NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:142.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Udara dingin lereng Gunung Welirang menyusup perlahan melalui celah jendela jati yang terbuka sedikit di lantai dua ndalem. Mojokerto bagian selatan—khususnya kawasan Pacet yang dikepung pepohonan pinus dan kabut tipis—selalu punya cara sendiri menciptakan kesunyian. Jam dinding kuno di lorong utama baru saja berdenting lima kali, namun geliat kehidupan di Pesantren Al-Anwar sudah terasa hangat sejak sebelum azan subuh berkumandang.

Adskhania Nayara Malik merapatkan selendang kasmir berwarna krem yang membalut bahunya. Jemarinya yang lentik menyusun lembaran catatan konseling di atas meja kerja kayu jati yang tertata rapi. Di usia dua puluh lima tahun, perempuan yang akrab disapa Ning Naya itu memikul tanggung jawab yang tidak sederhana. Selain mengajar kitab-kitab dasar keperempuanan dan menjadi kepala pengasuh santriwati, ia membuka ruang konsultasi psikologi gratis di area komplek putri.

Gelar S1 Psikologi yang diraihnya dengan predikat cum laude tiga tahun lalu tidak lenyap sia-sia. Meski impian besarnya menempuh pendidikan spesialis psikiatri harus dikubur dalam-dalam demi menerima pinangan keluarga Al-Anwar, Naya memilih menyalurkan ilmunya di sini. Bagi ribuan santriwati yang tinggal jauh dari orang tua, kehadiran Ning Naya bagaikan oase. Ia bukan sekadar istri dari putra mahkota pesantren, melainkan sosok kakak, pengayom, sekaligus pendengar yang bijak.

"Ning Naya," sebuah ketukan halus terdengar di pintu kayu ruang sekretariat putri yang setengah terbuka.

Naya menoleh, mengulas senyum tipis yang seketika menghangatkan suasana. "Iya, Mbak Salma. Masuk saja."

Salma, salah satu pengurus senior santriwati, melangkah canggung sambil membawa dua map berukuran tebal. "Ini berkas evaluasi program kemandirian santri bulan ini, Ning. Sama ada jadwal piket baru untuk dapur umum komplek timur. Pengurus minta arahan Ning Naya dulu sebelum ditempel di papan pengumuman."

Naya menerima map tersebut, mengamatinya lembar demi lembar dengan cermat. Matanya yang jernih memancarkan ketelitian khas seorang akademisi.

"Untuk jadwal dapur, pastikan santri kelas akhir tidak mendapat giliran memasak di atas jam delapan malam, Mbak. Mereka butuh waktu istirahat yang cukup sebelum pendalaman materi kitab kuning besok harinya."

"Baik, Ning. Nanti langsung saya perbaiki," jawab Salma patuh. Matanya memandang Naya dengan binar penuh kekaguman. "Oh ya, Ning... tadi Umi Khadijah pesan, setelah urusan di sekretariat selesai, Ning Naya diminta ke dapur ndalem. Ada titipan olahan bandeng tanpa duri dari alumni Sidoarjo, Umi mau masak bareng Ning Naya untuk menu makan siang Gus Reyhan."

Mendengar nama suaminya disebut, dadanya berdesir pelan—sebuah desiran halus yang membawa campuran antara rasa hormat dan rasa hampa yang samar.

"Iya, Mbak. Sebentar lagi saya ke sana," sahut Naya lembut, menyembunyikan getar tipis di dadanya.

Setelah Salma pamit, Naya merapikan tumpukan kertas di mejanya. Ia berdiri, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke halaman dalam pesantren putri.

Dari ketinggian ini, ia bisa melihat deretan santriwati berjalan beriringan membawa kitab dengan mukena tersemat di bahu. Suasana pesantren di daerah dingin seperti ini selalu terasa magis dan menentramkan. Namun di balik kedamaian yang tampak di permukaan, ada sudut sunyi di hati Naya yang tak pernah tersentuh sejak tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu.

Tepat hari ini, usia pernikahannya dengan Gus Muhammad Reyhan Al-Fatih genap satu tahun.

Perjodohan itu diikat sejak Naya masih menjadi santri cilik yang menangis di sudut perpustakaan karena rindu rumah. Kyai Ahmad dan Bu Nyai Khadijah sudah lama mengagumi ketenangan jiwa dan kecerdasan Naya. Bagi beliau berdua, Naya adalah sosok paling ideal untuk mendampingi putra tunggal mereka yang baru saja menyelesaikan studi master Ilmu Tafsir di Universitas Al-Azhar, Kairo.

Secara kasat mata, mereka adalah pasangan yang sempurna. Gus Reyhan—dengan wibawa, ketampanan, dan keilmuan yang mumpuni—sangat dihormati oleh masyarakat Mojokerto dan sekitarnya. Sementara Naya, dengan keanggunan, tutur kata yang santun, serta keahliannya memahami jiwa manusia, menjadi pelengkap yang dicintai seluruh penghuni Al-Anwar.

