Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curahan hatinya
" Saya ingin mengakhiri pertunangan dengan Yara, mas. "
SRETTTTT
Angkara maju langsung menarik kerah kemeja Santana, " Breng***, apa sebenarnya mau mu? " wajah Angkara sudah merah sekali, menandakan jika saat ini emosinya telah mengalahkan logikanya.
" Saya Terima penghakiman yang kalian semua berikan. Hanya saja sebelum anda melabeli saya sebagai pria breng***, perlu saya katakan jika niat saya ini bukan pertama kali saya utarakan. " ujarnya sedikit membela diri.
Angkara menghempaskan tubuh Santana sampai membentur sandaran sofa yang diduduki pria itu. Ucapan yang Santana ucapkan, berhasil memadamkan sedikit titik api amarah dalam diri Angkara.
" Apa tanggapan Yara? " dia bertanya setelah cukup lama mengatur nafas demi meredam emosinya.
" Masih selalu sama. " jawaban singkat Santana justru menjadi sebuah tamparan untuk Angkara yang merasa gagal mendidik adiknya sendiri.
" Saya tahu jika semua ini karena paksaan Yara. Tapi setelah dua tahun, kenapa baru sekarang kamu mengutarakan semua ini? Kenapa disaat keluarga kami menganggap kamu sudah bisa menerima Yara? " Angkara paling kan wajahnya kesal.
" Terakhir kali saya ingin mengakhiri semua ini, Yara bahkan berlutut agar saya merubah keputusan. Hingga akhirnya kami sepakati hanya sampai bulan depan, jika semuanya masih sama, maka Yara akan menerima apapun keputusan yang saya buat... "
" Saya tidak pernah bermaksud mengulur waktu, mas. Karena jujur saja, bagi saya hubungan ini adalah sebuah beban. Saya dituntut untuk bisa mengimbangi Yara, padahal sejak awal saya sudah katakan pada Yara bahwa hati saya masih memiliki seseorang yang mendiaminya.... "
Angkara dengarkan semua curahan hati Santana yang dia tahu selama ini, Santana tidak pernah bicara sepanjang ini. Mungkin benar, jika ini adalah titik dimana Santana tidak lagi bisa menahan semuanya.
" Saya pernah bersama seorang wanita yang merupakan hidup dan cahaya untuk saya yang kesepian selama ini. Hingga akhirnya sesuatu membuat saya terpaksa melepasnya, bukan karena tidak lagi cinta tapi saya takut jika cinta yang saya miliki justru menyakitinya.... "
" Saya memilih pergi jauh, sejauh mungkin demi bisa melupakan dia. Tapi setelah sekian lama, hanya butuh satu momen saya melihatnya kembali, dan semua benteng yang saya bangun selama sepuluh tahun lebih langsung runtuh seketika... " Santana nampak sangat frustasi saat mengatakan semua ini.
" Saya pikir saya tidak akan goyah. Nyatanya hanya perlu satu detik mata kami saling bertatap, nyatanya saya sekali lagi jatuh pada orang yang sama. "
" Kalau kau benar-benar mencintainya, kenapa kau melepaskannya? Itu sangat konyol, Santana. " tanya Angkara cukup penasaran alasan dibalik semua kejadian itu.
" Papanya..... Secara tidak langsung adalah orang yang menyebabkan kedua orang tua saya.... meninggal. "
Mata Angkara melebar, jujur saja dia sangat terkejut. Tidak menyangka jika Santana menghadapi masalah yang sangat pelik. Awalnya dia anggap Santana hanya seorang pria yang tidak memiliki pendirian, nyatanya pria ini memiliki hidup dan masa lalu yang berat.
" Ekhemm.... Saya.. "
" Mas nggak perlu mengatakan apapun. Saya hanya berharap mas Angkara memahami situasi yang saya alami sehingga mas bisa menerima keputusan saya yang pastinya akan menyakiti keluarga mas... " Santana lalu berdiri, berjalan ke arah Angkara lalu diapun membungkuk hormat.
" Saya memohon ampunan kalian semua, atas keputusan yang saya buat. Saya Terima apapun penghakiman kalian, tapi saya mohon agar kalian bisa mengabulkan keinginan saya. "
Tulus Santana memohon maaf dan memohon pengertian Angkara yang merupakan kepala keluarga Antasena. Santana sungguh tidak tahu harus berbuat apa, karena dia benar-benar kacau setelah pertemuannya dengan Senjana malam itu. Apalagi sekarang dia mendapati Senjana menghindarinya. Hatinya sangat kacau.
Angkara membantu Santana berdiri tegap, " Saya akan coba membicarakan masalah ini dengan keluarga terutama ibu dan Yara.. " Santana mengangguk penuh syukur.
Setelah suasana terasa lebih ringan dari tadi, Santana jadi memiliki kesempatan untuk melihat-lihat ruangan CEO milik Angkara. Satu kata yang bisa dia ucapkan untuk menggambarkan ruangan milik Angkara.
KACAU...
Angkara yang sejak tadi memperhatikan Santana, akhirnya merasa malu sendiri menyadari arah tatapan Santana. Ruangannya memang kacau sekali setelah dia kalang kabut mencari dokumen yang disimpan Senjana.
Saking stresnya tidak cepat menemukan dokumen itu, dia sampai mengusir Jennifer, sekretaris pengganti Senjana yang menurut Angkara sama sekali tidak cocok dengannya. Lebih banyak takut dan terkesan mencari aman, tidak seperti Senjana yang sampai memakai baju zirah untuk menghadapinya jika memang dirasa Angkara melakukan suatu kesalahan.
" Ekhem.. Maaf, kamu harus melihat semua kekacauan ini. " Angkara sedikit menunduk malu.
" Mas lagi cari sesuatu? " alih-alih menimpali ucapan Angkara, cinta pertama Senjana ini lebih memilih bertanya.
" Dokumen yang Senja simpan. Nanti sore dipakai untuk meeting, tapi belum ketemu juga. " jawab Angkara makin merasa malu.
" Kenapa tidak tanya Sekretaris mas langsung? "
" Dia lagi ngambek, jadi nggak mau diganggu dengan semua urusan pekerjaan. "
" Ngambek??? "
Angkara mengangguk sembari terkekeh melihat wajah Santana yang terlihat terkejut saat mendengar ucapannya.
" Itu istilah yang saya gunakan kalau Senjana lagi pengen kabur karena sesuatu yang saya nggak paham apa sebenarnya itu. " alis Santana berkerut tak paham.
" Senjana itu suka tidur kalau lagi banyak masalah, tapi kalau ngelamun, berarti masalah yang dia hadapi sudah di tahap yang mana dia harus menyingkir sejenak untuk membenahi dirinya agar tidak terpengaruh masalah yang dia hadapi. "
" Saya lihat akhir-akhir ini dia bukan hanya sering tidur, tapi juga sering melamun. Mungkin sesuatu sedang mengganggunya tapi dia tidak mau cerita. Lebih tepatnya dia memang tidak pernah mau cerita apapun tentang dia. " terang Angkara akhirnya bisa menemukan seseorang untuk mendengarkan apa yang dia simpan beberapa hari ini.
" Eh.. Maaf ya, saya jadi terkesan curhat sama kamu. "
Santana menggeleng, " Kalau orang lain yang belum tahu mas sudah menikah, saya yakin mereka akan berpikir kalau Senjana adalah kekasihnya mas Angkara. "
Angkara terbahak, " Bukan cuma kamu yang ngomong soal itu. Tapi San, saya kok dengernya terkesan kamu lagi cemburu sih. " Angkara lihat ekspresi Santana sedikit berubah.
Dalam hati Santana mengakui semua itu. Dia cemburu, melihat seberapa dekat hubungan Senjananya dengan seorang Angkara. Interaksi yang keduanya tunjukkan saat makan malam hari itu, tidak terlihat seperti interaksi biasa. Keduanya seperti sudah saling kenal sangat lama.
Santana benci mengakui kalau goyahnya benteng yang dia coba bangun adalah saat melihat berapa nyamannya Senjana saat bersama dengan Angkara. Padahal jelas Santana tahu jika Angkara sudah memilih beristri. Tapi namanya juga manusia, mana bisa melihat apa yang dia klaim miliknya justru bersama orang lain
" Saya cuma bercanda. Jangan diambil hati. " Santana mengangguk.
" Kalau boleh tahu, kalian dekat sejak kapan? " tanya Santana yang berusaha sekuat tenaga terlihat tidak terlalu antusias.
Dia melihat adanya sebuah peluang untuk mendapatkan informasi tentang Senjana. Karena Welly pun tidak menemukan apapun tentang Senjana selain kenyataan kalau papa Senjana sudah meninggal dunia.