NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Ruang Sidang

Ruang sidang Pengadilan Agama terasa dingin dan hening. Bau kayu jati dari meja majelis hakim berpadu dengan aroma kertas-kertas tua yang menumpuk rapi di meja panitera. Di dinding utama, lambang Garuda Pancasila tergantung megah, memancarkan wibawa hukum yang tak terimbangi.

Dimas melangkah masuk dengan tenang. Ia berjalan menyusuri lorong tengah berkarat karpet hijau, lalu mengambil tempat duduk di kursi kayu sebelah kanan—kursi khusus bagi Pemohon. Pria itu meletakkan map cokelatnya di atas meja, menyatukan kedua jemari tangannya di atas pangkuan, lalu menatap lurus ke arah tiga Mejelis Hakim yang duduk anggun di mimbar utama.

Hakim Ketua, seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan jubah hitam berkerah putih, menatap Dimas dengan raut wajah teduh namun tegas.

"Saudara Pemohon, Dimas Kurniawan?" sapa Hakim Ketua dengan suara berat yang berwibawa.

"Hadir, Yang Mulia," jawab Dimas mantap, membungkukkan badannya sedikit sebagai bentuk penghormatan.

"Sesuai dengan berkas permohonan cerai talak yang Saudara daftarkan, hari ini adalah sidang pertama dengan agenda pemeriksaan identitas serta penunjukan Hakim Mediator," lanjut Hakim Ketua seraya memeriksa lembaran kertas di hadapannya. "Sebelum kita melanjutkan proses hukum ini, Pengadilan wajib menanyakan: apakah Saudara Termohon, Sdri. Arini Wulandari, hadir di ruangan ini atau diwakili oleh kuasa hukumnya?"

Dimas menoleh sekilas ke arah kursi kosong di sebelah kirinya—kursi khusus Termohon. Tempat itu masih hampa.

"Sepertinya Termohon belum hadir, Yang Mulia," sahut Dimas tenang.

Hakim Ketua mengangguk pelan, hendak mengetukkan palu kayu di tangannya untuk menunda sidang beberapa menit. Namun, sebelum kayu itu menyentuh bantalannya, pintu kayu tebal di belakang ruang sidang mendadak terdorong keras dari luar.

Brak!

Suara dentuman pintu yang beradu dengan dinding membuat seluruh ruangan terperanjat. Panitera dan dua hakim anggota refleks menengadah dengan dahi berkerut.

Di ambang pintu, berdiri seorang wanita dengan napas memburu dan dada yang naik-turun tak beraturan. Sepatu hak tingginya menancap tajam di atas lantai semen. Ia mengenakan gaun malam berwarna hitam berpotongan elegan buatan perancang busana ternama, dipadu dengan kacamata hitam yang langsung ia tarik ke atas kepala. Riasan tebal di wajahnya sedikit luntur oleh bulir-bulir keringat dingin akibat berlari menembus koridor gedung.

Itu Arini.

Raut wajah Arini memancarkan campuran antara amarah yang menyala-nyala, rasa gengsi yang terluka, serta keangkuhan yang sengaja ia pamerkan di depan umum. Tas kulit mahal di lengannya ia genggam erat-erat, seolah benda itu adalah perisai utama untuk menutupi rasa terdesaknya.

"Saya hadir, Yang Mulia!" seru Arini dengan suara melengking penuh penekanan, mengabaikan etika kesopanan ruang sidang. Ia melangkah lebar menembus lorong tengah, membuat bunyi ketukan sepatu hak tingginya bergema keras di dalam ruangan yang hening.

Arini menarik kursi kayu di sebelah kiri Dimas dengan gerakan kasar, lalu menghempaskan tubuhnya di sana. Ia tidak memandang Hakim sama sekali; sepasang matanya yang dipenuhi api kebencian dan rasa Superioritas langsung menyambar profil samping wajah Dimas.

Namun, Dimas sama sekali tidak menoleh. Pria itu tetap duduk tegap, matanya lurus menatap Majelis Hakim di depan, seolah kehadiran wanita di sampingnya hanyalah hembusan angin lalu yang tak berbobot.

Sikap dingin dan acuh tak acuh dari Dimas justru membuat darah Arini makin mendidih. Ia mengepalkan jemarinya yang dihiasi cat kuku berwarna merah menyala.

