NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Singgah di Rumah Sederhana

Langkah kaki Arkan semakin terseok-seok saat mereka memasuki area pemukiman warga. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, bercampur dengan debu jalanan yang menempel di kaus oblong kotornya. Kepalanya terasa agak pening akibat sengatan terik matahari siang yang begitu membakar. Di sampingnya, Nayla berjalan dengan tas anyaman yang digantungkan di lengan, sesekali melirik kondisi pria kota di sebelahnya dengan pandangan khawatir yang disembunyikan.

Tepat saat mereka melewati sebuah rumah berdinding semen bersih tanpa cat dengan halaman yang dipenuhi tanaman bunga matahari dan cabai di dalam pot-pot tanah liat, Nayla mendadak menghentikan langkahnya.

"Berhenti dulu," ujar Nayla tenang.

Arkan ikut menghentikan langkah kakinya yang lemas, bertumpu pada lututnya yang gemetar.

"Ada apa lagi? Saya mau cepat sampai ke rumah Mbah Harjo. Badan saya rasanya mau rontok," keluh Arkan dengan suara berat yang serak.

"Rumah Mbah Harjo masih melewati dua blok lagi di depan. Dengan kondisimu yang lemas dan wajah penuh sisa lumpur kering seperti itu, kamu bisa pingsan di jalan," ucap Nayla sambil menunjuk pintu pagar bambu rumah di depan mereka. "Ini rumah saya. Mampir saja dulu untuk membersihkan mukamu dan menumpang minum. Kebetulan di samping ada pancuran air bersih."

Arkan menatap rumah di depannya dengan dahi berkerut. Rumah itu terbilang sederhana, jauh dari kemewahan apartemennya di Jakarta. Namun, ada kesan rapi, asri, dan sangat terawat dari pekarangannya yang disapu bersih tanpa ada selembar daun kering pun yang berserakan. Ego Tuan Muda kota dalam diri Arkan sempat berbisik untuk menolak, namun rasa haus yang membakar tenggorokannya dan rasa perih di telapak tangannya yang mulai berdenyut akhirnya memaksa Arkan untuk mengangguk pasrah.

"Terserah kamu saja," gumam Arkan ketus, mengekor di belakang Nayla yang mulai membuka pintu pagar bambu.

"Assalamualaikum..... Ibu! Nayla pulang!" seru Nayla begitu mereka menapakkan kaki di teras rumah yang berlantai tegel abu-abu bersih.

Pintu papan rumah itu terbuka."Waalaikumsalam...." muncullah seorang wanita paruh baya mengenakan kain jarik dan jilbab instan sederhana. Wajahnya yang dihiasi garis-garis halus memancarkan keramahan yang sangat tulus. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat anak perempuannya, namun matanya seketika melebar takjub saat menangkap sosok pria bertubuh tinggi tegap yang berdiri di belakang Nayla. Walaupun kaus oblong pria itu kotor penuh noda lumpur, aura ketampanan dan perawakan kota Arkan tetap terlihat sangat menonjol.

"Eh, Nayla. Ini... Tuan Muda Arkan yang diceritakan Pak Barkah itu, ya?" tanya Ibu Aminah dengan nada suara yang sangat lembut dan sopan.

"Iya, Bu. Ini Arkan. Nayla ajak mampir sebentar karena dia kelihatan lemas setelah ikut Pak Barkah ke ladang timur tadi," jelas Nayla sambil menaruh tas anyamannya di atas meja teras.

"Nayla mau antar dia cuci muka ke pancuran samping dulu ya, Bu."

Ibu Aminah mengangguk-angguk cepat dengan wajah penuh simpati. "Oh, iya, iya. Kasihan pasti kaget ya nak Arkan badannya kena panas sawah. Silakan langsung ke samping, Nak. Nanti Ibu buatkan es teh manis segar untuk meredakan haus."

Arkan yang sejak kemarin selalu menerima tatapan menantang dari Nayla atau intimidasi tegas dari Pak Barkah, mendadak merasa kikuk menerima kehangatan yang begitu tulus dari Ibu Aminah. Ia menundukkan kepalanya sedikit. "Terima kasih, Bu," ucapnya dengan nada yang jauh lebih pelan dan tidak sekaku biasanya.

Nayla mengantar Arkan ke area samping rumah, di mana sebuah pancuran bambu mengalirkan air jernih yang bersumber langsung dari mata air perbukitan desa. Arkan segera berlutut di depan pancuran tersebut. Dengan menggunakan tangan kirinya yang sehat, ia meraup air jernih itu dan membasuh wajahnya berulang kali. Rasa dingin dan segar yang luar biasa langsung menyergap kulit wajahnya, seketika meluruhkan rasa pening dan penat yang bersarang di kepalanya sepanjang siang. Setelah memastikan wajahnya bersih dari sisa lumpur, Arkan kembali ke teras rumah dengan rambut depan yang basah dan acak-acakan, justru membuatnya terlihat seperti model pria yang sedang melakukan pemotretan bertema alam.

