NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4

****

Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kaca besar Departemen Bedah Saraf. Suasana rumah sakit mulai kembali sibuk, tetapi di sudut laboratorium lantai lima, waktu seolah berjalan begitu lambat bagi Aini.

Sepanjang malam ia tidak memejamkan mata sedikit pun. Tubuhnya yang kelelahan digempur habis-habisan oleh tugas piket dan kewajiban merapikan ratusan set instrumen microsurgery. Jemari tangannya terasa kaku, dan melangkah pun rasanya seperti menginjak awan. Efek dari stres berat, lelah fisik, dan perut kosong sejak kemarin mulai memicu denyutan hebat di balik pelipisnya.

Aini merapikan kembali hijab segiempatnya yang mulai sedikit kusut di depan cermin kecil. Wajah ayunya tampak begitu pucat, dengan lingkaran hitam samar di bawah mata sendunya. Ia menarik napas panjang, menepuk pelan kedua pipinya untuk mengumpulkan sisa kekuatan.

"Kamu harus bertahan, Aini... Tinggal menyerahkan laporan ini, lalu stase hari ini dimulai," bisiknya menguatkan diri sendiri.

Dengan langkah pelan namun pasti, Aini berjalan menuju ruangan Kepala Departemen Bedah Saraf. Tangan kanannya membawa map berisi lembar ceklis sterilisasi instrumen yang telah ia selesaikan hingga detail terkecil.

Ketuk! Ketuk! Ketuk!

"Masuk," sahut suara berbariton berat dari dalam.

Aini mendorong pintu kayu tebal itu. Di dalam ruangan, Ivandra tidak sendirian. Dr. Hendra, dokter spesialis senior yang kemarin ikut saat visite, tampak sedang berdiri di dekat meja kerja Ivandra sambil memegang cangkir kopi.

"Permisi, Dokter Ivandra. Saya ingin menyerahkan laporan sterilisasi instrumen microsurgery yang Anda perintahkan semalam," ucap Aini santun. Suaranya terdengar sangat parau dan lemah, jauh berbeda dari nada jernih yang ia miliki kemarin pagi.

Ivandra mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Pria itu tampil rapi seperti biasa, kemeja abu-abu gelap terbalut jas dokter bersih tanpa cela. Matanya yang tajam langsung mengunci figur Aini yang berdiri tegap di tengah ruangan.

"Letakkan di meja," perintah Ivandra pendek.

Aini melangkah mendekat, meletakkan dokumen itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dr. Hendra yang berdiri di samping meja mengamati Aini dengan tatapan prihatin. Sebagai dokter senior, ia tahu betul betapa kejamnya hukuman yang dijatuhkan Ivandra pada seorang koas di hari pertama.

Dr. Hendra berdeham pelan, lalu menatap Ivandra dengan raut wajah serius namun tenang.

"Ivandra, bisakah kita bicara sebentar?" ujar Dr. Hendra dengan nada halus. "Mengenai metode bimbinganmu pada anak-anak koas."

Ivandra bersandar pada kursi kulitnya, melipat kedua tangan di dada. "Ada masalah dengan metode saya, Dokter Hendra?"

"Tentu saja ada," jawab Dr. Hendra ramah namun tegas. Ia melirik Aini sejenak sebelum kembali menatap Ivandra. "Memberikan tugas piket malam penuh ditambah kewajiban merapikan ratusan alat microsurgery sendirian kepada dokter muda di hari pertamanya... itu bukan sekadar mendidik. Itu sudah termasuk beban fisik dan mental yang berlebihan."

Ivandra terkekeh sinis, sebuah suara rendah yang tidak mengandung humor sama sekali. "Beban berlebihan? Dokter Hendra, kita bekerja di Departemen Bedah Saraf. Satu mili kesalahan di meja operasi bisa membuat pasien lumpuh atau mati. Jika hanya karena hukuman kecil seperti ini mentalnya sudah goyah, bagaimana dia bisa bertahan saat memegang pisau bedah nanti?"

"Tapi ada batas untuk segalanya, Ivandra," sela Dr. Hendra tidak mau kalah. "Mereka di sini untuk belajar, bukan untuk disiksa. Menjaga ketahanan fisik dokter muda juga bagian dari tanggung jawab kita sebagai pengajar. Jika fisiknya tumbang karena kelelahan ekstrim, risiko keteledoran justru makin tinggi."

"Dunia kedokteran tidak mengenal kata kasihan, Dokter Hendra," potong Ivandra tajam tanpa keraguan. "Pasien di ruang operasi tidak akan peduli apakah dokternya kurang tidur atau sedang lelah. Yang dibutuhkan adalah kesempurnaan. Jika dia tidak sanggup memenuhi standar saya, pintu keluar selalu terbuka lebar."

