Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
Zoey ikut menoleh dengan raut wajah kebingungan yang dipulas sempurna.
“Lho? Bukannya itu cangkir punyamu sendiri, Victor?”
“Tidak mungkin. Aku memesan kopi hitam biasa. Bukan air garam hitam!”
Victor mengusap mulutnya dengan kasar, mencicipi pinggiran cangkir itu dengan ujung lidahnya, lalu kembali meringis jijik.
“Ini bukan kopi. Ini air laut!”
Victoria membelalak tak percaya. Matanya bergantian memandang Victor yang tersiksa, lalu menatap cangkir kopi di depan Zoey.
“Tunggu... jangan-jangan...” gumamnya mulai menerka.
Zoey dengan santai mengangkat cangkir di depannya. Ia meniup uapnya perlahan, lalu menyeruputnya dengan sangat elegan.
“Hmm, pas. Tidak terlalu manis. Tidak terlalu pahit. Dan pastinya... tidak asin” Zoey memejamkan mata menikmati rasanya.
Victoria menggigit bibir bawahnya, wajahnya memucat.
“Ini nggak mungkin. Aku yakin seratus persen tadi menuangkan garamnya ke cangkir wanita ini. Kapan dia menukarnya?!” batin Victoria berteriak panik.
Zoey meletakkan cangkirnya perlahan hingga menimbulkan bunyi denting pelan. Tatapannya kini langsung beradu dengan Victoria.
Senyum Zoey tetap ramah, namun ada aura tajam dan gelap dalam sorot matanya yang membuat nyali Victoria mendadak ciut.
“Ngomong-ngomong, anak sambungku tersayang. Kalau ingin mengerjaiku, lain kali pastikan dulu targetmu benar-benar lengah dan tangan kalian cukup cepat untuk tidak ketahuan,” ucap Zoey dengan suara yang sangat lembut sembari mencondongkan tubuhnya ke depan.
Deg!
Baik Victor maupun Victoria langsung menegang kaku di kursi mereka. Jantung si kembar seolah berhenti berdetak sesaat.
“Kami tidak tahu apa maksudmu,” sangkal Victoria cepat, meski suaranya sedikit bergetar.
Zoey terkekeh. “Tidak perlu menyangkal. Kita simpan saja rahasia kecil ini.”
Ia bangkit dari kursinya seraya membawa mangkuk supnya yang sudah kosong.
“Permainan pembuka yang cukup bagus untuk seukuran remaja.” Zoey berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit ke arah mereka dengan tatapan menantang dari ekor matanya. “Tapi sayangnya, kalian memilih lawan yang sangat salah pagi ini.”
Setelah menjatuhkan bom mental tersebut, Zoey berjalan santai meninggalkan ruang makan dengan langkah anggun yang tenang.
Meninggalkan dua remaja yang masih mematung layaknya patung es.
Victor menelan ludahnya susah payah, masih merasakan lidahnya kebas karena garam.
“Vic... apa... dia tahu sejak awal?”
Victoria menggeleng pelan, matanya masih menatap kepergian Zoey.
“Sepertinya... iya.”
Victor mengusap tengkuknya yang merinding. “Berarti mama baru kita ini jauh lebih berbahaya dan licik daripada yang kita kira.”
“Jangan menyerah Victor. Aku yakin semua hanya kebetulan saja. Kita siapkan rencana lain,” ucap Victoria.
Victor mengangguk.
Sementara Lukas, sang kepala pelayan senior yang sejak tadi tak sengaja menyaksikan seluruh kejadian ituhanya bisa tersenyum tipis.
Sudah bertahun-tahun ia bekerja di mansion Damian dan baru kali ini ia melihat ada seseorang yang mampu membalikkan keisengan brutal si kembar dengan sangat cerdas, tanpa perlu marah, mengadu atau membentak.
Dua remaja bengal itu tampaknya bertemu dengan lawan yang sepadan.
“Aku akan memberitahu tuan Damian nanti,” gumam Lukas.
*****
Zoey menutup pintu kamarnya perlahan, lalu menyandarkan punggung pada daun pintu sambil mengembuskan napas panjang.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kedua bocah itu benar-benar sangat licik.”
Ia teringat ekspresi Victor yang memuntahkan kopi asin beberapa menit lalu. Bukannya merasa bersalah, Zoey justru geli sendiri.
“Sayangnya...” gumamnya pelan. “Aku jauh lebih licik.”
Sejak kecil, Alexander tidak pernah membesarkan putrinya menjadi gadis manja. Di balik kehidupan mewah keluarga mereka, Zoey dilatih membaca gerak-gerik orang, mengenali jebakan, bahkan mengendalikan emosi dalam situasi paling menekan.
Karena itu, permainan garam di kopi tadi terasa seperti lelucon baginya.
“Putri seorang Alexander tidak boleh kalah hanya karena ulah dua remaja labil.”
Namun senyum di wajahnya perlahan memudar. Tatapannya menerawang ke luar jendela.
“Entah apa yang selama ini Damian lakukan sebagai ayah. Sampai mereka tumbuh dengan tembok setinggi itu di hati mereka.”
Zoey yakin, Victor dan Victoria bukan anak nakal tanpa alasan. Pasti ada sesuatu yang membuat mereka begitu menolak kehadiran orang baru.
“Aku harus mencari tahu.”
Zoey meraih ponselnya dari atas nakas, lalu menekan sebuah nomor yang sudah sangat dikenalnya.
Baru satu dering, panggilan itu langsung diangkat.
“Bos, ada misi baru?“ suara seorang pria terdengar penuh semangat dari seberang.
Zoey terkekeh kecil.
“Temui aku di tempat biasa malam ini.”
“Wah, tumben. Bukannya lagi pengantin baru?”
“Jangan banyak tanya.”
“Hahaha, baiklah. Terus siapa yang bayar?”
Zoey menggeleng sambil tersenyum. “Tenang saja. Kali ini aku yang mentraktirmu.”
“Siap. Aku datang.”
Panggilan pun terputus. Zoey memandang layar ponselnya beberapa saat sebelum menyimpannya kembali.
Malam nanti, saat Damian masih sibuk dengan pekerjaannya, ia akan mulai menyusun strategi.
Karena untuk menaklukkan satu pria dingin dan dua remaja keras kepala, Zoey membutuhkan lebih dari sekadar kesabaran. Ia membutuhkan informasi.
dia cuman bingung mesti berbuat apa pas ada yg merhatiin
ini mekanisme perlindungan diri ,kalau 🥹🥹
andaikan
jaga jga hatinya sakit kalau nanti udah nyaman malah ditinggal lagi
Yang kuat Zoey, jangan sampe kamu yang sakit karna ngurusin orang2 yang sakit hatinya gede pula gengsinya.