Namun, hanya Naya yang tahu pasti betapa dinginnya ruang pribadi yang mereka huni bersama.

**

Siang itu, kabut tipis mulai turun merayapi pelataran ndalem. Udara semakin menggigit, membuat uap dingin membumbung halus setiap kali napas diembuskan. Naya berjalan menelusuri lorong penghubung antara gedung sekretariat dan ndalem utama. Di area dapur, Bu Nyai Khadijah tengah sibuk bersama dua abdi dalem.

"Naya, sini Nak," panggil Bu Nyai Khadijah begitu menyadari kehadiran menantunya. Wajah sepuh yang menyejukkan itu mengulas senyum penuh kasih sayang. "Umi sudah minta Mbak Zaenab siapkan bumbu balado kesukaan Reyhan. Kamu yang menumis ya? Sentuhan tangan istri itu selalu beda rasanya."

Naya mendekat, mencium punggung tangan mertuanya dengan khidmat. "Nggih, Umi. Mumpung Gus Reyhan hari ini tidak ada jadwal ngaji wetonan di luar, Naya persiapkan makan siangnya."

"Anak itu memang terlalu sibuk," gumam Bu Nyai Khadijah seraya mengelus kepala Naya yang terbalut jilbab instan bergo. Ada selapis rasa bersalah dalam tatapan mata sang mertua.

"Umi tahu, Reyhan kadang terlalu kaku dan terlalu fokus pada urusan kitab sampai sering mengabaikanmu. Tapi percayalah, Naya... Reyhan itu sayang padamu. Dia hanya belum pandai mengekspresikannya."

Naya hanya tersenyum tipis, menunduk menusukkan mata pisau ke bahan masakan. Ia tak sanggup membantah, tak juga ingin berbohong.

Sebagai lulusan psikologi, Naya selalu mencoba menganalisis dan memahami. Selama satu tahun tidur di atas ranjang yang sama—terpisahkan oleh bentang jarak tak kasat mata—Reyhan tak pernah sekalipun menyentuhnya sebagai seorang suami. Setiap kali Naya mencoba mendekat secara emosional, pria itu akan menghindar secara halus namun berjarak.

"Maafkan saya, Naya. Hati dan jiwa saya masih membutuhkan penyucian spiritual setelah kembali dari Timur Tengah. Saya belum siap memberikan nafkah lahir batin secara utuh sebelum batin saya benar-benar tertata," demikian alasan yang selalu diucapkan Reyhan dengan nada tenang, berwibawa, dan tak terbentahkan.

Awalnya, Naya percaya. Ia mengira suaminya mengalami burnout akademik, atau trauma spiritual atas beban besar sebagai calon pengasuh tunggal Al-Anwar. Naya bersabar. Ia merawat kebutuhan harian Reyhan dengan penuh pengabdian, menyiapkan pakaian sarung yang rapi, menyeduh teh kapulaga hangat setiap malam, dan mendoakan pria itu di sepertiga malamnya. Naya menahan hasrat alaminya sebagai wanita yang ingin dicintai dan disentuh, demi menghormati 'proses penyucian' sang suami.

"Naya?" teguran lembut Bu Nyai memecah lamunannya. "Kenapa melamun, Nak? Minyaknya sudah panas."

"Ah, nggih, Umi. Maaf," jawab Naya sigap, langsung memasukkan bumbu halus ke dalam wajan. Aroma harum rempah seketika memenuhi dapur ndalem yang hangat.

Sore harinya, hujan gerimis mengguyur Pacet. Bunyi titik-titik air yang menimpa atap genteng tanah liat menciptakan irama monoton yang menenangkan. Naya baru saja selesai membimbing sepuluh santriwati tingkat akhir mengenai manajemen stres menjelang ujian akhir madrasah.

Langkah kakinya membawa Naya kembali ke kamar utama di lantai dua ndalem. Hari sudah hampir magrib. Biasanya, Reyhan akan berada di kamar untuk bersiap-siap memimpin salat berjamaah di masjid utama. Namun sore ini, kamar berukuran luas yang beraroma kayu cendana itu tampak lengang.

Tas kerja dan jubah luar milik Reyhan tergeletak di atas meja bundar dekat balkon. Pria itu tampaknya sedang mandi di kamar mandi dalam.

Naya melangkah mendekati meja kerja suaminya. Niat awalnya sangat sederhana: mengambil jubah bersih yang baru ia setrika siang tadi untuk disiapkan di atas ranjang. Namun, saat tangannya hendak mengambil jubah Reyhan, ujung selendangnya tersangkut pada tas kulit milik pria itu hingga membuatnya bergeser.

