NovelToon NovelToon
OUR WEDDING CONTRACT

OUR WEDDING CONTRACT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fio Purple

Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.

Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.

Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.

Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?


Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 19. TRAGEDI MANSION BERDARAH!

 Pagi yang seharusnya tenang di mansion Vellano berubah menjadi mimpi buruk.

Jam baru menunjukkan pukul enam ketika sebuah teriakan histeris memecah keheningan.

“TUAN! TUAN VELLANO!”

Suara salah satu maid terdengar gemetar dari lantai bawah.

Beberapa penghuni mansion segera berhamburan keluar kamar. Vellano muncul paling depan, masih mengenakan pakaian tidurnya. Alessia menyusul beberapa langkah di belakang.

“Ada apa?” tanya Vellano tajam.

Namun maid itu hanya menunjuk ke arah pintu utama sambil gemetar hebat.

Di dekat gerbang mansion, salah satu dari tiga penjaga keamanan ditemukan telah tewas. Tubuhnya tergeletak tak jauh dari pos penjagaan, sementara darah terlihat di sekitar kepalanya. Dari posisi lukanya, semuanya tampak seperti serangan dari jarak jauh.

Alessia langsung menutup mulut.

“Ya Tuhan…”

Vellano terdiam.

Wajahnya yang biasanya tenang berubah keras.

Ia segera menarik Alessia agar berada di belakangnya.

“Jangan mendekat.”

Alessia mengangguk, meski tubuhnya mulai gemetar.

Seorang penjaga lain berlari menghampiri.

“Tuan, kami tidak mendengar suara tembakan.”

“Periksa seluruh CCTV. Sekarang!” bentak Vellano.

Namun sebelum para penjaga bergerak, mata Vellano menangkap sesuatu di lantai.

Selembar kertas.

Ia mengambilnya dengan sarung tangan yang diberikan salah satu petugas keamanan.

Tulisan di atasnya hanya terdiri dari satu kalimat:

“Aku akan segera membongkar semuanya. Jadi nikmati hari terakhir kalian untuk bahagia.”

Suasana mendadak membeku.

Alessia membaca tulisan itu dari balik bahu Vellano.

Wajahnya pucat.

“Vellano…”

Pria itu mengepalkan tangannya.

Beberapa hari terakhir mereka akhirnya merasakan sesuatu yang hampir menyerupai kehidupan rumah tangga normal. Makan malam bersama, ciuman yang membuat mereka salah tingkah, bahkan hadiah berlian yang baru saja diberikan Vellano kemarin.

Sekarang semuanya terasa seperti direnggut kembali.

“Siapa yang melakukan ini?” bisik Alessia.

Vellano tidak menjawab.

Ia justru menatap jauh melewati gerbang mansion, matanya menyapu pepohonan dan bangunan di kejauhan.

Seseorang telah menyerang rumahnya.

Seseorang yang mengetahui mereka.

Dan yang paling membuatnya marah, orang itu tahu persis bagaimana cara menghancurkan ketenangan yang baru saja mereka bangun.

Vellano menggenggam tangan Alessia erat.

“Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar sendirian.”

Alessia menatapnya.

Untuk pertama kalinya pagi itu, ia melihat sesuatu yang jarang muncul di mata suaminya.

Bukan sekadar kemarahan.

Ketakutan.

Vellano takut kehilangan sesuatu yang ternyata baru saja ia sadari sangat berharga baginya.

......................

Setelah kejadian mengerikan pagi itu, suasana mansion masih jauh dari biasanya. Polisi dan tim keamanan internal masih memeriksa area sekitar, sementara pesan ancaman tadi terus terngiang di kepala Alessia.

Vellano segera mengambil ponselnya.

“Maxime, batalkan semua agenda yang tidak penting. Tambahkan penjagaan di mansion.”

“Baik, Tuan.”

“Dan aku mau beberapa CCTV tambahan dipasang hari ini. Jangan ada sudut yang tidak terpantau.”

Alessia yang mendengar percakapan itu langsung menyela.

“Aku ikut ke kantor.”

Vellano menoleh tajam. “Tidak.”

“Aku ada jadwal balapan hari ini.”

“Jadwal itu dibatalkan.”

“Tidak bisa!”

“Bisa.”

Perdebatan pun kembali pecah.

Alessia berdiri dengan tangan bersilang, wajahnya keras kepala.

“Aku bukan tahanan.”

“Dan aku tidak mau menemukanmu tergeletak seperti penjaga tadi.”

Kalimat itu membuat Alessia terdiam sesaat.

Namun hanya sesaat.

“Aku tetap pergi.”

Vellano menghela napas panjang. “Alessia.”

Tatapannya membuat Alessia akhirnya menyerah—atau setidaknya berpura-pura menyerah.