Aini hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam mendengarkan perdebatan dua dokter senior tersebut. Kata-kata Ivandra rasanya begitu dingin, menghantam ulu hatinya tanpa ampun. Namun, di tengah gempuran kata-kata pedas itu, kepala Aini mendadak terasa makin berat. Pandangannya mulai mengabur, dan suara di sekitarnya terdengar memantul bergema.

Argh... pusing banget... batin Aini merintih. Ia meremas pinggiran jas putihnya kuat-kuat, berusaha setengah mati agar tubuhnya tidak limbung di depan mereka.

Dr. Hendra menggelengkan kepala, menghela napas panjang. "Kamu selalu terlalu keras, Ivandra. Ingat, tidak semua orang punya ketahanan es seperti kamu." Dr. Hendra kemudian berbalik menatap Aini dengan lembut. "Dokter Aini, kamu sudah makan pagi?"

Aini menyapukan pandangannya yang makin remang ke arah Dr. Hendra, berusaha menyunggingkan senyum sopan walau bibirnya tampak pucat pasih. "S-saya... belum sempat, Dokter. Tapi saya masih sanggup mengikuti kegiatan hari ini—"

Belum sempat Aini menyelesaikan kalimatnya, gelombang pusing yang teramat dahsyat menghantam kepalanya. Kesadarannya tertarik paksa ke dalam kegelapan. Tubuh mungil Aini mendadak hilang keseimbangan dan ambruk ke lantai marmer yang dingin.

"Dokter Aini!" pekik Dr. Hendra kaget.

Tepat sebelum tubuh Aini membentur lantai, sebuah gerakan refleks yang sangat cepat terjadi. Ivandra, yang tadinya duduk dengan angkuh di kursi kerjanya, mendadak bangkit dan melompati sebagian mejanya. Tangan kekar Ivandra dengan cekatan menangkap tubuh Aini, menahan bahu dan pinggang gadis itu hingga terkulai di dalam dekapan tangannya.

Ruangan itu seketika hening. Hanya terdengar helaan napas memburu dari Ivandra.

Ivandra berlutut di lantai sambil memangku kepala Aini yang terbungkus hijab segiempat. Wajah gadis itu benar-benar tanpa warna, matanya terpejam rapat, dan jemari tangannya yang dingin menempel pasrah di lengan kemeja Ivandra.

"Aini... Aini Zahra!" panggil Ivandra dengan suara rendah. Ada getaran tak biasa yang menyelusup di balik nada dinginnya.

Ivandra menempelkan punggung tangannya ke dahi Aini. Kulit gadis itu terasa sangat dingin dan agak basah oleh keringat dingin. Saat itulah, mata Ivandra tidak sengaja tertuju pada jemari lentik Aini yang memerah dan lecet akibat terlalu lama memegang caitan steril semalaman—sebuah bukti nyata bahwa Aini mengerjakan seluruh hukumannya tanpa mengeluh sedikit pun, tanpa mengurangi kualitas sedikit pun.

Senyum pingsan Aini yang tampak begitu polos dan sendu seolah menghantam dinding es yang selama ini memagari hati Ivandra. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, sebuah rasa asing merayap pelan di dada Ivandra—rasa bersalah.

Apakah aku benar-benar melangkah terlalu jauh? batin Ivandra bertanya-tangan pada dirinya sendiri, menatap lekat wajah pucat di pangkuannya.

"Cepat baringkan dia di sofa, Ivandra! Saya akan ambilkan cairan infus dan alat cek gula darah!" seru Dr. Hendra panik sembari bergegas menuju lemari medis di sudut ruangan.

Tanpa berpikir panjang, Ivandra mengangkat tubuh ringan Aini ke dalam baringannya. Ia memindahkan gadis itu ke sofa kulit yang empuk di ruangannya dengan sangat hati-hati, sebuah gestur lembut yang sama sekali tak pernah diperlihatkan oleh sang 'Dokter Iblis' kepada siapa pun sebelumnya.

Ivandra berdiri menjulang di samping sofa, menatap jemari Aini yang terkulai lelah. Dinding dingin yang dibangunnya rapat-rapat kini menyisakan celah kecil, dimasuki oleh rasa bersalah dan benih ketertarikan misterius pada sosok dokter muda yang keras kepala itu.

Bersambung....

1
zamiyatin nafifah
looo kak kok uda tamat aja pdhaal suka dengan crtnya
imel
apa sih jangan touch.. memang artinya sentuh tapi kurang enak bacanya. maaf
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!