NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:271.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan

Sore itu, halaman sebuah gedung pertemuan dipenuhi beberapa istri prajurit yang akan mengikuti kegiatan Persit. Sebagian masih duduk sambil menikmati minuman, sementara yang lain bercakap-cakap dalam kelompok kecil.

Levia datang mengenakan blouse sederhana dengan celana panjang bahan. Rambutnya diikat rapi, membuat wajahnya yang kini semakin tegas terlihat jelas.

Begitu melihatnya, beberapa perempuan langsung menyambut. "Levia, sini!"

Levia tersenyum dan menghampiri mereka.

"Sudah lama gak ketemu," ujar salah seorang perempuan. "Kamu sekarang makin berubah, ya."

Levia tertawa kecil. "Berubah apanya?"

"Penampilanmu."

Salah seorang lainnya memerhatikan tubuh Levia dari atas sampai bawah. "Berat badanmu sekarang berapa?"

"Masih sekitar delapan puluh empat kilogram," jujur Levia.

Mata mereka langsung membesar.

"Serius?"

Levia mengangguk. "Iya."

"Kirain sudah di bawah delapan puluh."

"Kalau dilihat memang kelihatan lebih ringan," sahut perempuan di sebelahnya.

Levia tersenyum. "Mungkin karena aku rutin olahraga. Selain berat badan turun, tubuh juga jadi lebih padat."

"Olahraga apa?"

"Macam-macam." Levia menjawab dengan ramah. "Kardio, latihan kekuatan, tinju, sama bela diri."

"Tinju?"

"Iya." Levia mengangguk.

Mereka langsung tertawa kagum.

"Pantasan sekarang kelihatan beda."

"Dulu kamu gak pernah ikut kegiatan seperti ini."

Levia mengangkat bahu. "Dulu aku memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah."

Mereka saling pandang. Tidak ada yang melanjutkan kalimat itu. Semua tahu bagaimana Levia dulu dikenal.

Salah seorang akhirnya mengalihkan pembicaraan. "Oh iya, kami dengar kamu sekarang punya perusahaan?"

Levia tersenyum. "Masih kecil."

"Kecil apanya? Aku lihat beberapa produknya sudah mulai dikenal."

Levia tersipu malu. "Masih tahap awal. Aku masih belajar banyak."

"Namanya apa?"

"Brenda." Levia mengucapkannya dengan mantap.

"Brenda?" Perempuan itu mengulang nama tersebut. "Kenapa namanya Brenda? Ada arti khusus?"

Levia terdiam sejenak sebelum tersenyum. "Ada."

Sebelum menjawab, ia memandang gelang pemberian ayahnya yang melingkar di tangannya. Gelang yang katanya milik mendiang ibunya.

"Brenda itu gabungan nama kedua orang tuaku. Bram dan Dahlia."

"Ah..." Perempuan di depan Levia tampak takjub. "Berarti nama ayah dan ibu?"

Levia mengangguk. "Iya. Aku bisa sampai sejauh ini karena mereka. Ayah yang membesarkanku dan selalu mendukungku, sementara Ibu memang sudah gak ada, tapi beliau tetap bagian dari hidupku."

Levia tersenyum kecil. "Jadi aku ingin ada nama mereka dalam sesuatu yang kubangun sendiri."

Beberapa perempuan langsung tersenyum.

"Manis banget."

"Berarti E-nya dari Levia?" tanya perempuan di samping Levia.

Levia terkekeh. "Iya. Anggap saja begitu."

Mereka tertawa kecil.

"Bagus, lho. Jadi bukan sekadar nama perusahaan."

"Iya," sahut Levia. "Aku ingin setiap kali melihat nama itu, aku ingat dari mana aku berasal."

Salah seorang perempuan yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya membuka suara dengan hati-hati.

"Levia..."

Levia menoleh. "Hm?"

"Maaf kalau pertanyaannya terlalu pribadi."

Levia mengerutkan dahinya. "Apa?"