Sebuah kunci kuningan berukuran kecil terjatuh dari selipan dalam tas kulit tersebut, mendarat dengan bunyi denting halus di atas lantai kayu.

Naya berjongkok mengambil kunci itu. Matanya lantas tertuju pada sebuah kotak kayu jati berukir yang selalu terkunci rapat di rak buku paling bawah—kotak yang selama ini diakui Reyhan berisi dokumen-dokumen penting terkait ijazah sanad keilmuannya dari Kairo.

Entah mengapa, jemari Naya mendadak bergetar tipis. Intuisi seorang wanita—atau mungkin naluri psikologis yang selama ini ia tekan demi azas prasangka baik—mendadak berbisik nyaring di dalam dadanya. Ada jeda beberapa detik di mana Naya menahan napas. Udara kamar yang dingin mendadak terasa begitu menyesakkan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar namun gerakan yang mantap, Naya mendekati rak buku tersebut. Ia memasukkan kunci kuningan ke dalam lubang kunci kotak jati.

Klik.

***

1
Shinta Syawal
mana bab selanjutnya
enungdedy
heleh...gak jelas nih si reyhan
klo gk cinta knp gk dilepas aja sekalian rani
malah dijemput sruh kembali..kesenengan kan tuh sih rani jadinya..
enungdedy
trus hub rani sm reyhan gmn tuh?msih sah suami istti belum?krn rani pergi tnpa ada kata talak dri reyhan
enungdedy
knp gk dilepasin aja sih rani klo emg gak cinta gus
Anonim
Baper aku
enungdedy
kpn gak ditalak aja si rani klo emg reyhan mau mempertahannkan naya
enungdedy
dri kmrin maju mundur mau baca novel.ini..gk taunya bagus bgt🤭
Mundri Astuti
klo ibarat kata...si Rayhan jiwa" playboy, nah klo zeyad laki" sejati
Agnezz
btw knapa judul2 bab dihilangkan? padahal memudahkan untuk ingin membaca bagian tertentu.
bibuk Hannan & Afnan
pantesan mau mau aja dijadikan kedua secara siri, agresif

emang bener ya pelakor itu tdk harus cantik semok yg penting menggatal
Agnezz
Zeyad bener2 memperlakukan Naya dengan gentle ya, tidak memaksakan Naya untuk menerima dirinya, selalu memberikan ruang untuk Naya bisa menata hatinya. Zeyad menanti Naya dengan sabar. Beda sekali dengan Rayhan. Karena Rayhan merasa perjodohan masa kecilnya adalah bentuk pasungan atas kebebasannya ( bab 11) maka dia menyambut wanita pilihan orang tuanya dengan dingin. Padahal wanita pilihan orang tua adalah yg terbaik yg sepadan dengan Rayhan.
bibuk Hannan & Afnan
gak sopan si Rani gak mau sowan dulu, minimal baik sikapmu lah setelah apa yg kalian perbuat perbaiki akhlak kalian muhasabah diri
bibuk Hannan & Afnan
serendah-rendahnya seorang pelac*r lebih rendah lg wanita yg merusak rumah tangga orang lain, itulah wanita macam jin Dasim, sebelum menerima ikrar ijab qobul dr Gus Reyhan seharusnya kamu menolak Rani kan kamu sudah tau klo Gus Reyhan baru sebulan melangsungkan akad serta pesta pernikahan dgn Naya tp kamu tetap menerima mau mau saja dijadikan yg kedua siri pula, TDK punya harga diri sekali jd wanita, mencintai karena Allah konon pret lah 😄😄

jd inget artis penyanyi religi yg itu jd istri siri selama dua tahun baru terungkap, giliran terungkap jawaban klise khilaf pret lah khilaf apa doyan masa khilaf smpe dua tahun😄😄😄
dyah EkaPratiwi
zeyad😍
Sri Murtini
calon suami ist the best yg bisa memahmi 😍😍😍😍
Mamah'e Andhika Rizky
👍👍👍👍👍💝💝💝💝💝💝
Uyen Uyen
hati hati kau Rani walaupun Raihan seorang anak kyai dia cuma manusia biasa Naya saja bisa diselingkuhinya jelas jelas seorang yang terpelajar apa lg kamu yang hanya mantan santriwati, sekali laki laki berselingkuh tidak menutup kemungkinan dia akan mengulangnya lagi
bibuk Hannan & Afnan
Naya wanita yg elegan berkelas bermartabat tinggi,👍
Arin
Ternyata dunia selebar daun kelor😁😁😁 Naya pergi ke Dubai untuk melanjutkan studynya bertemu dengan Zeyad. Gak taunya malah teman Reyhan
Ikah Haryati
ga bisa terang "an nolak perjodohan kaya yg patuh pada ke dua orang tua
tapi nusuk dari belakang
dengan penghianatan sama dengan nginjek"harga diri Bu nyai dan pa kiai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!