Saat Arkan kembali duduk di kursi kayu teras, seorang remaja laki-laki berpakaian seragam SMA yang dikeluarkan berantakan mendadak masuk ke halaman rumah sambil menuntun sebuah sepeda tua. Remaja itu menghentikan sepedanya dengan mendadak begitu melihat Arkan duduk di teras rumahnya.

"Wah! Mbak Nayla! Ini Mas Arkan yang dari Jakarta itu, kan?!" seru Bagas histeris dengan mata melotot lebar. Ia buru-buru menyandarkan sepedanya di pohon mangga dan berlari kecil menaiki anak tangga teras. Remaja itu menatap Arkan dari atas ke bawah dengan pandangan penuh kekaguman. "Gila, badannya tegap banget kayak tentara! Mas, itu otot lengannya bisa besar begitu rahasianya apa? Terus di Jakarta beneran ya kalau macet jalannya pakai mobil sport semua?"

Arkan tertegun untuk kedua kalinya hari itu. Pertanyaan beruntun dari adik laki-laki Nayla ini mengingatkannya pada Reno di rumah Mbah Harjo. Sifat anak-anak remaja desa yang polos dan gampang kagum pada hal-hal berbau kota besar entah kenapa membuat ego Arkan kembali merasa sedikit dihargai.

"Bagas! Jaga sopan santunmu. Mas Arkan sedang capek, jangan ditanya-tanya dulu," tegur Ibu Aminah yang baru keluar dari dalam rumah sambil membawa nampan berisi dua gelas besar es teh manis hangat yang mengepulkan aroma segar daun teh melati.

Bagas menyengir kuda, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe, maaf, Bu. Habisnya seisi kelas Bagas tadi heboh ngomongin ada Tuan Muda Jakarta yang tampan dibuang ke desa kita. Ternyata aslinya lebih keren daripada gosipnya orang-orang pasar."

Nayla yang baru selesai mencuci tangan di dapur belakang hanya bisa memutar bola matanya mendengar ucapan adiknya. "Bagas, masuk ke dalam dan ganti bajumu. Bau keringatmu itu mengganggu tamu," sahut Nayla ketus sambil mengambil posisi duduk di kursi seberang Arkan.

Bagas menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak, namun ia tetap melirik Arkan dengan senyuman lebar sebelum masuk ke dalam rumah. "Nanti sore kita ngobrol-ngobrol lagi ya, Mas Arkan! Bagas mau nanya soal modifikasi motor kota!" serunya dari balik pintu.

Suasana teras kembali hening. Ibu Aminah meletakkan dua gelas es teh manis itu di atas meja kayu. "Ayo diminum, Nak Arkan. Ini teh hasil petikan dari kebun belakang, gulanya juga pakai gula aren asli. Semoga bisa bikin badannya segar lagi," ucap Ibu Aminah dengan senyuman hangat yang meneduhkan sebelum pamit masuk ke dalam untuk melanjutkan pekerjaan rumahnya.

Arkan menatap gelas beling besar yang berembun di depannya. Rasa gengsi yang biasanya berteriak kencang di dalam dadanya mendadak terasa lumpuh di hadapan ketulusan keluarga ini. Dengan tangan kiri, Arkan mengangkat gelas itu dan meminum es teh manis tersebut. Rasa manis yang pas, legitnya gula aren, dan aroma melati yang pekat langsung membasahi tenggorokannya yang kering kerontang. Arkan menghela napas lega setelah meletakkan kembali gelas yang kini sudah kosong setengah.

Nayla memperhatikan cara Arkan minum dalam diam. Ia melihat tangan kanan pria itu yang tertutupi ramuan hijau daun binahong sengaja diletakkan di atas paha agar tidak mengotori meja kayu teras rumahnya. Sifat perhatian tersirat dari pria kota yang biasanya kasar dan angkuh itu membuat sudut bibir Nayla melunak.

"Bagaimana? Es teh buatan Ibu rasanya tidak kalah dengan minuman mahal di kafe-kafe Jakartamu, kan?" tanya Nayla dengan nada suara yang tidak lagi ketus, melainkan terdengar seperti candaan ringan.

Arkan melirik Nayla sekilas, lalu memalingkan wajahnya ke arah halaman rumah yang dipenuhi bunga matahari yang mekar. Dinding keangkuhannya mencoba bertahan, namun bibir tipisnya akhirnya mengeluarkan pengakuan jujur.

"Rasanya... enak. Jauh lebih segar daripada minuman kemasan," gumam Arkan pelan.

Nayla tersenyum tipis, jenis senyuman manis dan tulus yang pertama kali Arkan lihat secara jelas dari jarak dekat. Senyuman itu entah mengapa membuat detak jantung sang Tuan Muda kota kembali berdesir dengan ritme yang aneh di bawah naungan angin sore.

Hukuman pembuangan dari ayahnya ini masih terasa seperti neraka bagi fisiknya, namun keberadaan keluarga petani yang sederhana ini perlahan mulai memberikan warna baru yang tidak pernah Arkan temukan di tengah dinginnya kemewahan ibu kota.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!