"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Ampun, Mayor!
Derit baling-baling kipas angin tua di sudut ruang tamu masih berputar ritmis, menemani sore yang berangsur merangkak turun di Kompleks Batalyon. Di atas meja kaca, genangan air sisa gelas plastik bekas selai perlahan menyerap ke permukaan karpet wol, meninggalkan jejak kekacauan kecil yang justru membuat Vina tersenyum puas.
Ita masih berdiri di ambang pintu dapur, menatap sahabatnya itu dengan campuran antara rasa ngeri, takjub, dan geli yang teramat sangat. Bagi Ita, Vina yang ada di hadapannya saat ini benar-benar menjelma menjadi sosok yang sangat berbeda. Dulu, sebelum kecelakaan mengerikan itu merenggut ingatannya dan memulangkan jiwanya ke usia delapan belas tahun, Vina adalah sosok istri yang paling penakut. Disindir sedikit saja oleh Tanti atau keluarga perwira lainnya, Vina akan langsung menunduk dan menangis di pojok kamar.
Tetapi sekarang? Menantang Tanti—wanita yang paling diandalkan dan dipuja oleh lingkaran kerabat keluarga Yudhana—hingga gaun sutra mahalnya basah kuyup tersiram air mentah adalah tontonan paling epik yang pernah disaksikan Ita seumur hidupnya.
"Vin, sumpah ya, jantungku rasanya mau copot tadi pas kamu cengkeram pergelangan tangannya," kata Ita sambil berjalan mendekat, menjatuhkan pantatnya ke sofa di samping Vina. "Itu Mbak Tanti, lho! Orang dalam keluarga besar Opa Gema! Kalau dia ngadu ke Mayor Yudhana dengan versi dramatisnya, wah ... habislah riwayatmu kena amuk sang Mayor!"
Vina mendengus malas, melemparkan satu lembar keripik singkong ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya dengan bunyi krispi yang nyaring.
"Biarin aja ngadu gih," jawab Vina santai, matanya menerawang ke arah langit-langit ruang tamu. "Emangnya gue takut sama Om Kaku itu? Mau dia ngamuk, mau dia teriak-teriak jungkir balik, emang gue pikirin? Otak gue lagi asyik mikirin keripik pedas ini, kok malah disuruh mikirin om-om berkumis tukang marah."
Ita terkekeh renyah, meski di dalam hatinya ia tetap menyimpan sedikit rasa cemas. "Yeu, dibilangin malah nantangin. Kamu itu kan statusnya masih istrinya secara hukum, Vin. Kecuali kalau keputusan pengadilannya udah ketok palu, posisimu di rumah dinas ini masih sah sebagai nyonya rumah."
Mendengar kata 'rumah dinas' dan 'istri sah', Vina langsung menegakkan duduknya. Ia melirik Ita dengan mata membelalak jenaka.
"Eh, Ta! Pas banget kamu ngomongin itu!" seru Vina antusias, menepuk paha Ita pelan. "Dari pada sore-sore begini kita suntuk mandangin tembok rumah dinas yang isinya cuma kenangan pait sama si Om Kaku, mending kita jalan-jalan yuk!"
Ita mengerjap bingung. "Jalan-jalan? Kemana? Ke pos ronda depan kompleks?"
"Dih, ogah banget!" Vina memutar bola matanya. "Tadi sore waktu gue nyapu di teras depan, gue dengar anak-anak kompleks ngomongin hal paling seru abad ini. Katanya, malam ini di lapangan bola dekat tanah lapang pinggir hutan komando ada pasar malam! Ada bianglala, jualan gulali, ombak banyu, sama tahu bulat digoreng dadakan!"
Mata Ita langsung berbinar mendengar kata pasar malam. Sebagai sesama wanita muda yang terkungkung dalam aturan kaku kompleks militer, pasar malam adalah hiburan surga yang tak boleh dilewatkan.
"Wah, seriusan ada pasar malam, Vin?!" tanya Ita bersemangat. "Tapi ... kita ke sana naik apa? Motor matic merahmu kan ... udah hancur lebur waktu kamu kecelakaan kemarin."
Mendengar kata 'motor' dan 'kecelakaan', gerakan tangan Vina yang hendak menyambar keripik mendadak membeku di udara.
Sekali merinding hebat merayap kencang di sepanjang tulang belakangnya. Di dalam kepalanya yang mendadak berdengung, muncul kilasan bayangan abstrak yang samar namun mengerikan: suara decit rem yang memekik telinga, silau sorot lampu besar di tengah jalan, serta rasa sakit remuk yang menghantam tubuhnya. Dada Vina mendadak sesak, jiwanya meronta ketakutan secara refleks—sebuah trauma fisik mendalam yang tertanam kaku di dalam sel tubuhnya akibat benturan maut waktu itu.
Jemari tangan Vina gemetar pelan. Ia menarik tangannya kembali, mengusap tengkuknya yang mendadak dingin bercucuran keringat halus.
"Eh ... Vin? Kamu kenapa?" tegur Ita cemas saat melihat perubahan raut wajah Vina yang mendadak pucat pasi. "Kamu ... takut ya?"
Vina dengan cepat menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir kecemasan ganjil yang tiba-tiba melumpuhkan keberaniannya. Ia menelan ludahnya yang terasa pahit, berusaha mengembalikan raut barbar-nya meskipun napasnya sedikit terengah.
"S-siapa yang takut!" letus Vina dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan untuk menutupi gemetar di dadanya. "Gue cuma ... cuma kaget aja! Lagian motor gue yang hancur kan motor tua, wajar aja jebol!"
Vina menatap Ita intens. "Pokoknya kita tetap pergi! Tapi ... kita naik motor matic kamu aja ya, Ta? Kamu yang di depan yang nyetir, kamu yang membonceng di belakang! Pokoknya jam tujuh malam kita cus ke pasar malam, titik tidak pakai koma!"
Ita yang melihat sahabatnya mulai pulih langsung tersenyum lega, menganggukkan kepalanya cepat. "Oke, siap! Nanti jam tujuh aku jemput di depan teras pakai motorku. Jangan lupa siapin uang receh buat beli tahu bulat!"
"Siap, Komandan Ita!" balas Vina terkekeh, meski jauh di dalam lubuk hatinya, debar ketakutan pada kendaraan roda dua itu masih menyisakan getaran halus.
***
Tanpa mereka berdua sadari, percakapan ringan dan kesepakatan rencana itu tertangkap jelas oleh telinga seseorang yang berdiri di balik pintu utama rumah dinas.
Mayor Yudhana berdiri mematung di teras. Pria berbalut seragam dinas harian itu baru saja tiba dari markas komando setelah melalui evaluasi sore yang melelahkan, ditambah laporan histeris dari Tanti yang mengadu gaun mahalnya disiram air mentah oleh Vina.
Yudhana tadinya berniat pulang dengan amarah meluap untuk mendisiplinkan istrinya. Namun, mendengar Vina yang berencana pergi ke pasar malam dengan menumpang motor milik Ita—bahkan sempat terdiam menahan trauma bekas kecelakaan—membuat dada sang Mayor dihantam oleh perasaan campur aduk yang rumit. Rasa bersalah, amarah ego yang terluka, dan cemburu mendominasi batin sang perwira.
Ceklek.
Yudhana mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia berbalik perlahan, melangkah turun dari teras dengan rahang menegang kaku, lalu berjalan menuju mobil SUV dinasnya yang terparkir di bawah pohon mangga.
Pria itu masuk ke kabin kemudi, menyalakan mesin mobil tanpa menyalakan lampu utama, lalu menyandarkan punggungnya di balik setir seraya menatap tajam ke arah jendela rumah dinas.
"Mau main-main ke pasar malam naik motor," gumam Yudhana pelan dengan suara bariton yang dingin dan penuh proteksi dominan. "Silakan pergi, Vina. Tapi jangan harap kamu bisa lepas dari pengawasanku malam ini."
Yudhana menginjak pedal gas pelan, membiarkan SUV hitamnya bergerak perlahan mundur ke tepi jalan kompleks—bersiap menjadi bayangan gelap yang akan diam-diam membuntuti motor Ita dan menjaga istrinya dari kejauhan menembus keramaian pasar malam.
***
Assalamu'alaikum, met pagi Kakak semuanya. Kemarin saya sempat chat dengan editor, dan disarankan untuk revisi beberapa bab, lalu disuruh mencoba ajukan kembali kontrak 3 hari lagi. Mungkin saya akan mencoba arahan ini, walau sebenarnya ada beberapa penulis mengatakan 'tetap aja akan gagal kontrak setelah revisi'. Jadi saya akan menunggu hasilnya, dan mungkin nanti akan ada beberapa bab isinya berubah.
Mohon doanya ya, sebenarnya saya ingin naskah ini tetap ada di sini. Kalau hasilnya gagal lagi, ya, saya akan pindahkan.
Alhamdulillah 🤲
Vina benar jadi untuk apa takut di lihat suaminya,,, orang cari uang halal ko dan
apa bila mau protes dan marah marah ,,Vina juga bisa menyampaikan kepada Kakek Gema iya to,,,wong cucunya yang selingkuh bahkan seolah Vina hanya di jadikan babu ,,,sedang dirinya mirip buaya muara ngecas sama wanita lain ko ga malu sama rekan atau bawahannya, biarpun banyak uang buat apa ga menghargai wanita notabene sebagai istri,,anjit ga banget lihat tiap hari di samperin sama si pELaKoR,,najong tralala,,😡😡