Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Kaca Pembatas
Rumah tahanan itu berbau karbol dan keringat lama.
Andien duduk di bangku plastik di ruang tunggu, kedua tangan terlipat di pangkuan agar tidak terlihat gemetar. Empat hari sudah berlalu sejak pesan Laras di dermaga, empat hari ia menimbang, dan tetap tak menemukan jawaban yang memuaskan. Pada akhirnya ia datang bukan karena yakin, melainkan karena tak sanggup membayangkan hidup dengan pertanyaan yang tak terjawab.
"Kamu tidak harus melakukan ini," bisik Laras di sampingnya. Ia mengenakan blus krem sederhana dan tampak lebih tenang dari biasanya, meski jemarinya mengetuk pelan di atas lutut. "Aku bisa minta pengacaraku menyampaikan penolakan sampai sekarang pun."
"Saya tahu, Bu."
"Hendra tidak meminta ini tanpa alasan. Mungkin dia ingin memanipulasimu. Mungkin dia ingin meringankan hukumannya. Mungkin..."
"Mungkin dia memang punya sesuatu yang belum saya tahu." Andien menatap pintu besi di ujung ruangan. "Dan saya tidak mau menghabiskan sisa hidup menebak-nebak."
Laras memandangnya sebentar, lalu mengangguk. "Aku akan menunggu di sini. Pengacaranya bilang ia hanya mau bertemu kamu, tanpa siapa pun. Tapi petugas akan berjaga di dalam, dan ada kaca pembatas. Kalau terasa tidak enak, angkat tangan dan keluar."
"Baik."
"Andien." Laras menyentuh lengannya sekilas. "Kamu berani sekali. Aku tidak yakin aku akan seberani itu di posisimu."
Andien tersenyum kecil, gugup. "Saya cuma tidak punya pilihan lain, Bu."
"Itu bukan arti berani yang sebenarnya." Laras balas tersenyum. "Berani itu justru ketika kamu punya pilihan, dan tetap melangkah."
---
Ruang kunjungan itu sempit dan dingin, dibagi dua oleh kaca tebal yang digores di sana-sini. Di sisi seberang, di balik sebuah telepon hitam berkabel, duduk Hendra Subroto.
Ia tampak berbeda. Seragam tahanan oranye menggantikan jas abu-abunya, rambut peraknya dicukur pendek, dan kacamata berbingkai emas itu hilang, menyisakan mata yang lebih kecil dan lebih lelah dari yang Andien ingat. Dalam tiga minggu, ia terlihat menua sepuluh tahun.
Andien mengangkat gagang telepon di sisinya dengan tangan yang berkeringat.
"Selamat pagi, Nak." Suara Hendra serak dan datar, tanpa kehangatan palsu seperti dulu. "Terima kasih sudah datang."
"Bapak bilang ada yang mau disampaikan."
"Langsung ke pokok. Aku suka itu." Sudut bibirnya naik tipis. "Kamu pasti mengira aku akan memohon. Atau mengancam."
"Saya tidak mengira apa-apa, Pak."
"Bagus. Dengan begitu kamu tidak akan kecewa." Hendra menyandarkan punggung. "Aku akan jujur, karena aku sudah terlalu tua untuk membuang tenaga pada kebohongan. Aku memang merencanakan menyingkirkan Carlo dari kursinya. Aku memang menyuruh Darto menjemput Carlo malam itu, di dekat desamu, dengan alasan bertemu rekan bisnis."
Andien menahan napas.
"Tapi aku menyuruh Darto membawa Carlo ke sebuah vila di pegunungan dan menahannya di sana selama dua minggu," lanjut Hendra pelan. "Cukup lama untuk membuat dewan kehilangan kepercayaan. Itu saja."
"Dan tikaman itu?"
"Itulah yang ingin kubicarakan." Hendra mencondongkan tubuh, dan untuk pertama kalinya Andien melihat sesuatu yang tulus di wajahnya, bukan kelembutan, melainkan kemarahan yang tertahan. "Aku tidak pernah menyuruh Darto menikam siapa pun."
Hening. Jam dinding berdetak di belakang Andien.
"Bapak mengaku di rumah Menteng," kata Andien perlahan. "Bapak bilang Darto yang menikam. Bapak bilang *selesaikan*."