"Dulu aku sering dengar kabar kalau Kapten Vandra mau nyeraiin kamu."

Suasana di antara mereka sedikit berubah.

Levia tetap tenang. "Memang pernah ada pembicaraan soal itu."

"Kalau sekarang kamu sudah berubah seperti ini..." Perempuan itu tampak ragu. "Apa kamu masih mau bercerai?"

Levia tidak langsung menjawab. Beberapa pasang mata menunggunya.

"Aku rasa..." Levia tersenyum tipis. "Kalau soal itu, aku gak bisa memutuskan sendirian."

"Kenapa?"

"Karena pernikahan bukan cuma tentang apa yang aku mau." Nada suaranya terdengar tenang. "Vandra juga punya keputusan sendiri."

Salah seorang perempuan mengangguk pelan. "Tapi kalau boleh jujur..." katanya. "Sayang banget kalau sampai cerai."

"Betul."

Perempuan lain ikut menyela, "Aku juga berpikir begitu. Kamu sekarang punya perusahaan, punya kemampuan, tubuhmu juga semakin sehat. Kalau aku jadi Kapten Vandra, aku malah takut kehilangan."

Levia tertawa kecil. "Jangan begitu."

"Serius."

"Kalau kalian terus ngomong begitu, nanti aku jadi besar kepala," canda Levia.

Mereka tertawa.

Seorang perempuan yang duduk di samping Levia kemudian berkata, "Kalau Kapten Vandra benar-benar tetep mau cerai, itu malah bikin aku heran."

Levia mengangkat alis.

"Adik iparku kebetulan belum menikah," lanjutnya santai. "Dia juga pebisnis. Kalau kamu benar-benar bercerai, kenalan saja dengannya."

Yang lain langsung tertawa. "Astaga, kamu langsung menawarkan adik ipar!"

"Kenapa?" sahut wanita di samping Levia. "Aku malah senang kalau punya adik ipar seperti Levia."

Seorang wanita lagi ikut bersuara dengan nada antusias. "Levia, adikku juga masih single. Dosen. Boleh juga tuh kenalan sama kamu."

Levia sampai menggeleng sambil tertawa. "Kalian ini..."

"Tapi serius," ujar perempuan itu. "Dia bakal senang kalau punya istri yang punya bisnis sendiri, mandiri, dan gak bergantung sama keluarga."

Levia tersenyum. "Terima kasih, tapi untuk urusan jodoh, aku belum kepikiran."

"Belum kepikiran atau masih menunggu seseorang?" goda yang lain sambil menaik turunkan alisnya.

Pertanyaan itu membuat Levia terdiam sesaat. Ia kemudian tersenyum lembut. "Aku sekarang sedang sibuk membangun hidupku sendiri."

Jawaban itu membuat mereka saling pandang. Tidak ada lagi Levia yang dulu selalu membicarakan Vandra. Sekarang, bahkan ketika namanya disebut, perempuan itu tidak lagi menunjukkan kegelisahan.

Dan tanpa Levia sadari, perubahan itulah yang justru membuat beberapa orang mulai bertanya-tanya.

"Kalau Levia benar-benar sudah gak ngejar Kapten Vandra lagi..." batin seorang wanita yang duduk tak jauh dari mereka.

Sejak tadi, wanita itu diam-diam mendengarkan percakapan tersebut. Ibu Risa, istri seorang jenderal, menatap Levia beberapa saat.

Dulu ia sering mendengar bagaimana Levia begitu terobsesi pada Vandra. Namun perempuan yang dilihatnya sekarang benar-benar berbeda.

Sorot matanya kemudian berubah. "Lalu gimana reaksi sang kapten ketika pulang nanti?"

Ia terdiam sejenak sebelum sebuah pikiran terlintas di benaknya. "Kalau begitu... apa Risa masih punya kesempatan untuk mendapatkan Vandra?"

 

...✨“Dulu ia ingin menjadi seseorang yang pantas dicintai. Kini ia memilih menjadi seseorang yang pantas dibanggakan oleh dirinya sendiri.”...

