Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cadangan
Tin!! Tin!!
Tama membunyikan klaksonnya kala melihat seorang gadis yang mirip Lengkara berdiri di tepi jalan. Anehnya gadis itu mengenakan helm, jaket bahkan celana olahraga.
“Wah ternyata beneran Lengkara.” Ucapnya sambil membuka pintu dari dalam.
“Sendirian? Mau berangkat bareng? Naik.” Lanjutnya.
Tama mengambil tas yang ia simpan di kursi penumpang dan memindahkannya ke belakang.
“Hello, Lengkara Ayudhia. Masih inget gue kan? Murid baru yang kemaren.”
Kara mengangguk “Iya-iya, gue inget kok.”
“Ya udah naik yuk, berangkat bareng.” Ajaknya.
“Apa lo lagi nunggu seseorang gitu?” lanjutnya demi melihat penampilan kolaborasi rok plus celana olahraga ditambah dengan helm dan jaket di kedua tangannya.
“Nggak kok. Gue lagi nunggu ojol aja.”
“Ya udah bareng gue aja.” Tama turun dari mobilnya dan menghampiri Kara yang hanya diam saja.
“Sini biar gue bantu.” Diambilnya helm dan jaket di tangan Kara kemudian meletakkannya di kursi belakang.
“Eh...” Kara hanya pasrah saja karena Tama mengambil paksa barang-barang yang ia bawa.
“Yuk masuk, nanti kita telat.” Tama sedikit merangkul Kara supaya gadis itu cepat masuk ke dalam mobilnya.
“Hati-hati kepalanya.” Tama bahkan sampai menutupi kepala Kara yang hendak masuk mobil supaya tak terbentur.
“Sip. Gue tutup yah.” Ucap Tama setelah Kara sudah duduk di kursi penumpang.
Ya ampun berlebihan banget ini orang, batin Kara.
Kara melihat Tama yang sedikit berlari mengitari mobil kemudian duduk di sampingnya, lagi-lagi lelaki yang menurut Kara masuk dalam deretan cogan itu tersenyum padanya.
“Eh gila senyumnya boleh juga.” Ucap Kara dalam hati, tanpa sadar ia ikut balas tersenyum.
“Tapi tetep aja Dirga paling ganteng. Eh tapi Dirga lagi ngeselin. Gantengnya gue kurangin 0,5% lah.” Lanjutnya membatin hingga bibirnya menjadi manyun kesal mengingat insiden ditinggal calon suami yang sudah berulang kali terjadi. Padahal baru semalem mereka baikan eh pagi ini sudah kembali perang dunia.
Kening Tama mengernyit heran dengan ekspresi lucu Kara. Belum lama tersenyum namun dengan cepat bisa berubah jadi manyun sambil komat kamit tak bersuara.
“Ya ampun dia bener-bener seperti yang diceritakan oleh tante. Sedikit aneh dan menggemaskan, tapi tetep cantik.” Batin Tama.
“Ehm! Ra. Biar gue pakein sabuk pengamannya.” Tama langsung meraih sabuk pengaman di samping Kara, menariknya dan memasangkannya dengan benar.
“Padahal gue pasang sendiri juga bisa kok.”
“Nggak apa-apa, kan gue harus memastikan lo terlindungi dengan baik.” Balas Tama.
“Kita berangkat sekarang yah.” Tama memasang sabuk pengamannya sendiri kemudian menginjak pedal gas hingga mereka mulai membelah jalanan yang mulai ramai.
“Elah bahasa lo, Tama. Udah kayak komnas perlindungan anak aja yang mesti memastikan gue terlindungi dengan baik.” Ucap Kara.
“Gue bukan komnas perlindungan anak sih, lebih ke pelindung khusus Lengkara aja.” Jawab Tama tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.
“Bisa aja kang gombal.” Cibir Kara.
“Cewek lo pasti banyak yah? Pinter banget ngegombal.” Lanjutnya.
“Kenapa nanyain cewek gue? Mau daftar?” ledek Tama.
“Cih pedenya!” Kara mendengus kesal.
“Gue cuma nanya kali.” Lanjutnya.
“Mau sekalian daftar juga boleh. Gue kosong kok, bisa di keep.” Ucap Tama.
“Ya kali kayak beli barang di online shop bisa di keep dulu. Ada-ada aja sih!”
“Tapi beneran loh, Ra. Gue lagi kosong.” Jawab Tama.
“Mohon maaf aja yah, Tama. Lo kosong tapi gue nya yang nggak kosong. Lengkara Ayudhia udah punya calon suami sejak bayi!” ucap Kara.
“Eh Kata mami malah calon suami sejak dalam kandungan.” Ralatnya cepat.
Tama hanya tersenyum mendengar jawaban Kara. Ngaku-ngaku udah punya calon suami tapi pagi-pagi lontang lantung di pinggir jalan.
“Masih calon kan, belum jadi suami?” tanya Tama.
“Kalo gitu gue aja yang keep lo dari sekarang. Lumayan kan lo jadi punya calon suami cadangan.”
“Kasih tau gue kalo calon suami utama mau mundur, gue udah ready pake banget buat jadi pengganti."
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