"Harap tenang dan jaga ketertiban di dalam ruang sidang, Saudari Termohon," tegur Hakim Ketua dengan nada tegas, mengetukkan palu kayunya sekali. Tek! "Ini adalah lembaga peradilan resmi negara, bukan tempat untuk meluapkan amarah pribadi."

Arini menarik napas panjang, memaksakan diri menegakkan punggungnya. "Maaf, Yang Mulia. Saya baru saja tiba karena ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan."

Hakim Ketua menatap Arini dari balik kacamatanya, memindai penampilan wanita itu yang terkesan sangat mencolok dan berlebihan untuk sebuah ruang sidang perceraian.

"Baik. Karena kedua belah pihak—Pemohon dan Termohon—telah hadir secara langsung tanpa diwakili kuasa hukum, maka sesuai dengan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016, Majelis Hakim diwajibkan untuk mengarahkan Saudara berdua menjalani proses Mediasi terlebih dahulu," papar Hakim Ketua panjang lebar. "Mediasi ini bertujuan untuk memberi ruang dialog, mencari solusi terbaik, dan siapa tahu masih ada celah untuk menyelamatkan ikatan pernikahan Saudara."

Hakim Ketua melirik panitera di sampingnya. "Sidang pemeriksaan umum kita skors selama dua jam ke depan. Saudara Pemohon dan Termohon silakan menuju Ruang Mediasi 2 di lantai bawah untuk bertemu dengan Hakim Mediator yang telah ditunjuk."

Ketuk! Palu sidang diketuk sekali.

Sepuluh menit kemudian, suasana di dalam Ruang Mediasi 2 yang berukuran empat kali empat meter terasa begitu mencekam. Udara dari pendingin ruangan yang bertiup dingin tak sanggup mendinginkan hawa panas yang membakar dada Arini.

Seorang Hakim Mediator—seorang wanita paruh baya berkerudung yang tampak sangat berpengalaman—duduk di ujung meja oval. Dimas dan Arini duduk berhadapan di sisi meja yang berseberangan.

"Selamat pagi, Bapak Dimas dan Ibu Arini," sapa Hakim Mediator dengan suara yang amat lembut dan menenangkan. "Tugas saya di sini bukanlah untuk menghakimi siapa yang benar dan siapa yang salah. Tugas saya adalah memfasilitasi komunikasi antara Bapak dan Ibu, mencari titik temu yang mungkin sempat tersumbat oleh kesalahpahaman."

Hakim Mediator menatap Dimas terlebih dahulu. "Bapak Dimas... sebagai Pemohon yang mengajukan permohonan cerai talak ini, apakah ada hal utama yang ingin Bapak sampaikan kepada istri Bapak?"

Dimas menatap Hakim Mediator dengan pandangan yang jernih dan tenang. Tidak ada raut tegang di wajahnya.

"Terima kasih, Ibu Hakim Mediator," ujar Dimas dengan suara bariton yang mantap. "Dari sisi saya, sebenarnya tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Permohonan cerai talak ini saya ajukan secara sadar, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Istri saya telah memilih jalan hidupnya sendiri, dan saya hanya ingin menyelesaikan kewajiban hukum ini dengan cara yang baik dan terhormat agar kami berdua bisa melanjutkan hidup masing-masing."

Mendengar kalimat yang begitu tenang dan tanpa beban dari mulut Dimas, tumpukan amarah di dalam dada Arini akhirnya meledak tak tertahankan. Ia menepuk permukaan meja kayu di hadapannya dengan keras.

Brak!

"Bicara manis sekali kamu, Mas Dimas!" bentak Arini dengan mata membelalak lebar, mengabaikan teguran halus dari Hakim Mediator yang terkejut. "Sok suci! Sok jadi korban! Kamu pikir kamu siapa berani mengajukan gugatan cerai padaku tanpa bicara dulu?!"

Dimas tidak bergeming. Ia hanya menatap Arini dengan tatapan datar—tatapan seorang pria yang telah sepenuhnya kebal terhadap racun emosi wanita tersebut.

"Arini," panggil Dimas pelan, namun nadanya begitu dalam dan dingin. "Kamu yang melangkah keluar dari rumah. Kamu yang meninggalkan surat perpisahan dan membuang pernikahan ini demi pria lain. Untuk apa lagi kita berpura-pura di ruangan ini?"