“Baik. Aku di rumah.”

Vellano mengamatinya curiga. “Serius?”

Alessia tersenyum manis. Terlalu manis.

“Serius.”

Maxime yang berdiri di dekat pintu bahkan langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Setelah Vellano berangkat ke kantor, penjagaan mansion ditingkatkan. Beberapa petugas keamanan tambahan ditempatkan di sekitar halaman dan gerbang. CCTV baru dipasang untuk menutupi area yang sebelumnya tidak terjangkau kamera.

Vellano juga memberi instruksi terakhir melalui telepon.

“Maxime, panggil ahli keamanan. Aku ingin kaca anti-peluru dipasang di seluruh titik penting mansion.”

“Seluruh mansion, Tuan?”

“Seluruhnya.”

Sementara itu, dari balkon lantai atas, Alessia memperhatikan para pekerja memasang sistem keamanan baru.

Wajahnya tampak tenang.

Namun di dalam pikirannya, satu hal sudah jelas.

Ia memang berkata akan tinggal di rumah.

Tapi bukan berarti ia akan benar-benar menurut.

......................

Mansion masih dipenuhi penjaga tambahan ketika sore mulai turun. Setelah kejadian pagi tadi, semua orang tampak lebih waspada. Alessia sendiri terlihat tenang di kamar, seolah benar-benar menerima perintah Vellano.

Namun kenyataannya, ia sedang menunggu kesempatan.

Begitu pergantian petugas keamanan berlangsung, Alessia mengambil jaket hitam dan kunci motor kesayangannya. Ia turun melalui tangga belakang, melewati koridor yang jarang digunakan, lalu berhenti ketika mendengar langkah kaki.

Diam.

Tak ada siapa-siapa.

Alessia kemudian membuka pintu samping dan menemukan motornya terparkir di tempat biasa.

Ia tidak langsung menyalakan mesin.

Sebaliknya, ia mendorong motor itu perlahan menjauh dari mansion. Setiap roda yang bergerak terasa seperti bom waktu. Bahkan ketika sebuah ranting patah di bawah sepatunya, Alessia langsung membeku.

“Jangan sekarang…”

Setelah cukup jauh dari bangunan, barulah ia menyalakan mesin dan melaju.

Namun ia tidak menuju sirkuit.

Ada tempat lain yang harus didatanginya.

Sebuah kafe di pusat kota.

Beberapa jam sebelumnya, Alessia menerima pesan misterius dari nomor tak dikenal.

“Kalau ingin tahu siapa yang sebenarnya berada di balik semua ini, datang sendiri. Kafe itu. Jangan beri tahu siapa pun.”

Pesan tersebut tidak memiliki nama.

Tidak ada penjelasan.

Hanya sebuah alamat.

Alessia tahu itu bisa saja jebakan. Bahkan sangat mungkin.

Tetapi sejak membaca pesan itu, pikirannya tidak pernah tenang.

Ia juga tahu Vellano pasti akan marah besar jika mengetahui dirinya pergi sendirian.

Namun ada sesuatu yang lebih kuat daripada rasa takut dimarahi.

Ia tidak ingin Vellano menghadapi semuanya seorang diri.

“Kalau memang ini ada hubungannya denganku…” gumamnya sambil mempercepat motor, “aku harus tahu.”

Angin sore menerpa wajahnya.

Sementara di mansion, tidak seorang pun menyadari bahwa perempuan yang seharusnya berada di kamar itu sudah menghilang.

Dan untuk pertama kalinya sejak ancaman tersebut muncul, Alessia bergerak tanpa perlindungan suaminya.

Tanpa pengawalan.

Tanpa izin.

Hanya dengan sebuah pesan misterius dan keberanian yang bahkan ia sendiri mulai ragukan.

......................

 Alessia tiba di kafe beberapa menit kemudian. Ia memarkir motornya agak jauh, lalu masuk dengan langkah tenang, meski jantungnya berdegup keras.

Begitu sampai di meja yang disebutkan dalam pesan, langkahnya terhenti.

Alessia hampir saja berbalik.

Sosok yang duduk santai di sana adalah seseorang yang sangat ia kenal.....

...****************...

 Penasaran kan ? Sama author juga😁

1
Verawati Naycyl
penasaran nich thor.....Axel kamu blak blak abis..karen sampai malu tuch🤣🤣
Rho Fioca Purple: Wkwkwk,sabar ya kak Nanti ada part khusus untuk Axel dan Karen.Pantengin terus ya kak😁
total 2 replies
Verawati Naycyl
itu pasti vellano dan Axel...
Verawati Naycyl
lanjut thor
Enz99
Bagus
Rho Fioca Purple: Trimakasih kak🥰
total 1 replies
Rho Fioca Purple
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!