"Aku bilang selesaikan karena rencanaku sudah hancur dan aku panik, Nak. Aku ingin menutup mulut semua orang. Itu dosaku, dan aku akan menanggungnya." Hendra mengusap wajah dengan telapak tangan. "Tapi malam di sungai itu berbeda. Waktu Darto menelepon sambil menangis, bilang bahwa Carlo berdarah-darah dan ia buang ke sungai, aku sendiri terkejut setengah mati. Itu bukan perintahku."
"Lalu perintah siapa?"
Hendra menatapnya lama. Matanya bergerak sedikit ke kiri, ke arah pintu, lalu kembali.
"Darto bilang, orang yang menyuruhnya menikam menelepon dari nomor yang tidak ia kenal. Suaranya sengaja diubah. Orang itu bilang, kalau Darto tidak menyelesaikan tugasnya malam itu, anak Darto akan dibuat hilang." Ia tersenyum getir. "Dan kamu tahu apa yang lucu? Orang itu tahu persis lokasi Carlo malam itu. Padahal hanya tiga orang yang tahu. Aku, Darto, dan Carlo sendiri."
Andien merasakan dingin merambat di tengkuknya. "Berarti ada orang keempat."
"Orang keempat yang sudah memantau kita bertiga." Hendra mengangguk pelan. "Aku baru menyadarinya setelah masuk sini. Selama berhari-hari duduk di sel, memikirkan mengapa semuanya bisa bocor, dari mana, kapan. Dan aku akhirnya menemukannya."
"Siapa, Pak?"
"Waktu rapat dewan hari Jumat itu, ada tiga komisaris yang mengajukan mosi tidak percaya, bukan?" Hendra menatapnya tajam. "Dua di antaranya orang bodoh yang kubayar dengan saham kecil. Tapi yang ketiga, yang mengelap keningnya waktu suara dihitung..."
Andien teringat cerita Laras tentang rapat itu. "Komisaris yang tangannya naik setengah?"
"Bramantyo Prasetia" Hendra mengucapkan nama itu seperti meludahkan sesuatu yang pahit. "Adik ayah Carlo. Pamannya sendiri."
Andien terpaku.
"Dua puluh tahun aku menganggapnya hanya pemabuk yang hidup dari dividen keluarga. Aku menggunakannya, kupikir. Aku memberinya informasi, kupikir untuk mengikatnya di sisiku." Hendra tertawa pelan, tanpa humor. "Ternyata dia yang menggunakanku. Dia membiarkan aku mengatur semuanya, mengotori tanganku, memikul semua bukti, sementara dia duduk manis di belakang dan menunggu aku jatuh. Kalau Carlo mati malam itu, siapa yang akan jadi pewaris berikutnya?"
"Paman Bram."
"Dan kalau Carlo selamat, dan aku yang ditangkap, siapa yang akan tetap bersih?" Hendra mengangkat bahu. "Dia tidak butuh Carlo mati dengan cepat, Nak. Dia hanya butuh dua orang yang paling menghalangi jalannya saling menghancurkan."
Andien menggenggam gagang telepon hingga buku jarinya memutih. "Kenapa Bapak memberi tahu saya? Kenapa bukan polisi?"
"Karena polisi tidak akan percaya orang yang sudah mengaku mau membunuh." Hendra tersenyum miris. "Dan karena Laras Prameswari tidak akan mendengarkan sepatah kata pun dariku. Tapi dia akan mendengarkan kamu."
"Itu satu alasan. Apa alasan satunya?"
Hendra terdiam. Sorot matanya melembut sedikit, sesuatu yang belum pernah Andien lihat pada pria itu.
"Karena kamu satu-satunya orang dalam cerita ini yang menolong tanpa kepentingan." Suaranya merendah. "Aku sudah lama melupakan rasanya. Waktu istriku sakit, ia sering bilang aku terlalu pandai berhitung untuk bisa dicintai. Aku mengira itu pujian. Ternyata bukan."
Andien tak tahu harus menjawab apa. Perasaannya campur aduk: kemarahan pada pria ini, belas kasihan pada tubuh tuanya, dan sesuatu yang lebih rumit, rasa ngeri bahwa bahkan orang yang paling ia benci pun masih bisa menjadi manusia.
"Satu hal lagi," lanjut Hendra, kali ini sangat cepat, seolah waktu mereka hampir habis. "Bram tahu kamu ada. Dia tahu nama ibumu, desa asalmu, dan rumah singgah yang akan dibuat Laras. Aku melihat berkasnya di mejanya sebelum kutangkap. Jangan percaya bahwa bahayanya sudah selesai. Dia hanya berpindah."