"Aku keluar dari rumah itu karena kamu yang tidak berguna!" cerca Arini dengan nada menghina yang sangat kental. Ia memajukan tubuhnya, menunjuk dada Dimas dengan jarinya yang gemetar oleh rasa murka. "Tiga tahun aku bertahan hidup melarat bersamamu! Kamu cuma kuli kotor yang tidak punya masa depan! Lihat aku sekarang!"

Arini mengangkat kedua tangannya, memamerkan gaun mewahnya, tas kulit berharga puluhan juta di atas meja, serta kartu akses apartemen yang sengaja ia keluarkan dari dompetnya.

"Lihat ini!" seru Arini bangga, keangkuhannya memuncak di hadapan Hakim Mediator. "Aku sekarang tinggal di apartemen Green Heights Residence! Aku punya kartu kredit, aku punya baju-baju mahal, dan aku dicintai oleh pria kaya yang jauh lebih berkelas dari kamu! Kamu yang pecundang, Dimas! Kamu yang tidak sanggup membiayai hidupku, makanya kamu cemas dan buru-buru menceraikanku karena malu, kan?!"

Hakim Mediator menghela napas panjang, menatap Arini dengan raut keprihatinan yang mendalam. Pengalaman bertahun-tahun menangani kasus perceraian membuat wanita paruh baya itu sangat paham: wanita di hadapannya ini sedang terbuai oleh racun duniawi yang semu, membutakan mata hatinya dari nilai sebuah ketulusan.

"Ibu Arini, tolong kendalikan emosi dan jaga bahasa Ibu—" tegur Hakim Mediator.

Namun Dimas mengangkat tangan kanannya pelan, memberi isyarat lembut pada Hakim Mediator bahwa ia ingin berbicara.

Dimas menatap lurus ke dalam manik mata Arini. Tidak ada amarah di mata Dimas, tidak ada kebencian, dan tidak ada lagi rasa cinta yang dulu selalu membara. Yang tersisa di mata pria itu hanyalah rasa kasihan yang amat mendalam pada seorang wanita yang telah kehilangan jiwanya.

"Arini..." suara Dimas terdengar sangat tenang, mengalun pelan namun sanggup membungkam teriakan Arini seketika. "Kalau semua harta, gaun mahal, dan tempat tinggal mewah itu yang kamu sebut sebagai kebahagiaan... maka ambil dan nikmatilah."

Dimas jeda sejenak, menarik napas dalam-dalam.

"Aku tidak pernah membencimu karena kamu memilih pergi," lanjut Dimas dengan keteguhan jiwa yang luar biasa. "Tapi hari ini, di ruangan ini, aku menyadari satu hal: aku tidak kehilangan apa-apa saat kamu pergi. Justru kamu yang telah kehilangan satu-satunya pria yang rela memeras keringat dan darahnya hanya untuk memastikan kamu tersenyum di dalam kesederhanaan."

Kalimat itu menancap tajam bagaikan mata sembilu di dada Arini. Bibirnya mendadak terkunci, kata-kata makian yang sudah siap ia lontarkan tersangkut kaku di tenggorokan. Ada getaran aneh yang mendadak menyengat ulu hatinya—sebuah rasa hampa yang sangat dingin yang tiba-tiba menyeruak di balik gaun mewahnya.

Dimas berpaling kepada Hakim Mediator, membungkukkan badannya dengan sangat sopan.

"Ibu Hakim Mediator... dari pihak saya, proses mediasi ini telah selesai. Saya tidak akan menarik permohonan cerai talak saya. Mohon untuk dilanjutkan ke proses persidangan berikutnya."

Tanpa menunggu balasan dari Arini, Dimas berdiri dari kursinya. Ia merapikan kemeja putihnya, mengambil map cokelatnya, dan melangkah keluar dari Ruang Mediasi dengan kepala tegak dan langkah yang mantap.

Arini terpaku di kursinya, menatap punggung tegap mantan suaminya yang menghilang di balik pintu. Di dalam ruangan yang dingin itu, di tengah kemewahan gaun dan tas mahalnya yang dipamerkan, Arini mendadak merasa sangat kecil, sangat asing, dan terasing dalam keangkuhannya sendiri.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!