"Seiman, aku ingin seperti Mama yang cium tangan Papa di sepertiga malam sambil pakai mukena ... belajar ngaji selepas Isya dan berdiri berdampingan di Jabal Rahmah." - Zavia
Menjadi pasangan seorang Azkayra Zavia Qirany adalah impian seorang Renaga Anderson. Namun di sisi lain, sepasang mata yang selalu menatapnya penuh cinta justru menjadikan Renaga sebagai cita-cita, Giska Anamary.
Mampukah mereka merajut benang kusut itu? Hati mana yang harus berkorban? Dongeng siapa yang akan menjadi kenyataan? Giska yang terang-terangan atau Zavia yang mencintai dalam diam.
Follow ig : Desh_puspita
Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama konten penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 - First Time
Belum, bukan berarti tidak mau.
Zavia belum mengatakan iya, tapi percayalah jawaban itu adalah alasan Renaga salah tingkah sepanjang hari. Tidak sedikit penghuni di kediaman Justin bingung dengan perubahan sikap Renaga, bahkan Justin hanya melongo ketika dia pamit pergi padahal sudah larut malam.
Sudah lama dia menunggu, jam 23:30 Renaga memecah keheningan malam menuju rumah sakit. Yah, tentu saja dia meminta petunjuk dari Mikhayla, mana mungkin dia bertanya pada Zavia tentang jadwalnya.
Sejak dahulu Renaga ketahui, Zavia paling tidak suka merepotkan siapapun. Sekalipun dia bersama Fabian, itu karena sedikit dipaksa. Sikapnya memang berbanding terbalik dari Giska, tapi bukan karena itu dia menjatuhkan hati pada Zavia.
Semua terjadi begitu saja, hatinya memilih sekalipun tahu jaraknya luar biasa jauh. Renaga belum pernah sebahagia ini, hanya karena diperbolehkan menjemput Zavia dia bahkan hampir menabrak pengendara motor yang berada di depannya.
Tiba di rumah sakit, Renaga memastikan dirinya masih wangi. Sedikit berlebihan, tapi dia tetap melakukannya. Padahal, Zavia bahkan pernah mencium bau keringatnya di waktu remaja. Namun, di mata Renaga saat ini Zavia bukan hanya sahabat, melainkan Wanita.
Masih beberapa menit lagi sebenarnya, Renaga sengaja datang lebih awal dikarenakan khawatir Zavia justru nekat pulang sendiri. Pria itu merogoh ponselnya, pesan singkat untuk Zavia sudah dia ketik berkali-kali, akan tetapi hati Renaga mendadak ragu ketika hendak mengirimnya.
Sayang, Kakak di depan.
Sayang, Kakak jemput malam ini.
Zavia, masih lama?
"Tidak-tidak, apa yang kau lakukan Renaga?"
Renaga bergidik geli usai membaca pesan singkat yang hendak dia kirimkan pada Zavia. Entah kenapa dia justru seakan malu sendiri, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengabaikan ponselnya.
Selang beberapa lama, seseorang yang dia nantikan tampak keluar dengan beberapa temannya. Wanita itu tampak lesu, langkahnya bahkan sangat lambat dan Renaga hanya menghela napas pelan setelahnya.
Wajar saja kemarin sampai demam, seketika Renaga mengingat bagaimana dia yang sengaja mengabaikan Zavia di ruang tamu tadi siang. Hanya karena ingin mengujinya, Renaga membuat waktu Zavia benar-benar terbuang.
Setelah memastikan Zavia hanya seorang diri, barulah Renaga mendekat. Bukan karena dia tidak memiliki keberanian di hadapan teman-teman Zavia, hanya saja dia khawatir akan membuat wanita itu tidak nyaman nantinya.
Zavia tidak dapat menyembunyikan keterkejutan ketika Renaga datang tepat di hadapannya. Mata lelah Zavia berpikir jika sedang berhalusinasi, tapi aroma parfum yang menusuk indera penciumanya membuat Zavia bahkan terbatuk hingga yakin jika semua memang nyata.
"Kenapa? Tidak suka baunya?"
"Sedikit, terlalu menyengat," jawab Zavia tanpa ditutup-tutupi karena memang ketika Renaga turun dari mobil, tidak ada aroma lain kecuali parfum Renaga yang masuk ke hidung Zavia.
"Besok aku ganti, kupikir kamu suka."
Zavia yang memang sudah terlalu lelah tidak banyak bertanya kenapa Renaga justru menjemputnya. Akan tetapi, yang jelas Mikhayla meminta Zavia tidak pulang sendirian karena Renaga akan datang.
"Lama nunggunya?"
"Belum, tahu dari siapa kalau aku yang jemput?" tanya Renaga sedikit terkejut usai mendengar pertanyaan Zavia.
"Mama ... padahal sudah malam, kenapa masih dijemput?" tanya Zavia mencoba berinteraksi secara santai sebagaimana yang Renaga inginkan.
"Tidak ada, aku belum bisa tidur jam segini, jadi jemput kamu saja."
Pria itu melaju dengan kecepatan rendah, sengaja agar waktu mereka sedikit lebih lama. Renaga mulai mempertanyakan banyak hal, terkait apa yang Zavia lalui sejauh ini. Hingga, pembicaraan mereka semakin menyatu bahkan canggungnya Zavia yang kemarin perlahan menghilang.
Hal itu membuktikan jika mereka hanya kurang komunikasi saja. Zavia bahkan tidak segan menceritakan bagaimana sang mama yang kerap menekannya begitu kuat, ekspresi lelah Zavia juga teramat menggemaskan di mata Renaga. Tidak, tepatnya seluruh yang Zavia lakukan akan menggemaskan.
"Jadi Mamamu sekejam itu?"
"Iya, sejak awal aku minta di rumah sakit lain saja ... tapi Papa tidak mengizinkan aku jauh dari Mama, menyebalkan."
"Semua demi kebaikan kamu, tidak perlu sedih ... kapan lagi punya Mama pintar begitu," puji Renaga yang memang sejak kecil mengagumi sosok Mikhayla sebagai wanita cerdas di matanya.
Ucapan Renaga dianggap sebuah doa oleh Zavia, lucu saja ketika seseorang menganggap mamanya pintar. Hingga, Renaga terpaksa berhenti bicara kala Zavia memintanya menepi di sebuah minimarket di sana.
"Kenapa? Kamu mau beli sesuatu?"
"Tidak, ada Giska, Kak," jawab Zavia menoleh sekilas dan berharap Renaga mengerti maksudnya.
"Dimana?"
"Itu, dia sendirian ... Giska ngapain jam segini di luar astaga," ucap Zavia menatap keluar dan hendak melepas seat belt segera.
Dia akan menghampiri Giska segera, sahabatnya memang memiliki sebuah kebiasaan yang cukup aneh sejak dahulu. Yah, berjalan sendirian ke suatu tempat dan dia akan menenangkan diri di sana.
Namun, belum sempat Zavia keluar pria itu mengambil menahannya segera. Selain karena memang sudah malam, akan lebih baik jika Renaga yang menjemput Giska di sana.
"Biarkan aku saja, kamu tunggu di sini."
Zavia menganguk pelan, dia menatap punggung Renaga yang semakin menjauh darinya. Sementara di sisi lain, Renaga kini tengah menghela napas panjang. Baru saja kemarin dia berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama, dan kini Giska justru melanggarnya.
"Dasar anak nakal, dia kenapa selalu membuatku sakit kepala."
.
.
- To Be Continue -