...“Saat seseorang berhenti mengejar, ruang yang ditinggalkannya bisa saja menjadi kesempatan bagi orang lain. Namun belum tentu orang yang ditinggalkan rela membiarkan kesempatan itu diambil.”✨...

.

To be continued

1
yetiku86
EH.... aku kira ngga di rekam.
yetiku86
ambillah keputusan sesuai hatimu Vivian.
♨ˢᶜNury
apa si Ninis juga naksir vandra
yetiku86
kalau kau sdh tahu, kenapa masih menunggunya???
yetiku86
menggantung anak orang, benar² plin plan ini orang. sgt tdk pas dengan jabatannya.
yetiku86
kamu nanya??? tanyakan saja pada rumput yg bergoyang.... 😅
anonim
Risa sirik nih mengetahui perkembangan perusahaan Levia.

Pikiran Risa jadi negatif tentang Livea yang menjalin kerjasama dengan pengusaha muda yang belum menikah, dan mengunggahnya di akun resmi Brenda.
anonim
Andri semakin mengagumi Levia yang tidak hanya paham dunianya. Desain. Levia juga memahami bagaimana orang melihat pakaian.

Hari ini Andri melihat langsung bagaimana interaksi Levia dengan seorang pelanggan.

Apa yang dilihat Andri dari Levia saat ini, begitu berbeda dari gambaran yang diceritakan Heru.

Suara Levia memanggil nama Andri membuyarkan lamunannya.
yetiku86
galau deh..... 😅
yetiku86
setuju.... 👍
anonim
Levia dimintai pendapat seorang pelanggan tentang blouse yang mau dibeli.

Levia baik hati memberikan pendapatnya. Bahkan memberikan alternatif pilihan blouse yang lainnya.

Levia dikira kerja di gerai retail tersebut 😄.

Sepertinya Andri kagum melihat Levia membantu pelanggannya dalam memilih pakaian.
anonim
Dokumen kontrak sudah ditandatangani Levia dan Andri, kerja sama Brenda dan Mahesa Retail resmi dimulai.

Gultom tersenyum puas, memberi ucapan selamat kepada Levia.

Andri memberi ucapan selamat kepada Brenda.

Andri ingin mengajak Levia ke salah satu gerainya. Untuk menentukan posisi produk Brenda sebelum tim retail mulai menyiapkan display.

Levia ikut setelah Gultom memberi izin.

Sampai di salah satu gerai retail, Andri dan Livea memasuki area penjualan.

Andri menunjuk salah satu sisi gerai - di area itu direncanakan untuk produk Brenda.

Livea kurang setuju.

Levia menunjuk bagian lain yang lebih cocok.
anonim
Andri baru tahu kalau Levia sudah menikah dari Heru, sahabat sekaligus rekan bisnisnya.

Andri terkejut ketika Heru mengatakan kalau Levia hampir meninggal karena bunuh diri.

Levia hampir tenggelam, Andri mendengar itu seperti tidak percaya.

Kabar perubahan yang terjadi pada Levia, bikin Andri penasaran.
anonim
Selesai pertemuan dengan timnya, Levia masih di tempatnya lalu dengan ponselnya menghubungi Andri Mahesa. Memberitahu hasil pembicaraannya membahas proposal dengan tim.

Andri senang mendengar hasilnya.

Mereka sepakat untuk bertemu besok.

Andri bilang bukan cuma membahas kontrak. Besuk dia akan menjelaskan langsung.

Levia heran dengan apa yang akan dibicarakan Andri.
yetiku86
wah.... benar² harus dibasmi ini orang.
yetiku86
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/......pasti hantunya betah pak Herman.
yetiku86
selamat Levia 💐💐💐 kau sdh berjuang keras 💪💪💪
Wardi's
terimakasih untuk karyanya... sukses terus ka nana
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama Kak 🤗🙏
total 1 replies
yetiku86
entahlah???
yetiku86
pertanyaan macam apa itu???? 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!