"Berkas?"
"Dia sudah menyelidikimu sejak sebelum aku tahu siapa kamu." Hendra menatap lurus ke matanya. "Kamu sudah lama berada di papan caturnya, Nak. Kamu hanya belum tahu kamu bidak yang mana."
Seorang petugas melangkah mendekat dan mengetuk bahu Hendra. "Waktu habis, Pak."
Hendra mengangguk tanpa menoleh. Ia menatap Andien sekali lagi, dan untuk sesaat, di balik kaca yang bergores, Andien melihat seorang lelaki tua yang akhirnya menyadari bahwa seumur hidup ia sudah salah memilih sisi.
"Jaga mereka," katanya. "Carlo dan Laras. Keduanya keras kepala, dan keduanya bodoh dalam hal yang sama. Mereka terlalu pandai melindungi orang lain sampai lupa melindungi diri sendiri."
Gagang telepon diletakkan. Petugas membimbingnya berdiri, dan punggung kurus berseragam oranye itu menghilang di balik pintu besi.
---
Andien baru menyadari tangannya gemetar ketika ia hampir menjatuhkan gagang telepon di sisinya. Ia meletakkannya perlahan, menarik napas dalam, lalu berjalan keluar ruang kunjungan dengan lutut yang terasa seperti karet.
Laras berdiri begitu ia muncul. Satu pandang pada wajah Andien, dan ia tahu.
"Duduk," katanya, mendorong Andien ke bangku. "Napas dulu. Tarik, buang. Ya, seperti itu."
"Bu..." Suara Andien serak. "Ini bukan Pak Hendra. Maksud saya, bukan dia saja."
"Aku mendengar." Laras duduk di sampingnya, menggenggam tangannya yang dingin. "Pengacaraku sempat menyampaikan sedikit. Ceritakan semuanya, pelan-pelan."
Andien menceritakan, dan semakin ia bercerita, semakin wajah Laras kehilangan warna. Ketika nama Bramantyo disebut, jemarinya menegang di tangan Andien.
"Om Bram," bisiknya. "Dia yang memegang tangan Carlo di pemakaman ayahnya. Dia yang menangis paling keras."
"Bu Laras kenal baik?"
"Aku mengundangnya ke rumah dua minggu lalu. Makan malam, katanya mau mengobrol dengan Carlo setelah dia pulih." Laras menutup mulut dengan punggung tangan. "Dia duduk di meja makanku, Andien. Dia memuji sup ayamku."
Hening yang dingin menyelimuti ruang tunggu. Di sudut, seorang ibu muda menenangkan bayinya yang menangis, dan sebuah televisi tua menyiarkan berita tanpa suara.
"Berkas tentangmu," Laras akhirnya berkata, suaranya mengeras. "Hendra menyebutnya?"
"Iya, Bu. Dia bilang Pak Bram sudah tahu nama Ibu saya, desa saya, bahkan rumah singgah itu."
Laras berdiri tiba-tiba. Wajahnya berubah, ketenangan dokter yang biasa ia kenakan retak, dan di baliknya muncul sesuatu yang lebih tajam, lebih dingin, lebih berbahaya.
"Rencana rumah singgah itu baru kuceritakan padamu empat hari lalu, lewat telepon. Dan pada Carlo. Dan pada satu orang lagi yang kuminta membantu mengurus surat-suratnya."
"Siapa, Bu?"
Ponsel di tas Laras bergetar. Ia mengeluarkannya dengan gerakan cepat, dan Andien melihat layar itu menyala dengan sebuah nama.
*Om Bram.*
Laras menatap layar itu, tidak bergerak, tidak bernapas. Di sampingnya, Andien merasakan sesuatu yang dingin turun di punggungnya.
Pesan teks itu terbaca di layar yang masih menyala:
*Laras sayang, Om dengar kamu dan Carlo sedang ada masalah. Om prihatin sekali. Boleh Om main ke rumah ibumu sore ini? Ada hal penting soal rumah singgah yang harus Om sampaikan, dan Om rasa kamu perlu segera menandatanganinya. Bawa gadis desa itu juga kalau bisa. Om ingin berkenalan.*
---
*Bersambung ke Bab 18...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya