Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Sidang keluarga yang tertunda.
"Ibu pulang ke Jawa..!!" Perintah Bang Samuel sambil membereskan barang ibunya.
"Nggak, ibu mau disini. Ibu nggak mau hidup sendirian di Jawa. Kamu harus sama Ibu, kamu anak ibu." Kata Bu Mieke menolak keras.
Bang Samuel tidak peduli, ia menahan rasa sesak di dada. Kehilangan Pitta sungguh memukul batinnya.
"Sekarang saya tanya sama Ibu.. Andaikan saya mulai jatuh cinta sama perempuan, saya ingin menikahinya, Ibu bisa menerimanya atau tidak???" Tanya Bang Samuel.
"Bisa. Tapi ibu yang pilihkan." Jawab Ibu Bang Samuel.
"Ibu tau atau tidak.. Kalau saya menikah, berarti saya yang menjalani rumah tangga. Bukan Ibu atau orang lain."
"Saamm.. Kamu harus berbakti sama Ibu. Pernahkah kamu dengar seorang laki-laki harus berbakti sama istrinya??? Laki-laki itu hanya wajib berbakti sama Ibunya." Omel Bu Mieke.
"Kalau memang saya harus durhaka, biar saya sendiri yang menanggung masuk neraka. Sekarang Ibu pulang ke Jawa..!!!!"
//
Bang Oscar menengadah, memikirkan setiap ucapan dokter akan perkembangan kesehatan Pitta. Ia teringat semua bentakan, kemarahan, dan kekacauan yang selama ini ia bawa ke hadapan Pitta.
'Aku selalu merasa suaraku biasa saja, tak ada apa-apanya. Tapi ternyata suara yang ku anggap biasa saja bisa melukai perasaan istriku. Sekarang sisa permasalahan ini pasti membebani perasaan Pitta. Aku harus lebih ketat menjaganya, lebih ekstra hati‑hati dalam bertindak dan tidak akan membiarkan dia tertekan sendirian.'
"Bang, sebenarnya dokter bilang apa?" Tanya Pitta menyadarkan Bang Oscar dari lamunan. Ia membawakan kopi hitam pahit untuk pria yang statusnya belum ia pahami secara total.
Angin malam di depan teras rumah cukup mencubit kulit Bang Oscar. Pria itu bergeser membenahi posisi duduknya. Ia menepuk sofa gantung panjang tempat ia merenung.
"Sini.. Duduk sini sama Abang..!!" Ajak Bang Oscar.
"Ini, kopi buat Abang."
"Letakan saja dulu di situ..!!" Kata Bang Oscar. Pitta kemudian meletakan cangkir kopi tersebut dan ia menyambut Pitta dan memintanya agar duduk di sampingnya.
"Dokter bilang apa?" Pitta mengulang pertanyaannya.
Bang Oscar menarik badan Pitta agar duduk lebih rapat di sampingnya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil memandang kegelapan malam. Tangannya bergerak perlahan mengusap puncak kepala gadis itu.
"Nggak ada, dokter hanya bilang.. Kamu harus lebih rileks, banyak istirahat dan jangan lupa vitamin."
"Abang bohong, kan??? Atau mungkin ada hal berbahaya??? Pitta sakit keras??"
Tak lama Pak Dante tiba, beliau datang bersama Mama Dilan, Bang Yudhis dan adik kandung Bang Oscar, Letnan Satria Branjangan.
"Dokter bilang… usiamu masih terlalu muda untuk mengandung. Badanmu belum siap, apalagi hatimu yang sering terkejut karena kemarahan Abang selama ini." suara Pak Dante rendah menjelaskan dengan lembut.
"Paaaa.." Wajah Bang Oscar penuh penyesalan.
"Kamu juga harus sadar, suara yang kau pikir biasa saja ternyata bisa menusuk hati istrimu sampai dalam." Imbuh Pak Dante.
Bang Oscar menunduk, bibirnya terjatuh rapat menahan sesak di dada. Ia memegang tangan kecil Pitta erat‑erat, jemarinya diam tapi Pittw bisa merasakan getarannya.
"Kita bicara di dalam saja..!!" Ajak Bang Oscar. Ia lalu menggandeng tangan Pitta, masuk ke dalam rumah kontrakan.
~
Setelah beberapa saat lamanya duduk bersama, Pak Dante menatap kedua bola mata Bang Oscar dengan lekat, tapi ekor mata putranya itu terus menatap putra ketiganya, Letnan Satria Branjangan yang siang tadi baru tiba dari penugasan.
"Tak bisa sopan kau lihat istri Abang..!! Jangan sampai matamu itu Abang colok." Bang Oscar menegur keras adik laki-lakinya itu, apalagi saat itu Pitta seperti gemetar dan takut melihatnya.
Bang Satria menggeleng dengan senyumnya. Ia mengalihkan pandangan hendak menyulut rokok, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya karena mengingat iparnya sedang hamil muda.
"Papa ingin penjelasanmu, Oscar. Kenapa kau nikah diam-diam sampai buat bencana besar seperti ini????? Papa tau tidak wajib pendampingan pihak pria saat pernikahanmu, tapi apa susahnya kamu kasih kabar. Kalau sudah terjadi seperti ini bagaimana????" Tegur keras Pak Dante.
"Yang penting sudah sah.. Apalagi sih Pa, masalahnya." Celetuk Bang Satria.
"Kalian berdua itu memang selalu buat Papa darah tinggi. Punya kelakuan kok macam luwak bira*i semua. Namanya nikah itu ya pakai aturan. Kalian ini nggak pernah akur, tapi masalah begini selalu sepakat satu suara." Suara Pak Dante sampai meninggi di buatnya.
"Daripada Pitta hamil duluan. Kemarin kalau mau buat cerita Papa versi dua, bisa aja.. Tapi buat apa ku ulang kesalahan Papa." Ujar Bang Oscar.
Seketika Mama Dilan menunduk dengan wajah mendung. Beliau seakan terpukul, mungkin mengingat kisah masa lalunya.
"Lancang, Papa tampar juga mulut lantam mu itu." Bentak Papa Dante. "Perbaiki tata cara bicara kalian, setelah kalian waras dan bisa merenungi setiap ucapan ngawur kalian, baru kita bicara lagi." Pak Dante kemudian menggandeng tangan Mama Dilan dan mengajak istrinya keluar.
Kini di ruang tamu tersisa Bang Yudhis, Bang Oscar, Bang Satria dan Pitta. Ketiga pria saling lirik.
"Bapak kau baperan." Cicit Bang Satria.
"Bapak kau, lah." Sambar Bang Oscar.
"Mau bapak siapa saja, nggak masalah. Yang penting bapak-bapak." Omel Bang Yudhis mendengar dua adiknya yang memiliki sifat sama-sama keras.
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