamkan bahunya ke dada pria itu. Terdengar bunyi seperti dua karung batu bertabrakan. Mereka berguling ke lantai.
"Jian Chen!" teriak Dao. "Sekarang!"
Jian Chen menarik tali dengan seluruh berat badannya. Tali itu mengencang, ujungnya tersentak, dan balok retak di atas altar akhirnya patah dengan bunyi gemuruh. Balok itu jatuh, menghantam altar batu, dan meledakkan debu ke seluruh ruangan. Pria yang sedang bergulat dengan Dao dan pria yang tertidur oleh bubuk keduanya tertimpa serpihan kayu, meski tidak sampai terluka parah. Mereka terkapar tak sadarkan diri.
Debu menutupi segalanya. Anak-anak menjerit, dan Tan Fu berteriak, "Jangan lari! Duduk! Aku bawa roti!"
Ketika debu mulai turun, Paman Abu masih berdiri di tempat yang sama, tidak bergerak, tangan di dalam lengan baju, jubah abu-abunya hanya sedikit berdebu. Ia menatap balok yang jatuh, lalu dua pria di lantai, lalu Jian Chen.
"Menarik," katanya. Suaranya tetap lembut. "Kau memilih kuil ini karena balok itu."
"Aku memilihnya karena anak-anak ada di sini."
"Dan balok itu kebetulan menjadi senjata." Paman Abu menggeleng. "Aku tidak percaya kebetulan. Kau sudah tahu sebelum aku datang."
Jian Chen tidak menjawab.
"Kau menarik, Jian Chen dari Sekte Pedang Fajar." Paman Abu berbalik pelan menuju pintu. "Hari ini cukup. Aku tidak suka kekerasan di depan anak-anak."
"Kau tidak akan datang lagi?"
"Oh, aku akan datang lagi." Paman Abu berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. Di balik tudung, senyumnya hampir terlihat. "Tapi bukan ke kuil ini. Aku datang untuk anak itu." Ia menunjuk dengan dagu ke arah Ye Ran. "Simpan koinnya baik-baik, Nak. Kami akan menemukanmu, di mana pun kau berada."
Ye Ran menggigil dan bersembunyi di balik Jian Chen. Paman Abu keluar dan menghilang di gang.
Kuil menjadi sunyi. Dao terduduk di lantai sambil memegang bahunya, napasnya berat. Lin Xue menyeka debu dari wajahnya. Tan Fu masih memegang kantong roti dengan tangan gemetar.
"Dia tidak melawan," kata Dao. "Padahal aku yakin dia lebih kuat dari kita semua."
"Ya," jawab Jian Chen. Ia memandangi pintu kosong itu. "Dan itu yang membuatku takut."